Definisi Kebahagiaan

Gambar: scientiarum.com



Setiap orang mempunyai definisi kebahagiaan masing-masing. Ada yang mendefinisikan kebahagiaan saat bergandengan tangan dengan kekasihnya sembari menikmati senja di pantai. Ada lagi yang menyimpulkan definisi bahagia adalah mendapatkan hadiah atau kejutan pada hari ulang tahun. Ada juga yang merasa bahagia ketika pergi berlibur bersama keluarga di suatu tempat yang indah. 

Begitu juga dengan Icha. Gadis kecil berkepala botak itu mempunyai definisi kebahagiaan sendiri. Barangkali definisi bahagia versi Icha berbeda dengan anak-anak kecil lainnya. Boleh jadi juga sama. Tetapi itu tidak masalah, bukan?

Bagi Icha, kebahagiaan adalah sebungkus nasi telur dan sebotol air mineral. Tidak ada yang lebih bisa membuatnya bahagia kecuali makanan sederhana itu. Meskipun terlihat sepele, namun Icha sangatlah sulit untuk mendapatkannya.

Gadis tanpa orang tua itu tidak bisa melakukan pekerjaan apa-apa. Sepanjang hari ia hanya berdiri di tiang lampu merah samping jalan raya. Terkadang ia juga duduk di bangku taman atau berbaring di trotoar jalan yang beratapkan pohon.

Dengan mengenakan pakaian kumuh, ia biasanya memasang wajah melas dan menempati tempat tertentu. Kemudian jika ia beruntung, orang-orang yang melihatnya akan merasa iba dan memberikan kebahagiaannya, sebungkus nasi telur dan sebotol air mineral.   

Namun sayang, orang-orang di kota ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Banyak dari mereka yang tidak peduli dengan keadaan sosial dan lingkungan sekitar. Hal itulah yang menyebabkan Icha sulit untuk mendapatkan kebahagiaan.

Sinar matahari pagi menelingkupi kota besar ini. Icha tampak sedang duduk menyelonjorkan kedua kakinya. Sementara punggungnya yang mungil ia sandarkan ke tiang listrik yang berada di taman. Di tempat ini ada banyak sekali orang-orang terlantar. Semua berkumpul di sini untuk mencari kebahagiannya masing-masing.

Icha beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju sebuah warung yang berada di dekat taman. Ia lapar sekali. Sudah dua hari ia tidak makan. Maka sambil memegangi perutnya, ia berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam warung.

Di dalam warung itu ada seorang ibu-ibu yang sibuk dengan masakannya. Sementara di atas meja sudah tersedia beraneka ragam makanan. Demi memandangnya, mata Icha berbinar terang seperti cahaya purnama.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Icha langsung duduk di kursi yang sudah tersedia. Ibu-ibu itu tidak memperhatikan kalau ada gadis kecil yang memasuki warungnya. Kemudian Icha mengambil gorengan dan memakannya.

Icha tampak menikmati makanan itu. Dia amatlah senang karena pada akhirnya perutnya bisa terisi makanan. Tak terasa, ia sudah menghabiskan empat gorengan dalam waktu satu menit.
Gigi Icha yang bergemelutukan mengunyah makanan terdengar di telinga ibu-ibu pemilik warung. Ibu itu terkejut ketika ia menangkap sosok gadis kecil berkepala botak duduk santai di warungnya. Ia pun bertanya dalam hati, siapa anak ini? Dari mana datangnya?

“Oi, siapa kau? Mengapa kau tiba-tiba ada di warungku?” tanya ibu itu.
Icha hanya tersenyum manis dan terus melanjutkan mengunyah gorengan.
“Oi, siapa kau? Mengapa kau seenaknya saja masuk ke warungku?” ibu pemilik warung mendekati Icha.
Icha tak menjawab apa-apa. Dia melihat ibu pemilik warung dengan mata yang bercahaya.
“Wahai, gadis kecil botak, siapa pun engkau, pergilah dari warungku!” bentak ibu itu.
“Aku di sini hanya ingin makan saja. Aku lapar, sudah dua hari aku tidak menyentuh makanan,” suara Icha terdengar lirih. 

“Kau tidak boleh menyentuh makanan di sini kalau kau tidak mampu membayarnya. Aku yakin kau tidak akan mampu membayarnya. Meskipun kau tidak makan selama seribu tahun sekalipun, aku tetap tidak peduli. Orang yang tidak mampu membayar tidak boleh makan di sini,” dengan nada yang sangat keras, ibu pemilik warung itu memelototkan matanya ke Icha.

“Orang tua macam apa kau ini? Mengapa kau tidak peduli dengan penderitaan anak kecil yang sudah tidak punya apa-apa ini?” bibir Icha bergetar.
“Dasar anak kecil sialan. Berani-beraninya kau mengucapkan kata-kata itu kepadaku,”
“Aku hanya ingin makan, itu saja. Tidak lebih. Kau ini pelit sekali,”
“Apa kau bilang? Dasar anak kurang ajar,” 
“Kau sangat pelit. Aku doakan semoga kelak kuburanmu akan sempit,” 

Perkataan Icha yang terakhir seketika membuat ibu pemilik warung semakin geram. Aliran darah di dalam tubuhnya berjalan dengan cepat. Matanya memerah seperti baru saja memakan sambal satu piring penuh. Giginya bergemelutuk. Emosinya semakin tinggi dan terus memuncak.

Lalu ia mendekati Icha dengan napas yang haus akan udara. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memukul Icha dengan telapak tangannya yang lebar. Pukulan itu mendarat tepat di kepala botak Icha. 

Terkena pukulan itu, kepala Icha teronggok ke samping. Ia sebelumnya tidak menduga kalau ibu pemilik warung itu berani bermain fisik kepadanya. Namun dugaan Icha ternyata salah.

Pukulan itu tidak menyakiti kepala Icha. Akan tetapi menusuk-nusuk hati Icha. Kini di dalam hatinya seperti ada jarum yang tidak bisa dicabut. Jarum itu masuk semakin dalam dan semakin membuatnya sakit. 

“Pergilah kau sekarang, dasar anak kecil kurang ajar. Pergilah jauh-jauh dan jangan menginjakkan kaki ditempat ini lagi,” ibu pemilik warung membentak Icha sambil menggedor meja makan.

Icha tak berkata apa-apa lagi. Tanpa melihat ibu pemilik warung, ia langsung berjalan meninggalkan warung. Air yang bersumber dari matanya telah menggenangi pipinya. Air mata itu mengalir kian deras hingga jatuh menghujam tanah.

Icha tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekarang yang ia tahu, ia sangatlah sedih. Ia ingin mengadu, tetapi tak tahu kepada siapa ia harus mengadu. Ia ingin memeluk seseorang, tapi ia tidak punya siapa-siapa. Ia ingin bahagia, tetapi ia sangat sulit untuk menemukan kebahagiaan.

Sejak lahir, Icha memang jarang sekali terlihat bahagia. Dunia seakan terlepas dari tangannya. Ia seperti selembar kapas yang jatuh dari gedung tinggi, kemudian terbang ke mana-mana dan akhirnya jatuh tergolek lemas di tanah.

Meskipun ia tidak punya apa-apa, tapi ia tetap menerima nasibnya dengan lapang dada. Meskipun hidupnya terasa berat, namun ia terus menjalaninya dengan senang hati. Icha tak pernah mengeluh sedikit pun tentang keadaannya saat ini. 

Saat ini, gadis malang itu berteduh di bawah pohon besar yang terdapat di taman. Matanya masih sembab karena air mata yang tak kuasa dibendungnya. Ia sedih, tapi ia tetap tidak membenci ibu pemilik warung tadi. Ia gadis yang teramat baik. Namun sayang, semuanya tidak ada yang baik kepadanya.

Gadis kecil itu memandang ke depan. Kekosongan ada di depan matanya dan terus mengisi hari-harinya. Pandangannya hampa. Ia menatap sesuatu, namun bayangannya melayang-layang ke dunia lain. Ia ingin menggapai sesuatu, namun dunia berlari semakin jauh meninggalkannya.

Pada waktu siang seperti ini, pengunjung taman sudah mulai banyak. Berpasang-pasang kekasih sedang duduk bercumbu di bangku taman. Para anak kecil sedang tertawa berlari-lari memegang balon. Taman ini sudah disesaki dengan kebahagiaan.

Namun di saat semua orang merasa bahagia, ada seorang gadis kecil yang malah sebaliknya. Gadis itu termangu di bawah pohon besar. Ia mendengar suara tawa anak-anak sepantarannya. Ia melihat sebuah keluarga lengkap sedang berkumpul bersama. Kini, Icha merasa menjadi orang asing yang tidak pernah mengenal kebahagiaan dunia.

Angin bernyanyi menelisik telinga. Dua-tiga daun yang kering mulai rontok dan jatuh di tanah. Icha masih menekukkan lutut dan memegangnya dengan erat. Sesungguhnya ia ingin mengatakan sesuatu yang memenuhi benaknya. Tapi ia tak tahu dengan siapa ia mengatakannya.

Di taman ini ada seorang anak dengan kedua orang tuanya sedang duduk di sebuah bangku. Icha mengamati tingkah keluarga yang harmonis itu. Dilihat dari pakaian dan barang-barang, mereka tampaknya keluarga yang kaya.

Sang ibu mengeluarkan sebuah plastik dari tasnya. Ia mengambil tiga bungkus nasi dan mengajak suami serta anaknya untuk makan bersama. Sang anak membuka bungkus nasi miliknya. Dan ternyata menu makanan mereka siang itu adalah nasi dan telur goreng.

Icha yang mengamati mereka sedari tadi tiba-tiba bergairah. Matanya berbinar ketika melihat sebungkus nasi telur yang berada di tangan anak kecil tadi. Itu adalah kebahagiaanya. Kini kebahagiaan itu berada di depan mata. Ia ingin menjemput kebahagiaan itu. Meskipun ia harus merampasnya dari orang lain.

Ia bingung harus berbuat apa. Ia berpikir bagaimana ia bisa mendapatkan sebungkus nasi telur itu. Ia menghela napas, ia menyiapkan sesuatu untuk menjemput kebahagiaanya.

Saat anggota keluarga kaya itu hendak makan, tiba-tiba teleopon sang ayah bergetar. Ia segera mengambilnya di saku celana. Setelah itu ia bercakap-cakap dengan orang lain di seberang. Sang ayah mengangguk-angguk, raut wajahnya cemas. 

“Kita harus pergi sekarang, Sayang,” sang ayah mengelus rambut anaknya.
“Kenapa, Pa?” tanya sang anak penasaran. 
“Nanti akan ayah jelaskan di dalam mobil, ya. Kita harus cepat-cepat, Sayang,” sang ayah tersenyum kepada anaknya.
“Setidaknya kita makan dulu, Pa. Kita dari tadi pagi belum makan, lho,” kata sang ibu.
“Sudah tidak ada waktu lagi, Ma. Kita harus cepat-cepat, kita juga bisa mengerjakan itu di dalam mobil, kan,”  jawab sang ayah dengan nada cemas.
“Baiklah,” dengus sang ibu sembari melepaskan napas pelan.

Kemudian mereka berjalan terburu-buru. Dua nasi bungkus milik sang ayah dan sang ibu yang belum terbuka diletakkan di dalam tas. Sementara itu, sebungkus nasi milik sang anak yang sudah terbuka dibiarkan begitu saja di bangku taman.

Icha tidak sia-sia memperhatikan mereka sejak tadi. Kebahagiaan itu berada di depan matanya. Ia hanya tinggal melangkah sedikit dan langsung mendapatkan sebungkus nasi telur yang ia idam-idamkan itu. 

Derap langkah terdengar dari kakinya. Ia berjalan menginjak rumput-rumut yang berbaris rapi di tanah. Sinar matahari menjilati kepalanya yang mulus tanpa rambut. Namun ia tetap melangkah demi menemui kebahagiaannya. Ia tersenyum, tiga langkah lagi ia akan mendapatkan nasi telur yang sudah ia inginkan.

Ketika hendak menyentuh bungkus nasi telur itu, seekor kucing menerabas dan menari-nari di atasnya. Sama seperti Icha, kucing itu tampaknya tidak makan berhari-hari. 

Tanpa basa-basi, kucing itu langsung melahap nasi dan telurnya. Icha yang tadi hendak mengambil sebungkus nasi itu tiba-tiba tercengang. Ia kalah cepat. Ia gagal menjemput kebahagiaan itu. 

Sementara itu, kucing dengan rakusnya terus memakan dan merampas kebahagiaan Icha. Dalam waktu dua menit, nasi dan telur itu habis tanpa sisa. Kucing itu memandang wajah Icha yang terlihat bahagia.

Icha tampak bahagia. Kebahagiaan Icha kini tidak lagi terletak pada sebungkus nasi telur. Ia telah menemukan kebahagiaan yang lain.   

Kucing itu tersenyum seakan mengucapkan terima kasih kepada Icha. Ia pun mendekati kucing itu dan mengelus bulu-bulu halus di sekitar tubuhnya. 

Matahari menegak di tengah cakrawala, tepat di atas kepala Icha. Asap pabrik dan kendaraan bercampur udara, mengelabui gedung-gedung, jalanan, dan apa saja. Semilir angin bercumbu dengan daun-daun dan rumput taman.  Seorang gadis kecil berkepala botak akhirnya menemukan kebahagiaannya. Dan setiap orang boleh saja mempunyai definisi kebahagiaan yang berubah-ubah, bukan?

Semarang, September 2018

[Athok Mahfud]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,74,Berita,743,cerpen,19,EkspreShe,20,Essay,59,Oase,111,Opini,109,Puisi,61,Resensi,6,Resensi Buku,11,Resensi Film,20,Riset,4,Sastra,22,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Definisi Kebahagiaan
Definisi Kebahagiaan
Gadis kecil berkepala botak itu mempunyai definisi kebahagiaan sendiri. Barangkali definisi bahagia versi Icha berbeda dengan anak-anak kecil lainnya.
https://3.bp.blogspot.com/-W1h_Qenvbfs/XBRJ0ysxsgI/AAAAAAAAGe8/jydd3Lgr7IUKvq0RW8GcASAAOpPFLAx6QCK4BGAYYCw/s1600/definisi%2Bbahagia.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-W1h_Qenvbfs/XBRJ0ysxsgI/AAAAAAAAGe8/jydd3Lgr7IUKvq0RW8GcASAAOpPFLAx6QCK4BGAYYCw/s72-c/definisi%2Bbahagia.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2018/12/definisi-kebahagiaan.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2018/12/definisi-kebahagiaan.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin