Menelusuri Kemesraan Umat Islam dan Katolik di Jatingaleh Semarang

Ibadah misa jemaat Katolik  di Rumah Retret Panti Samadi Nasareth, Jatingaleh, Semarang.
Kumandang azan zuhur terdengar dari sebuah masjid. Kami peserta Workshop Persma Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) berbondong-bondong menuju Kapel Rumah Retret Panti Samadi Nasareth, Jatingaleh, Semarang. Kami menunda salat zuhur karena hendak bergabung dengan jemaat Katolik yang melakukan ibadah misa.

Peserta Sejuk berjumlah 27 orang, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada perwakilan dari Persma Semarang, Pekalongan, Malang, Surabaya, Jakarta, Banten, Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Flores, dan Ambon. Dalam kegiatan ini, peserta memiliki jadwal kunjungan ke rumah ibadah.

Tepat hari Minggu (01/02/19) ini, kami menginjakkan kaki di Rumah Retret Panti Samadi Nasareth. Aku bersama peserta lain tiba di tempat ini satu jam sebelum azan zuhur. Kunjungan peserta Sejuk ke rumah ibadah bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi keberagaman yang nantinya akan kami jumpai.

Lantunan azan masih menusuk lubang telinga. Ibadah misa akan dimulai usai azan zuhur. Kami tetap melangkah perlahan-lahan menuju kapel. Langkah kaki kami mendapatkan sambutan hangat dari para jemaat Katolik yang berdiri di depan pintu. Mereka tersenyum ramah dan menjabat tangan kami satu persatu. “Monggo, Mas,” ujar seorang lelaki tua.

Kami memasuki kapel yang luasnya seperti lapangan bola voli. Sekitar 50-an jemaat Katolik menjejali ruangan ini. Mereka duduk di bangku yang sudah tertata rapi dan membentuk bangunan persegi.

Kami ikut bergabung, menempati bangku kosong di sela-sela para jemaat. Setelah semua peserta mendapatkan tempat duduk, ibadah misa langsung dimulai. Para jemaat beribadah dengan tenang dan damai. Tak ada suara lain yang terdengar kecuali pujian dan doa kepada Yesus. Menyaksikan umat Katolik melakukan ibadah misa menjadi pengalaman pertama dalam hidupku. Kekhusyukan mereka dalam beribadah membuatku kagum.

Di sela-sela misa, Aloysius Budi Purnomo atau Romo Budi, mengatakan bahwa ia selalu diam saat azan berkumandang. “Saya menghormati Islam, jadi saya diam ketika mendengar azan,” katanya lewat mikrofon.

Romo Budi begitu menghargai perbedaan agama. Tidak hanya itu, sambutan hangat dari jemaat Katolik juga dapat dirasakan oleh umat Islam yang berkunjung ke Rumah Retret Samadi Panti Nasareth tersebut. “Orang-orangnya ramah banget, memang inilah yang harus kita sadari. Bahwa semua agama mengajarkan kebaikan,” kata Jelita, peserta Sejuk asal Aceh.

Namun di sisi lain Jelita merasa sedikit bersalah karena pada saat azan berkumdang ia bukannya ke masjid, malah ke kapel bergabung bersama jemaat Katolik. Sebenarnya dia sudah tahu kalau dalam workshop terdapat kunjungan ke rumah ibadah. Dan kunjungan ini menjadi pengalaman pertamanya.

“Ini pengalaman pertama, awalnya merasa sedikit merasa bersalah sih. Tapi sebelum ikut Sejuk saya sudah tanya-tanya kalau bakal ada kunjungan ke gereja. Tidak apa-apa, ini kan juga sebagai bentuk toleransi antar umat beragama,” ungkap perempuan yang suka selfie itu.

Sama seperti Jelita, Arsyad, peserta Sejuk asal Pekalongan mengaku bahwa pengalaman pertama mengikuti ibadah misa terjadi di kapel ini. Namun kondisi demikian tidak asing lagi baginya, karena ia sering berkumpul dengan temannya di Pekalongan yang beragama Kristen. “Pertama kali, tapi sebenarnya saya sudah akrab dengan umat Kristen di Pekalongan. Rumah kan berdekatan, jadi sering main bareng,” ujarnya sembari menggaruk rambut.   

Lagu yang dinyayikan jemaat Katolik semakin menghanyutkan perasaan. Kata-kata indah berisi pujian kepada Yesus terdengar syahdu. Aku terkesima melihat suasana di kapel yang begitu harmonis. Di sini, umat Islam dapat bersatu dengan jemaat Katolik tanpa memandang perbedaan agama. Bahkan sebagian dari peserta Sejuk juga ada yang ikut beribadah.

Menjaga Keberagaman 

Kunjungan peserta Sejuk yang mayoritas pemuluk agama Islam menjadi hal istimewa bagi Romo Budi. Ia mengatakan bahwa keberagaman itu indah. Pria berambut gondrong itu pun mengaku berteman akrab dengan Gus Mus dan Habib Lutfi.

“Gereja tidak menolak agama apapun. Saya lebih dari sepuluh tahun berteman akrab dengan Gus Mus dan Habib Lutfi. Keberagaman itu indah,” kata Romo Budi.

Romo Budi juga berteman dengan Inayah Wahid, putri alharhum Gus Dur. Bahkan Inayah pernah berkata bahwa Romo Budi mirip dengan Yesus.

“Kata Mbak Inayah saya mirip Yesus. Setelah saya tanya memangnya dia pernah berjumpa dengan Yesus. Mbak Inayah menjawab, kan di foto Yesus rambutnya panjang,” seluruh jemaat tertawa mendengar ucapan itu.

Indahnya keberagaman dapat dirasakan Johan Paji, satu-satunya peserta Sejuk pemeluk agama Katolik. “Keberagaman itu hanya bisa dihayati hanya dengan masuk ke kapel dan berinteraksi dengan jemaat. Bukan hanya sekadar hadir,” ujar pria asal Flores itu.

Kunjungan ke kapel tersebut membuat Johan merasa senang. Dia melihat teman-temannya dapat berbaur dengan jemaat Katolik. Selain itu, teman-temanya juga mendapatkan pengetahuan baru. “Saya sangat senang saat teman-teman ingin tahu banyak hal. Mereka berdiskusi dengan romo, itu pasti memberikan pengetahuan baru.”

Keberagaman di negara Bhinneka Tunggal Ika memang harus selalu dijaga. Jelita memandang cara merawat keberagaman yaitu dengan tidak saling mendiskriminasi. “Kita bersaudara, tidak boleh ada diskriminasi. Pada dasarnya semua agama tidak ada yang mengajarkan kita berbuat buruk,” ucapnya sambil menata kerudung.

Setelah ibadah misa selesai, para jemaat segera membubarkan diri dari kapel. Sambil berjalan ke luar ruangan, mereka saling berjabat tangan. Setiap wajah selalu menampakkan seonggok senyum. Kami peserta Sejuk pun melakukan hal sama.

Kapel sepi. Para jemaat telah menginggalkannya. Bangku-bangku kosong tanpa menyisakan satu nyawa. Tubuh Yesus terlihat tak berdaya menempel pada salib yang terletak di dinding bagian depan ruang kapel. Sementara lilin sisa misa telah redup.

Tiba-tiba aku ingin melihat bagainana suasana di dapur. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung bergegas menuju ruang dapur Rumah Retret Panti Samadi Nasareth. Di sana aku bertemu dengan dua pekerja yang berbeda agama. Sri beragama Kristen dan Nayu beragama Islam. Aku berbincang-bincang dengan mereka.

Sri menganggap di tempat ini tidak ada diskrimnasi antarumat bergama. Sri benar-benar merasakan harmoni keberagaman yang luar biasa. “Saya sering ibadah di sini. Keadaannya sangat harmonis, saling menghargai satu sama lain,” ujarnya sembari membenahi tempat duduk.

Ia melanjutkan, para pekerja saling membantu saat ada acara. “Saling membantu kalau hari raya.  Kita juga ada bakti sosial. Jadi perbedaan memang sangat dihargai,” kata Sri yang sudah bekerja selama tujuh tahun.

Nayu juga merasakan hal sama seperti Sri. Nayu menilai perbedaan agama memang perlu dihargai. “Kita berbeda-beda agama. Ada Kristen., Katolik, saya juga Islam. Menghargai perbedaan itu penting,” ujarnya.

Nayu bekerja di Rumah Retret Panti Samadi Nasareth selama delapan bulan. Namun ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Bahkan terkadang Nayu ikut ibadah misa, tetapi tetap berdoa menurut Islam. “Saya juga kadang ikut misa di sini, tapi berdoa menggunakan doa orang Islam,” imbuhnya.

Terakhir, Nayu berharap bahwa konflik antaragama harus diredam. Perdamaian harus terjadi di negera multikultur ini. “Kita semua punya tanggung jawab kehidupan bersama, yaitu meredam konflik antaragama. Perlu kesadaran yang kuat untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan,” pungkasnya menutup perjumpaan kita. [Athok Mahfud]

*Feature ini ditulis ketika mengikuti kegiatan Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) di Semarang, 1-4 Februari 2019.

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,170,Berita,912,cerpen,19,Dosen,5,EkspreShe,23,Essay,71,Generasi Milenial,22,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,6,Hari Santri,4,Ilmu Pengetahuan,23,Keagamaan,14,Kesehatan,8,Mahasiswa,77,Muharram,1,Oase,194,Opini,149,opini mahasiswa,2,PBAK,10,politik,3,Puasa Ramadan,19,Puisi,78,Resensi,11,Resensi Buku,14,Resensi Film,22,Riset,4,Sastra,41,Surat Pembaca,7,Suro,2,Teknologi,10,Toefl-Imka,12,UIN Walisongo,125,UKM,1,Wisuda,5,Zodiak,2,
ltr
item
IDEApers: Menelusuri Kemesraan Umat Islam dan Katolik di Jatingaleh Semarang
Menelusuri Kemesraan Umat Islam dan Katolik di Jatingaleh Semarang
Melihat kedekatan umat beragama di Jatingaleh, Semarang
https://2.bp.blogspot.com/-V1Z-HNqvIL4/XG-tv0H9FwI/AAAAAAAAHBc/c7a4jjnAA5ksUbjRu_5UrPrEaHn6sKJMgCK4BGAYYCw/s1600/Menelusuri%2BKemesraan%2BUmat%2BIslam%2Bdan%2BKatolik%2Bdi%2BJatingaleh%2BSemarang.jpeg
https://2.bp.blogspot.com/-V1Z-HNqvIL4/XG-tv0H9FwI/AAAAAAAAHBc/c7a4jjnAA5ksUbjRu_5UrPrEaHn6sKJMgCK4BGAYYCw/s72-c/Menelusuri%2BKemesraan%2BUmat%2BIslam%2Bdan%2BKatolik%2Bdi%2BJatingaleh%2BSemarang.jpeg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2019/02/menelusuri-kemesraan-umat-islam-dan-katolik-di-jatingaleh-semarang.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2019/02/menelusuri-kemesraan-umat-islam-dan-katolik-di-jatingaleh-semarang.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin