Mendongeng "Senja" di Desa



Tanah tuah yang dipertuan. Anak-anak yang dahulu bersepatu lumpur dan berkalung layang-layang itu kini sudah melewati garis batas desa. Berbaju kerah, celana licin bergaris, dan sepatu mengkilap. Buku-buku tersimpan rapat dalam tas punggung serba hitam. Berbaris-baris catatan yang disalin dari papan tulis di sekolah mengantarkan anak-anak dari tanah bertuah menuju tanah berselimut aspal dan ber-musikkan mesin kendaraan. Anak-anak yang dahulunya menyambut senja dengan gelak tawa kini berganti dengan wajah-wajah sengkarut deadline dan berpeluh kecemasan. Tanah tuah itu, kini sendirian menunggu fana.

Di desa, orang-orang tidak lagi menahan anak-anaknya berangkat ke sekolah. Para bapak tidak lagi menenteng anaknya ketika mengolah sawah. Sedari fajar, para ibu sudah menjadi repot membangunkan sang anak untuk mandi pagi dan berangkat ke sekolah. Anak-anak di desa menjadi terbiasa meninggalkan peraduan dengan seragam dan sepatu hitamnya.

Ya, orang desa tidak lagi tabu dengan bangku sekolah. Dari anak yang menuju dewasa hingga yang baru lancar berbicara, tidak ada satu pun yang luput dari huruf-huruf dan angka-angka. Dunia pendidikan sudah menjadi kewajiban untuk dimasuki, baik karena aturan wajib sekolah 12 tahun dari pemerintah ataupun karena memang memahami bahwa pendidikan itu penting.

Para orang tua yang memasukkan anaknya mencicipi bangku sekolah dengan menyimpan harapan yang begitu besar. Mimpi-mimpi masa depan tentang kehidupan yang lebih baik. Masa tua yang sejahtera dan tanpa beban. Di pundak anak-anak tidak hanya menahan beratnya buku-buku pendamping di kelas, tetapi juga harapan para orang tua untuk anaknya kelak akan menjadi "seseorang". Mimpi untuk memangku pekerjaan yang dianggap mumpuni.

Orang-orang di desa, yang hampir semuanya menggantungkan hidup pada tanah dan tanamannya, memimpikan anak-anaknya tidak berpeluh keringat demi sesuap nasi. Mereka mulai memimpikan pekerjaan yang dianggap "lebih baik"; bekerja di dalam ruang ber-AC, baju rapi, dan tidak perlu menyiksa ototnya terlalu berlebih.

Anak-anak yang lahir dari ibu dan bapak petani tidak dikehendaki menjadi petani. Seakan semua kesusahan mengolah sawah hanya boleh berhenti di nasib orang tuanya. Anak-anak diupayakan bernasib mujur, punya mobil dan rumah bertingkat.

Anak-anak disekolahkan untuk bisa pergi ke kota, mengadu nasib menjadi "orang". Punya banyak tanah untuk dijadikan ladang usaha. Tidak peduli bagaimana kualitas pengetahuan di sekolah, yang penting hidup tidak lagi mengolah sawah.

Sayangnya, orang tua lupa memimpikan tentang tanah tuahnya, tanah moyang yang menghidupi. Semua anak dikirim ke kota. Melempar dadu nasib kemujuran dari para dewi.

Di usia senja, para orang tua mulai kebingungan. Tidak ada anak-anaknya yang pulang dan pergi ke sawah. Anak-anak yang sudah menjadi dewasa, terlanjur gagap dalam urusan mengolah sawah. Lupa cara membajak dan menanam. Orang tua yang semakin tua, memaksa tubuhnya yang keriput untuk tetap memberikan kehidupan terakhir bagi tanah bertuahnya.

Ketika tulang semakin tidak bisa menopang berat tubuhnya, banyak tanah yang ditinggalkan dan dibiarkan bertumbuhkan ilalang. Tanah yang dahulunya bertuah memberikan kasih sayang untuk menghidupi, menjadi begitu bebal dan tidak mau menumbuhkan hidup. Jika sedikit beruntung, tanah dipindah tangan ke orang kaya. Tanah ditukar berlembar-lembar kertas bergambarkan pahlawan revolusi.

Orang-orang desa tidak lagi memiliki kekayaan akan tanahnya, tidak lagi memiliki tanahnya yang bertuah. Orang-orang beruang yang membayarkan tanahnya, menyulap tanah menjadi toko dan ladang usaha. Tanah menjadi sesak tertimpa beton dan besi.

Semakin lama, tanah-tanah desa habis menjadi deret bangunan. Orang-orang semakin lupa bagaimana tanah itu dulu pernah begitu menghidupi. Mengajarkan kesabaran dan rasa syukur yang agung akan kehidupan yang diberkati. Tidak ada lagi gelak tawa anak-anak di ladang yang penuh lumpur. Atau para pemilik tanah yang bercakap-cakap mendongengkan hasil panen.

Senja di desa tidak lagi berhiaskan kaki-kaki yang kekar menapaki tanah, atau para pemuda yang menggendong buah tangan dari sawahnya. Senja di desa menjadi muram, berisikan kecemasan akan hari esok dan tugas-tugas yang belum usai. Kini, tanah itu begitu dingin bersama para orang tua yang kesepian menunggu anaknya pulang dari kota. [Ainun Nafisah]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,academy,1,Advertorial,4,al-ghazali,1,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,485,Artikel sastra,1,atribut,1,bali,1,banjir,2,Beasiswa,8,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1321,biografi,1,bonus demografi,1,buku,2,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,3,camaba,1,camaba 2022,2,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,27,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,1,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,32,Essay,120,feature,2,film,4,Filsafat,34,fresh graduate,3,FUHUM,11,FUHum fest,2,FUPK,5,gaya hidup,1,gender,1,Generasi Milenial,29,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,Guru,3,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,hari guru,1,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,hari pahlawan,4,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,Hari Santri Nasional 2022,6,Hari Sumpah Pemua 2022,2,heroisme,1,ide bisnis,1,idul adha,5,Ilmu Pengetahuan,86,Imam Nawawi,1,indonesia,3,info kos ngaliyan,1,inspiratif,1,islam,2,Iwan Fals,1,judul skripsi terbaik,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,66,Kebahagiaan,3,kebudayaan,1,kecantikan,1,kecerdasan,2,kekerasan seksual,2,kemanusiaan,2,kemerdekaan,1,kerja,1,kesadaran,7,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,4,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,11,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,1,Korean Wave,1,kos,1,KTT G20,3,Kuliah,10,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kupi,1,kurban,1,Lahan Parkir,2,leaders declaration,1,liburan,1,lifestyle,1,Literasi,2,Logo HSN 2022,1,lukisan,1,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,411,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,7,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,nasional,5,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,351,Olahraga,1,Opini,241,opini mahasiswa,19,ORKM,1,orsenik,19,outfit,1,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,24,PBAK 2022,5,peluang,1,pemuda,1,Pendidikan,9,penemuan ular,1,pengembangan diri,6,Penyair,1,Penyesuaian UKT 2022,3,perang ukraina,1,Perempuan,6,Pertemanan,1,politik,3,pondok pesantren,1,Post-truth,1,Potret Berita,6,potret wisuda,2,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,presidensi,1,profesi,1,Psikologi,31,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,129,Quotes,1,qurban,1,Rasulullah,1,recriutment,1,recruitment,2,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,5,Sahabat,2,Sastra,108,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,Semarang,62,Shalawat,1,SK Wajib Mahad,1,skill,1,Skripsi,6,sky,1,socrates,2,sosial,2,Sosok,1,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,8,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,teater,3,Teknologi,38,teladan,1,tips,4,Toefl-Imka,15,tokoh,1,Toxic,1,UIN Walisongo,496,ujm,2,UKM,6,ukt,22,ular piton,1,wali wisuda,1,wanita,1,William Shakespeare,1,Wisuda,83,wisuda 2022,13,wisuda offline,4,wisudawan terbaik,7,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Mendongeng "Senja" di Desa
Mendongeng "Senja" di Desa
Semakin lama, tanah-tanah desa habis menjadi deret bangunan. Orang-orang semakin lupa bagaimana tanah itu dulu pernah begitu menghidupi.
https://1.bp.blogspot.com/-oemKBW06IkY/YbEYOM_5Y5I/AAAAAAAAMg8/HawRGSWgRI8bU99m12aGNUCazjPAVSPmgCNcBGAsYHQ/s16000/8.7.3.-Kesenjangan-Syamsudin.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-oemKBW06IkY/YbEYOM_5Y5I/AAAAAAAAMg8/HawRGSWgRI8bU99m12aGNUCazjPAVSPmgCNcBGAsYHQ/s72-c/8.7.3.-Kesenjangan-Syamsudin.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/12/mendongeng-senja-di-desa.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/12/mendongeng-senja-di-desa.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin