Carl Jung dan Kedewasaan Anak Laki-laki


"Manusia tidak dapat menemukan samudra baru kecuali dia memiliki keberanian untuk melupakan pantainya". - Andre Gide.

Kutipan diatas sama seperti ungkapan dari salah seorang psikologi kenamaan dari Swiss, bernama Marie-Louis Von Franz. Waktu itu pada pertengahan abad ke-20, kebanyakan pria dan wanita banyak mengalami hambatan secara psikologi dalam kedewasaannya. Meski sudah memasuki fase pematangan dalam bentuk fisik, namun perkembangan mental masih gagal dalam mengimbangi.

Hingga pada tahun 1959 Fraz mengidentifikasi adanya kasus tersebut. Kemudian diberikannya solusi dengan menggunakan metode psikologi Puer Aeternus, dalam bahasa latinnya bermakna "Anak abadi". Istilah seperti ini ditemukan oleh Carl jung dengan mengadopsi kisah mitologi tentang anak-anak yang hidup abadi dan awet muda dalam bentuk fisiknya.

Menurut pemaparannya, Von Fraz menerangkan bahwa Puer Aerternus adalah seorang individu yang terjebak dalam kepribadian psikologi remaja. Maksudnya, seorang dengan karakteristik seperti ini terjadi pada remaja umur 17-18 tahun terus berlanjut pada kehidupan (masa dewasa). Selanjutnya, ditemukannya banyak kasus remaja yang masih ketergantungan besar pada sosok seorang ibu.

Von Franz meramalkan jika di tahun kedepannya masalah seperti ini akan menyebar ke seluruh dunia dan mempengaruhi setiap orang. Mereka yang masih di rumah hingga usia 20 sampai 30 an, akan merasa nyaman dengan keramahan dan kasih sayang orang tua. Alih-alih mencoba menemukan potensi diri, mereka lebih memilih dunia yang penuh fatamorgana dengan tipuan visualnya internet, pornografi, dan video game.

Kehidupan mereka hanya dalam bayangan tanpa jalan dan tujuan. Orientasi hidup yang dikejar hanya sebuah kepuasaan sesaat demi melupakan sebuah kesengsaraan. Melihat masalah tersebut, tidak berlebihan juga jika mengklaim bahwa permasalahan Puer Aeternus sebagai penyakit psikologi primer di zaman modern.

Dalam hal ini, tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mempengaruhi anaknya memiliki kecenderungan mengalami Puer Aeternus. Catatan Von Franz juga menjelaskan bahwa "Seorang pria yang mempunyai hubungan komplek dengan ibunya akan selalu memiliki kecenderungan menjadi Puer Aeternus".

Sebuah keluraga, didalamnya terdapat peran berbeda dari sosok ibu dan ayah. Ibu yang mempunyai kedekatan emosional dengan anak lebih baik dibandingkan ayahnya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kontak fisik dan kesempatan untuk berbagi perasaan serta ekspresi antara mereka. Hubungan seperti inilah yang biasanya disebut "Kompleks Ibu".

Sebaliknya, sosok ayah cenderung lebih memberikan sumber daya dan skema perlindungan bagi anak yang sedang berkembang. Jika dikhususkan lagi, peranan ayah ialah membantu anak melepaskan diri dari ikatan ketergantungan dengan ibunya. Ayah lebih positif untuk membentuk anak sebagai pribadi yang dewasa, mandiri, dan fungsional.

Dalam banyak perkembangan budaya di beberapa daerah, peralihan masa remaja kedewasa seringkali dibantu dengan ritual keagamaan. Tujuannya untuk memisahkan masa muda dari ibunya baik secara fisik hingga psikologinya. Ritual ini biasanya dilakukan tidak lama setelah mulai muncul masa pubertasnya, khususnya untuk laki-laki.

Mircea Eliade, salah satu sejarawan dan filsuf dari Amerika dalam bukunya "Rites and Symbols of Initiation" mengatakan mengenai ritual keagamaan yang disebut "Perikop". Ia menggambarkan bagaimana proses didalam ritual tersebut. Dimulai ketika tengah malam pemuka agama di sebuah suku atau perkumpulan.

Dengan memakai pakaian seperti dewa atau roh jahat yang akan menculik pemuda dari tempat tidurnya. Saat tersebut juga menjadi waktu terakhir sang anak melihat ibunya. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk ritual tersebut bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Setelah itu, pemuda yang sudah diculik tadi, akan dibawa ke sebuah gua yang dalam, dikubur hidup-hidup, atau dengan bentuk simbolik lainnya.

Proses ritual tersebut, ternyata memiliki pesan tentang matinya masa kanak-kanak dan keadaan mencengkam yang dialami pemuda. Seolah-olah dia tidak bisa pulang "Ke masa anak-anak" lagi.

Setelah upacara 'Kematian', ritual kembali dilanjutkan dengan 'Kelahiran' yang menandakan sebuah masa transisi dari anak-anak ke usia dewasa. Para peserta kemudian diajari oleh para tetua perihal kebijaksanaan dan pengetahuan suku tersebut. Lalu, dikirim ke hutan untuk bertahan hidup selama beberapa bulan tampa bantuan apapun.

Saat itu, pemuda lah yang akan menentukan nasib di masa depannya sendiri. Seusai pengasingan, pemuda kembali ke desa dengan mendapat sambutan meriah dari para anggota suku dan mendapat label dewasanya. Jika melihat bagaimana proses adat pendewasan yang begitu ketat serta mempunyai risiko besar. Diharapkan hasil yang akan diraih juga bisa membentuk pria dengan psikologi matang.

Di masa modern seperti sekarang, ritual seperti ini sudah hilang dan dialihkan kepada ayah pribadi mereka yang akan memberikan tretment menuju masa kedewasaan. Namun, tidak semua ayah bisa membekali anaknya sesuai apa yang diinginkan tapi malah sebaliknya. Membentuk anak sesuai apa yang diinginkannya sering terjadi sekarang ini.

Apalagi seringkali ditemui bahwa ayah tidak hadir pada masa perkembangan anaknya karena sibuk bekerja. Belum lagi kegagapannya ketika harus mengemban tugas sebagai mentor sekaligus pembimbing dalam mengarungi gejolak pendewasaan seorang anak.

Tanpa disadari, ketidakhadiran sosok ayah ternyata sangat mempengaruhi kondisi ibu. Seperti, cenderung mengikat anak hingga kegagalan seorang ayah dalam memberikan cinta dan dukungan kepada ibu. Karena telah diciptakan dalam dirinya sebuah kehausan emosional, yang telah ia puaskan melalui hubungannya dengan anak.

Kondisi seperti inilah yang menciptakan lingkaran sempurna dimana sang ibu menjadi "Sang Pelahap". Dimana ibu terlalu memenjarakan bahkan sampai terlibat dalam setiap aspek kehidupan sang anak. Meski terlihat berniat baik, tetapi perlakuan tersebut malah menggantung sang anak hingga dewasa.

Untuk menghindari hal tersebut, diperlukannya persiapan matang dari sosok ayah. Menjadi kuat dan selalu hadir secara emosional dalam kehidupan anak. Selain itu, ia juga harus memberikan stimulus atau dorongan kepada anak agar mau melepaskan diri dari rasa nyaman di masa kanak-kanak. Kemudian, pemuda atau sang anak bisa leluasa menyongsong dunianya sendiri dengan percaya diri.

Karena membiarkannya besar dalam lingkungan sang ibu, bisa membuatnya kehilangan kesempatan untuk menjelajah, membela dirinya, gagal dan memperbaiki setiap kesalahannya, serta membuat keputusan sendiri. Ia akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang lumpuh dalam kapasitasnya menanggung dan mengatasi tantangan hidup.

Ilusi yang diciptakan oleh seorang ibu, seperti kasih sayang, perhatian, dan ruangan untuk dimanjakan telah perlahan melunakkan mental sang anak. Maka nyatalah apa yang disampaikan oleh Carl Jung, bahwa "Dia berharap bisa ditangkap, diisap, diselimuti, dan dimakan. Dia mencari, seolah-olah melindungi, menutrisi, lingaran terpesona ibu, kondisi bayinya dibebaskan dari segala perawatan... Pantas dunia nyata lenyap dari pandangan!".

Agung R

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Advertorial,2,Al-Qur'an,2,Albert Camus,2,Albert Estein,1,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,369,Beasiswa,4,Begadang,1,berdoa,2,Berita,1166,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,1,cerpen,23,Corona virus,60,Daun kelor,1,EkspreShe,31,Essay,113,Filsafat,10,FUHUM,2,Generasi Milenial,26,George Orwell,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,4,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,58,Imam Nawawi,1,Kahlil Gibran,1,Kapitalis,1,Keagamaan,51,Kebahagiaan,2,Kesehatan,24,Kitab Allah,1,KKN,5,Komunikasi,3,kopi,1,Kuliah,1,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,18,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,277,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,Menulis,1,modernitas,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Oase,307,Opini,206,opini mahasiswa,11,Pandemi,2,PBAK,17,Pendidikan,2,Perempuan,4,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,3,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,6,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,115,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,19,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,88,Second Sex,1,Semarang,40,Shalawat,1,Skripsi,3,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,Taubat,1,Teknologi,24,tips,1,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,330,UKM,6,ukt,20,Wisuda,48,Writer's block,1,Zodiak,3,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Carl Jung dan Kedewasaan Anak Laki-laki
Carl Jung dan Kedewasaan Anak Laki-laki
Carl Jung menemukan istilah Puer Aeternus yang dalam bahasa latinnya berarti "Anak abadi". Artinya, anak yang terjebak dalam sisi remajanya.
https://lh3.googleusercontent.com/-Vi9YIoYv1Z0/X-6GqIJ9clI/AAAAAAAALQg/dVIaySvWgTkoe4aRBEZ017sqKITKFl3QgCLcBGAsYHQ/s16000/45.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-Vi9YIoYv1Z0/X-6GqIJ9clI/AAAAAAAALQg/dVIaySvWgTkoe4aRBEZ017sqKITKFl3QgCLcBGAsYHQ/s72-c/45.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/01/carl-jung-dan-kedewasaan-anak-laki-laki.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/01/carl-jung-dan-kedewasaan-anak-laki-laki.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin