[Cerpen] Kutukan Anjing

 


"Ayo Koneng, sedikit lagi!" seru Ayu tertahan sambil mengurut-urut perut Koneng, membantu persalinan.

Masih tersisa satu anakan anjing di dalam perutnya. Koneng merintih. Sekuat tenaga mengejan, mendorong agar anaknya keluar dari dalam perut. Tak lama kemudian, terdengar kaingan lirih dari sela kaki Koneng. Seekor anjing jantan. Dengan hati-hati Ayu memotong plasenta anak anjing itu dan mengelapnya dengan handuk. Kemudian meletakkannya ke dalam kandang bersama dua saudarinya yang sejak tadi mengaing ingin segera menetek susu induknya.

"Berapa jumlah anak anjing yang keluar?"

Ayu sedikit terlonjak. Ia tenggelam dalam kesibukan sampai tak menyadari keberadaan Bono yang sejak tadi menguping di pintu gudang.

"Tiga ekor," jawabnya datar. Tetap menekuri kerjaannya sambil merapikan kandang Koneng agar nyaman ditinggali selagi menyusui.

Bono mengangguk sambil tersenyum samar. Sorot matanya mengekor gerak-gerik Ayu yang kini tengah berjongkok, menyapu kandang-kandang anjing di dalam gudang. Celana training selutut Ayu yang tampak kekecilan membungkus ketat paha dan lekukan pinggulnya. Ditambah dada Ayu yang turut bergoyang ketika kedua lengannya digerakkan. Meski hanya bongkahan kecil, setidaknya dada itu telah terbentuk. Kedua mata Bono berkilat, sebab kedua 'gunung' itu hanya dibatasi selapis kaos tipis tanpa beha.

‘Gadis 14 tahun itu sudah ranum,’ batinnya.

Merasa diawasi, Ayu secara spontan menyilangkan tangan dan melotot kepada Bono. "Pergi!" gertaknya, diikuti salakan anjing-anjing dari dalam kandang.

Suasana gudang berubah riuh. Seruan Ayu seolah jadi sinyal ancaman kelimabelas anjing asuhannya. Bono pun mundur dan beringsut-ingsut meninggalkan gudang. Ayu tersenyum puas.

“Terima kasih, kawan-kawan." Katanya sebelum menutup pintu gudang dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan kandang-kandang anjing.

***

Bukit Panjali merupakan kawasan perbukitan yang dilindungi. Ia merupakan rumah bagi banyak pohon besar yang hampir menutupi seluruh tanahnya. Juga rumah bagi kawanan rusa, babi hutan, monyet, harimau (tidak pasti keberadaannya) dan berbagai macam hewan hutan lainnya. Jarang sekali manusia berkunjung ke tempat ini, meski akses jalan menuju Bukit Panjali telah beraspal, dan jarak antara pemukiman penduduk dengan bukit ini tidak terlampau jauh, hanya lima kilometer. Di samping karena Kawasan lindung, keengganan masyarakat menginjakkan kakinya di wilayah tersebut lantaran kepercayaan mereka atas mitos Bukit Panjali. Konon, bukit itu adalah tempat bersemayamnya kerajaan dedemit yang menguasai sebagian daerah Jawa.

Tapi, Ayu tahu. Di balik rimbun pohon dan cerita mistis Bukit Panjali, terdapat sebuah tempat prostitusi terkenal milik Mama Norma yang sejak lama beroperasi di sana, bahkan menjadi primadona di Kota Madya. Sengaja Mama Norma memilih lokasi tersebut agar usahanya terlindung dari kasat mata penduduk setempat. Beruntungnya, hanya Ayu satu-satunya pekerja perempuan yang tidak menjadi juru ngangkang di sana.

Meski begitu, pekerjaannya tak kalah melelahkan, malah cenderung lebih berat. Menjadi seorang pengasuh anjing. Artinya, ia harus berangkat pagi dan pulang sore demi membersihkan kandang, memberi pakan, memandikan, dan menjadi mantri dadakan bagi 15 ekor anjing ‘ternak’ Mama Norma.

Yah. Selain menawarkan berbagai macam jenis jajanan seksual, lokalisasi itu juga memiliki menu utama yakni Gulai Anjing.

***

Matahari senja menggantung di barat Bukit Panjali, ketika Ayu usai memberi pakan anjing-anjing dalam gudang.

‘Celaka. Ia tidak boleh pulang sampai kelewat senja. Jika terlambat, alasan apa yang bisa diberikannya kepada Mamak nanti?’ Buru-buru Ayu menggrendel pintu gudang. Setelah aman terkunci, ia pun bergegas menuju rumah utama. Hendak melaporkan kondisi anjing-anjing kepada si majikan.

Aktivitas penghuni rumah utama mulai tampak di sore itu. Beberapa perempuan membersihkan dan menata rumah. Beberapa baru keluar kamar sambil menyampirkan handuk di pundak, hendak mandi. Hanya sebagian kecil dari mereka yang sudah mulai berdandan.

Ayu berjalan dari depan rumah menuju ruang tamu. Samar-samar ia dapat mendengar suara Mama Norma dari kejauhan. Langkah kakinya terhenti seketika begitu ia sampai di muka pintu yang terbuka.

Mama Norma saat ini tengah sibuk mengangkang di sofa dengan Bono yang menindih di atasnya. Gumaman Mama Norma yang tadi terdengar, sekarang berubah jadi lenguh dan pekik tertahan.

Tidak ingin mengganggu. Ayu dengan tanggap langsung balik kanan. Berjalan cepat menuju sepedanya yang terparkir di samping rumah.

“Besok saja laporan sambil minta gaji,” gumamnya. Dengan sekali hentak memancal pedal sepeda menuruni jalanan curam Bukit Panjali.

***

"Assalamualaikum," Ayu menyapa. Buru-buru masuk ke dalam rumah.

"Baru pulang, Yu?" Mamak yang duduk di kursi depan kamar langsung tanggap dengan kehadiran anaknya.

"Iya Mak. Mmm... ‘kucing-kucing’ piaraan Nyonya Norma agak susah diatur." Katanya sambil menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah.

Ayu sadar, tidak baik membohongi orang tua. Kebohongan yang ia lempar sekali akan memancing timbulnya kebohongan lain yang akan menyulitkannya di masa depan.

Tapi ia harus melakukannya. Berada di wilayah perkampungan yang sembilan puluh persen penduduknya merupakan pemeluk Islam yang taat, membuat Ayu pilih bungkam soal pekerjaannya. Ia takut apa yang dilakukan menjadi bahan caci dan cemooh warga kampung. Sebab, lingkungannya adalah daerah yang bersih dari segala bentuk keharaman. Seperti arak, babi, dan anjing. Bahkan, warga tidak segan-segan membunuh anjing liar atau babi hutan Bukit Panjali yang tak sengaja muncul di kampung.

Tapi, ia butuh pekerjaan dengan gaji cukup untuk menghidupi dirinya dan Mamaknya yang buta. Menjadi buruh setrika dan buruh cuci antar tetangga saja tidak cukup jika cuma dibayar beras, ketela, petai, jagung, gula, dan sembako-sembako. Bukan maksud mencibir, Ayu tahu memang itulah kemampuan tetangganya yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Tapi ia butuh uang, dan satu-satunya pekerjaan bergaji lumayan yang bisa dilakukannya ada di tempat Mama Norma. Bukan sebagai juru ngangkang, tapi mengurus ternak anjing.

Mamak mengendus bau badan Ayu. "Baumu seperti kotoran binatang. Cepat mandi! Sebentar lagi pengajian dimulai, nanti kita tidak kebagian tempat.”

Ayu mengangguk, langsung bergerak menuju kamar mandi setelah sebelumnya menyekop abu dari tungku pembakaran di dapur. Baru saja Ayu menyampirkan handuk dan hendak masuk ke kamar mandi, Mamak berseloroh.

"Yu. Akhir-akhir ini di lantai kamar mandi ada lumpurnya. Kamu tahu kenapa?"

Sorot mata Ayu tertumbuk pada abu di tangannya. Sambil menelan ludah ia mengelak, "Ah. Perasaan Mamak saja."

***

Mamak sudah berdandan rapi begitu Ayu keluar dari kamar mandi. Mamak mematutkan diri sambil coba merapikan jilbabnya ke cermin yang dipegang. Ayu yang melihat seketika tersenyum.

"Kebalik Mak...", katanya sambil membetulkan pegangan cermin Mamak yang terbalik.

"Mamak cantik enggak?"

“Iya. Cantik.”

Ayu menarik secarik kerudung panjang yang tersampir di kursi.

"Ayo Mak, berangkat."

Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ke masjid Nurul Iman yang letaknya 500 meter dari rumah. Masjid terbesar dan tertua, sekaligus menjadi satu-satunya di kampung itu. Dari beranda sampai halaman masjid telah penuh oleh ratusan warga yang ingin mengikuti tausiyah rutin 2 mingguan dari Kiai Ali Sadikin.

Hampir semua orang turun menghadiri pengajian tersebut. Harapannya agar mereka mendapat pahala dan kesenangan dari Allah di akhirat nanti. Beberapa di antara mereka betul-betul mengamalkan ilmu yang didapat dari pengajian. Namun, tak sedikit pula yang tetap melakukan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi agar tidak mendapat hujatan dari masyarakat setempat.

Ayu mendudukkan Mamaknya di atas terpal lesehan yang agak dekat dengan pohon mangga, supaya teduh. Sedangkan ia cukup duduk di atas sandal.

Tidak lama kemudian, tampak segerombol orang mulai berbaris membuat pagar betis. Warga mulai kasak-kusuk. Seorang tinggi besar gemuk, mengenakan gamis dan sorban khas, perlahan-lahan masuk dan melangkah di antara pagar betis memasuki pelataran masjid Nurul Iman.

Kiai Ali Sadikin datang dengan tampilan dan wibawanya yang menyilaukan mata jemaat majlis ta’lim di sore itu. Aroma minyak misik, yang menurut Ayu baunya memusingkan, menguar dari arah jubah gamis Kiai Ali Sadikin yang berkibar diterpa angin.

Warga menyambut kedatangan kiai itu dengan mata berbinar cerah. Beberapa orang bahkan coba maju, meringsek di antara pagar betis. Sekedar ingin menyentuh jejak kaki kiai, syukur dapat menyentuh kakinya.

Masyarakat seolah menempatkan posisi Kiai Ali Sadikin setara dengan sosok Satria Piningit yang akan menyelamatkan mereka dari kelaknatan Tuhan. Tapi Ayu datar-datar saja. Daripada Kiai Ali Sadikin, ia malah berfokus pada sosok baru yang mengekor di belakang kiai.

Kiai Ali Sadikin jarang membawa tamu di pengajian, kecuali memiliki maksud tertentu kepada warga kampung. Dan entah semulia apa pun maksud kiai, Ayu tidak pernah suka itu.

***

Bukan tanpa alasan Ayu bersikap datar dan cenderung tidak menaruh hormat kepada Kiai Ali Sadikin yang diagungkan hampir seluruh penduduk kampung.

Semua berawal dari suatu sore jelang maghrib di tempat kerja Ayu. Ketika itu, ia harus melembur pekerjaan karena banyak induk anjing yang melahirkan. Mulai dari membersihkan kandang, memakani, dan membantu persalinan anjing-anjing, semua dilakukan hingga awan senja yang kemerahan mulai pudar termakan langit gelap.

Seperti biasa, ia selalu memarkirkan sepedanya di halaman samping rumah, yang sehabis senja, berubah menjadi etalase toko yang memampang para perempuan dan lelaki ‘dagangan’.

Sebetulnya pemandangan seperti itu memang lumrah ada di tiap tempat prostitusi. Ayu memaklumi hal tersebut. Namun, gerak langkahnya langsung terpaku begitu melihat sosok yang dikenalinya masuk ke dalam rumah itu.

Kiai Ali Sadikin tanpa sorban dan gamis, memasuki pintu rumah ‘laknat’ milik Mama Norma. Ayu terbelalak melihat kiai berdiri di depan perempuan-perempuan yang duduk berjejer di sofa dengan sebelah tangan menopang dagu, yang tampak seperti sedang berpikir, memilah-milih.

Saat itu, Ayu tidak bermaksud memikirkan hal yang bukan-bukan tentang kiai. Sosok ulama yang dipandang soleh itu mana mungkin membeli jajanan seksual di warung prostitusi ini? Bisa saja ia ada di sana karena inspeksi, atau hendak mendakwahkan ajaran agama yang lurus, atau apa.

Sayangnya, pikiran positif itu sirna begitu melihat gelagat Kiai Ali Sadikin yang mulai membaui perempuan-perempuan di depannya satu per satu. Ia memegang dada dan paha mereka yang berpakaian minim. Seolah tengah memilih ayam potong di pasar: ayam mana yang masih segar, ayam mana yang montok berdaging banyak. Hal yang paling membuat Ayu jengah adalah kedua sorot mata Kiai Ali Sadikin sama seperti kebanyakan lelaki di rumah Mama Norma, sorot mata penuh birahi.

Ayu menelan ludah begitu sampai pada kesimpulannya menilai gelagat Kiai Ali Sadikin. Bagaimana bisa, seorang tokoh agama menyimpan rahasia kelamnya di rumah Mama Norma? Apakah hanya Ayu saja yang tahu tentang kelakuan bejat kiai? Atau mereka sengaja menyembunyikan hal ini dari penduduk kampung? Bagaimana jika nanti warga kampung tahu kenyataan bahwa kiai kebanggaan kampung mereka punya hobi ngewe di lokalisasi Bukit Panjali?

Tertumpuk oleh perasaan muak, Ayu dengan gesit langsung menaiki sepeda dan memancal pedal kuat-kuat. Ia meluncur pada turunan jalan Bukit Panjali. Hari sudah malam, meski Bukit Panjali terkenal dengan keangkerannya, namun Ayu tidak sampai terpikir tentang hantu-hantu. Pikirannya saat itu berfokus pada satu nama, Kiai Ali Sadikin.

***

Sejak kejadian itu, setiap kali Ayu melihat Kiai Ali Sadikin, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah kejadian di tempat Mama Norma. Padahal, kiai memiliki 3 istri yang sengaja dibiarkan menyatu di rumahnya.

Pernah suatu ketika ia membawa mereka ke pengajian, bertepatan dengan pembahasan kehidupan berumah tangga dan bagaimana hidup berpoligami itu terberkati sebab dengan mudah dapat mendekatkan diri dengan surga Allah.

‘Maniak seks,’ cibir Ayu dalam hati. Pantas saja ia memunculkan diri di tempat pelacuran. Lagi pula, mana mungkin di sana ia hanya mencicipi perempuan sedang banyak kesenangan lain yang ditawarkan seperti judi, arak, dan gulai anjing? Anjing. Hewan najis kelas berat. Cih! Padahal ia yang mengajarkan orang di sini untuk membenci hewan itu, bersama dengan babi dan perkara najis lainnya.

Kiai Ali Sadikin berjalan dari altar menuju mimbar yang disediakan. Ia biasa memulai tausiyahnya di sana. Tausiyah dibuka dengan memperkenalkan lelaki yang menjadi tamu pengajian kiai.

“Nama beliau, Sayyid Abdul. Teman seperguruan saya yang ilmunya tidak diragukan.” Ungkap Kiai Ali Sadikin bangga, sambil menunjuk sosok yang kini duduk melutut memberi sapaan kepada para jemaat.

Melalui isyarat anggukan kecil, Kiai Ali Sadikin memperkenankan Sayyid Abdul untuk menyampaikan sesuatu kepada warga. Panitia menyerahkan mikrofon kepada Sayyid Abdul. Dengan suara bassnya yang berat ia memulai ucapannya dengan salam dan kalimat-kalimat pujian kepada Allah dan Rasulullah. Sebelum akhirnya mengutarakan maksudnya,

“Saya suatu malam bermimpi. Dalam mimpi saya melihat bahwa semua wajah warga kampung ini berubah menjadi binatang. Ada yang gambarannya seperti monyet, babi, bahkan anjing. Kebanyakan wajah yang saya lihat berubah menjadi anjing. Astaghfirullah. Saya menanyai Kiai Ali Sadikin, dan beliau mengakui bahwa warga kampung sekitar sini jauh dari Allah. Kurang amalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kurang ibadah, kurang sodaqah, kurang beristighfar. Mari semua, Astagfirullahal adzim...” seruan istighfar itu diikuti oleh ratusan warga yang menghadiri tausiyah sekaligus menjadi penutup kalimat Sayyid Abdul.

Panitia menyerahkan kembali mikrofon tersebut kepada Kiai Ali Sadikin.

“Astaghfirullahal adzim. Kita telah mendengar keterangan dari Sayyid Abdul tentang mimpi beliau kepada kampung ini. Sedikit pemberitahuan bahwa saya tengah membangun proyek sosial panti asuhan yang tidak akan berjalan tanpa bantuan dari masyarakat. Memelihara anak yatim adalah salah satu kemuliaan yang tertulis di dalam Al-Quran. Kita tentu tidak ingin menjadi binatang seperti dalam mimpi Sayyid Abdul, bukan?”

Tepat setelah ucapan Kiai Ali Sadikin usai, tak beberapa lama kemudian para panitia keluar sambil menenteng kotak-kotak sumbangan yang diperuntukkan bagi panti asuhan. Beberapa dari panita bahkan mengatakan, bahwa mereka tetap membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbang panti asuhan secara ‘pribadi’ di rumah Kiai Ali Sadikin.

Ayu masa bodoh ketika kotak-kotak sumbangan itu lewat di hadapannya. Selain karena tak punya uang, ia tidak menyukai cara mengemis Kiai Ali Sadikin yang tampak jadi hal mulia lantaran menggunakan dalil Tuhan sebagai pijakan. Seolah ia dapat mengkapling surga dengan proyek panti asuhannya. Ketika tidak ingin menjadi golongan-golongan binatang hina, maka harus menyumbang ke proyek ini.

Ayu geleng-geleng kepala sendiri. Dalam hatinya, ia tidak apa-apa jika kelak berubah menjadi anjing. Toh mereka hewan lucu dan menggemaskan. Mereka hewan yang setia dan saling mengasihi kepada sesama. Lebih lagi, karena merekalah ia dan ibunya bisa hidup. Menyadari hal itu, Ayu tersenyum.

***

Malam hari, Ayu bermimpi. Di mimpinya, ia menjadi anjing. Lebih tepatnya, menjadi ketua kawanan anjing di Bukit Panjali. Semua anjing takluk kepadanya, baik anjing-anjing dalam kandang Mama Norma dan anjing-anjing liar dari dalam hutan.

Ia mengaum dan menggonggong kepada kawanannya. Dalam bahasa mereka, Ayu menyadari bahwa ia tengah memerintahkan sekumpulan anjing-anjing untuk menyerang kampungnya dan membantai orang-orang di sana.

Ia mengingatkan bagaimana brutalnya mereka membantai anjing-anjing yang tersesat di kampung. Manusia-manusia di dalam desa itu sudah terlalu berdosa karena menjadi munafik. Melakukan kebaikan di siang hari dan kebejatan di malam hari. Mereka harus segera dimusnahkan. Ayu melolong nyaring penuh kemarahan, berlari menuruni Bukit Panjali, menuju kampung.

Ayu terbuai mimpi. Sampai ia tak mendengar lolongan panjang anjing-anjing dari Bukit Panjali yang mengoyak ketenangan di malam itu.

***

Ayu begitu bersemangat mengayuh sepeda menaiki Bukit Panjali. Mimpi semalam sangat membantu menaikkan suasana hatinya di pagi itu. Sampai ia tidak menyadari bahwa sejak keberangkatannya menyusuri Bukit Panjali, telah ada tiga-empat mobil polisi melaju melewatinya.

Gelagat ketidakberesan baru ia sadari ketika sampai di pekarangan rumah Mama Norma. Banyak polisi berlalu lalang di sekitar sana. Mereka juga telah memasang garis-garis polisi di beberapa tempat, termasuk gudang tempat ternak anjing. Ada apa?

Ayu celingukan, coba menanyai salah seorang aparat yang kebetulan lewat di depannya.

“Ada kejadian apa, Pak?”

 Polisi itu menatap Ayu sambil mengerutkan dahi, “Serangan anjing gila. Mereka mengamuk, menerobos rumah, dan menyerang orang-orang di dalamnya. Kamu siapa, dik?”

Ayu terkesiap dengan kedua mata membulat. Serangan anjing gila dari dalam kandang? Tidak mungkin! Sepengetahuan Ayu, mereka adalah anjing paling sehat dan paling waras yang pernah ditemui. Mana mungkin mereka tiba-tiba melakukan penyerangan? Pasti ada hal yang salah di sini.

Tatapan Ayu tertumbuk kepada kain-kain putih yang berjejer rapi menutupi sesuatu di samping rumah utama. Ayu beringsut ke sana. Kuat dugaan Ayu bahwa kain-kain putih itu digunakan untuk menutupi jasad korban. Benar saja, di sana berjejer rapi empat kain putih yang menampakkan lekak-lekuk tubuh manusia di baliknya.

Dirundung rasa penasaran tinggi, ia coba mencuri kesempatan menyingkap keempat kain tersebut ketika polisi sibuk meneliti bukti-bukti di lokasi TKP. Sambil mengambil napas dalam, ia singkap satu-satu penutup jasad itu.

Kain pertama. Seorang perempuan yang tidak ia kenali, namun familiar. Besar kemungkinan ia adalah salah seorang pelacur. Kain kedua. Ayu hampir muntah melihat bagaimana separuh wajah mayat itu hancur akibat cabikan anjing. Namun, satu hal yang ia tahu pasti, dari sodetan tato di lehernya, ia yakin bahwa mayat itu adalah Bono. Buru-buru Ayu meletakkan kembali penutup jasad itu.

Kain ketiga. Tidak kalah mengenaskan dengan Bono, wajah mayat perempuan itu hancur terkoyak-koyak anjing sampai tidak bisa dikenali. Ayu tidak kuasa menahan muntahannya kali ini. Buru-buru ditutupnya mayat itu dengan kain.

Dan terakhir, kain keempat. Ada yang tidak beres dengan jasad terakhir ini. Bahkan sebelum sempat dibuka, Ayu yakin jika yang terakhir adalah jasad berjenis kelamin laki-laki. Sebab, dari yang ia amati, jasad keempat memiliki ‘sesuatu’ yang masih tegak lurus di bawah perutnya. Ayu meringis, betapa nahas lelaki itu yang harus mati saat ada di puncak berahi.

Ayu membuka kain penutup itu dan terpaku. Tenggorokan mayat itu sobek, namun ia tidak memiliki luka berarti di sekitar wajahnya. Tentu ia langsung dapat mengidentifikasi siapa korban malang itu, yang mati dengan keadaan kemaluan yang masih berdiri.

“Kiai Ali Sadikin”

Sontak Ayu langsung berlari menuju ke sepedanya. Ia mengayuh sepeda diliputi perasaan kalang-kabut yang tidak dapat didefinisikan. Antara terkejut, marah, sedih, dan macam-macam emosi yang tiba-tiba melesak menyesaki dadanya.

Seorang tokoh agama yang merupakan satria piningit kampungnya justru harus mati di lubang lumpur kehinaan. Selain itu, bagaimana bisa anjing ternak Mama Norma mengamuk? Siapa orang yang dengan teledornya membuka gudang dan kandang anjing tanpa pengawasan?

Akhir riwayat prostitusi Mama Norma, adalah akhir dari pekerjaan tetapnya yang menjanjikan. Sialnya, hari ini adalah hari di mana Ayu harusnya mendapat gaji.

***

Suara riuh terdengar dari tempat prostitusi Mama Norma. Malam itu, mereka kedatangan dua tamu istimewa sekaligus. Seorang pejabat dari kota madya dan seorang tokoh agama dari kampung di bawah Bukit Panjali. Mereka sama-sama ingin menghabiskan malam di tempat itu sambil menikmati suguhan wanita-wanita cantik dan terbaik yang dijual di sana.

Mama Norma begitu sibuk mempersiapkan segalanya. Bertepatan dengan malam itu, suasana di dalam rumah prostitusi juga sedang ramai-ramainya.

 “Bono! Kau suruh Paiman ambil dan masak anakan anjing di kandang. Setelah itu, kau berjaga di depan. Bilang kalau dagangan Mama Norma seluruhnya habis terjual.”

Bono mengangguk patuh dan langsung menjalankan perintah majikannya.

Dari luar rumah, banyak lelaki berdatangan terpaksa harus menelan berahi mereka sebab Mama Norma tidak menyediakan cukup lubang untuk mereka.

Beberapa dari mereka menurut untuk kembali besok malam. Namun, tak sedikit pula dari mereka yang malah berbuat onar di luar rumah. Sampai terjadi adu jotos antara preman-preman penjaga rumah prostitusi dengan para pelanggan yang kecewa.

Dua dari mereka berhasil melewati kegaduhan dan menyelundup dari belakang.

“Norma sialan!” seru salah satu lelaki sambil membanting botol minuman kerasnya hingga membentur dinding gudang.

Hal tersebut langsung memicu kekagetan anjing-anjing di dalam kandang. Merasa terancam, mereka langsung menggonggong galak.

Lelaki satunya tersenyum licik, “Kamu pasti marah dengan mereka kan? Mari kita buat malam ini jadi lebih meriah.” Katanya sambil melangkah terhuyung-huyung menuju pintu gudang.

“Tunggu. Kamu yakin?” tanyanya sambil menghalau tangan kawannya yang telah mabuk berat.

Lelaki itu menepis tangan temannya, “Tentu saja. Mereka tidak makan daging kita. Kita yang memakan daging mereka!” teriaknya lantang sambil terkekeh-kekeh.

Ia melepas gerendel gudang dan membuka pintunya lebar-lebar. Geraknya yang luwes langsung diserbu belasan anjing yang langsung menerobos pertahanan lelaki dihadapannya. Mereka melolong sambil menyalak, merayakan kebebasan.

[Umi Nur Faizah, Jepara, 5/19]


KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,academy,1,Advertorial,4,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,476,Artikel sastra,1,Beasiswa,7,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1288,biografi,1,buku,2,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,3,camaba,1,camaba 2022,2,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,27,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,1,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,31,Essay,120,feature,1,film,4,Filsafat,34,fresh graduate,3,FUHUM,8,FUHum fest,2,FUPK,2,gaya hidup,1,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,ide bisnis,1,idul adha,5,Ilmu Pengetahuan,86,Imam Nawawi,1,info kos ngaliyan,1,inspiratif,1,islam,2,Iwan Fals,1,judul skripsi terbaik,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,64,Kebahagiaan,3,kebudayaan,1,kecantikan,1,kecerdasan,2,kekerasan seksual,2,kemanusiaan,1,kemerdekaan,1,kerja,1,kesadaran,7,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,2,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,11,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,1,Korean Wave,1,kos,1,Kuliah,10,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kurban,1,Lahan Parkir,2,liburan,1,lifestyle,1,Literasi,2,lukisan,1,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,396,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,7,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,346,Olahraga,1,Opini,239,opini mahasiswa,19,orsenik,19,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,24,PBAK 2022,5,peluang,1,Pendidikan,7,penemuan ular,1,pengembangan diri,6,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,potret wisuda,1,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,29,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,128,Quotes,1,qurban,1,Rasulullah,1,recriutment,1,recruitment,1,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,106,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,Semarang,46,Shalawat,1,SK Wajib Mahad,1,skill,1,Skripsi,5,sky,1,socrates,2,sosial,1,Sosok,1,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,teater,1,Teknologi,37,teladan,1,tips,4,Toefl-Imka,15,tokoh,1,Toxic,1,UIN Walisongo,463,ujm,2,UKM,6,ukt,22,ular piton,1,wali wisuda,1,wanita,1,William Shakespeare,1,Wisuda,71,wisuda 2022,4,wisuda offline,4,wisudawan terbaik,3,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: [Cerpen] Kutukan Anjing
[Cerpen] Kutukan Anjing
Mengingatkan bagaimana brutalnya mereka membantai anjing-anjing yang tersesat di kampung. Manusia-manusia di dalam desa itu sudah terlalu berdosa
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjsqWPOtuQ9UlrRjmO3uGX7EXExF5LQxI2LHcIYVrDMk_YMApGu5iPFhN6rO23vBEzX3omhCjqRwErtXCqt1GXUmg89GglvxjVuar-jxLOiFroE17OQteu3Ga4l0IUp4tLkMWHFCXdobQAR-4Uau-4cGInT2GKGYs3J_qfol1eRSt1wvn0shauwwsB8vw=w400-h295
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjsqWPOtuQ9UlrRjmO3uGX7EXExF5LQxI2LHcIYVrDMk_YMApGu5iPFhN6rO23vBEzX3omhCjqRwErtXCqt1GXUmg89GglvxjVuar-jxLOiFroE17OQteu3Ga4l0IUp4tLkMWHFCXdobQAR-4Uau-4cGInT2GKGYs3J_qfol1eRSt1wvn0shauwwsB8vw=s72-w400-c-h295
IDEApers
https://www.ideapers.com/2022/03/cerpen-kutukan-anjing.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2022/03/cerpen-kutukan-anjing.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin