Kita dan Jaring Dunia Tipu-tipu




"Selamat Pagi Dunia Tipu-tipu," kalimat kiasan ini sempat viral di media sosial (medsos), seperti story WhatsApp, Instagram dan Tik Tok. Kiasan tentang dunia tipu-tipu banyak digunakan oleh orang-orang untuk mengungkapkan hal yang menyakitkan. Seperti halnya masalah pertemanan, di-ghosting dalam pekerjaan hingga masalah percintaan. 

Namun, awal mula kiasan ini digunakan untuk mengungkapkan realitas virtual. Di mana pengguna medsos seringkali memakai nama samaran, foto samaran ataupun akun samaran untuk berselancar di dunia maya. Dan banyak orang merasa tertipu karena hal tersebut. 

Media sosial menjadi panggung sandiwara bagi para penggunanya. Menampilkan peran yang bukan dirinya yang sesungguhnya dan ditampilkan kepada orang lain. Para pemilik akun menciptakan citra diri melalui ruang maya untuk mendapatkan kesan dari orang lain. 

Sebagai contoh, apa yang kita pikirkan ketika melihat postingan teman, kerabat, maupun akun-akun yang tidak dikenal di dalam Instagram? Postingan-postingan tersebut terlihat begitu "cantik" dan "sempurna". Tata letak foto yang rapi, pengambilan gambar yang tepat, ber-background tempat-tempat bagus, potret bersama teman-teman yang asyik, jalan-jalan, makan di tempat hits, wajah cantik dan tampan, senyum bahagia, serta label kehidupan "sempurna" lainnya.

Ketika melihatnya, pasti pernah terlintas di dalam pikiran-meski hanya sekali-memandang kehidupan orang lain di dalam layar sebagai kehidupan yang ideal, dan tanpa sadar kita juga menginginkan hal yang sama. Tanpa kita mencari tahu bagaimana pemilik akun tersebut menjalani dunianya di belakang panggung media sosial.

Persona dan Interaksi sosial yang dilakukan para pengguna medsos mewujudkan front stage dalam konsep Dramaturgi oleh Evring Goffman. Arena ini memberikan keleluasaan para pengguna untuk "berinovasi" tentang dirinya di beranda medsos. Bagaimana ia akan dicitrakan diatur sedemikian rupa tanpa memedulikan atau menganut realitas diri dalam arena backstage (realitas fisik).

Kemudian, para pengguna lain akan mengkonsumsi citra tersebut sesuai apa yang ditampilkan dalam layar. Sebagai realitas virtual yang diyakini dan dianggap benar.

Masyarakat Hiperrealitas

Dunia hari ini telah dipenuhi oleh imitasi, duplikasi, kode, simbol, dan permainan bebas tanda yang mengambang dan semakin kompleks. Kita mengkonsumsi teks-teks virtual dan hidup di dalamnya. Di tengah gelombang situasi yang seperti ini, Jean Paul Baudrillard melalui simulasi dan hiperrealitas menjelaskan bagaimana sesuatu terlihat lebih nyata dibandingkan yang lainnya. 

Seperti cara kita melihat terhadap layar smartphone. Apa yang tersaji di dalamnya terasa lebih nyata dibandingkan realitas di luar smartphone. Hal ini terjadi karena masifnya dalam mengonsumsi teks-teks virtual serta berinteraksi secara aktif di dalamnya, melebihi interaksi dalam realitas fisik. 

Ironisnya, kita juga seringkali terjebak di dalam realitas semu dunia maya. Menganggap ruang komunikasi virtual dan seisinya sebagai kebenaran mutlak dan memungkinkan menggeser realitas fisik dan digantikan oleh realitas virtual yang semu, duplikasi, dangkal, imajiner, dan penuh pura-pura.

Jika kita tidak pandai-pandai mengolah citra yang kita lihat, bisa saja dengan mudahnya kita meyakini postingan tersebut sebagai kebenaran dan menganggapnya sebagai "dunia" yang pantas untuk dicapai. Masih ingat dengan challenge yang sempat ramai di medsos dan membuat masyarakat berbondong-bondong menirunya? 

Seperti In My Feelings Challenge (menari sembari keluar dari mobil yang masih berjalan), Kylie Jenner Challenge (membengkakkan bibir dengan tutup botol), Ice Bucket Challenge (menyiram es di kepala), dan masih banyak lagi challenge yang viral dan diikuti pengguna medsos meskipun membahayakan diri. 

Fenomena tersebut cukup membuktikan bagaimana hiburan berubah menjadi ideologi dan mampu menenggelamkan penggunanya ke dalam citra simulasi. Apa yang ada di dalam ruang maya dibawa ke luar dan diimplikasikan dalam realitas fisik. Baudrillard mengatakan jika realitas kini sudah melebur dengan fantasi, halusinasi, nostalgia, fiksi, dan imajinasi.

Ini menjadi suatu kondisi kesadaran yang tidak lagi dapat membedakan antara realitas dan duplikasi. Dunia tampak kabur di mana yang nyata dan yang fiksi telah membaur dan memungkinkan realitas fisik serta virtual saling bertukar tempat.

Kaburnya antara dua realitas ini karena citra penanda yang tertampilkan dalam ruang maya menarik pengguna lain dalam persona imitasi dan membentuk bayangan yang "ideal" tentang diri. Rasa ketertarikan ketika melihat postingan di medsos dan keinginan untuk melakukan hal yang sama menjadi pintu dalam mengonstruksi identitas baru dalam ruang komunikasi virtual.

Perilaku timbal balik ini menciptakan lingkaran untuk para pengguna medsos semakin jauh terjebak dalam realita yang penuh satire. Pada akhirnya, realitas fisik semakin tergeser oleh realitas virtual dalam hal membentuk eksistensi.

Media Sosial dan Paradigma Pengetahuan Kita

Kita sudah terbiasa melihat apa yang terjadi di dalam media sosial sebagai sebuah kewajaran, menerimanya sebagai sesuatu yang lumrah. Pun dalam menyajikan tema perbincangan di ruang fisik. Pasti tidak jauh dari apa yang sedang ramai dan viral di medsos. 

Ada dua kemungkinan ketika suatu peristiwa yang ramai di medsos dibawa masuk ke ranah perbincangan secara fisik. Pertama, melihatnya dari sudut pandang pengetahuan, menganalisis fenomena dan menjadikannya bahan kajian. Kedua, membahasnya dari sudut pandang keviralan dan menjadikannya hiburan yang bisa ditiru.

Cepatnya seseorang menangkap informasi atau hal baru dari dunia maya juga dipengaruhi oleh perilaku Nomophobia, ketakutan berlebih ketika hidup jauh dari gawai. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Computers and Human Behaviour mengemukakan bahwa orang-orang yang menggunakan tujuh atau lebih jenis media sosial bisa menderita tiga kali atau lebih gejala kecemasan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan 0-2 media sosial.

Salah satu bentuk kecemasan yang dialami pengguna medsos ialah Fear Of Missing Out (FoMO). Fenomena ini semakin ramai diperbincangkan oleh para pakar kesehatan mental, karena membentuk pola perilaku dari yang mengalami menjadi selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan tertinggal tren yang sedang berlangsung. Ketergantungan inilah yang membuat suplai informasi dari ruang komunikasi virtual terus masuk dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika informasi di dalam smartphone dijadikan sumber atau bahan pengetahuan. Kita tidak bisa memungkiri jika referensi pengetahuan kita saat ini memang lebih banyak bersumber dari sana. 

Ketika hari ini dampak penggunaan ruang komunikasi virtual semakin kacau dan bahkan sering membuat penggunanya terlalu pragmatis dalam memahami suatu teks, banyak dari kita yang menyalahkan keberadaan jaringan ini dan kebodohan para pengguna. Tetapi, bukankah yang membudayakan "berliterasi" dari konvensional ke digital juga kita sendiri?

Meskipun tanpa perjanjian tertulis, kita menyepakati bahwa pipa informasi di dalam media informasi digital adalah sumber yang paling mudah diakses, cepat, dan lugas. Media informasi digital dipercayai sebagai temuan revolusioner yang memberikan apapun yang kita mau. Informasi apapun, dari pemikiran-pemikiran tokoh bahkan hingga gosip artis terkini, semua ada. 

Kita menerima sistem komunikasi digital sebagai satu paradigma yang dianggap mampu menyelesaikan semua permasalahan. Dari A sampai Z, kita hanya perlu mencarinya dan "klik" yang sesuai. Kata "sesuai" di sini sangat erat kaitannya dengan subyektivitas kita sebagai pengguna. Informasi digital menjadi tidak begitu objektif karena seringkali, kita menghadirkannya hanya untuk menemukan apa yang sesuai dengan keinginan.

Kecenderungan meniadakan informasi lain inilah yang pada akhirnya menimbulkan efek domino pada media informasi digital. Dan sistem meresponnya dengan pola algoritma pada beranda pencarian kita, yang tentunya semakin menutup pipa-pipa informasi lain.

Pada akhirnya, bentuk informasi yang didapat hanya berupa satu kotak dan sayangnya, kita terbiasa menganggap informasi tersebut sebagai bentuk pengetahun, bukan kepingan informasi. Apa yang didapat menjadi kebenaran absolut dan seakan sah untuk langsung percaya dan mengikutinya. Tidak ada dialektika terhadap kepingan informasi tersebut sehingga nalar kritis kita dalam menangkap sesuatu yang baru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hanya berjalan mengikuti arus dan menjadi abadi di dalamnya.

Eksistensi Kita; Maya atau Nyata?

Membiasnya informasi dari dunia maya dan dunia fisik sangat berpengaruh terhadap eksistensi kita. Cara berpikir, cara mengambil keputusan, serta bagaimana bertindak tercermin dari informasi serta pengetahuan yang kita konsumsi setiap harinya. 

Front Stage dan Back Stage milik Goffman yang sebenarnya menjadi pemisah antara dunia yang satu dan yang lainnya, kini sudah saling terintegrasi. Tubuh fisik dan tubuh virtual bebas menyeberang di antara kedua realitas yang ada. 

Paradigma yang terbangun terhadap media sosial dan sistem komunikasi digital menjadi sukar untuk diuraikan serta direduksi penggunaannya. Masifnya dalam mengelola tubuh-tubuh virtual yang kita ciptakan, tak jarang membuat mindset tentang diri mengikuti sebagaimana persona yang dicitrakan. Media informasi digital tidak hanya "alat" dari cara komunikasi baru kita, tetapi dimensi yang menjadi bagian dari keberadaan kita. 

Pengetahuan akan identitas diri menjadi pudar akibat satire dari citra yang ada. Topeng-topeng diri menimbun wajah asli dari identitas yang kita miliki. Dan tak jarang, persona atau topeng ini justru menampilkan bayangan diri lebih dari eksistensi diri yang sebenarnya.

Kita sudah dan masih berada di dalam jaring eksistensi dua dunia yang semakin bertaut. Tanpa kita sadari, kita sudah banyak tertipu oleh realitas-realitas semu, kemudian kita turut menipu dunia dengan perilaku "ikut-ikutan", dan berujung menipu diri sendiri dengan identitas palsu yang dicitrakan. Masihkah kita akan terus seperti itu? [Ainun-Gita]


KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Advertorial,2,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,2,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,385,Beasiswa,4,Begadang,1,belajar,1,berdoa,2,Berita,1187,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,1,cerpen,24,Corona virus,62,Daun kelor,1,Demokrasi,1,EkspreShe,31,Essay,115,Filsafat,16,FUHUM,3,Generasi Milenial,26,George Orwell,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,4,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,60,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,53,Kebahagiaan,2,kecerdasan,1,kemerdekaan,1,Kesehatan,25,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,KKN,5,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,2,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,21,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,300,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mental,1,Menulis,1,modernitas,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,314,Olahraga,1,Opini,216,opini mahasiswa,13,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,3,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,12,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,119,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,20,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,94,Second Sex,1,Semarang,41,Shalawat,1,Skripsi,3,stoic,1,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,1,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,25,tips,1,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,356,UKM,6,ukt,21,Wisuda,52,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Kita dan Jaring Dunia Tipu-tipu
Kita dan Jaring Dunia Tipu-tipu
"Selamat Pagi Dunia Tipu-tipu," kalimat kiasan ini sempat viral di media sosial.
https://1.bp.blogspot.com/-4rVH2qXSpzc/YRHtZJMutAI/AAAAAAAAMFU/ILywuG1MaCgYGGSfn8q6SWJEfTf4EhGggCLcBGAsYHQ/s16000/imageproxy.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-4rVH2qXSpzc/YRHtZJMutAI/AAAAAAAAMFU/ILywuG1MaCgYGGSfn8q6SWJEfTf4EhGggCLcBGAsYHQ/s72-c/imageproxy.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/08/kita-dan-jaringan-dunia-tipu-tipu.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/08/kita-dan-jaringan-dunia-tipu-tipu.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin