Manisnya Valentine dan Lingkaran Setan Produksi Cokelat



Selamat hari raya kasih sanyang, harinya para pujangga cinta! Satu hari yang selalu berhias merah mawar dan manisnya cokelat. Bahkan jauh-jauh hari sebelum valentine benar-benar dirayakan, toko-toko sudah menderet buket mawar dan warna-warni cokelat. Dihias pita yang memberi kesan cantik, seakan segenap rasa cinta dan rindu hanya tertumpah pada 14 Februari.

Sudah dari mula cokelat menjadi begitu manis di hari valentine. Satu batang cokelat yang mengungkapkan seluruh cinta. Entah bagaimana, kasih sayang bisa termanisfestasikan dalam olahan kakao dan susu. Baiklah, tidak pernah ada kata salah ketika berurusan dengan sakralitas rasa.

Barangkali, ketika eksekusi mati terhadap dirinya pada tahun 278 M karena memperjuankan cinta, St Valentine tidak membayangkan bahwa akhir hidup tragisnya akan dirayakan dengan gairah dalam manisnya cokelat dan kartu "pesan cinta". Terbayang pun tidak, jika legitnya cokelat hari valentine adalah kucuran darah sang uskup Romawi Kuno tersebut.

Tradisi memberi cokelat untuk merayakan hari kasih sayang tidak bisa lepas dari sejarah cokelat yang dianggap sebagai minuman dewa. Bangsa Maya sangat menghargai keajaiban cokelat ketika mereka meminumnya. Tradisi meminum cokelat dalam upacara keagamaan Bangsa Maya, menjadi budaya pertama yang menempatkan hubungan antara cokelat dengan cinta. Kemudian disusul oleh suku Aztec yang mulai memperdagangkan minuman dewa tersebut.

Tradisi meminum cokelat juga berkembang karena berkaitan dengan kebutuhan seksualitas. Cokelat, pada masa Montezuma II banyak digunakan laki-laki untuk meningkatkan libidonya. Hingga pada abad ke-16, ketenaran cokelat terus berkembang dan melintas budaya, suku, dan bangsa.

Kakao menjadi barang impor yang mahal, sebagai simbol kekayaan dan kemewahan. Cokelat mulai diproduksi dalam bentuk yang lebih padat serta dalam kemasan yang menarik. Namun tetap, hanya orang kaya yang mampu menikmatinya.

Hingga pada awal abad ke-19, Cadbury Brothers memformulasikan bubuk kakao dengan bahan-bahan yang lebih murah sehingga terjangkau oleh semua kalangan. Usaha mereka berhasil dan mencapai ketenaran yang luar biasa. Sejak saat itu, karena sebuah ketidaksengajaan, cokelat berkembang sebagai simbolitas kasih sayang. Kemudian, koorporasi cokelat pun terus melejit.

Di Balik Manisnya Cokelat

Menurut Asosiasi Penganan Nasional, dibutuhkan sekitar 400 biji kakao untuk membuat satu pon cokelat. Sebagai referensi, sebatang cokelat susu Hershey memiliki berat 1,55 ons. Karena ada 16 ons dalam satu pon, itu berarti sekitar 10 batang Hershey sama dengan satu pon cokelat, dengan sekitar 40 biji kakao masuk ke setiap batang.

Karena permintaan cokelat terus meningkat, produksi cokelat pun terus digalakkan. Pada tahun 2019, produksi kakao global mencapai tingkat tertinggi dengan jumlah produksi 4,85 juta metrik ton. Terutama mendekati perayaan valentine, permintaan pasar terhadap cokelat tak terkendalikan.

Swiss menjadi konsumen cokelat terbesar di dunia. Konsumsi cokelat di Swiss mencapai 19,4 pound per kapita setiap tahunnya. Disusul oleh Jerman (17,8 pound per kapita), Irlandia (17,4 pound per kapita), Inggris (16,8 pound per kapita), dan Swedia (14,6 pound per kapita).

Tidak mengherankan jika Eropa menjadi konsumen terbesar olahan manis ini. Melalui budaya Eropa seperti Halloween, Paskah, maupun Valentine yang melintas batas samudera, cokelat menduduki tahta sebagai olahan makanan populer dunia.

Sayangnya, pertumbuhan penjualan cokelat tidak dibarengi dengan kesejahteraan perekonomian para pekerja industri dan petani kakao. Menurut laporan dari THe Guardian, para pekerja di industri cokelat senilai 100 miliar Dollar, rata-rata berpenghasilan kurang dari satu Dollar per hari. Sedangkan para petani kakao harus berlapang dada ketika hanya menerima sekitar 6 persen dari harga jual per-batang coklat, sementara produsen dan pengecer mampu menyimpan 80 persen dari penjualannya.

Di tempat dimana dua per tiga kakao dunia diproduksi, Afrika Barat, budidaya kakao harus bersanding dengan problematik alam. Beban fisik yang dialami petani (terpapar panas terik dan pestisida tingkat tinggi), masih harus dihadapkan dengan ketidakpastian hasil panen dari budidaya kakao.

Keadaan menjadi lebih miris ketika pembukaan lahan ini berhasil menyebaban deforestasi dalam jumlah besar. Dalam 50 tahun terakhir, deforestasi hutan hujan tropis di Pantai Gading, Afrika Barat meningkat hingga 80 persen. Penggundulan hutan ini tidak bisa terhindarkan. Dalam keadaan yang menekan, para petani terpaksa membuka lahan untuk mengimbangi jumlah panen dengan permintaan produksi.

Ruang hitam di balik produksi cokelat semakin kelam ketika di dalamnya juga menyeret masalah perbudakan anak. Menurut Slave Free Chocolate, 2,3 juta anak-anak bekerja dalam produksi cokelat di Ghana dan Cote d'Ivoire, Afrika Barat. Mereka diperkerjakan sebagai budak pekerja produksi. Bahkan sangan rentan terhadap perdagangan manusia.

The International Labor Rights Forum melaporkan bahwa anak-anak ini harus bergulat dengan pekerjaan berbahaya seperti mengayunkan parang, membawa beban berat, dan menyemprotkan pestisida yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan mereka. Jam kerja yang panjang memaksa anak-anak melepas pendidikan mereka.

Bahkan, Epicure and Culture melaporkan, banyak anak dijual sebagai budak dan tidak pernah melihat keluarga mereka lagi. Meskipun Protokol Harkin-Engel tahun 2001 dirancang untuk menghentikan pekerja anak di industri cokelat, perusahaan-perusahaan cokelat terbesar di dunia secara konsisten telah melewatkan beberapa tenggat waktu untuk menghapus pekerja anak dari rantai pasokan kakao mereka.

Tahukah apa yang terjadi jika keadaannya seperti ini? Kemungkinan besar, sebatang cokelat yang kita beli adalah produk dari pekerja dan perbudakan anak.

Sekarang tidak lagi darah St Valentine yang menghantui manisnya cokelat. Lebih dari itu. Sebatang cokelat yang penuh rayuan, yang katanya menjadi simbol cinta dan penyerahan diri terhadap yang terkasih, adalah satu batang penuh pengorbanan diri. Keceriaan dan masa depan anak-anak serta kemalangan para pekerja lainya, bahkan tangisan alam, termanisfestasikan dalam setiap gigit yang tertelan.

Produksi Cokelat dalam Lingkaran Kapitalisasi

Ketenaran cokelat yang dipercaya mampu memberi sensasi kebahagiaan, sebanding dengan laju gerak perekonomian penjualan cokelat. Mindset yang dibentuk di masyarakat, seakan hanya cokelatlah pelarian ketika diri dalam keadaan penuh tekanan. Terlebih ketika Valentine, dengan segala macam permitosannya,  perayaan ini memberi ruang lebih bagi produsen cokelat untuk meningkatkan produksi.

Produsen cokelat mampu menangkap euforia valentine sebagai ladang bisnis yang menjanjikan. Apalagi keberadaan perusahaan e-commerce yang semakin menumpuk pundi-pundi rupiah untuk perusahaan cokelat.
Kemudahan dan akses yang cepat, memikat konsumen untuk membeli lebih dan lebih lagi.

Proyek kapitalisasi tidak bisa terhindarkan. Penyakralan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang, tidak lepas dari  relasi kekuasaan dari sang pengendali aset. Kalimat "hari ini adalah momennya!" tidak hanya sebatas mengatakan bahwa hari ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan isi hati, tetapi lebih pada penciptaan momen pembodohan publik serta waktu yang tepat untuk menjual produk secara besar-besaran.

Seperti tanpa memperdulikan bagaimana para pekerja mengabdikan dirinya yang tak seberapa berharga, atau bahkan bagiaman anak-anak harus kehilangan hidupnya, pemilik perusahaan semakin meraksaksakan kerajaan bisnisnya.

Sedang sebagai seorang konsumen, yang tidak memiliki kesadaran akan keterbudakan diri, rerus bangga menjadi manusia paling penyayang di seluruh dunia. Bahkan dengan mudahnya terlena oleh bahasa bujuk rayu hanya dari sebatang cokelat.

Selamat merayakan hari kasih sayang. Selamat melupa sebagai manusia yang juga memiliki kuasa atas diri, serta kesadaran untuk tidak merangkak di lingkaran setan kapitalisme. [Ainun Nafisah]

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,284,Beasiswa,2,Berita,1118,buku,1,cerpen,23,Corona virus,54,Daun kelor,1,EkspreShe,29,Essay,90,FUHUM,2,Generasi Milenial,26,Guru,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,8,Hari Santri,4,Ilmu Pengetahuan,46,Keagamaan,34,Kesehatan,20,Komunikasi,3,Kuliah Online,14,Mahasiswa,234,Mendikbud,1,Muhammad,5,New Normal,15,Oase,276,Opini,187,opini mahasiswa,7,PBAK,17,Pendidikan,1,politik,3,Puasa Ramadan,27,Puisi,97,Resensi,17,Resensi Buku,17,Resensi Film,25,Riset,4,Sahabat,1,Sastra,65,Semarang,38,Skripsi,3,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,1,Teknologi,24,Toefl-Imka,15,UIN Walisongo,282,UKM,5,ukt,10,Wisuda,39,Zodiak,3,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Manisnya Valentine dan Lingkaran Setan Produksi Cokelat
Manisnya Valentine dan Lingkaran Setan Produksi Cokelat
Valentine, 14 februari, cokelat, kapitalisme, lingkaran setan, mahasiswa.
https://1.bp.blogspot.com/-r0J7ToxnozM/XkZeqCqAHBI/AAAAAAAAJ6Q/DGfiVchSDYM6i1_IJh7iyuiJvjDyA9_wwCLcBGAsYHQ/s1600/coklat%2Bvalentine.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-r0J7ToxnozM/XkZeqCqAHBI/AAAAAAAAJ6Q/DGfiVchSDYM6i1_IJh7iyuiJvjDyA9_wwCLcBGAsYHQ/s72-c/coklat%2Bvalentine.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2020/02/manisnya-valentine-dan-lingkaran-setan-produksi-cokelat.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2020/02/manisnya-valentine-dan-lingkaran-setan-produksi-cokelat.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin