![]() |
Gambar: pedomanbengkulu.com |
Walau kini mulai pudar
Tergantikan oleh dirinya yang menjadi tempatmu bersandar
Begitulah salah satu dari 1.723 postingan yang dianggap puisi di dalam akun instagram @yang.terdalam. Kata itu mendapatkan like sebanyak 29.954 dengan 227 komentar. Sebenarnya, postingan-postingan di akun tersebut merupakan tulisan dari warganet yang diunggah oleh admin.
Jika ditelusuri, mayoritas kata-kata di akun tersebut berisi tentang curahan hati dan ungkapan perasaan cinta. Anehnya, tidak sedikit remaja menyukai jenis kata yang dianggap puisi itu. Hal ini dapat dilihat dari jumlah followers yang mencapai 1 miliyar dan rata-rata didominasi oleh kaula muda.
Dari fenomena itu, kita tahu bahwa banyak remaja zaman sekarang yang melampiaskan rasa cintanya melalui kata-kata picisan lebay. Ketika sedang jatuh cinta atau patah hati, mereka akan merangkai kata-kata untuk mengekspresikan perasaanya, lantas menyebarkannya di akun media sosial.
Kondisi demikian perlahan-lahan memperkeruh dunia sastra Indonesia. Konsep sastra yang diusung para sastrawan terdahulu seolah-olah telah dinodai oleh interpretasi yang melenceng dari sebagian remaja. Nuansa baper menjadi tolak ukur apakah sebuah tulisan bisa dikatakan sebagai karya sastra atau bukan.
Sekarang ini, pemuda mempunyai pemahaman tersendiri terhadap kesusastraan. Seringkali seseorang memandang sastra sebagai curhatan pengalaman cinta yang dikemas dengan bahasa indah dan mendayu-dayu. Terkadang ada juga yang menilai bahwa sastra adalah sebuah cara untuk mengungkapkan perasaan cinta dengan kata-kata picisan yang membuat hati seseorang luluh.
Pergeseran Makna Sastra
Seiring kemajuan zaman, makna sastra kini mengalami pergeseran. Dulunya sastra sebagai sarana kritik sosial bahkan sebagai senjata perlawanan, kini menjadi kata-kata picisan yang sering digunakan untuk merayu seseorang. Padahal, sastra tidak hanya sebuah kata-kata yang menyentuh hati. Lebih jauh, karya sastra seharusnya mampu menyadarkan seseorang untuk berubah menjadi pribadi yang berkarakter mulia.
Karya sastra muncul karena terjadinya dinamika sosial kebudayaan masyarakat. Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa sastra merupakan ciptaan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sebagai produk kebudayaan, sastra harusnya mencakup segala aspek kehidupan yang ada di dalam masyarakat. Konteks agama, politik, sosial, dan budaya menjadi aspek yang penting dibahas dalam sastra.
Dalam hal ini, karya sastra tidak hanya sekadar ungkapan perasaan atau curhatan pengalaman pribadi menggunakan bahasa yang menukik-nukik tajam. Melainkan sebuah tulisan yang menggambarkan keadaan sosial atau bahkan mengkrtitk hal tersebut. Apabila pemahaman awal sastra hanya sebagai kata romantis picisan saja, maka yang terjadi remaja akan lebih mengedepankan perasaan daripada logika.
Pergesaran makna sastra menjadi ancaman serius. Jika hal ini terus dibiarkan, kesusastraan Indonesia berada di titik kehancuran.
Merusak Bahasa Indonesia?
Sastra Indonesia selalu mengikuti alur kebudayaan masyarakat. Perkembangan bahasa mempengaruhi bentuk karya sastra saat ini. Penggunaan bahasa gaul yang sedang ngetren seolah menjadi acuan bagi para penulis dalam menciptakan karya sastra.
Di dalam novel-novel populer, banyak tercantum diksi atau kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini sering dijumpai pada dialog antar tokoh. Contohnya bahasa gaul sepeti "Loe kiyut deh", "Gue tuh enggak suka", "Biarin aja sih", sering digunakan di dalam penulisan cerpen. Meski hanya dialog, tetapi menulis sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap akan menjadi kemewahan sebagai anak bangsa.
Permasalahan di atas sangat tidak relevan dengan ikrar perjuangan leluhur kita. Salah satu isi dari Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 November 1928 menyatakan, pemuda bangsa harus menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Maka, tidak heran bila bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi acuan utama dalam penulisan karya sastra.
Senjata Perlawanan
Sangat tidak baik jika memandang sastra hanya sebagai kata-kata picisan yang mendayu-dayu. Lebih dari itu, sastra mempunyai kekuatan pemberontakan. Bahasa menjadi senjata yang dirasa cukup ampuh untuk melawan ketimpangan sosial dan ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat.
Barangkali kita perlu menyadari bahwa sebuah karya sastra muncul dilatarbelakangi oleh kondisi sosial. Muatan norma-norma kehidupan yang luhur menjadi suatu unsur yang penting. Karena hal inilah sastra muncul untuk menyuarakan kebebasan hak-hak manusia.
Suara kebebasan sastra sering terlihat di negara Barat, seperti di Perancis. Albert Camus mengatakan bahwa seni adalah pemberonakan. Dalam hal ini, sastra sebagai salah satu produk karya seni menggunakan bahasa mampu memberikan perlawanan dan menyuarakan kebebasan.
Camus pernah meraih nobel sastra pada tahun 1956. Karya-karyanya menggambarkan persoalan kehidupan masyarakat Perancis yang mulai berubah setelah Perang Dunia II. Hak dan kebebasan manusia disuarakan oleh Camus di dalam karya-karya yang fenomenal sepeti Sampar dan Orang Asing. Tidak hanya itu, sumbangsih pemikiran dan gagasan filosofisnya seolah mengandung sihir yang dapat membuat pembaca merenung. Ia juga telah menginspirasi sejumlah sastrawan Indonesia seperti Asrul Sani, Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, dan Arief Budiman.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Jean Paul Sartre. Kebencian terhadap lingkungan borjuis dengan segala tingkah laku mereka membuatnya muak dan ingin terus memberontak. Penulis Perancis yang terkenal dengan filsafat eksistensialisme itu selalu mengajak manusia untuk menyadari bahwa kebebasan yang dimiliki manusia sungguh absolut. Hal ini dapat dijumpai di dalam novel Le Mur, yang menekankan pada aspek kesadaran manusia dalam mengenali jati dirinya.
Tidak kalah dengan sastrawan luar negeri, sastrawan Indonesia juga melakukan hal yang sama, salah satunya DN Aidit. Dalam bukunya 'Tentang Sastra dan Seni', ia menegaskan bahwa sastra dan seni harus menjadi wadah perjuangan dan sarana untuk membentuk generasi yang lebih nasionalis dan revolusiner.
Pada Era Orde Baru yang penuh dengan keotoriteran, seniman W.S. Rendra juga ikut mengkritik pemerintahan Soeharto waktu itu. Rendra sering membuat geram pemerintah melalui bahasa satire dalam puisi-puisinya. Pusinya yang berjudul "Sajak Sebatang Lisong" menjadi peluru tajam yang ditembakkan Rendra kepada Soeharto. Bahkan pada tahun 1977 ia pernah ditahan di Rutan Militer Jakarta setelah membacakan salah satu puisinya di Taman Ismail Marzuki.
Tidak hanya Rendra, Pramoedya Ananta Toer, juga mengutuk keras pemerintahan Soeharto pada waktu itu melalui tulisannya dalam cerpen Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca dan masih banyak lagi. Akibat kritkannya itu, Pram dijebloskan penjara dan menjadi tawanan politik (tapol).
Dari cerita tersebut, kita bisa tahu bahwa hakikat sastra yang sebenarnya adalah sebagai senjata perlawanan. Bahasa yang dikemas dengan penuh estetika menjadi media untuk menyalurkan kritikan dan menyuarakan kebebasan. Sangat kurang berharga jika bahasa hanya digunakan untuk menyatakan perasaan cinta dan curhatan pengalaman pribadi saja.
Namun inilah yang terjadi di Indonesia sekarang. Sastra sudah kehilangan estetikanya, bentuknya semakin absurd tanpa ada kekuatan kritik positif di dalamnya. Nuansa baper selalu hadir dan menggerogoti sastra Indonesia. Apakah ini yang kita inginkan? [Mahfud]
KOMENTAR