Pandemi dan Manusia Satu Dimensi

KITA tidak pernah menyangka bahwa pandemi covid-19 berjalan begitu lama. Perhitungan secara ilmiah tentang kapan berakhirnya wabah ini tidak jauh beda dengan dugaan spontanitas yang cenderung meleset. Anjuran tenaga medis maupun kebijakan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan hingga kini belum mencapai tujuan final. Kita belum mampu membebaskan diri dari kerangkeng pandemi.

Pandemi telah memisahkan kita dengan pola kehidupan sebelumnya. Selama satu tahun lebih ini kita mengunci tubuh di dalam kamar dan menahan kaki untuk melangkah jauh keluar rumah. Melupakan hobi yang biasa dilakukan saat kondisi masih normal. Seperti berkumpul berjam-jam di kedai kopi saling berbagi cerita dan tawa bersama teman. Menonton film terbaru di bioskop, menyaksikan pertunjukan seni di kota. Atau pelesir mengunjungi tempat-tempat baru ketika akhir pekan.

Terlalu lama di dalam rumah membuat kita lupa dengan jalanan yang macet dan pusat kota yang ramai. Kepala melupa momen berdesak-desakan dengan penumpang lain di bus ketika berangkat kerja. Ingatan sering kabur dari wajah penat para mahasiswa dan pekerja yang tertahan di halte sore hari. Telinga kian asing dengan tawa maupun tangis anak-anak kecil yang berlari-lari di kompleks perumahan. Kita kini kesepian di dalam rumah dan berjarak dengan orang terdekat. 

Baca Juga: Pandemi dan Pesan Kemanusiaan di Tahun 2021

Pandemi telah menghilangkan aktivitas dan rutinitas normal masyarakat. Kebijakan pembatasan sosial benar-benar membatasi pergerakan tubuh. Masyarakat hanya mengenal satu tempat saja, yaitu rumah sendiri. Sulit mengidentifikasi orang lain karena wajah tertutup masker. Interaksi pun terbatas dan tidak leluasa dengan adanya larangan menghindari kerumunan massa.

Kesehatan yang menjadi faktor utama merambat pada krisis multidimensi. Krisis ekonomi menimpa masyarakat kelas bawah. Pegawai menjadi korban PHK, pedagang sepi pembeli, pekerja menutup usahanya. Tuntutan untuk terus hidup serta sulitnya memenuhi kebutuhan membuat kekesaran dan kejahatan dijadikan sebagai jalan legal. Sementara sikap putus asa seringkali berujung pada aksi menyimpang hingga bunuh diri.

Di tengah krisis ini, manusia ditunjukkan dengan prestasi yang dihasilkan dari ilmu pengetahuan dan peradaban modern. Smartphone dan internet menjadi medium peralihan yang mampu memindahkan aktivitas manusia. Berhasil menyatukan seluruh manusia di dunia tanpa batasan ruang dan waktu. Realitas virtual sudah menjadi pusat kehidupan di masa pandemi. Buktinya masyarakat dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara online, seperti belajar, bekerja, berkomunikasi, bertransaksi. 


Pandemi yang belum usai mendorong kita agar selalu terhubung dengan gawai dan internet. Menjalani aktivitas di dunia virtual yang saat ini tidak hanya sekadar simulasi, melainkan sudah menjadi subtitusi (pengganti) dunia nyata yang empiris. Memisahkan gawai dari genggaman tangan sama artinya memisahkan kita dengan kehidupan. Masyarakat sudah menjadi penghuni tetap dunia maya, hidup dalam realitas yang disimbolkan melalui teks, emoji, gambar, dan video. 

Rutinitas Tanpa Makna

Di masa pandemi ini masyarakat cenderung menjalankan rutinitas yang sama dan satu arah. Berdiam diri di rumah menghabiskan waktu bermain internet dan media sosial. Gawai menjadi benda pertama yang kita raba ketika bangun tidur, menjadi benda terakhir yang kita sentuh apabila hendak tidur. Kaki tidak beranjak dari ranjang dan tubuh menolak untuk digerakkan. Membiarkan kedua mata dan jari-jari bercumbu mesra dengan layar digital.

Sepanjang hari barangkali kita hanya mendekam di dalam rumah, membatasi perjumpaan dengan mahluk hidup lain. Tanpa merasakan lembutnya sentuhan cahaya matahari. Tanpa menghirup segarnya udara yang ditiupkan pohon-pohon. Tanpa mengamati orang-orang yang melintas di depan rumah. Pandemi dan internet mendorong kita terbiasa melakukan interaksi tanpa percakapan dan kontak mata secara langsung. 

Teknologi digital yang digunakan tanpa kontrol dapat mendominasi kehidupan manusia. Candu dan ketergantungan dengan gawai dapat menyetir alam bawah sadar kita untuk selalu menggenggamnya. Seringkali secara spontan kita terdorong menggerak-gerakkan ibu jari sendiri menuju ikon media sosial. Di ruang maya itu kita berjumpa jutaan citra. Tidak memperhatikan detail konten dengan fokus, tanpa sadar menekan tombol like, lalu beralih ke postingan selanjutnya. Ibu jari terpacu untuk terus scroll dan like tanpa mengetahui isi kontennya.


Hal seperti inilah yang dapat menjadikan masyarakat terbawa polarisasi informasi. Membaca informasi di internet tidak pernah utuh namun sudah membenarkan dan mengikutinya. Bahkan informasi yang tanpa nilai dan subtansi pun sering dikonsumsi. Media sosial sudah beralih fungsi menjadi ajang pencitraan dan eksistensi dengan cara mengikuti tren terkini. Viral dan banyak pengikut di media sosial adalah prestasi gemilang yang ingin dikejar. 

Melihat fenomena di masa pandemi, masyarakat melakukan rutinitas monoton selama di rumah saja. Hidup dalam dunia hiperrealitas di depan layar digital dan berfantasi di media sosial. Herbert Marcuse, filsuf asal Jerman menyebut, masyarakat ini sebagai manusia satu dimensi (one dimensional man). Teknologi berhasil mengendalikan rasionalitas manusia, sehingga sekadar menjalankan rutinitas tetapi tidak mengetahui dan mendapatkan esensinya. Kemampuan menalar lumpuh karena masyarakat sudah terlalu dimanjakan dengan kemudahan teknologi internet. 

Karakteristik manusia satu dimensi yaitu tidak menyadari situasi yang dialami dan menganggap hal yang menimpanya sebagai peristiwa alamiah. Padahal informasi dan konten di internet pada prinsipnya tidak hadir dengan sendirinya. Sistem algoritma dan artificial intelligence (AI) adalah perangkat yang menggiring pengguna internet supaya mengikuti pola informasi tertentu yang menjadi tren. Tanpa menyadari hal ini, masyarakat akan terjebak dalam filter buble, sistem algoritma yang akan menjadikannya sebagai konsumen informasi.


Masyarakat di masa pandemi akan semakin tenggelam dalam zona nyaman. Merasa puas dengan rutinitas yang tidak meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Menjadi konsumen tanpa nalar kritis yang selalu gelisah jika tidak menonton konten-konten hiburan seperti video parodi, prank, jogetan perempuan, maupun konten lain. Tidak merenungkan bahwa konten seperti itu sengaja diproduksi sebagai manipulasi agar masyarakat merasa membutuhkan lantas menontonnya. 

Menghidupkan Kesadaran Kritis

Selama pandemi ini aktivitas masyarakat terpaku pada satu pola, termasuk dalam berkomunikasi. Tingginya intensitas komunikasi virtual membuat kita lupa dengan realitas sosial di kehidupan nyata. Kesadaran sosial semakin berkurang, enggan menjumpa dan menyapa orang lain secara fisik. Mengalami ekstase komunikasi dan lebih larut dalam pertemanan maya. 

Dialektika pengetahuan dan informasi di era pandemi juga menjadi bias. Internet dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Dan kebenaran yang hanya diukur dari yang terdapat di internet telah mematikan fungsi nalar dan indera. Informsai yang masih berupa kepingan seharusnya diragukan, diolah, dan didalami terlebih dahulu secara ekstensif sampai membentuk pengetahuan, barulah tepat dijadikan sebagai landasan. 

Dalam menerima informasi terkait pandemi, masyarakat hanya mengikuti satu pola pemberitaan. Pandemi menjadi topik utama yang terus dieksplorasi dan dieksploitasi media-media massa. Media memiliki jebakan framing yang menggiring masyarakat untuk mengonsumsi berita kematian atau informasi tentang bahaya covid-19. Masifnya produksi informasi memunculkan gejala fear of missing out (FOMO). Masyarakat yang takut ketinggalan informasi seolah akan merasa butuh dan justru semakin aktif mengonsumsinya. 

Di sini, kesadaran (consciousness) tentang situasi dan kondisi yang dialami masyarakat sekarang menjadi awal pembebasan manusia satu dimensi. Marcuse menilai, dalam masyarakat umum, pasti ada the great refusal, sosok yang berani menentang sistem yang menindasnya. Sepenuhnya menggunakan nalar dan pengetahuan untuk membebaskan diri dari situasi yang membelenggu. Bukanlah pribadi yang tunduk dan patuh terhadap satu pola informasi yang ada di internet dan media sosial. 


Manusia satu dimensi yang sudah terkungkung selama pandemi pertama-tama harus membuka mata dan melihat alternatif lain di luar rutinitasnya. Tidak tenggelam dalam situasi dan zona nyaman dengan kemudahan dan kecanggihan yang didapatkannya dari internet. Aktivitas yang dijalani benar-benar sudah melalui proses perenungan dan memiliki orientasi khusus. Selama pandemi tidak hanya melakukan rutinitas yang monoton tanpa nilai dan esensi.

Saat ini teknologi sudah menjadi bumerang yang mengontrol masyarakat. Skeptis dan kritis seperti memilah dan memilih konten menjadi modal utama hidup di era informasi. Internet dan media sosial dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas di masa pandemi. Menolak menjadi konsumen atau penonton, melainkan berpikir bagaimana teknologi dapat membuat kita semakin kreatif dan produktif. 

Pandemi telah membatasi ruang gerak dan interaksi sosial kita. Namun jika hanya berdiam diri di dalam rumah tenggelam di dalam realitas virtual dapat mengikis dimensi kita sebagai mahluk rasional dan sosial. Maka mulailah berpikir tentang kondisi ini supaya tindakan yang dilakukan memiliki makna dan esensi. Kesadaran sosial dapat dilatih dengan hal kecil seperti berbincang dengan keluarga maupun tetangga sekitar. Sehingga di masa pandemi ini, tidak stagnan di dalam rumah. Lalu mulailah kembali hidup di dalam dunia nyata, dunia empiris yang dapat diindera.

Kita tidak pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Kita juga tidak pernah membayangkan bagaimana kita akan memulai hidup baru setelah pandemi. Namun hal terpenting saat ini yaitu upaya kita dalam menghidupkan kesadaran kritis di tengah situasi yang seperti ini. Pandemi dan internet adalah jaring yang menggiring kita menuju manusia satu dimensi. Tetapi dengan mengerahkan seluruh potensi berupa nalar, indera, dan naluri sebagai manusia, percayalah bahwa kita mampu membebaskan diri dari perangkap ini.
[Mahfud]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Advertorial,2,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,2,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,385,Beasiswa,4,Begadang,1,belajar,1,berdoa,2,Berita,1187,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,1,cerpen,24,Corona virus,62,Daun kelor,1,Demokrasi,1,EkspreShe,31,Essay,115,Filsafat,16,FUHUM,3,Generasi Milenial,26,George Orwell,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,4,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,60,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,53,Kebahagiaan,2,kecerdasan,1,kemerdekaan,1,Kesehatan,25,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,KKN,5,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,2,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,21,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,300,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mental,1,Menulis,1,modernitas,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,314,Olahraga,1,Opini,216,opini mahasiswa,13,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,3,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,12,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,119,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,20,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,94,Second Sex,1,Semarang,41,Shalawat,1,Skripsi,3,stoic,1,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,1,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,25,tips,1,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,356,UKM,6,ukt,21,Wisuda,52,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Pandemi dan Manusia Satu Dimensi
Pandemi dan Manusia Satu Dimensi
Masyarakat melakukan rutinitas monoton selama di rumah saja. Hidup dalam dunia hiperrealitas di depan layar digital dan berfantasi di media sosial.
https://1.bp.blogspot.com/-y_UFcHHzxq8/YTYUbWtd80I/AAAAAAAAMMY/H5kOfPVHSWo61HHKbPipRWRv1Y_91pAmACLcBGAsYHQ/w640-h360/manusia%2Bsatu%2Bdimensi%2B%25282%2529.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-y_UFcHHzxq8/YTYUbWtd80I/AAAAAAAAMMY/H5kOfPVHSWo61HHKbPipRWRv1Y_91pAmACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h360/manusia%2Bsatu%2Bdimensi%2B%25282%2529.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/09/pandemi-dan-manusia-satu-dimensi.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/09/pandemi-dan-manusia-satu-dimensi.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin