Kisah Pied Piper dan Dongeng "Kemajuan"


Bunge-lose
, yang berarti tanpa gendang, tanpa suara, dan sunyi masih diperingati sebagai jalan yang tanpa tarian dan tanpa musik. Terletak di daerah sungai Weser, kota Hamelin, di mana dalam cerita rakyat Jerman dipercayai sebagai jalur menghilangnya 130 anak yang terhipnotis oleh alunan musik Pied Piper. Dua monumen batu berbentuk salib juga berdiri di sana, di dekat gunung yang disebut Poppenberg, sebagai pengisah bahwa di tahun 1284, di hari Minggu yang suci, bertepatan dengan hari Santo Yohanes dan Hari Santo Paulus, saat para warga kota sedang khusyuk mengikat diri dengan Tuhan, anak-anak berjalan melintasi batas kota mengikuti alunan seruling sang komposer dan menghilang untuk selamanya.

Meskipun dalam dongeng tersebut tidak secara eksplisit menyebut kata "seruling" sebagai bentuk alat yang digunakan, tetapi lebih pada alat musik yang cara kerjanya dengan ditiup; bisa saja seruling, terompet, klarinet, atau yang lainnya. Kata "Seruling" di sini hanya sebagai medium yang memudahkan imajinasi terkait dongeng tersebut.

Diceritakan dalam dongeng yang ditulis oleh Jacob dan Wilhelm Grimm, seluruh anak di kota hilang kecuali tiga; anak yang buta, anak yang tuli, dan anak yang berkaki pincang. Keadaan fisik ketiga anak tersebut menyelamatkan mereka dari sihir musik si Komposer. Dongeng tentang peniup seruling dari Hamaelin ini juga dikisahkan oleh beberapa penulis seperti Robert Browning (The Pied Piper of Hamelin: a Child's Story), Richard Verstegan (The Pide Piper), James Howell (A Miraculous Passage in Hamelen), dll.

Dari semua kisah, baik berbentuk cerita maupun puisi, semuanya berbicara tentang bagaimana tragedi tersebut terjadi di tengah wabah tikus dan musim paceklik yang melanda negeri. Seorang pria bermantel warna-warni datang membawa seruling kecil dan menawarkan bantuan untuk meringankan kesusahan warga kota. Ia meminta 1000 gulden sebagai imbalan untuk jasanya, Walikota pun setuju. Menggunakan serulingnya, sang komposer memainkan musik dan membuat seluruh tikus di kota pergi mengikutinya dan lenyap di sungai Weser.

Sayangnya, sang walikota mengingkari kesepakatan dan hanya memberi 50 gulden kepada pria Komposer. Sakit hati akibat pengkhianatan tersebut membuat sang Komposer merencanakan untuk membalaskan dendam. Ia datang lagi di hari yang sudah direncanakan dan memainkan seruling kembali. Kali ini bukan tikus yang ia giring, tetapi semua anak di Hamelin. Seiring waktu, cerita ini terus dikisahkan dan dikenal di berbagai negara.

Dongeng ini menjadi begitu besar, juga karena sifat teksnya yang multi tafsir. Terdapat banyak pemaknaan yang muncul dari cerita tentang si peniup seruling dari Hamelin. Apapun itu, kisah ini memang merayu pembacanya untuk menginterpretasikan teks dan mengisahkannya kembali.

Salah satu yang menjadi pemikat dalam dongeng ini ialah bagaimana musik dan instrumennya berperan sebagai pencipta konflik. Orang-orang Hamelin percaya jika musik dan seruling sang Komposer memiliki daya magis, sesuatu yang dianggap ajaib dan sakti. Seruling sang Komposer dianggap sebagai sumber tipu daya yang membuat para tikus dan anak-anak Hamelin masuk ke dalam perangkap.

Jika menengok sejarah ke belakang, peradaban manusia begitu akrab dengan instrumen musik tiup. Bahkan dalam beberapa kepercayaan, keberadaan instrumen ini menempati peran vital dalam berlangsungnya dialektika peradaban. 

Di suku Aztec dari Amerika Tengah misalnya. Orang-orang Aztec menggunakan seruling sebagai pembawa berita duka. Seruling suku Aztec disebut sebagai Death Whistle (seruling kematian). Bentuknya memang tidak seperti seruling yang kita kenal yang berbahan kayu atau bambu. Suku Aztec menggunakan tengkorak hewan atau manusia yang diberi lubang sehingga menimbulkan suara nyaring, tajam, dan melengking. Death Whistle dibunyikan sebagai penanda dimulainya perang, ritual pengorbanan manusia untuk para dewa, eksekusi mati, atau sekedar penanda adanya kabar kematian.

Atau dalam cerita keislaman, yang menyertakan instrumen musik tiup sebagai penanda datangnya hari akhir (kiamat). Literatur Islam menyebutnya sebagai "Terompet Sangkakala". Sang malaikat yang ditugaskan meniupkan terompet ini diceritakan selalu menggenggam dan menunggu perintah Sang Ilahi untuk membunyikannya. Ketika sudah waktunya, tidak ada satu kehidupan pun yang luput dari kebinasaan.

Akan tetapi, tidak selalu tentang hal buruk yang menyertai eksistensi seruling. Kita juga mengenal seruling sebagai simbol keselarasan hidup. Dalam kisah yang hidup di tanah Hindustan misalnya. Dewa Krishna, jelmaan sang Hyang Wisnu, tidak pernah luput menyertakan seruling dari atribut kekuatannya. Seruling emas Krishna bahkan mampu mengendalikan semesta. Tidak perlu mantra ataupun seruan, Krishna cukup memainkan nada dari seruling, dan terjadilah apa yang dikehendaki. Musik dari seruling Krishna juga menjadi penanda kehidupan yang harmoni dan penuh keindahan.

Nyanyian Seruling Pied Piper dalam Ruang Virtual

Istilah "Komposer", dahulu berarti "dia yang datang". Cerita mengenai Pied Piper menjadi metafora atas kepercayaan suatu kota maupun peradaban yang mempercayai kekuatan dari luar. Walikota Hamelin percaya jika orang asing itu mampu menyelesaikan masalah yang membelenggu kota. Meskipun pada akhirnya, impian itu berakhir pahit karena harus mengorbankan generasi penerus.

Pied Piper menjadi legenda, kisah yang terus hidup melalui bait dalam setiap kalimatnya. Namun kisah tersebut begitu mengenang dan seakan menyesaki masa kini dengan alegorinya. Kita memang tidak akan menemui pria dengan seruling dan pakaian warna-warni yang mencuri perhatian. Tetapi coba lihat, bagaimana pied piper kini menjelma ke dalam banyak rupa. Kita semakin terbiasa mempersilahkan "orang asing" menjajaki hidup kita.

Contohlah entitas yang begitu menyita hari-hari kita, media sosial (medsos) dan dunia virtual. Medsos seperti versi modern dari Pied-Piper Hamelin, menenun lagu-lagu hipnotisnya pada kita dan menjebak jiwa dalam candu teknologi. Kita hidup di zaman di mana kita makan, bernapas, dan tidur di media sosial. Hari ini, realitas kita dikemas melalui layar persegi smartphone. Di sini tidak ada yang "nyata" kecuali online, like, dan share.

Medsos telah menyusup ke dalam sistem dasar kemanusiaan kita. Memonitor hubungan kita dan telah menciptakan dalam diri kita kebutuhan untuk selalu "berbagi" dan "mengikuti". Hari ini, kita meyakini bahwa apa yang ada di medsos adalah sebuah bentuk kebenaran. Sesuatu yang menarik dan seakan layak untuk "disembah".

Maurice Marleau-Ponty, Filsuf Fenomenologi dari Prancis sempat membahas perihal bagaimana "tubuh" dan "dunia" bekerja dalam realitas yang menyeret kesadaran manusia. Menurutnya, antara tubuh dan dunia harus memiliki substansi yang sama untuk bisa saling terintegrasi. Keterlibatan ini menjadi medium yang menyeret tubuh menuju kedalaman dunia yang ditempati.

Meskipun begitu, ada jurang yang membedakan tubuh dalam bentuk fisik dan digital. Substansi tubuh fisik tidak sama dengan substansi dunia ruang digital, sehingga sebenarnya diri kita yang berbentuk fisik ini tidak memungkinkan untuk terseret dalam pusaran dunia yang terdiri dari angka-angka biner tersebut. 

Namun jika mengacu pada pembacaan wacana Marleau-Ponty, ada satu variabel yang mengintegrasikan kita yang "fisik" dengan ruang virtual, yakni "kesadaran". Menggunakan realitas sadar, tubuh mengoperasikan tubuh yang lain (tubuh digital) untuk melakukan aktivitas dan terlibat aktif di dunia yang juga digital dan berinteraksi dengan tubuh digital lainnya. Sehingga secara tidak langsung, kesadaran fisik memiliki andil dalam dialektika yang terjadi di dalam realitas digital.

Sayangnya, kesadaran yang digunakan seringkali tidak benar-benar berbentuk "kesadaran". Tidak semua orang mampu melibatkan intelektualitas dalam kesadaran dua ruang ini. Kesadaran yang dilibatkan lebih banyak sebatas kesadaran fisik dalam menggerakkan bagian tubuh untuk mengoperasikan media digital. Padahal, dalam proses pengoperasian ini kita juga sangat membutuhkan kesadaran intelektualitas terutama untuk mengontrol diri dan benar-benar mampu memahami setiap tindakan "klik" yang dilakukan di ruang digital.

Hal ini yang tak jarang membuat orang-orang (kita) begitu mudah terseret dalam arus candu yang ditawarkan dunia media sosial yang digital serta virtual. Nyanyian media sosial meramu not not nadanya membentuk jaring yang menyeret penggunanya untuk pergi dari kedalaman pemahaman terhadap diri sendiri. Terjerat dalam sistem algoritma dan terperangkap pada realitas virtual dan menegasikan realitas empiris kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana para tikus dan anak-anak Hamelin yang kehilangan kesadaran akibat diperdaya musik Pied Piper, masyarakat virtual juga semakin tidak sadar bahwa dunia yang dipijak sudah sesak oleh imitasi, duplikasi, kode, simbol, dan permainan bebas tanda yang kian hari semakin kompleks. 

Kita mengkonsumsi teks-teks virtual dan hidup di dalamnya. Masifnya dalam menggunakan tubuh (akun) virtual serta terlibat interaksi secara aktif, seringkali membuat kita bias dalam memahami mana yang benar-benar pengetahuan dan mana yang hanya kepingan informasi.

Sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika informasi yang tersaji di dalam medsos dijadikan sebagai sumber atau bahan pengetahuan. Kita tidak bisa memungkiri jika referensi pengetahuan kita saat ini memang lebih banyak bersumber dari sana. Tidak ada perjanjian tertulis, tetapi semua dari kita menyepakati bahwa pipa informasi di dalam media informasi digital adalah sumber yang paling mudah diakses, cepat, dan lugas. Media informasi digital dipercayai sebagai temuan revolusioner yang memberikan apapun yang kita mau. Informasi apapun, dari pemikiran-pemikiran tokoh bahkan hingga gosip artis terkini, semua ada. 

Kita menerima sistem komunikasi digital sebagai satu paradigma yang dianggap mampu menyelesaikan semua permasalahan. Dari A sampai Z, kita hanya perlu mencarinya dan "klik" yang sesuai. Tak ubahnya warga Hamelin yang begitu percaya dengan Pied Piper, banyak dari kita yang juga begitu mengagungkan bentuk "kemajuan" sistem informasi sebagai temuan revolusioner yang membantu kehidupan. 

Dan kini, seakan kita tak ada beda dengan warga Hamelin yang pada akhirnya menyalahkan Pied Piper atas kemalangan yang terjadi. Kita melihat bagaimana kegaduhan yang timbul akibat virtualisasi kehidupan. Kemudian begitu saja langsung menuding sistem informasi digital sebagai terdakwa perusak tatanan kehidupan. Kemajuan teknologi menjelma Kotak Pandora yang merupa "hadiah" kemudian mewujud "musibah".

Atau jika tidak ingin terjerat dalam pusaran candu ini, menjadi seperti tiga anak Hamelin yang tidak terhipnotis musik Pied Piper. Menjadi buta, tuli, serta pincang terhadap teknologi yang ada. Sehingga keberadaan kemajuan teknologi tidak akan mengusik "kedamaian" hidup. Namun, haruskah kita begitu? Sedangkan di dalam hidup ini kita juga diberkahi akal untuk mampu membaca dan memahami apa yang tersaji serta membuat inovasi yang memudahkan kehidupan. 

Meskipun alunan musik Pied Piper terus bersimfoni melintas zaman dan merayu siapapun untuk masuk dan mendekap diri pada ketiadaan, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk kita mampu eksis dalam kehidupan yang penuh kesadaran dan pemahaman. 

Kemajuan Teknologi hadir sebagai sesuatu yang "baru" dan membuktikan kemampuan manusia dalam mengelola kehidupan. Tentunya, melalui teknologi yang diciptakan pula kita bisa menjadi lebih cerdas dan melampaui keterbatasan untuk sampai pada entitas yang tidak sekedar hidup, tetapi menjadi "hidup" yang menghidupi.

Dan, bagaimana kita menggunakan teknologi serta berdialektika dalam kemajuan menjadi keputusan yang menentukan akan berada di mana kita dalam pusaran peradaban. Tindakan yang kita ambil membawa konsekuensi logis, antara berada dalam dimensi dongeng kemajuan yang "mengasuh" atau "membunuh". [Ainun]


KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,Advertorial,4,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,458,Beasiswa,6,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1253,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,2,cerpen,27,Corona virus,65,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,31,Essay,119,film,2,Filsafat,33,FUHUM,3,gaya hidup,1,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,ide bisnis,1,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,83,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,61,Kebahagiaan,3,kecantikan,1,kecerdasan,2,kemerdekaan,1,kesadaran,6,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,9,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,7,Kuliah luar negeri,3,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,lifestyle,1,Literasi,1,lukisan,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,354,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,6,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,335,Olahraga,1,Opini,238,opini mahasiswa,19,orsenik,19,pancasila,2,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,7,pengembangan diri,5,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,27,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,128,Quotes,1,Rasulullah,1,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,105,Second Sex,1,Semarang,43,Shalawat,1,Skripsi,3,socrates,2,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,4,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,36,tips,4,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,416,UKM,6,ukt,22,wanita,1,Wisuda,62,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Kisah Pied Piper dan Dongeng "Kemajuan"
Kisah Pied Piper dan Dongeng "Kemajuan"
Diceritakan dalam dongeng yang ditulis oleh Jacob dan Wilhelm Grimm, seluruh anak di kota hilang kecuali tiga; anak yang buta, anak yang tuli, dan ana
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjBerYRG4gJBRKMRFscUqVHaFP3dGJx62wQIE-aO9KhmbZLvBAhj1NERY5bbPNn2M0X199XGlSrlqwmiG1ybpQd__V2r-gQXaifYPsmXh6sLXxCKeCgJsyXj1ECDP_0kJe05GXxL8tuE4wsBgmZcnZnfsU4tFBGwtuuA6VPZd-qaht6a2I_jxpa3bn8TA=s16000
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjBerYRG4gJBRKMRFscUqVHaFP3dGJx62wQIE-aO9KhmbZLvBAhj1NERY5bbPNn2M0X199XGlSrlqwmiG1ybpQd__V2r-gQXaifYPsmXh6sLXxCKeCgJsyXj1ECDP_0kJe05GXxL8tuE4wsBgmZcnZnfsU4tFBGwtuuA6VPZd-qaht6a2I_jxpa3bn8TA=s72-c
IDEApers
https://www.ideapers.com/2022/01/kisah-pied-piper-dan-dongeng-kemajuan.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2022/01/kisah-pied-piper-dan-dongeng-kemajuan.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin