Takdir dan Proses Penerimaan Diri

Karakter Amor dan Fati saat tampil di pementasan Teater Naskah Lakon Amor Fati.(28/10/22)

Semarang, IDEAPERS.COM
- Kurang dari seperempat jam usai azan Isya berkumandang, di pelantaran gedung auditorium 1 kampus 1 Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN) Semarang, sudah dipenuhi oleh buncah antusias calon penonton pertunjukkan teater dengan lembaran tiket yang mereka genggam. Untuk setengah jam kemudian diarahkan memasuki sebuah ruangan.

Calon penonton disambut oleh ruangan gelap dikelilingi backdrop berwarna hitam, mereka digiring duduk berjejeran rapi beralaskan tikar membentang lebar menghadap satu arah pada panggung pertunjukkan. Angin malam beradu dengan penyejuk udara di sekeliling ruangan petak dengan pilar-pilar pada sayap ruangan lantai satu gedung itu. Penonton diingatkan untuk menyetel mode sunyi pada gawai masing-masing.

Keheningan menyelimuti ruangan, lakon pertunjukkan teater pun dimulai. Panggung dipenuhi oleh berbagai lukisan, ember-ember cat, tumpukan kuas lukis dari sisa pekerjaannya, seolah menggambarkan penampakan studio seni, milik sosok lakon bernama Amor. Dikisahkan dua sejoli, Amor dan Fati, saling mencintai, namun tidak ditakdirkan bersama. 

Keadaan membuat mereka tidak bisa bersama, restu sang Ayah Fati yang pesimis akan masa depan anaknya bersama Amor, dan Amor yang masih bergelut pada dunianya. Seni dalam sebingkai lukisan. Goresan-goresan cat lukisnya.

Klimaksnya dialami oleh pengembangan karakter Amor, sang kekasih telah meninggalkannya, undangan pernikahan pun telah ia terima. Bukan bersamanya, tapi orang lain. Suasana menjadi tegang oleh amarah Amor yang menjadi-jadi, dentuman musik mendukung nuansa sang tokoh yang kalah oleh keadaan. Amor yang murka membanting apa yang ia lihat di sekelilingnya, penonton diajak untuk hanyut dalam kobaran amarah dan kekecewaan Amor.

Di tengah porak-poranda studio seni itu, Amor terduduk lunglai dan menatap kosong sembarang sembari menghabiskan isapan rokok yang ia jepit oleh jari kering pelukis. Dalam angan kekalutannya, ia memandang kanvas putihnya, bukan sebagai sepetak lukisan kosong, namun menjulang sesosok sang kekasih, Fati berbalutkan gaun putih. Nyawa sang empu tadi seperti ditarik kembali, dengan cepat sang pelukis menggapai kuasnya, juga piringan lukisnya, membasahinya dengan cat berwarna, menggoreskannya dengan lembut pada gaun seputih salju sang pujaannya. Pekik satu-dua penonton tertahan oleh adegan itu.

Goresan lukisan itu terus berlanjut, dalam adegan itu Amor dan Fati berdansa ditempa lampu sorot berwarna biru. Mereka layaknya kekasih yang dipersuakan kembali, mengitari sepanjang panggung, alunan musik pun membius penonton ke dalam ruang imaji pelukis. Di tengah syahdunya liuk dansa sepasang kekasih, Fati terjatuh dalam pelukan Amor, gemuruh riuh penonton tak tertahankan lagi. Penonton Seolah terbawa untuk bebas dari kekecewaan Amor sebelumnya. Amor kemudian tertawa cekikikan menyadari kenyataan kisah cintanya.

Hari-hari selanjutnya sang pelukis diisi dengan kesibukan mempersiapkan pameran. Bersama Bram, sahabatnya yang menuntunnya bangkit dari keterpurukan naas cinta Amor. Lewat sosok Bram pula, penonton dibuat tertawa oleh kelakar-kelakar dialog lakonnya, ia menjadi sentris humor penonton. 'Tidak ada yang lebih indah dari kasih sayang seorang perempuan', ucap Amor dalam menyambut pemeran lukisannya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening oleh kedatangan Fati, 'Mas Amor!'. Amor tersenyum, ia menyambut kedatangan Fati, "'aku sangat kagum dengan semua lukisan kamu mas, pasti banyak hal yang telah kamu lalui". Amor telah melalui banyak hal, ia telah berdamai akan takdirnya. Tanpa beban, Amor meninggal Fati. Musik beritme jazz mengalun ruang petak itu. Pertunjukkan Naskah Lakon Amorfati pun berakhir.

Sutradara naskah lakon Amorfati, Amirbaewa, mengungkapkan bahwa cerita ini berangkat dari pengalaman pribadinya bersama anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Metafisis. Mulai dari proses ia belajar hingga kendala yang dilaluinya.

"Selama saya belajar dan berproses di teater metafisis, mengalami banyak problematika yang rumit tentunya, akhirnya lima tahun berlalu itu bisa saya refleksikan melalui karya pementasan Amorfati ini yang mengangkat kisah roman", ucapnya kepada kru IDEAPERS.COM saat di temui usai pementasan (28/10/22).

Amir sapaan akrabnya mengatakan, dalam cerita ini ia ingin menyampaikan Tentang takdir kita sebagai manusia, dan refleksi dibalik itu.

"Jika memang takdir sulit untuk kita terima, percayalah, dibalik apa yang Tuhan berikan kepada kita, semua ada hikmahnya. Sebagai insan, patutlah kita untuk tetap bersabar dan bertawakal kepada Tuhan. Karena semua yang mengatur alam semesta ini adalah Tuhan," jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam kisah Amor dan Fati bukan hanya sekedar kisah cinta belaka, namun lebih dari itu, merupakan proses penerimaan itu sendiri dan takdir menjadi perantara akan keduanya.

"karena kisah sebuah cinta, bukan sebuah kisah cinta," pungkasnya.[Rep.Riska/ Red.Wahhab]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,academy,1,Advertorial,4,al-ghazali,1,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,485,Artikel sastra,1,atribut,1,bali,1,banjir,2,Beasiswa,8,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1321,biografi,1,bonus demografi,1,buku,2,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,3,camaba,1,camaba 2022,2,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,27,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,1,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,32,Essay,120,feature,2,film,4,Filsafat,34,fresh graduate,3,FUHUM,11,FUHum fest,2,FUPK,5,gaya hidup,1,gender,1,Generasi Milenial,29,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,Guru,3,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,hari guru,1,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,hari pahlawan,4,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,Hari Santri Nasional 2022,6,Hari Sumpah Pemua 2022,2,heroisme,1,ide bisnis,1,idul adha,5,Ilmu Pengetahuan,86,Imam Nawawi,1,indonesia,3,info kos ngaliyan,1,inspiratif,1,islam,2,Iwan Fals,1,judul skripsi terbaik,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,66,Kebahagiaan,3,kebudayaan,1,kecantikan,1,kecerdasan,2,kekerasan seksual,2,kemanusiaan,2,kemerdekaan,1,kerja,1,kesadaran,7,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,4,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,11,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,1,Korean Wave,1,kos,1,KTT G20,3,Kuliah,10,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kupi,1,kurban,1,Lahan Parkir,2,leaders declaration,1,liburan,1,lifestyle,1,Literasi,2,Logo HSN 2022,1,lukisan,1,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,411,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,7,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,nasional,5,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,351,Olahraga,1,Opini,241,opini mahasiswa,19,ORKM,1,orsenik,19,outfit,1,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,24,PBAK 2022,5,peluang,1,pemuda,1,Pendidikan,9,penemuan ular,1,pengembangan diri,6,Penyair,1,Penyesuaian UKT 2022,3,perang ukraina,1,Perempuan,6,Pertemanan,1,politik,3,pondok pesantren,1,Post-truth,1,Potret Berita,6,potret wisuda,2,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,presidensi,1,profesi,1,Psikologi,31,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,129,Quotes,1,qurban,1,Rasulullah,1,recriutment,1,recruitment,2,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,5,Sahabat,2,Sastra,108,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,Semarang,62,Shalawat,1,SK Wajib Mahad,1,skill,1,Skripsi,6,sky,1,socrates,2,sosial,2,Sosok,1,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,8,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,teater,3,Teknologi,38,teladan,1,tips,4,Toefl-Imka,15,tokoh,1,Toxic,1,UIN Walisongo,496,ujm,2,UKM,6,ukt,22,ular piton,1,wali wisuda,1,wanita,1,William Shakespeare,1,Wisuda,83,wisuda 2022,13,wisuda offline,4,wisudawan terbaik,7,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Takdir dan Proses Penerimaan Diri
Takdir dan Proses Penerimaan Diri
"karena kisah sebuah cinta, bukan sebuah kisah cinta," pungkas Amir.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim2ks-IdX4uF0_yoAT3N_HVKCxl5mcwolg6KDY7LZKG4GgNLKj4b2hfS8tK0xqc1wXMIXjFTtcEqbIBVGptdCX8J1Uy7rMgfraw0qBw2VzWHRuANnrLCfjofMgGKisQgIO_f-GXfnqFmTb71s_zyR0vULAJHZx-2hO4JNduHpbOwATxCDUl7_nUkhoBg/s16000/DSC09465.JPG
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim2ks-IdX4uF0_yoAT3N_HVKCxl5mcwolg6KDY7LZKG4GgNLKj4b2hfS8tK0xqc1wXMIXjFTtcEqbIBVGptdCX8J1Uy7rMgfraw0qBw2VzWHRuANnrLCfjofMgGKisQgIO_f-GXfnqFmTb71s_zyR0vULAJHZx-2hO4JNduHpbOwATxCDUl7_nUkhoBg/s72-c/DSC09465.JPG
IDEApers
https://www.ideapers.com/2022/10/takdir-dan-proses-penerimaan-diri.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2022/10/takdir-dan-proses-penerimaan-diri.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin