Kejutan di Pesta Ulang Tahun Melva



Melva selalu menyukai pesta. Sungguh tidak ada yang bisa membuatnya bahagia selain pesta. Maka malam ini Melva tampil begitu anggun mengenakan gaun merah layaknya seorang remaja, setelah sepanjang hari ia kepayahan mempersiapkan segala keperluan untuk pesta ulang tahunnya yang ke- 89 ini.

Rumah Melva sudah mulai ramai. Alunan musik bergenre jazz, pop, bahkan keroncong sekalipun menyambut derap langkah tamu ndangan. Balon-balon yang telah dihiasai pita dan kertas origami menggantung sepanjang dinding rumah. Lilin-lilin berjajar rapi di atas meja. Asapnya terbang bagaikan doa dan harapan yang membumbung tinggi ke langit. Kembang api sudah di-timer dan siap bermekaran pada pukul 00.00 nanti.

Di pesta ulang tahunnya, Melva selalu menunggu-nunggu kejutan. Terkadang para sahabatnya usil memberikan kado yang isinya menggelitik. Melva pernah mendapatkan pemotong kuku, tusuk gigi, kaca mata renang, gayung mandi, bahkan satu bungkus celana dalam berukuran XL juga pernah. Meskipun terkesan aneh, namun kado itu berhasil membuat Melva tersenyum-senyum sendiri.

Dan malam ini Melva tidak sabar menunggu kejutan yang lebih unik lagi. Wanita itu membayangkan dan menebak-nebak puluhan benda aneh yang akan ia dapatkan di pesta ulang tahunnya ke- 89 ini.

***

Pukul satu dini hari. Pesta usai. Sisa potongan kue ulang tahun berceceran mengotori lantai. Lilin di meja makan hanya tinggal leleran. Beberapa balon warna-warni masih menempel di dinding rumah dan beberapa sudah dibawa pulang anak kecil. Wajah Melva berseri-seri seperti bulan purnama di langit.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di pesta ulang tahunku kali ini” Melva melambaikan tangan, tersenyum kepada lima sahabatnya.

Lima nenek-nenek itu memasuki mobil. “Semoga kita masih punya waktu untuk jalan-jalan ke pantai bersama lagi, ya,” ujar salah seorang dari mereka sambil membuka kaca.

Betapa bahagianya Melva malam ini. Dia tidak sabar ingin membuka semua kado dari para sahabatnya. Dia tersenyum-senyum sambil membayangkan hadiah unik apa lagi yang akan ia terima.

Melva memasuki halaman rumah tanpa menghiraukan lantai yang kotor setelah rumahnya digunakan untuk pesta. Biarlah nanti Kang Supri, tukang kebun yang akan membereskan semua kekacauan ini. Perhatiannya hanya tertuju kepada kado-kado yang selalu membuat ia penasaran.

Suara musik masih mengalun dengan lembut. Tiba-tiba Melva menghentikan derap langkahnya. Ia terkejut melihat seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi. Pria itu mengenakan topeng.
Tubuhnya membelakangi Melva, menghadap ke arah yang berlawanan.

Melva tidak menyangka jika masih ada orang di rumahnya. Ia pikir seluruh tamu undangan sudah meninggalkan pesta.

Melva lantas mendekati pria itu. Sang pria berbalik ke arah Melva. Namun Melva tidak dapat mengenali wajahnya karena tertutup topeng warna hitam.

“Siapa kau?” tanya Melva mengerutkan dahi.

“Bagaimana mungkin kau bisa melupakan aku,” jawab pria itu.

“Buka topengmu,” Melva mengangkat tangannya dan berusaha melepaskan topeng dari wajah pria itu. Namun si pria mengelak, menepis tangan Melva. Setelah itu ia memegang tangan Melva dan mengelus-elusnya.

“Tanganmu masih sama lembutnya seperti dulu,” kata pria bertopeng sambil tersenyum.

“Siapa kau sebenarnya?” Melva melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.

“Kau selalu menginginkan kejutan di setiap pesta ulang tahunmu, kan? Apakah kau juga mau menerima kejutan dariku?” pria itu menata topengnya yang bergeser dari posisi awal.

Melva terdiam. Dia menunggu pria bertopeng bertindak sesuatu.

Kemudian sang pria berlutut di hadapan Melva. Tiba-tiba ia membacakan sebuah puisi:

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap kali menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga

Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya

O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi (*) 

Melva terpana. “Puisi yang indah,” ucap Melva spontan. Kata-kata indah yang dilantunkan pria  bertopeng itu masih terngiang-ngiang di telinga Melva.

“Siapa kau sebenarnya, pria bertopeng? Apa kau seorang penyair? Apa tujuanmu datang ke sini?” rentenan pertanyaan meluncur dari mulut Melva.

“Aku datang ke sini untuk memberi kejutan kepadamu, Melva. Bukankah kau selalu menyukai kejutan di setiap pesta ulang tahunmu? Dan siapa aku? Kau akan tahu jawabannya setelah kita melakukan petualangan singkat malam ini. Kau bersedia?” pria bertopeng menatap wajah Melva dengan takzim.

“Kau membuat wanita tua ini penasaran.”  Melva menghela napas.

“Dan aku tidak akan pernah berhenti memberikan kejutan kepadamu,” pria bertopeng mengulurkan tangannya.

Melva menerima uluran tangan itu. Lantas mereka berdua berjalan bergandengan menginggalkan rumah. Ketika sampai di pinggir jalan, tiba-tiba seekor kuda sembrani turun dari langit. Kuda itu mengatupkan sayap dan mendarat tepat di depan mereka.

Melva melirik pria bertopeng, “Apa ini?”

“Kuda ini akan membawa kita dalam sebuah pertualangan singkat malam ini,” pria bertopeng menyentuh pundak kuda sembrani.

“Sepertinya seru,” Melva tersenyum, ikut-ikutan menyentuh pundak kuda itu.

Melva tertatih-tatih menaiki kuda. Sang pria menuntunnya. Kuda itu bergoyang-goyang kecil. “Tenang saja, kuda ini jinak,” pria itu membantu menyempurnakan posisi duduk Melva. Setelah itu ia duduk di belakangnya.

“Kau siap dengan pertualangan ini?” pria bertopeng meniup rambut Melva yang sudah beruban karena termakan usia.

Melva tersenyum menegakkan posisi duduknya.
Kuda sembrani bergerak. Kepalanya mendongak ke langit. Kedua sayapnya yang berkukuran dua kali lebih panjang dari lengan manusia merekah, mengembuskan angin. Daun-daun mangga di pekarangan rumah Melva menari mengiringi suara musik jazz sisa pesta malam ini.

Malam sunyi menampung jutaan mimpi. Rembulan dan gemintang berpendar di langit kelam. Dengan menaiki kuda sembrani, Melva dan pria bertopeng itu terbang memulai sebuah pertualangan.



***

“Puisi yang kau bacakan tadi begitu romantis. Rupanya kau pandai membuat puisi,” kata Melva mengendalikan tubuhnya.

Kuda sembrani terbang di langit. Melayang seperti burung pengiring hujan. Melesat cepat menembus jelaga kegelapan. Dan kini mereka berdua berada di tengah gugusan bintang.

“Aku belajar menulis puisi waktu SMA, dari guru bahasaku,” ucap pria itu di tengah siulan angin.

“Pasti gurumu pandai juga, dong,” kata Melva.

“Tidak hanya pandai, tapi dia juga cantik, sepertimu” sang pria tersenyum menggerak-gerakkan alisnya ke atas.

Melva tertawa kecil. “Wahai anak muda, kau sehat? Umurku 89 tahun, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan kalau aku cantik,” Melva mengernyitkan dahi.

Pria bertopeng itu terkekeh. “Bertambahnya umur tidak akan mengubah kecantikan seorang perempuan. Bahkan kau lebih cantik dari masa mudamu dulu,” ujarnya.

“Tahu apa kau tentang masa mudaku.”

“Aku hanya mengira-ngira saja.”

“Kau pikir perkiraanmu benar?”

“Bisa jadi, kakekku pernah berkata bahwa perkiraan seseorang terkadang ada benarnya.”

“Lantas kau pecaya dengan omongan kakekmu?”

“Percaya! Kakekku orang sakti, loh.”

Mereka terus bercengkerama dengan akrab. Begitu aneh. Padahal Melva belum mengetahui siapa sebenarnya pria bertopeng itu. Tapi entah mengapa Melva terlihat begitu nyaman mengobrol dengannya.

Malam makin larut. Kuda sembrani masih mengepakkan kedua sayapnya. Bulan terus berputar. Udara dingin mencabik dua manusia yang berpetualang menembus keheningan malam. Dari atas sini, bumi terlihat begitu kecil seperti bakso yang tenggelam di dalam kuali yang berisi air mendidih.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Melva.

“Barangkali aku tidak perlu berkata-kata agar kau dapat mengenaliku kembali,” jawab pria bertopeng.

Tiba-tiba sang pria membuka topengnya, “Datanglah kepadaku.”

Melva menoleh ke belakang. Dia terkejut ketika melihat wajah asli pria itu. Napasnya tersentak sejenak dan segera ia menenangkan tubuhnya. Ia mencoba bersikap normal meskipun di benaknya menyimpan ribuan pertanyaan.

Melva menimang-nimang wajah sang pria. Sepertinya aku mengenal anak ini, batinnya. Ia mencoba menggali memori beberapa tahun ke belakang. Ia mengingat-ingat masa-masa di mana ia masih muda agar bisa menemukan jawaban atas kehadiran seorang pria bertopeng di pesta ulang tahunnya malam ini.

“Bagaimana? Kau masih mengenaliku? Meskipun sudah 45 tahun kita tidak bertemu,” pria itu memandang Melva, memiringkan kepala ke kiri.

Melva tersipu. “Aku tidak tahu harus berkata apa. Sungguh ulang tahunku kali ini penuh dengan kejutan. Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu,” ujar Melva dengan suara lirih.

“Aku tidak pernah berhenti membayangkan wajahmu setiap malam. Dan aku selalu memikirkan bagaimana cara agar bisa bertemu denganmu,”  pria itu memegang tangan Melva yang kulitnya sudah gembor.

“Kau hebat, puisimu semakin bagus. Tidak heran jika kau menjadi penyair terkenal,” Melva menyenggol lengan pria itu.

“Aku tidak akan pernah bisa menjadi penyair kalau Bu Guru Melva tidak pernah mengajariku waktu SMA,” pria itu tersenyum, menyenggol balas lengan Melva.

“Ah… dulu kau sangat bandel sekali,” Melva memejamkan mata mengingat-ingat memori saat ia masih menjadi guru pria itu.

“Tapi ibu guru suka, kan?” sang pria menatap wajah Melva.

Mereka berdua tertawa. Pria bertopeng yang datang di pesta ulang tahun Melva itu bernama Rama. Ia belajar menulis pusi dari Melva saat masih menginjak bangku SMA. Karena Melva-lah, Rama mempunyai keterampilan menulis puisi yang bagus sehingga ia bisa menjadi salah satu penyair besar di negeri ini.

Rama mengelus rambut Melva. Ia menghirup aroma leher Melva. Saat itu juga dunia seolah berhenti. Jantung mereka bergegup kencang. Aliran darah memacu cepat mengikuti kelepak sayap kuda sembrani yang tengah mereka naiki.

“Apa kau menyukai kejutanku malam ini?” tanya Rama.

"Kau benar-benar gila. Sampai kapan ini akan berakhir?” jawab Melva sembari melepas tawa.

“Ini semua tidak akan pernah berakhir,” ujar Rama sambil merapikan kerah kemejanya.

“Di mana kita? Dan jam berapa sekarang?” Melva memandang bintang yang ada di depannya.

“Kita tidak terikat ruang dan waktu, Melva. Nikmati saja pertualangan kita,” Rama membelai rambut Melva dengan lembut.

“Gila! Tentu anak-cucuku akan kebingungan mencari wanita renta ini,” Melva menggeleng-gelenggkan kepalanya.

“Memangnya kenapa? Apa itu akan berbahaya?” Rama meniup bibir Melva.

“Memang… ada jutaan macam bahaya, dicintai penyair adalah bahaya yang paling berbahaya di dunia,” Melva menelan ludah.

“Bahkan aku bisa lebih berbahaya dari apa yang kamu kira,” ucap Rama sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Melva. 

Mereka berdua bersitatap sejenak. Angin berdesir menyejukkan hati. Bintang-bintang berkedip memancarkan senyuman.

Kuda sembrani terus mengepakkan sayapnya, menembus awan dan angan. Tidak tahu ke mana tujuannya, yang terpenting dia tetap terbang membawa dua sejoli yang sedang dimabuk asmara malam ini.

Tiba-tiba dari arah yang berlawanan tampak sosok mahluk hitam melesat dengan cepat. Ia bisa terbang mengawang tanpa bantuan sayap di pundaknya. Sementara di depannya seekor kuda sembrani melaju sama kencangnya.

BREK‼! Mahluk hitam dan kuda sembrani itu bertabrakan. Melva hilang kendali dan terlepas pegangan. Kemudian mahluk itu menangkap tubuh Melva dan berhasil mendekapnya. Sedangkan Rama masih berusaha mengatur posisi di atas kuda sembrani.

Rama terkejut saat menyadari Melva tidak ada di depannya lagi. Alangkah terkejut lagi ketika ia melihat Melva sedang berada dalam dekapan sosok mahluk hitam yang entah dari mana datangnya.

Mahluk itu sangat aneh. Ia sama seperti manusia tapi tidak seperti manusia biasa. Ukuran tubuhnya sama. Namun seluruh tubuhnya berwarna hitam. Kulitnya, kuku-kuku di jari tangan dan kakinya, bahkan sampai giginya pun hitam. Mahluk itu tidak punya leher. Tangannya memegang tongkat. Dan di kepanya terdapat dua buah tanduk yang runcing.

Saat ini Melva terpisah dari Rama. Ia sedang berada dalam dekapan mahluk hitam itu. Melva juga terkejut mengapa tiba-tiba ia bisa bersama mahluk hitam aneh yang tidak pernah ia kenal.

Melva mencoba memberontak, "Lepaskan aku. Lepaskan aku.”

Rama yang mendengar suara Melva langsung terpengarah. Wajahnya geram. “Hei… siapa kau? Lepaskan wanita itu!”

Mahluk hitam itu tak berkata apa-apa. Tetapi tiba-tiba ia menggerakkan tangannya. Kuku-kukunya yang tajam berusaha mencekik leher Melva.

Melihat kejadian itu, Rama semakin geram. Ia mulai menggerakkan pundak kuda sembrani dan ingin merebut Melva dari mahluk hitam tak dikenal tadi.

Tetapi mahluk itu terbang menjauh dari Rama. Dan tangannya masih memegang leher Melva dan mencekiknya. Rama terus memacu kuda dan mengejar mahluk itu. Namun jarak mereka cukup jauh.

Menyadari kalau Rama sedang mengejarnya, mahluk hitam itu terbang menjauh. Sementara tangan kanannya masih mencengkeram leher Melva. Rama terus mengejarnya. Tetapi mahluk hitam itu terbang lebih cepat tanpa mengalihkan cengkeraman tangannya dari leher Melva.

Melva merintih kesakitan. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Kuku-kuku tajam mahluk hitam itu semain dalam menusuk lehernya. Hingga darah keluar dan mengucur deras. Tubuh Melva kaku. Wajahnya pucat pasi.

Melva hampir kehilangan napasnya. Darah menetes ke bumi dan satu tetesan ada yang jatuh di wajah Rama. Rama menyentuh darah itu dan ia berpikir kalau darah yang menetes di wajahnya adalah darah Melva.

Rama khawatir kalau Melva berada dalam bahaya. Ia masih terus berusaha mengejar mahluk hitam itu dan membawa Melva kembali ke tangannya. Namun jarak mereka semakin jauh. Rasanya Rama tidak sanggup untuk mengejar mahluk hitam yang berhasil melukai Melva hingga berdarah-darah.

Mahluk hitam itu tidak berhenti mencekik leher Melva. Entah mengapa ia sepertinya benar-benar ingin membunuh Melva.

Melva tidak diam saja. Ia masih mencoba melepaskan cengkeraman mahluk hitam itu. Ia memberontak, tapi kekuatannya tidak mampu mengalahkan mahluk itu.

Melva terisak. Napasnya sungguh sesak. Ajalnya sudah di depan mata. Tiba-tiba ia teringat kepada Rama yang pada ulang tahunnya malam ini memberikannya begitu banyak kejutan. Namun ia merasa bahwa Rama tidak akan berhasil mengejar mahluk hitam yang terbang dengan kencang, jauh meninggalkan kuda sembrani yang mengiringi pertualangannya dengan Rama.

Dan Melva menyadari kalau sang maut sudah melambaikan tangan di depan mata.

Namun sebelum hidupnya berakhir, ia tiba-tiba teringat sesuatu. 45 tahun lalu ia saat ia masih menjadi guru bahasa di SMA. Ia bertemu dengan anak laki-laki energik yang sangat antusias belajar menulis puisi. Bahkan ia memberikan waktu khusus untuk mereka berdua di luar jam pelajaran agar anak itu bisa belajar lebih banyak lagi.

Kini, setelah 45 tahun tidak berjumpa, tiba-tiba anak itu datang ke pesta ulang tahun Melva. Murid laki-lakinya itu sudah menjadi seorang penyair hebat. Dan yang tepenting ia telah memberikan banyak kejutan kepada Melva pada pesta ulang tahunnya malam ini. Dan tentu Melva selalu menyukai kejutan saat ulang tahunnya.

Di ujung hidupnya ini, Melva ingin berpuisi. Puisi untuk Rama, murid kesanyangannya waktu SMA. Di tengah cengkeraman mahluk hitam tadi, Melva berusaha keras untuk menggerakkan bibirnya sambil menahan rasa sakit. Lehernya masih mengucurkan darah dan matanya mulai meneteskan air mata.

Malam ini ia hanya ingin berpuisi untuk Rama. Bibirnya mulai melantunkan kata-kata. Melva harap Rama masih mengejarnya dan dapat mendengar puisinya. Puisi terakhir Melva, puisi paling mesra dan paling pilu di dunia:

pada suatu hari nanti 
jasadku tak akan ada lagi 
tapi dalam bait-bait sajak ini 
kau tak akan kurelakan sendiri 

pada suatu hari nanti 
suaraku tak terdengar lagi 
tapi di antara larik-larik sajak ini 
kau akan tetap kusiasati 

pada suatu hari nanti 
impianku pun tak dikenal lagi 
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari  (**)

Rama terperanjat. Wajahnya mendeongak ke atas. Ia kenal suara itu. ia kenal gaya bahasa itu. Itu adalah suara Melva. Itu adalah puisi Melva.

Kuda sembrani yang ia tumpangi tak pernah berhenti mengepakkan sayapnya. Namun Rama tidak sanggup berkata apa-apa dan tidak mampu berbuat apa-apa. Tubuhnya lemas, hatinya sendu. Ia lunglai, pegangan tangannya terlepas dari kuda sembarni. Bagaikan kapas diterjang angin, tubuhnya roboh dan ia segera jatuh ke bumi.

***

Melva selalu menyukai kejutan pada setiap pesta ulang tahunnya. Dan pada pesta ulang tahunnya yang ke- 89 malam ini, ia begitu banyak mendapatkan kejutan yang luar biasa.

Semarang, 2019

[Mahfud]

Catatan: 
(*)   Puisi "Menjadi Penyair Lagi" karya Acep Zamzam Noor
(**) Puisi "Pada Suatu Hari Nanti" karya Sapardi Djoko Damono

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,251,Beasiswa,1,Berita,1099,buku,1,cerpen,23,Corona virus,49,download,1,EkspreShe,29,Essay,86,Generasi Milenial,24,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,8,Hari Santri,4,Ilmu Pengetahuan,34,Keagamaan,30,Kesehatan,16,Komunikasi,1,Kuliah Online,7,Mahasiswa,210,Mendikbud,1,Muhammad,3,New Normal,5,Oase,256,Opini,184,opini mahasiswa,6,PBAK,17,pdf,1,politik,3,Puasa Ramadan,27,Puisi,95,Resensi,15,Resensi Buku,16,Resensi Film,24,Riset,4,Sahabat,1,Sastra,63,Semarang,35,Skripsi,2,Surat Pembaca,7,Teknologi,23,Toefl-Imka,14,UIN Walisongo,264,UKM,5,ukt,10,Wisuda,38,Zodiak,3,
ltr
item
IDEApers: Kejutan di Pesta Ulang Tahun Melva
Kejutan di Pesta Ulang Tahun Melva
Melva selalu menyukai kejutan pada setiap pesta ulang tahunnya. Dan pada pesta ulang tahunnya yang ke- 89 malam ini, ia begitu banyak mendapatkan kejutan yang luar biasa.
https://2.bp.blogspot.com/-MZCesAbu6YU/XkgdmbLeLlI/AAAAAAAAJ8c/sXMk2z0IJ7AiOHx59dmBRr9EVf1kp-SmQCK4BGAYYCw/s640/melva.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-MZCesAbu6YU/XkgdmbLeLlI/AAAAAAAAJ8c/sXMk2z0IJ7AiOHx59dmBRr9EVf1kp-SmQCK4BGAYYCw/s72-c/melva.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2020/02/kejutan-di-pesta-ulang-tahun-melva.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2020/02/kejutan-di-pesta-ulang-tahun-melva.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin