Membaca Filosofi dalam Fotografi



Menggambar dengan cahaya atau lebih kerenya disebut dengan fotografi akhir-akhir ini menjadi hobi yang sangat digandrungi oleh generasi milenial. Pasalnya, cukup dengan modal smartphone yang sudah dibekali dengan kamera yang bagus, kita sudah bisa membuat foto yang cukup menarik dan indah.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga menjadikan perusahaan di bidang fotografi terus meng-update kamera setiap tahunya. Sehingga harga kamera entry level pun hampir sebanding dengan harga smartphone.

Pada akhirnya munculah banyak fotografer baru, salah satunya fotorafer asal Australia Denis Smith dengan foto-fotonya yang menakjubkan. Meskipun baru dua tahun menggeluti dunia fotografi, tetapi karya "anak bawang"-nya menjadi tolak ukur beberapa fotografer karena ide kreatifnya itu.

Fotografi pun telah mengubah kehidupannya, yang awalnya suka mabuk-mabukan dan terlilit banyak hutang, hingga menjadi fotografer yang banyak memberikan pencerahan bagi dirinya maupun orang lain. Katanya, “A radical change of lifestyle that culminated in moving country allowed me some time to find myself.

Denis mengusung fotografi 'Ball of light' yang umumnya digunakan fotografer pada kondisi minim cahaya. Belakangan, aliran 'Ball of light' semakin beragam. Salah satunya fotografi bentang alam (lanskap) yang biasanya hanya foto biasa saja, kini menjadi lebih menarik ketika menerapkan 'ball of light'. 

Pasalnya, ‘Ball of light’ menjadi keterampilan tingkat tinggi. Dibutuhkan tata cahaya tersendiri, baik cahaya dari alam maupun cahaya tambahan. Khusus cahaya dari alam, untuk mendapatkannya butuh riset tersendiri. Misalnya kapan terang bulan purnama mempengaruhi foto dan kapan cahaya matahari masih atau telah mempengaruhi foto (setelah sunset; sebelum sunrise).

Lalu apa maksud ‘Ball of light’ dalam fotografi? Yaitu bola cahaya yang dibuat oleh fotografer. Inilah yang paling menarik. Dengan cahaya yang amat natural dan bentuk bola sempurna, menurut Denis Smith, bola itu adalah ‘sidik jari’ akan foto-fotonya. Artinya, foto yang dia hasilkan selalu ada bola cahayanya.

Bola cahaya itu menjadi daya tarik tersendiri dengan warna yang beragam, letaknya pun cukup unik. kadang di goa, di bawah dermaga, di balik pohon dan masih banyak yang lainya. Membuat proses membuat karya itu menjadi menyenangkan.

Seperti yang diungkapkan asisten DigitalRev TV, Alamby “For me, photography is all about fun; it’s all about the process of making those photographs and it’s great when you can have fun during the process of making those photos.” Bahwa fotografi adalah hal yang menyenangkan. Itu semua tentang proses pembuatan foto. Dan itu sesuatu yang hebat ketika kamu bahagia dalam pembuatan foto tersebut.

Namun, sebenarnya bagian terpenting dari fotografi yakni kreativitas. Alat atau teknik memang penting, akan tetapi baik dalam menemukan teknik baru  maupun sudut pengambilan baru, kreativitaslah yang akhirnya akan menentukan hasilnya.

Hal inilah yang masih kurang dimiliki fotografer di tanah air, banyak yang berpendapat bahwa kreativitas itu hanya di dalam pengolahan gambar (olah digital). Tapi harus disadari, bila terlalu berlebihan, itu menjadi merugikan fotografer. Memang foto kelihatan cantik tapi mata tak bisa ditipu, bahwa keindahan itu artifisial.

Tak kalah penting dengan kreativitas ialah pengetahuan akan filsafat. Perlu diketahui, fotografi lahir pada tahun 1500-an bersamaan dengan filsafat modern lahir. lahirnya filsafat modern dalam rangka berusaha mendobrak dan memutarbalikkan teori filsafat sebelumnya yang menganut seni dengan adi manusia sebagai subjeknya.

Menurut salah seorang ahli filsafat, Siddhartha Sutrisno, “Fotografi pada awalnya tidak dimaksudkan sebagai sebuah seni karena rasio yang dominan, bukan perasaan. Ada yang menyebutnya sebagai keanehan ilmiah.”

Tambahnya, ketika era modern muncul, manusialah yang menjadi subyeknya. dimana teori modern berusaha mendewasakan manusia, dan mulai saat itu mesin-mesin mulai diciptakan karena rasio menjadi dewa. Era modern menjadikan manusia lebih dimudahkan dengan keinginan-keinginannya. Kareana berbagai mesin mulai diciptakan untuk menunjang kebutuhan manusia itu sendiri.

Salah satunya kamera, untuk memudahkan menghasilkan gambar sesuai dengan pandangan mata. Di mana dulunya dilakukan memlalui lukisan. Menjadikan fotografi anak kandung zaman modern.

Dalam dunia fotografi alangkah baiknya jangan selalu menggandalkan alat atau teknisnya saja. Akan tetapi perkaya dengan non teknisnya juga, dengan cara membaca referensi dari luar fotografi seperti film, buku, karya sastra, dan masih banyak lagi. Dengan langkah itu, maka kita selangkah lebih maju untuk memprkaya pikiran kita.

Perlu kita ketahui bahwa gambar yang indah didapatkan dari proses yang tiada akhir, sama seperti ketika kita mempertanyakan kosmos, penuh teka teki dan simpul-simpul. Menjadikan penjelajahan yang tak pasti akan isi maupun batas-batasnya. Ibarat seorang fotografer yang hendak memotret wajah kosmos, dengan alat potret yang sudah ada di tangan dan daya pikiran, imajinasi, intuisi. Hingga solah dia sudah tahu wajah itu indah karena dia mempunyai data akan hidung, mata, alis, dan bibir wajahnya.

Akan tetapi seberapa pedih tatapan matanya? seberapa tipis bibirya? seberapa pesek hidungnya? semua tetap menjadi rekaan yang tak pernah akan berakhir untuk diujikan. Keindahan sebagai kosmos yang tampil kehadapannya selalu saja berupa sebuah ketakselesaian; seraut wajah tak dikenal di antara begitu banyak wajah keindahan yang kita bangun untuknya.

Dari itu, kosmos, keindahan, kebaikan, kecantikan, menjadi sebuah keasingan yang teras begitu perih untuk dipahami. dimana sifatnya yang hampir mistis, seperti warna-warni cakrawala yang menakjubkan sekaligus membingungkan. Akan tetapi semua itu bisa dilalui dengan cara terus mengasah kretivitas diri dan wawasan akan fotografi, dan akhirnya menghasilkan karya-karya yang menggugah. Selamat beraktifitas dalam kreativitas! [Yenpu]

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,159,Berita,867,cerpen,19,Dosen,4,EkspreShe,23,Essay,71,Generasi Milenial,22,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,6,Ilmu Pengetahuan,23,Keagamaan,9,Kesehatan,8,Mahasiswa,47,Muharram,1,Oase,185,Opini,144,opini mahasiswa,2,PBAK,10,politik,3,Puasa Ramadan,19,Puisi,75,Resensi,10,Resensi Buku,14,Resensi Film,21,Riset,4,Sastra,38,Surat Pembaca,7,Suro,2,Teknologi,10,Toefl-Imka,12,UIN Walisongo,83,Wisuda,5,Zodiak,2,
ltr
item
IDEApers: Membaca Filosofi dalam Fotografi
Membaca Filosofi dalam Fotografi
Fotogrofi tidak hanya jepret-jepret asal ambil gambar. Ada makna dibalik hasil dari fotografi itu
https://2.bp.blogspot.com/-L1C5w9nTaMk/XRncKGVOLLI/AAAAAAAAINA/_F3pmQuFgz05bL9jWglWIb797SlzPAshgCK4BGAYYCw/s1600/Membaca-Filosofi-Dalam-Fotografi.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-L1C5w9nTaMk/XRncKGVOLLI/AAAAAAAAINA/_F3pmQuFgz05bL9jWglWIb797SlzPAshgCK4BGAYYCw/s72-c/Membaca-Filosofi-Dalam-Fotografi.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2019/07/membaca-filosofi-dalam-fotografi.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2019/07/membaca-filosofi-dalam-fotografi.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin