[In Depth] Menyingkap Fenomena Mahasiswi Cadar di Kampus Moderat UIN Walisongo



Semarang, IDEApers.com – Larangan berbusana cadar bagi mahasiswi di kampus moderat UIN Walisongo Semarang tidak dihiraukan hingga kini. Hal tersebut terlihat dari adanya beberapa mahasiswi baru angkatan 2017 yang berani mengenakan cadar saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) akhir Agustus lalu sehigga timbul perbincangan di antara mahasiswa lain.

Larangan bercadar telah jelas disebutkan dalam Surat Keputusan Rektor IAIN Walisongo, nomor 19 tahun 2005 pasal 9. Namun pada praktiknya kini, para pimpinan fakultas di kampus (Dekan) banyak yang tidak mengetahuinya. Sehingga membuat mereka tidak lekas mengambil tindakan tegas bagi mahasiswi yang mengenakan cadar.

Berdasarkan hasil penelusuran redaksi IDEApers.com, mahasiswi bercadar juga tidak mengetahui adanya larangan itu. Sehingga terdapat lima mahasiswi dari berbagai fakultas di UIN Walisongo yang hingga kini bebas memakai cadar di dalam kampus yang terkenal moderat dan berbudaya aswaja ini.

Dari lima mahasiswi bercadar, empat di antaranya berstatus sebagai mahasiswi baru (maba) angkatan 2017: dua maba dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum), satu maba Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) serta satu maba dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK). Sementara satu mahasiswi bercadar berasal dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) yang kini telah duduk di semester lima.

Selain lima mahasiswi yang ditelusuri redaksi di atas, informasi yang beredar dari mulut ke mulut menyebutkan masih ada mahasiswi lain yang bercadar di UIN Walisongo. Namun mereka lebih memilih menggunakan masker agar tidak jadi bahan omongan.

Persoalan cadar juga dijumpai di UIN Syarif Hifayatullah Jakarta. Namun mereka secara tegas menolak dan menindak sivitas akademik yang berani memakai cadar. Dilansir dari Merdeka.com, Rektor UIN Syarif Hidayatullah telah memecat dosen wanita bercadar yang dinilai bersikap dan berpandangan ekstrem diluar batas kewajaran.

Rektor UIN Jakarta memberikan dua pilihan kepada dosen wanita bercadar. Tetap mengajar dengan menanggalkan cadar, atau tetap mengenakan cadar tapi berhenti mengajar. Karena dosen itu menolak melepas cadar ia lantas dikeluarkan.

“Pernah kami lakukan tindakan tegas kepada dosen yang terindikasi gerakan-gerakan radikal,” ujar Dede Rosyada di gedung rektorat UIN Jakarta, Ciputat, Sabtu (29/7).

Pemecatan tersebut, kata Dede Rosyada bukan tanpa alasan. Karena UIN Syarif Hidayatullah telah mempunyai aturan yang jelas melarang  wanita bercadar.

Hanya Tiga Dekan yang Tahu

Tidak semua dekan dari delapan fakultas di UIN Walisongo mengetahui SK Rektor yang melarang mahasiswi mengenakan cadar. Berdasarkan hasil wawancara redaksi IDEApers.com kepada tujuh dari delapan dekan di setiap fakultas, hanya tiga dekan yang secara tegas menyatakan mengetahui peraturan tersebut. Sementara empat dekan lainnya, justru malah bingung ketika ditanya mengenai SK Rektor yang melarang mahasiswi bercadar.

Seperti yang dikemukakan Imam Yahya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Ia tidak tahu sama sekali aturan itu, Ia mengatakan bahwa pihak FEBI pernah memasang gambar larangan cadar, namun setelah ada mahasiswi bercadar yang memprotes pemasangan gambar tersebut ia langsung mengintruksikan untuk segera mencopotnya.

“Kalau selagi tidak ada larangan, ya kita tidak bisa melarang. Di FEBI juga ada (mahasiswi bercadar) di tahun kemarin, tapi ya kita biarkan saja karena tidak ada aturan untuk melarang,” jelas Imam Yahya, Senin (18/08).

Berbeda dengan Imam Yahya, Dekan FUHum, Mukhsin Jamil mengaku  telah sejak lama mengetahui SK Rektor yang melarang mahasiswi bercadar. Bahkan ia pun tahu bahwa baik pegawai, pendidik, mahasiswa, hingga pimpinan kampus telah memiliki aturan terkait hal tersebut.

“(Persoalan cadar) ini memang jadi perbincangan di tingkat pimpinan, mereka mungkin belum tahu tata cara berbusana bagi masyrakat UIN Walisongo baik itu dekan atau pimpinan, dosen, pendidik, mahasiswa, semua kan sudah ada (aturannya) semua,” tegas Mukhsin (22/09).

Meskipun mengetahui peraturannya, Mukhsin Jamil ternyata malah tidak tahu bahwa di fakultas yang dipimpinnya ada mahasiswi yang berani memakai cadar.

Arif Junaidi, Dekan FSH, juga mengaku telah mengetahui peraturan tersebut dan ia telah melarang mahasiwi mengenakan cadar di fakultasnya. Bahkan ketika ia bertemu dengan mahasiswi bercadar, Arif tak segan memintanya untuk segera melepas cadar. Arif menegaskan, permintaannya melepas cadar bukan untuk menghinakan mahasiswi bercadar, tapi cara itu dipilih sebagai cara untuk melidunginya dari hal-hal yang tak diinginkan.

Namun jika mereka masih tetap memakai cadar, baik di kelas maupun di kampus, Arif menilai mahasiswi bercadar telah melecehkan teman-teman maupun dosen karena menganggap mereka tengah terserang penyakit. Sehingga ia lebih memilih memakai cadar atau masker sebagai cadar karena takut tertular penyakit.

“Kita sampaikan, kita meminta melepas cadar itu bukan menghinakan mereka. Bukan. Itu untuk menghormati dan melindungi semua biar yang lain nyaman, dia juga nyaman. Bagaimana mungkin relasi sesama manusia bisa nyaman kalau yang satu pake ini (cadar), yang satu tidak. Ngomong-ngomong kita sebenarnya ini ndak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi dia tahu kita ini siapa. Jadi kita minimalkan kemungkinan yang tak kita inginkan,” jelas Arif.

Meskipun dari kedelapan dekan ada yang belum tahu SK Rektor tentang larangan bercadar, namun semuanya seakan sepakat bahwa mahasiswa dilarang mengenakan cadar baik di kelas maupun di lingkungan kampus UIN Walisongo.

Bahkan lebih tegas lagi, Awaluddin Pimay, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), memberikan pilihan kepada mahasiswi bercadar. Jika masih nekat memakai cadar di lingkungan kampus UIN Walisongo dan tak mau melepasnya maka ia harus angkat kaki dari UIN Walisongo.

“Kalau sudah tiga kali diberi teguran dan tak diindahkan, mau tetap di kampus (UIN Walisongo) atau pilih kampus lain,” tegasnya.

Tak Tahu Peraturan

Salah satu mahasiswi bercadar berinisial ‘KK’ mengaku tidak tahu tentang SK rektor yang melarang mahasiwa bercadar. Ia pun memilih memakai masker sebagai dalih agar tidak dikira bercadar. Padahal ia telah bercadar semenjak dua tahun yang lalu.

“Saya memakai masker ini hanya tempat pelarian, lagipula saya dengar ada itu peraturan (SK Rektor) tapi belum tahu kejelasannya. Ada katanya, peraturan tertulis yang tak boleh memakai cadar, tapi saya belum tahu itu kepastiannya benar atau tidak,” kata mahasiswi bercadar dari salah satu fakultas di kampus dua UIN Walisongo itu.

Baca : Doktor Ilmu Hadis Tajuddin Arafat: Pakai Masker Sebagai Cadar Itu Tidak Cerdas

Meskipun demikian dua bulan ke depan ia bakal secepat mungkin memakai cadar. Menurutnya, meskipun hukumnya tidak wajib namun ia melakukannya sebagai sunnah yang harus ia ikuti berdasarkan perintah ustadznya. Ia bersikeras pihak kampus tidak bisa melarang atau mengurusi dirinya.

“Agama saja dalam sila pertama boleh bebas memilih apa saja, lalu dari pihak kampus atas dasar apa mampu membatasi pakaian di luar ruangan. Lalu kenapa kampus keberatan akan pakaian di luar makul. Maskeran di luar ruangan dilarang, (terus) pakaian yang lain dibebasin gitu? Kecuali memakai rok mini, iya wajar dilarang. Lah, hanya masker!” kata mahasiswa berinisial ‘KK’ tersebut.

Lain halnya dengan mahasiswi bercadar berinisial “D” ia mengaku bahwa sebenarnya sudah dilarang untuk menggunakan cadar oleh ketua jurusan (kajur), tetapi diberi toleransi untuk mengenakan masker. Namun, ia tidak menghiraukan hal tersebut, dan masih bersikeras mengenakan cadar sampai sekarang.

“Sebenernya dari kajur sendiri menyarankan saya untuk mengenakan masker terlebih dahulu, tapi ya mau bagaimana lagi sudah diniati untuk bercadar,” tuturnnya, Kamis (21/09).

Tak Ada Toleransi

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Walisongo, Suparman Syukur, menegaskan UIN Walisongo telah sejak lama memiliki aturan larangan bercadar meski ia lupa SK larangan cadar tersebut seperti apa.

Soal mahasiswi yang mengenakan cadar, Suparman mengatakan ia tidak bisa memberikan toleransi. Selain terdapat peraturan yang jelas secara struktural, Suparman menilai memperlihatkan wajah bagi mahasiswi adalah hal yang terbaik dan tidak melangggar hukum agama. Sehingga penggunaan cadar merupakan bentuk etika berbusana yang tidak sesuai dengan standar peraturan.

“Jadi kalau ada yang menggunakan cadar tentunya kita tidak memberikan toleransi, begitu. Karena bagaimanapun (busana) kita sudah islami. Tentunya kita tidak memberikan toleransi (bagi mahasiswi bercadar), nanti kita akan bicarakan di tingkat fakultas,” kata Suparman.

Baca : Soal Cadar, Wakil Rektor III UIN Walisongo Tidak Akan Beri Toleransi


Meskipun tegas mengatakan tak ada toleransi terkait cadar, Suparman akan memberikan teguran secara halus terlebih dahulu. Ia akan mengajak mahasiswi bercadar berdialog guna memahami peraturan yang berlaku di UIN Walisongo.

“Tentunya nanti (ada tindakan) persuasif, ditegur, diajak bicara dan sebagainya. Nanti mudah-mudahan bisa berubah,” jelas Suparman.

Dengan tindakan persuasif itu, Suparman menyakini pihak kampus akan mampu membuat mahasiswi bercadar tersadar dan memahami peraturan yang berlaku, tanpa harus memaksa mereka melepas cadar.

“Nanti dengan kesadaran sendiri, mereka kan akan bisa memahami, setelah kita persuasi,” katanya.

Suparman menginstruksikan kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan pegawai di UIN Walisongo agar mampu memahami peraturan yang sudah jelas itu. Ia pun meminta agar seluruh sivitas akademik UIN Walisongo dapat mengerti tentang etika berbusana yang sesuai standar yang sudah ditetapkan oleh kampus dan kaidah agama Islam.

Dalih Pemakaian Cadar

Beragam alasan diungkapkan mahasiswi bercadar untuk membenarkan tindakannya itu. Salah satunya diungkapkan oleh maba bercadar berinisial ‘KK’. Ia menceritkan, dirinya mulai mengenal cadar setelah duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah dan mengikuti program tahfidz al-Quran di pesantren. Ketika berada di pesantren inilah ia mendapat perintah  dari salah satu ustadzahnya agar mengenakan bercadar.

“Kalau bisa (siswa) yang di almamater ya berhijab. Mungkin jika mampu (pakai cadar), kalau tidak mampu ya tidak apa-apa,” kata mahasiswi bercadar itu menirukan ucapan ustadzahnya, Jumat (15/09).

Mahasiswi bercadar yang kini menetap di Pekalongan itu mengaku, telah  bercadar selama lebih dari dua tahun ketika masih berada di Aceh. Namun karena keluarganya berpindah rumah ke Pekalongan ia pun terpaksa melepas cadarnya. Meskipun demikian, kini ia memutuskan untuk mengenakan cadar kembali. Ia pun memilih memakai masker ketika berada di kampus sebagai pengganti kain cadar.

“Semenjak ke sini (UIN Walisongo) saya berpikiran lagi, identitasku semula seperti ini (bercadar). Saya ingin melanjutkan, cuma tidak seutuhnya seperti dulu,” ungkapnya.

Berbeda dengan ‘KK’, mahasiswi angkatan 2017 berinisial 'NA' mengatakan, ia berani bercadar untuk menjaga pandangan dari mahasiswa yang ia temui. Sehingga ketika PBAK dimulai ia pun memilih mengenakan cadar untuk yang pertama kalinya.

“Jujur dari awal, aku pake ini dari hari pertama PBAK, aku udah tak paksa total. Soalnya kalau aku enggak (pakai) sekarang kapan (lagi)? Soalnya di sini banyak ikhwan, banyak lawan jenis,” kata NA.

Hal  serupa juga diungkapkan oleh Mahasiswi bercadar berinisial 'D', ia mengatakan mulai mengenakan cadar semenjak semester empat. Ia mengatakan, pandangannya mulai berubah setelah mengikuti kajian-kajian rohani keislaman di luar kampus, yang lebih banyak membahas tentang membahagiakan dan memuliakan orangtua. Semenjak itu, 'D' mengklaim mendapat hidayah sehingga dia memberanikan diri untuk bercadar demi memberikan balasan jaminan surga bagi orangtuanya.

“Dulu itu saya benar benar merasa mendapat tampokan keras dari iman (hati), waktu  itu ikut kajian dan pembahasan yang paling banyak (membahas) orangtua. Apalagi kalau memiliki tiga anak perempuan dididik dengan baik pasti akan dijamin surga,” jelasnya, Kamis (21/09).

Baca : Soal Polemik Mahasiswi Bercadar, Tajuddin Arafat: Agama Bukan Hanya Persoalan Personal

Di sisi lain 'D' juga mengaku bahwa salah satu tujuan bercadar ialah untuk menghindarkan diri dari fitnah, karena dunia ini sudah memasuki akhir zaman. Apalagi, lanjut 'D', seorang perempuan merupakan pusatnya fitnah, khususnya dibagian muka. 'D' menilai wajah menjadi bagian tubuh yang pertama kali dilihat dan dinilai orang lain.

“Sekarang itu sudah mulai memasuki akhir zaman, apalagi perempuan itu pusatnya fitnah, dan muka itu merupakan hal yang pertama kali dilihat dan dinilai orang” katanya.

Hukum Bercadar

Hukum bercadar menurut Muhyar fanani, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) sekaligus Dosen Ilmu Fiqih, mengatakan bahwa cadar masih menjadi perdebatan di antara para ulama. Menurutnya cadar bukanlah syariat islam, tetapi hanya budaya lokal masyarakat Arab, orang Indonesia tidak wajib memakai cadar.

Muhyar berpandangan suatu hukum akan menjadi wajib, sunnah, atau yang lainnya karena terdapat sebuah alasan. Selain itu, lanjut Muhyar, hukum juga berputar-putar menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat di sekitarnya.

“Sejauh yang saya tahu cadar itu bukan merupakan syariat Islam, tetapi cadar itu merupakan budaya lokal masyarakat arab, karena saya juga pernah belajar hukum Islam. Kalau alasannya ada maka hukumnya ada, kalau alasannya tidak ada hukumnya juga tidak ada,” jelasnya.

Muhyar Fanani juga mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi dikenakannya cadar oleh masyarakat Arab ialah karena iklim daerah Arab yang panasnya mencapai 52 derajat celcius. Sehingga jika sinar matahari mengenai wajah akan menyebabkan iritasi, khususnya bagi perempuan yang memiliki kulit lebih sensitif.

“Arab itu suhunya 52 derajat, sangat kering. Ibaratanya kena wajah akan iritasi, maka dituntutlah hal tersebut (memakai cadar),” kata Muhyar.

Selain itu, Muhyar tidak sepakat jika cadar digunakan sebagai dalih untuk menghindarkan diri dari kaum laki-laki agar tidak mengundang syahwat. Terkait hal ini, Muhyar menjelaskan bahwa terdapat faktor lain yang melatarbelakanginya.

Muhyar mengatakan jika ditinjau dari budaya makannya, masyarakat Arab memiliki makanan pokok berupa daging kambing. Selain itu porsi makanannya pun lebih banyak dibandingkan orang Indonesia pada umumnya. Sehingga, lanjut Muhyar, hal tersebut berpengaruh pada kondisi syahwat laki-laki.

Sedangkan, makanan pokok orang Indonesia ialah nasi. Kalaupunn memakan daging kambing itu pun hanya sekali atau dua kali saja. Sehingga Muhyar pun menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi wanita untuk memakai cadar di Indonesia.

“Tidak ada alasan bagi orang Indonesia untuk memakai cadar untuk menghindari syahwat,” tegasnya.

Muhyar juga memberikan penjelasan, ketika ada sebagian orang yang mengaggap cadar sebagai syariat Islam, maka sebenarnya hal itu adalah syariat yang dinaikkan ke dalam ideologi. Ketika pandangan minoritas ditarik menjadi sebuah keyakinan, maka itu bisa disebut cadar ideologis.

“Jika ada yang menganggap bahwa cadar tersebut merupakan ideologi, itu merupakan pandangan minoritas yang ditarik menjadi sebuah keyakinan, sehingga itu yang disebut cadar ideologis,” jelas Muhyar, Senin (18/09).

Kampus Moderat?

Salah satu mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Joni Kharo mengatakan, menjadi ironis jika UIN Walisongo yang katanya kampus moderat membiarkan mahasiswi bercadar merajalela di kampus Aswaja. Menurut Joni, sudah seharusnya pimpinan fakultas mengetahui dan mengambil tindakan tegas kepada mahasiswi yang mengenakan cadar.

“Kalau pihak fakultasnya sendiri belum mengetahui (adanya mahasiswi bercadar), sebenarnya itu kan ironis ya. Soalnya mereka (pimpinan kampus) yang lebih mengetahui tentang SK Rektor dan peraturannya, tapi kok masih didiamkan. Seharusnya ada teguran,” kata Joni, Selasa (03/10)

Joni pun tidak menampik jika ada mahasiswi bercadar, menurutnya hal itu bukan suatu masalah. Namun ketika dibawa masuk ke lingkungan kampus yang jelas-jelas punya aturan dan larangan, seharusnya mereka paham dan mematuhinya, bukan malah tetap ngotot memakai cadar dengan seribu alasan. Joni juga mengatakan, terlepas dari faktor ideologi atau bukan, berbusana harus sesuai dengan budaya yang ada.

“Ini kan Indonesia, dan katanya apalagi UIN ini kan banyak orang-orang yang moderat, ya tidak sesuai budaya,” kata Joni.

Berbeda dengan Joni yang tegas menolak mahasiswi mengenakan cadar di kampus UIN Walisongo, Aina Mahasiswi asal Lampung justru mentolerir pengguna cadar. Aina sangat berharap, kampus memberikan toleransi kepada mereka yang bercadar. Namun jika memang telah ada peraturan yang jelas seharusnya bisa segera ditegakkan secepatnya.

“Bagi saya sih enggak papa jika memang ada yang bercadar, selagi tidak mengganggu, tapi kalau ada SK-nya ya harus tegas ditegakkan,” kata Aina.

Penulis : NH/DA/ZF/NZ
Redaktur : KN/NK

KOMENTAR

Name

Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,552,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,53,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: [In Depth] Menyingkap Fenomena Mahasiswi Cadar di Kampus Moderat UIN Walisongo
[In Depth] Menyingkap Fenomena Mahasiswi Cadar di Kampus Moderat UIN Walisongo
UIN Walisongo yang dikenal sebagai kampus moderat mulai dimasuki mahasiswi bercadar. Para pimpinan kampus justru tidak tahu bahkan terkesan membiarkannya. Bagaimanakah regulasi yang sebenarnya?
https://2.bp.blogspot.com/-SbPnzwRFbLM/WdrvTgPbljI/AAAAAAAAE1c/qlPKfHTTbcE6QIYX5_5UBwYjy0d8bjzfwCK4BGAYYCw/s1600/menyingkap-mahasiswi-cadar-uin-walisongo-ideapers.com.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-SbPnzwRFbLM/WdrvTgPbljI/AAAAAAAAE1c/qlPKfHTTbcE6QIYX5_5UBwYjy0d8bjzfwCK4BGAYYCw/s72-c/menyingkap-mahasiswi-cadar-uin-walisongo-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/10/menyngkap-fenomena-mahasiswi-cadar-di-kampus-moderat-uin-walisongo.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/10/menyngkap-fenomena-mahasiswi-cadar-di-kampus-moderat-uin-walisongo.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin