Resensi Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” dan Fenomena Fatherless di Indonesia



Judul Film: Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

Pemeran: Dwi Sasono, Unique Priscilla, Mawar De Jongh, Rey Bong.

Durasi: 103 Menit

Tanggal Rilis: 9 April 2026


“Kita gak butuh ayah yang sempurna, kita hanya butuh ayah yang selalu ada”

Kutipan di atas diambil dari sebuah adegan yang diperankan oleh Darin (anak ke-dua yang diperankan oleh Rey Bong) di Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?”. Film yang berdurasi 1 jam 43 menit ini merupakan karya yang disutradarai oleh Kuntz Agus dan diangkat dari buku karya Khoirul Trian dengan judul yang sama.

Di menit-menit awal, adegan film menampilkan gambaran keluarga “sempurna” seperti yang ter-mindset orang kebanyakan: Keluarga dengan dua anak yang terdidik baik dan berada pada kelas ekonomi menengah ke atas. Keluarga harmonis yang seakan semuanya tercukupi, baik materi maupun secara kasih sayang antar anggota keluarga.

Namun, seiring berjalannya waktu, alur film menunjukkan bahwa apa yang nampak tersebut hanyalah cover yang menutupi konflik sebenarnya di keluarga tersebut.

Bermula dari peristiwa ledakan yang terjadi akibat kebocoran gas dan mengakibatkan sang ibu dan Darin harus dirawat di rumah sakit. Namun, dalam situasi genting itu, ternyata sang ayah (Dwi Sasono) tidak memiliki biaya untuk pengobatan istri (Unique Priscilla) dan anaknya. 

Konflik semakin kusut ketika terungkap bahwa sang ayah memiliki hutang yang tidak sedikit dan muncul seorang anak kecil (Damar) yang tiba-tiba datang ke rumah lalu memanggil sang ayah dengan sebutan “ayah” juga. Bahkan, akhirnya juga terungkap jika snag ayah rutin mengirim uang ke Damar.

Dalam situasi yang serba sulit, Darin dan kakaknya, Dira (Mawar De Jongh), merasa kalut serta menganggap ayahnya pembohong dan tidak adil. Terlebih sebelumnya, saat Dira wisuda, sang ayah tidak hadir dan memunculkan konflik tersendiri di keluarga tersebut.

 Baca Selengkapnya: Jalur Maut Tanjakan Silayur Ngaliyan; Ketika Jam Operasional Beradu dengan Nyawa

Sosok ayah di film ini memang digambarkan pendiam dan menangani setiap permasalahannya sendiri, seperti tidak ingin keluarganya tahu. Ketika konflik semakin klimaks, baru diketahui bahwa sebenarnya sang ayah menderita sakit keras dan mengalami masalah dengan pekerjaannya.

Situasi sulit tersebut tidak pernah dibicarakan oleh sang ayah dengan sang istri dan kedua anaknya, karena beban pikiran untuk tidak menyeret keluarganya ke dalam situasi sulit. Sebagai kepala keluarga, sang ayah merasa bahwa beban yang dialaminya harus ia tanggung sendiri. Namun di sisi lain, tanpa ia sadari, hal tersebut justru memunculkan jarak antara sang ayah dan keluarganya. Bahkan, kedua anaknya merasa bahwa sang ayah tidak mampu hadir ke dalam kehidupan sebagaimana peran “ayah” yang seharusnya.

Kekosongan peran ayah dan kekecewaan yang dirasakan oleh Darin dan Dira membuat keduanya kacau dan memutuskan pergi dari rumah. Dira akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan studi S2-nya sedangkan sang adik, Darin, bahkan sempat masuk penjara karena tawuran. Keputusan-keputusan yang diambil kedua anak tersebut disandarkan karena alasan kekecewaan terhadap sang ayah, dan menganggap sang ayah tidak mampu “hadir” dengan baik ke dalam hidup keduanya.


Fenomena Fatherless

Film tersebut menggambarkan realitas orang tua yang seringkali menyembunyikan masalah yang terjadi untuk ketenangan anak-anaknya. Namun, itu sering disalahartikan oleh sang anak dan menganggap bahwa orang tuanya tidak peduli dengan tumbuh kembang sang anak. 

Masalah keluarga ini ditutup dengan kematian sang ayah yang dibarengi dengan terungkapnya kebenaran bahwa anak yang memanggil ayah Dira dengan sebutan ayah nyatanya adalah anak dari sahabat sang ayah, serta hutang yang besar yang dimiliki sang ayah tak lain merupakan biaya pengobatan sakit sang ayah yang selama ini disembunyikan.

Dira dan Darin menyadari bahwa ayah yang terlihat acuh dan tidak peduli pun pasti mengusahakan yang terbaik untuk mereka, hanya saja ayah tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikannya.

Seperti berkaca pada film tersebut, fenomena fatherless juga banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, terlebih di Indonesia. 

Baca Selengkapnya: Meriahkan Dies Natalis ke 56, Ratusan Civitas Akedemika Meriahkan Jalan Sehat

Dikutip dari Detikedu (23\05\23) sebanyak 15,9 juta anak Indonesia ditemukan tumbuh tanpa sosok ayah atau fatherless. Hal ini menjadi perhatian khusus dari masyarakat, terutama ahli di bidang psikologi.

Fatherless bukan hanya situasi ketidakhadiran fisik dan tidak mampu memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga situasi terjadinya kekosongan kehadiran secara emosional. 

Seringkali, fenomena fatherless disebabkan oleh belum matangnya kondisi psikologis orangtua dan kurangnya pemahaman bagaimana menjadi orang tua yang tidak hanya memberi makan, tetapi juga mampu hadir dalam tumbuh kembang sang anak.

Berkaca dari film tersebut, komunikasi dan keterbukaan menjadi kunci bagaimana keluarga berjalan harmonis tanpa rahasia-rahasia yang membebankan salah satu pihak, lalu menjadi bom waktu di kemudian hari. 

Harmonis di sini bukan berarti selalu ditunjukkan dengan potret keluarga yang ditempel di dinding atau jalan-jalan setiap akhir minggu. Melainkan bagaimana komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga mampu menjembatani garis-garis struktural dalam keluarga. Karena tak dipungkiri, keluarga-keluarga di Indonesia masih cukup kuat mengadopsi garis-garis patriarki yang menempatkan setiap anggota keluarga dalam ruang struktural. Seperti ayah dengan tahta tertinggi di keluarga, sehingga tidak ada ruang diskusi dengannya jika terkait keputusan. Atau anak-anak sebagai yang menempati struktur terbawah, tidak memiliki kuasa untuk mengungkapkan pendapat. Meski tidak semua keluarga seperti itu, tapi masih cukup banyak yang mengadopsi pola tersebut, tanpa disadari.

Dalam hal ini, melibatkan anak kepada permasalahan bukan berarti membagi semua beban kepada anak yang akan mengganggu tumbuh kembang dan psikologis sang anak, melainkan memperhatikan juga porsi yang diberikan sesuai usia dan kemampuan.

Pada akhirnya, film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” tidak hanya menyajikan konflik keluarga, tetapi menjadi cermin tentang keadaan dimana kasih sayang seorang ayah kerap tersembunyi di balik diam dan tanggung jawab yang tak terucap. Jika saja terdapat keberanian untuk hadir secara emosional dan mengekspresikan perasaan lebih awal, mungkin banyak hubungan tidak perlu berakhir dalam penyesalan, karena yang dibutuhkan dalam keluarga sebenarnya bukan hanya selalu hadir, namun benar-benar ada dan peduli. [Lulu]

KOMENTAR

Name

17 agustus,1,2021,4,2023,1,2024,2,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,2,academy,1,Advertorial,4,AFI,3,ai,6,Akreditasi,1,al-ghazali,1,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,4,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,4,Artificial Intellgence,3,Artikel,554,Artikel sastra,3,asian value,1,atribut,1,audiensi,7,Ayah,1,bahasa,1,bahasa ibu,1,bali,3,banding ukt,1,Banding UKT 2023,2,banjir,2,bantuan ukt,2,Beasiswa,22,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1676,berita potret,5,biografi,1,bonus demografi,1,buku,8,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,11,calon wisudawan,1,camaba,11,camaba 2022,2,camaba 2023,1,Camaba 2025,1,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,36,copy writing,1,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,2,cybersecurity. internet,1,darurat pernikahan dini,1,Daun kelor,1,dekan fuhum,1,dema,15,Demokrasi,1,demonstrasi,1,Dies Natalis,1,digital,3,diklatpimnas,1,diskon,1,Dokumen,1,Doom Spending,1,dosen,3,dsign,1,Edukasi Seksual,1,ekologi,1,ekosistem,1,EkspreShe,35,era digital,2,Es Teh,1,Essay,121,fakultas kedokteran,5,Fasilitas,3,Fasilitas PKM,2,fdk,1,feature,2,film,6,Filsafat,40,FITK,1,fresh graduate,3,FUHUM,69,FUHum fest,3,FUPK,7,Gadis Kretek,1,Gagal Wisuda,3,gaya hidup,3,gelar ISAI,2,Gen Z,2,gender,2,General Library,2,Generasi Milenial,31,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,greencampus,1,Guru,6,gym,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,hari batik,1,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,2,Hari Buruh Internasional,4,hari guru,2,hari ibu,1,Hari Jumat,1,Hari Kartini,4,hari kemerdekaan,2,hari pahlawan,4,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,12,Hari Santri,10,Hari Santri Nasional 2022,6,Hari Sumpah Pemua 2022,2,heroisme,1,Hukum,1,Ibnu Sina,1,ide bisnis,1,identitas,1,idul adha,11,Ilmu Falak,1,Ilmu Pengetahuan,91,Imam Nawawi,1,Imlek,2,indonesa emas,1,indonesia,6,info beasiswa,4,info kos ngaliyan,1,Informasi,2,Informasi Kampus,20,Informasi Umum,21,inspiratif,1,internasional,6,ISAI,2,islam,2,isra' mi'raj,3,Iwan Fals,1,jawa timur,1,Jerat Hukuman,1,judul skripsi terbaik,8,Jurang Asmara,3,Kahlil Gibran,2,Kajian,6,kalam fuhum,1,Kapitalis,2,Kasus Birokrasi,2,Keagamaan,74,Kebahagiaan,3,kebaya,2,kebudayaan,7,kecantikan,1,kecelakaan,6,kecerdasan,2,Kedokteran,1,kekerasan seksual,2,kekerasan seksual anak,1,kemanan,1,kemanusiaan,2,kemerdekaan,3,kerja,2,kesadaran,8,Kesaktian Pancasila,1,Kesehatan,29,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,7,Kitab Allah,1,kkl,12,KKN,23,KKN Internasional,1,KKN Nusantara,1,Klarifikasi,2,kompre,1,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,2,Korean Wave,1,korelasi,1,Korelasi 2023,3,Korupsi dosen,1,kos,1,kru IDEA,3,ksr,1,KTM hilang,1,KTT G20,3,KUHP,1,Kuliah,12,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kuliner,1,kupi,1,kurban,3,Lahan Parkir,4,leaders declaration,1,liburan,3,lifestyle,1,Literasi,3,Logo HSN 2022,1,lpm,1,lukisan,1,Lulus Cepat,13,ma'had,11,maba 2023,6,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,684,mahasiswa baru,19,Mahasiswa Meninggal,1,makna hidup,1,makna kembang api,1,Maksiat hati,1,Malaysia,1,mana 2024,1,Masa Jabatan,1,Masjid Kapal,1,Maulid Nabi,1,media sosial,2,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,menwa,1,metafisis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,8,Muhammad,6,Muhammad Iqbal,1,Munaqosah,2,Musik,1,Nabi Muhammad,8,nasional,27,Nasionalisme,1,natal,1,New Normal,18,Ngaliyan,15,Oase,412,Olahraga,2,omnibus law,1,Opini,259,opini mahasiswa,22,ORKM,2,ormawa,2,orsenik,28,outfit,2,pameran isai,2,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,29,PBAK 2022,5,pbak 2023,14,PBAK 2024,7,Pedagogi,1,pelatihan,2,pelecehan seksual,1,peluang,1,Pemalsuan,5,Pembayaran UKT,3,Pemilu 2024,3,pemuda,3,Pendidikan,19,penemuan ular,1,pengembangan diri,7,Penghapusan UKM fakultas,3,Penjara,1,Penyair,1,Penyesuaian UKT 2022,3,perang ukraina,1,Perempuan,8,peringatan harlah NU,1,pernikahan dini,1,perpustakaan,5,Pertemanan,1,Pidana,1,Plagiasi Rektor,1,Planetarium UIN Walisongo,2,PMB,10,politik,5,pondok pesantren,5,pormawa,1,Post-truth,1,Potret Berita,11,potret wisuda,6,ppb,7,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,presidensi,1,Prestasi,2,profesi,2,Program Mahasiswa Internasional,2,Psikologi,36,Puasa,9,Puasa Ramadan,45,Puisi,162,Quotes,1,qurban,1,ramadhan 2023,9,Ramadhan 2024,1,ramadhan 2025,2,Rasulullah,1,recriutment,2,recruitment,4,refrensi,1,regulasi,1,rektor,7,Resensi,24,Resensi Buku,22,Resensi Film,35,revolusi industri,1,Riset,5,Rukyat Hilal,1,SAA,1,Sahabat,2,Sampah Juras,2,santri Ma'had,4,Sastra,125,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,sema,6,Semarang,190,sempro,2,Shalawat,1,Sidang,2,Sistem akademik,1,SK Jabatan 6 Bulan,1,SK Wajib Mahad,11,skill,1,Skripsi,19,sky,1,socrates,2,sosial,2,Sosok,2,Soto,1,SPAN-PTKIN,1,stoic,1,Student Mobility,1,sufisme,2,Sujiwo Tejo,1,sukses,3,sumpah pemuda,2,Surat Pembaca,9,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,3,Taman Entrepreneur FEBI,1,TandaTangan,4,tasawuf,2,Taubat,1,teater,8,Teknologi,43,teladan,1,Thailand,1,tips,5,Toefl-Imka,23,tokoh,1,Toxic,1,TP,2,tranformasi energi,1,Tugas Akhir,16,UHN,2,UIN Walisongo,795,UIN Walisongo Semarang,72,ujm,2,UKM,18,ukt,35,UKT 2024,6,UKT tinggi,2,ular piton,1,UM-PTKIN,2,upz,1,video,2,Wajib mahad,6,wali camaba,2,wali wisuda,6,Walisongo Center,2,wanita,1,William Shakespeare,1,wisata,4,Wisuda,118,wisuda 2022,15,wisuda 2023,6,wisuda 2024,26,wisuda offline,5,wisudawan terbaik,33,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Resensi Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” dan Fenomena Fatherless di Indonesia
Resensi Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” dan Fenomena Fatherless di Indonesia
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAU31iybw4T0m0NOq7PvnuV7sDGVZWd-U_HKWrEF9uGE-gt1-Et4KA3x83y0Te5rBhxELVGXL_IZdqWsYOp6JlrC_OEvENb1QrLTqB1iROTIdWfNW8mTAzIFMxMLRCl2CqJWGXQftFrN3IfIzBdZ0djk8vMqkdqsUWiQbl4TtSsc1JlQYXPn4VeteoHSB5/w640-h360/WhatsApp%20Image%202026-04-12%20at%2000.42.39.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAU31iybw4T0m0NOq7PvnuV7sDGVZWd-U_HKWrEF9uGE-gt1-Et4KA3x83y0Te5rBhxELVGXL_IZdqWsYOp6JlrC_OEvENb1QrLTqB1iROTIdWfNW8mTAzIFMxMLRCl2CqJWGXQftFrN3IfIzBdZ0djk8vMqkdqsUWiQbl4TtSsc1JlQYXPn4VeteoHSB5/s72-w640-c-h360/WhatsApp%20Image%202026-04-12%20at%2000.42.39.jpeg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2026/04/resensi-film-ayah-ini-arahnya-ke-mana.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2026/04/resensi-film-ayah-ini-arahnya-ke-mana.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin