Pemikiran Gender Fatimah Usman (Dari Wacana Menuju Aksi)



KETIKA masih duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah (MA) penulis membandingkan kakak kelas yang telah menjadi alumni, antara laki-laki dan perempuan. Banyak di antara kakak kelas perempuan yang sebenarnya lebih pandai dibandingkan dengan teman mereka yang laki-laki. Namun konstruk sosial yang masih sangat patriarki menganggap bahwa perempuan tidaklah harus menempuh pendidikan yang tinggi. Seberapapun jauh kaki perempuan melangkah, pada akhirnya akan kembali ke “dapur”. Sehingga banyak kakak kelas laki-laki yang melanjutkan studi di bangku kuliah, sedangkan mereka yang perempuan biasanya langsung mencari kerja atau menikah. Walaupun ada diantara mereka yang melanjutkan kuliah namun itu dalam porsi yang sangat kecil.

Setidaknya itulah motivasi pertama penulis hingga akhirnya bisa merasakan bagaimana menjadi civitas kampus. Agar cerita seorang perempuan tidak cepat berakhir pada “rutinitas” bernama pernikahan. Sambil terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana anak laki-laki bisa sekolah tinggi sedangkan untuk anak perempuan hal itu sangat sulit? Mengapa bagi anak laki-laki bisa melakukan banyak hal, sedangkan untuk perempuan semua tindak tanduknya berbatas? Mengapa laki-laki menjadi superior sedangkan perempuan inferior? Benarkah perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki? Benarkah bagi perempuan “suwargo nunut neroko katut”? Hingga pertanyaan-pertanyaan itu secara perlahan mulai terjawab dan keresahan mulai terkikis. Yaitu ketika penulis menemukan teman-teman yang mempunyai keresahan yang sama, baik itu di teman-teman sesama mahasiswa ataupun para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Semarang.

Walaupun Fatimah Usman adalah dosen di fakultas yang sama tempat penulis belajar, namun penulis tidak pernah bertemu dalam ruang kelas. Penulis lebih mengenal Fatimah Usman sebagai salah satu aktivis perempuan Semarang, saat itu sebagai ketua PPT Seruni Kota Semarang. Selain itu kebetulan beliaulah yang mengisi kajian Minggu pagi asrama putri Fakultas Ushuluddin Program Khusus (FUPK) UIN Walisongo Semarang. Dari sinilah penulis mengenal pemikiran beliau tentang kajian gender.

Baca Juga: Masrur: Bu Fat Sosok yang Inspiratif

Faktor yang paling berperan besar penyebab ketimpangan gender yang dialami perempuan adalah pertama, konstruk sosial patriarkhi yang sekian lama mengukuhkan hegemoninya. Masyarakat yang patriarkhi membentuk pandangan dunia (world view) yang lebih bersifat maskulin daripada feminin. Hal ini menjadikan perempuan yang didominasi sifat feminin tidak mampu berbuat banyak. Lalu bagaimana hegemoni patriarkhi itu bekerja? Konsep hegemoni dipopulerkan oleh seorang ahli fisika politik terkemuka Italia bernama Antonio Gramsci.

Menurut Antonio yang paling berbahaya dari dominasi kapitalis bukanlah penguasaan melalui dimensi material dari sarana ekonomi dan relasi produksi, tetapi juga kekuatan dan hegemoni. Demikian juga dominasi patriakhi. Yang paling berbahaya bukanlah penguasaan politik, ekonomi dan peran-peran publik berada di tangan laki-laki. Tetapi jika hegemoni patriarkhi bekerja melalui ideologi dan budaya, akan menjajah pola pikir perempuan. Pola pikir inilah yang kemudian menghalangi perempuan untuk berperan. Ia menjelma menjadi keraguan yang kompleks, membuat perempuan diliputi tanda tanya. Pantaskah? Perlukah? Bolehkah? Terhadap setiap langkah progresif yang akan ia tempuh, dengan wajar dan tanpa sadar perempuan membatasi dirinya sendiri untuk tidak terlalu jauh meninggalkan apa yang masyarakat sebut dengan “kodrat” berkat nilai-nilai yang terinstal dalam pikirannya.

Salah satu akibat dari konstruk sosial-masyarakat patriarki yang sering disinggung oleh Fatimah Usman adalah bagaimana kebanyakan perempuan seringkali kehilangan eksistensinya ketika telah menjalani ikatan pernikahan. “Kodrat” yang diterjemahkan masyarakat untuk perempuan sering kali tidak memberikan pilihan kepada perempuan untuk menentukan “dirinya” sendiri. Apakah ia akan menjadi ibu rumah tangga atau dia bisa bekerja di luar rumah adalah dipilihkan oleh suaminya. Bukan karena kesepakatan bersama apalagi pilihan bebas darinya. Akhirnya tidak sedikit perempuan yang percaya bahwa penolakan terhadap keputusan suami bisa disebut pembangkangan dan haram hukumnya. Sehingga yang terjadi dalam rumah tangga adalah hubungan oposisi biner superior-inferior. Di mana faktor inilah yang menjadi salah satu pendorong terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Suami merasa “memiliki” diri istrinya sehingga berhak melakukan apapun kepada istri. Karena itulah menurut Fatimah Usman sangat penting menerjemahkan kembali relasi pernikahan. Yaitu dengan melakukan pembacaan kembali terhadap konsep nikah yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya surat al-Nisa [4]: 21 yang menyebutkan pernikahan dengan mīṡāqan galīẓan yaitu perjanjian yang sangat kuat. Di mana perjanjian ini bukanlah sekadar transaksi jual beli yang sifatnya aksidental. Melainkan perjanjian yang melibatkan dua keluarga, bukan hanya sekadar dua orang Jadi relasi yang terbangun bukanlah satu memiliki yang lain kemudian bisa sewenang-wenang mendominasi. Tapi “mitra” dalam perjanjian yang disebut akad nikah.

Baca Juga: Manusia Kabel Listrik

Selain itu, Fatimah Usman tidak sepakat bahwa perempuan harus menanggalkan nama keluarga aslinya untuk diganti menggunakan nama suaminya. Menurutnya hal yang demikian ini tidak adil, karena nama ayah seorang perempuan yang telah membesarkannya harus ditanggalkan begitu saja dengan kehadiran “orang baru”. Oleh karena itulah beliau tetap memilih nama ayahnya Usman dibelakang namanya, karena beliau ingin dikenal sebagai dirinya sendiri bukan karena suaminya. Prof. Amin Syukur yang merupakan Guru Besar Tasawuf di kampus yang sama tempat beliau mengajar.

Kedua faktor interpretasi teks-teks agama yang bias gender. Selama pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an didominasi oleh ideologi patriarki karena kebanyakan para mufassir adalah laki-laki sehingga segala sesuatunya selalu dipandang dengan kacamata laki-laki. Perempuan seolah terjebak pada literasi klasik yang dihasilkan oleh laki-laki dari berabad-abad lalu. Sehingga yang dibutuhkan adalah dekonstruksi yang harus disertai rekonstruksi sekaligus. Dibutuhkan pembacaan ulang yang dapat mengakomodir pandangan perempuan dalam memahami ayat Al-Qur’an.

Sebagaimana feminis kontemporer lainnya, Riffat Hasan, Fatima Mernissi, Amina Wadud dan Asghar Ali Engineer, Fatimah Usman juga sepakat bahwa penafsiran-penafsiran yang didominasi paradigma patriarkhi ikut memberi kontribusi bagi peminggiran kaum perempuan. Terlebih, ajaran-ajaran yang bias gender itu kemudian disampaikan dalam ceramah-ceramah keagamaan oleh para ustaz atau mubalig yang kemudian dipahami oleh masyarakat sebagai “agama” itu sendiri, bukan sekadar pemahaman agama.

Di antara akar ketimpangan gender yang terjadi dalam agama Islam adalah adanya ajaran-ajaran yang bernada misoginis atau memojokkan kaum perempuan. Contohnya penafsiran ayat yang mengisahakan peristiwa turunnya Adam dan Hawa dari surga menuju bumi. Tafsir yang populer di kalangan umat Islam adalah bahwa sebenarnya iblis tidak berhasil membujuk Adam untuk memakan buah keabadian (buah khuldi). Namun iblis melihat bahwa kelemahan Adam terletak pada Hawa, sehingga ia berbelok arah dan menggoda Hawa. Jadilah Hawa merengek kepada Adam untuk diambilkan buah khuldi. Lalu keduanya memakannya. Akibat dari perbuatan keduanya, maka mereka sama-sama diusir dari surga.

Padahal dalam al-Qur’an tidak pernah disebutkan bahwa iblis menggoda Hawa saja. Iblis menggoda keduanya. Dan keduanya tergoda. Tidak ada satu ayatpun yang menjelaskan bahwa Hawa tergoda lebih dulu, lalu ia membujuk Adam. Sebagaimana yang dalam surat al-Baqarah [2]: 36 disebutkan faazallauhuma al-syaiṭān. Setan menggoda huma atau keduanya. Bukan hanya Hawa. Cerita semacam di atas dalam termasuk  cerita israilliyat karena bersumber dari luar Islam. Bahkan nama “Hawa’ itu sendiri bukanlah nama yang berasal dari al-Qur’an. Namun cerita di atas cukup mempengaruhi pola pikir umat Islam bahwa perempuanlah yang menyebabkan diusirnya Adam dari surga. Sehingga perempuan harus menanggung “dosa warisan” yang dilakukan oleh Hawa. Sehingga wanita seringkali menyandang stereotip negatif sebagai penggoda, mengundang fitnah, menyebab kerusakan, kurang akal, tidak cukup agamanya dan lain-lain.

Baca Juga: Sebait Cerita dari UKSW untuk Fatimah Usman

Pemikiran Fatimah Usman dalam kesetaraan gender nampak mempunyai banyak kesamaan dengan Amina Wadud. Mengapa ajaran Islam banyak memihak kepada laki-laki dan berkarakter maskulin? Karena kitab-kitab yang digunakan adalah hasil pemikiran laki-laki. Lalu bagaimana perempuan begitu tertinggal? Dunia ini berpandangan maskulinitas, karena yang membangun peradaban adalah maskulinitas. Perempuan tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya secara optimal agar bisa memberikan sumbangan yang berarti.

Pemikiran Fatimah Usman tidak berhenti di tataran wacana. Hal ini dibuktikannya dengan aktif sebagai pembela hak-hak perempuan korban KDRT, kekerasan berbasis gender dan anak. Beliau adalah salah satu penggagas berdirinya Seruni sebagai pusat pelayanan terpadu untuk korban kekerasan berbasis gender dan anak di Semarang. Selain itu, pemikiran beliau juga seringkali dalam berbagai kesempatan diskusi, seminar atau talk-show disampaikan kepada para sesama aktivis perempuan di Semarang dengan tujuan agar kita tidak serta merta mengikuti konsep gender yang digaungkan di Barat yang tentunya tidak semuanya baik diaplikasikan di kalangan masyarakat Muslim.

Konsep gender dalam Islam pun sebenarnya masih belum mencapai format yang mapan.. Namun yang bisa penulis garis bawahi dari pemikiran seorang Fatimah Usman adalah bagaimana perempuan itu bisa dihargai sebagai dirinya sendiri. Yang tentunya hal itu juga membawa konsekuensi agar dengan kesempatan yang sama perempuan tidak segan untuk bersaing dengan laki-laki untuk meningkatkan kualitas dirinya. Sehingga tidak ada lagi hubungan superior-inferior, tapi keduanya adalah penciptaan Tuhan yang berbeda tapi saling melengkapi.

[Iin Muthmainnah]

*Tulisan ini diterbitkan dalam rangka mengenang wafatnya almh. bu Fatimah Usman, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora dan istri dari Prof. Dr. H. M. Amin Syukur M.A .

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,183,Berita,965,cerpen,20,Dosen,5,EkspreShe,24,Essay,74,Generasi Milenial,22,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,6,Hari Santri,4,Ilmu Pengetahuan,23,Keagamaan,17,Kesehatan,8,Mahasiswa,125,Muharram,1,Oase,200,Opini,155,opini mahasiswa,2,PBAK,10,politik,3,Puasa Ramadan,19,Puisi,80,Resensi,11,Resensi Buku,14,Resensi Film,22,Riset,4,Sastra,44,Semarang,1,Surat Pembaca,7,Suro,2,Teknologi,10,Toefl-Imka,12,UIN Walisongo,175,UKM,3,Wisuda,22,Zodiak,2,
ltr
item
IDEApers: Pemikiran Gender Fatimah Usman (Dari Wacana Menuju Aksi)
Pemikiran Gender Fatimah Usman (Dari Wacana Menuju Aksi)
*Tulisan ini diterbitkan dalam rangka mengenang wafatnya almh. bu Fatimah Usman, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora dan istri dari Prof. Dr. H. M. Amin Syukur M.A .
https://2.bp.blogspot.com/-NcU4ufnjKt0/XJGKLa6BjTI/AAAAAAAAHSM/sxJU5AArssgqXLUg6ne8vI6GRERI70jzACK4BGAYYCw/s1600/Pemikiran%2BGender%2BFatimah%2BUsman%2B%2528Dari%2BWacana%2BMenuju%2BAksi%2529.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-NcU4ufnjKt0/XJGKLa6BjTI/AAAAAAAAHSM/sxJU5AArssgqXLUg6ne8vI6GRERI70jzACK4BGAYYCw/s72-c/Pemikiran%2BGender%2BFatimah%2BUsman%2B%2528Dari%2BWacana%2BMenuju%2BAksi%2529.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2019/03/pemikiran-gender-fatimah-usman-dari-wacana-menuju-aksi.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2019/03/pemikiran-gender-fatimah-usman-dari-wacana-menuju-aksi.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin