Pendidikan Karakter dan Identitas Digital


Internet telah membawa perubahan besar untuk kesadaran dan psikologi kita sebagai umat manusia. Realitas virtual tidak hanya mengelilingi, tetapi juga melibatkan kita dalam setiap prosesnya. Dimensi sosial teknologi berperan dalam pembentukan identitas kita, mulai dari game online, media sosial, hingga akses pendidikan. 

Kita hidup dalam dunia ‘koneksi-koneksi’ dan karena itulah seorang individu bisa dengan mudah “membentuk” dan “membongkar” dirinya sesuai keinginan. Di dunia yang serba virtual, kita ada di dalam apa yang kita buat sesuai pikiran utopis tentang diri kita. Pembentukan identitas “yang lain” tersebut telah berhasil memunculkan kesamaran antara diri artifisial dengan diri yang sebenarnya.

Dewasa ini, terutama di masa pandemi covid-19, penggunaan internet semakin masif. Mobilitas penuh di dunia virtual tentunya berdampak pada pengetahuan serta pembentukan identitas. Kita melihat dan mengalami bagaimana industrialisasi budaya mengubah kita menjadi "sama rata" dan tanpa sekat. 

Apa yang menjadi kegemaran dunia, kita konsumsi secara kolektif dan menjadikannya budaya sendiri. Sebagai contoh, fenomena "viral" yang selalu berhasil menempatkan suatu ideologi menjadi pemahaman kolektif masyarakat di seluruh dunia. Warga virtual kompak melakukan satu hal yang sama.

Begitupun dengan produk-produk dari luar negeri yang mendominasi pasar kita. Masyarakat begitu percaya dengan produk tersebut. Selain karena dianggap lebih baik, tetapi juga ada label "keren" yang menyertai setiap menggunakan produk dari luar. 

Tidak hanya masyarakat secara umum, tetapi bagaimana pemerintah memperlakukan sistem asing juga mencerminkan betapa ketergantungannya kita dengan dunia luar. Seperti ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyatakan bahwa kita harus menggunakan kurikulum internasional untuk sistem pendidikan kita demi asas kemajuan.

Memang tidak salah ketika mengadopsi ide dari luar diri kita untuk kita terapkan guna memperbaiki diri, tetapi bukan berarti menutup mata dengan arena yang kita perjuangkan. Keadaan geografis, budaya, politik serta ekonomi tentu menjadi variabel yang perlu kita pertimbangkan untuk menerapkan suatu sistem yang tepat. Karena, mau secanggih apapun suatu sistem, ketika diaplikasikan tanpa riset terhadap kebutuhan dan kondisi di lapangan, hanya akan menjadi kesia-siaan. Antara program dengan yang menjalankan program tidak bisa padu karena tidak terjadi keselarasan.

Membudayanya Nalar Jajahan

Indonesia mengalami waktu penjajahan yang tidak sebentar. Represi berlangsung tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Belanda berada lama di Indonesia membawa serta budayanya dan diaplikasikan terhadap sistem sosial di Indonesia. Dominasi terjadi seakan tanpa paksaan. Perlahan-lahan rakyat Indonesia disuapi ideologi dan pemahaman cara hidup ala mereka. Ketika hal itu dilakukan terus menerus, rakyat Indonesia menganggap ajaran tersebut sebagai suatu kebiasaan yang membudaya. Kemudian perlahan meninggalkan nilai dari tradisi yang sebelumnya diyakini dan ditegakkan.

Indonesia memang sudah merdeka 76 tahun yang lalu. Tetapi bukan berarti perjuangan kemerdekaan telah usai. Peperangan beralih dari gencatan senjata menjadi perang ideologi. Tidak hanya Belanda dan Jepang yang berkesempatan menusuk ideologi kita sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika, tetapi setiap negara memiliki kesempatan yang sama untuk merayu dan menduduki mentalitas kita dengan ideologi yang mereka bawa. 

Dan sudah terjadi kini, ketika semua orang berlomba-lomba untuk meniru dan mempraktikkan budaya dari negara luar. Melalui media internet dan pasar global, batas-batas dari nilai kebudayaan semakin samar bahkan ditiadakan. Masyarakat kita begitu gandrung dengan apapun yang berasal dari negara luar. Salah satunya akibat dari kegagapan kita dalam menerima hal baru dan belum adanya fondasi yang kokoh di dalam diri untuk memilah kebenaran dari informasi.

Kesakitan kita terhadap jajahan belum sepenuhnya sembuh. Beratus-ratus tahun berada dalam dominasi asing membuat kita terbiasa dengan "diatur" dan "ditata" dalam menggerakkan roda peradaban bangsa kita. Ketika kita akhirnya Merdeka, tidak semua masyarakat Indonesia siap untuk berdiri sendiri dan mengelola sistem secara mandiri.

Banyak dari moyang kita yang pada akhirnya justru melemah karena dimerdekakan dari dominasi penjajah. Ketika sebelumnya untuk menentukan suatu keputusan harus dituntun dan didikte, tentu akan sangat limpung jika harus bertanggung jawab sendiri. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membiasakan diri dan benar-benar berdikari atas diri dan bangsa. Dan yang paling utama sebagai medium transformasi ini ialah revolusi mental melalui pendidikan karakter.

Membangun Karakter Bangsa ala Soekarno 

Majunya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas setiap warganya serta persatuan yang dijunjung. Indonesia memiliki Pancasila sebagai pedoman hidup dan bernilai tinggi di setiap asasnya. Sayangnya, semakin ke sini setiap inci dari ajaran tersebut sudah jarang diamalkan. Karena masyarakatnya banyak yang silau dengan ideologi dan budaya luar.

Ir. Soekarno menyadari akan kebiasan ini, bahkan sebelum ia menyaksikan bagaimana masyarakatnya diobrak-abrik oleh cepatnya sistem jaringan dan koneksi. Soekarno sering menyuarakan di dalam pidatonya jika "kita" adalah bangsa yang besar dan kaya dengan setiap potensinya. "Marilah kita semua satu-persatu mencoba menjadi besar. Angkatkanlah diri kita di atas segala tetek-bengek yang kecil-kecil! Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri. For a fighting nation there is no journey”s end…”

Tidak hanya menyuarakan konsep, Soekarno juga menawarkan teknis untuk melaju menjadi bangsa yang mandiri serta berdikari, terkhusus dengan pendidikan karakter. Pertama, kita harus berinvestasi pada keterampilan manusia (human skill investment), kemudian investasi material (material investment), dan terakhir, investasi mental (mental investment).

Jika dipenuhi, tiga poin tersebut akan mampu menyelamatkan kita dari ketertindasan dan dominasi Asing. Sehingga kita sebagai bangsa yang maju tidak mudah terbujuk rayu oleh ilusi kemewahan yang negeri asing tawarkan. Dengan menyiapkan mental, akan mampu melahirkan insan merdeka bangsa Indonesia baru. Dimana mentalitas politiknya berdaulat, mental ekonominya berdikari, dan mental kebudayaannya berkepribadian luhur sebagaimana sejatinya identitas bangsa Indonesia. Terutama kita harus mampu melawan nalar imperialisme dan kapitalisme.

PR-nya untuk kita semua saat ini ialah bagaimana memanifestasikan nilai-nilai karakter manusia yang Pancasila di setiap laku sehari-hari. Mewujudkan sistem pendidikan yang tidak hanya mendikte "referensi" tetapi hasil padu dari buah pikir anak bangsa yang mampu menyelami kebutuhan negerinya. Percaya dan yakin dengan kemampuan diri dan meneriakkan hasil karya pada dunia bahwa kita, bangsa cerdas yang tidak pernah tidur dan terlena.

Sebagaimana yang pernah diucapkan Soekarno, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” Dan pilihannya hanyalah Merdeka, Merdeka, Merdeka atau Mati! [Ainun]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Abu Nawas,1,Advertorial,4,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,2,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,423,Beasiswa,4,Begadang,1,belajar,3,berdoa,2,Berita,1224,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,2,cerpen,24,Corona virus,63,Daun kelor,1,Demokrasi,1,EkspreShe,31,Essay,116,Filsafat,23,FUHUM,3,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,68,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,59,Kebahagiaan,3,kecerdasan,1,kemerdekaan,1,kesadaran,2,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,KKN,8,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,3,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,1,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,329,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mental,1,Menulis,1,modernitas,1,motivasi,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,325,Olahraga,1,Opini,230,opini mahasiswa,17,orsenik,19,pancasila,2,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,5,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,16,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,122,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,20,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,96,Second Sex,1,Semarang,41,Shalawat,1,Skripsi,3,stoic,1,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,2,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,31,tips,3,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,392,UKM,6,ukt,22,Wisuda,57,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Pendidikan Karakter dan Identitas Digital
Pendidikan Karakter dan Identitas Digital
Internet telah membawa perubahan besar untuk kesadaran dan psikologi kita sebagai umat manusia. Realitas virtual tidak hanya mengelilingi, tetapi juga
https://lh3.googleusercontent.com/-mWOTzJJ0-dU/YZ8csvUGXtI/AAAAAAAAMeg/YK2xl9rvXQAZbB-ySEJ8E4YY3_1-SH56gCLcBGAsYHQ/w320-h180/Desain%2Btanpa%2Bjudul%2B%25284%2529.png
https://lh3.googleusercontent.com/-mWOTzJJ0-dU/YZ8csvUGXtI/AAAAAAAAMeg/YK2xl9rvXQAZbB-ySEJ8E4YY3_1-SH56gCLcBGAsYHQ/s72-w320-c-h180/Desain%2Btanpa%2Bjudul%2B%25284%2529.png
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/11/pendidikan-karakter-dan-identitas-digital.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/11/pendidikan-karakter-dan-identitas-digital.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin