Menghidupkan Sastra Realis Sosialis



Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah pelatihan yang dihelat PMII Kota Semarang. Dalam pelatihan tersebut saya diwajibkan mengabstraksikan cita-cita saya, sekurang-kurangnya saya harus mendeskripsikan mau menjadi apa 5 tahun yang akan datang. Saya kaget, bukan karena tugasnya, tapi karena ternyata saya tidak tahu secara pasti apa yang sebenarnya saya cita-citakan untuk 5 tahun yang akan mendatang. Terlalu abstrak dan umum. Padahal seharusnya detail dan menjurus-spesifik sehingga prencanaan strategi untuk mencapainya bisa diukur dan dievaluasi.

Sepulang dari latihan tersebut saya berpapasan dengan beberapa anak SD ketika siang hari sepulang mereka sekolah. Mereka masih memegang streoform yang bertuliskan cita-cita. tertulis polisi, pilot, dokter dan guru. Saya mendadak tersadar atas alasan mengapa saya kebingungan menuliskan cita-cita sewaktu pelatihan. Hal itu tidak terlepas dari sistem pendidikan kita yang tidak pernah menyentuhkan kita pada realitas sosial, hanya memberikan mimpi yang sulit kita temukan di realitas.

Menurut bahasa Erich Fromm hal itu disebut kepercayaan irasional. Suatu keinginan yang tidak berdasarkan data/fakta. Misal saja, jika seorang anak ingin menjadi dokter, anak tersebut harusnya mengukur kapasitas intelektualnya maupun kapasitas perekonomianya. Jika kedua kapasitas ini dinaifkan maka bagi Fromm, keinginan anak yang ingin menjadi dokter tadi sebatas kepercayaan irasional. Pendidikan dan Media yang mengalienasi Semua lapisan jenjang pendidikan kita belum terlalu akrab menyentuhkan siswanya pada realitas sosial. Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi malah hanya menjadi jembatan pemisah antara siswa dengan realitas sosiaL.

Dalam konteks pertanyaan apa cita-citanya, dari dulu sampai sekarang jawaban anak SD pasti berkisar tentang menjadi guru, pilot, suster, polisi dan dokter. Padahal dalam realitas sosialnya ada ribuan profesi yang sebenarnya juga tak kalah pantas untuk dicita-citakan oleh mereka.

Media pun sama, baik media mainstream (TV, Radio) ataupun media sosial. Melalui media sosial ada berita semacam "10 langkah mudah menjadi miliyarder", "5 tips praktis tembus CPNS", semua itu tidak bersentuhan dengan realitas. Seolah-olah hidup begitu mudah untuk dijalani dan ditaklukan. Hal ini tentu menyempitkan pandangan kita terhadap dunia yang begitu luas. Kita akhirnya gagal memahami realitas sosial yang di dalamnya terkandung beberapa tantangan yang nyata adanya. Belum lagi semua sinetron, realiti show, drama korea, semua hanya bersifat pembangkit emosional belaka, melambungkan perasaan, entah suka ataupun duka. Sekali lagi, tidak bersentuhan dengan realitas sosial.

Maka jangan heran jika banyak sarjana yang tetap belum bekerja. Mereka terlalu dibuai oleh kepercayaan irasional, tanpa modal mental menghadapi realitas sosial. Mereka itu adalah korban. Sistem pendidikan dan media kita lambat laun membuat kita terasing dengan realitas sosial.

Dewasa ini kita sedang butuh peran dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). LEKRA dengan sastra realis sosialis sangatlah penting peranya untuk orientasi pendidikan karakter jangka panjang. Sebuah sentuhan sastra yang membawa kita berimajinasi tentang realitas sosial yang benar-benar ada di dunia nyata ini. Bukan segala bentuk pengajaran dan tontonan seni-sastra yang mempermainkan perasaan kita semata. Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Betawi 1000 kali lebih dibutuhkan dibanding drama korea dan sinetron kita di hari ini.

Tulisan Pram lebih dibutuhkan-penting dibanding tulisan novelis muda kita yang hanya membincang cinta semata. Sastra seperti ini harus diajarkan sedini mungkin. Saat buku Pramoedya dicetak dan menjadi buku wajib ajar di beberapa negara Eropa, anak didik kita gersang akan sastra. Gerakan sastra dalam sentuhan sistem pendidikan kita sejak dini penting untuk segera dikonsepsikan. Karena sastra adalah suatu kekuatan yang bisa langsung menyentuh hati. Tidak ada gerakan yang lebih hebat dibanding yang mampu menggerakan manusia melalui hati.

Sastra adalah pemberi ilmu yang tidak menggurui. Sastra LEKRA yang bercorak realis sosialis sangat dibutuhkan oleh generasi muda kita untuk mengatakan “siap” menghadapi tantangan zaman. Jika realitas sosial sudah mampu disentuhkan kepada generasi kita sedini mungkin melalui sastra, maka kepercayaan irasional yang dalam konsep Fromm tidak akan kita temui di generasi kita.

Penulis tidak bermaksud untuk menghidupkan kembali LEKRA, tetapi peran organisasi semacam itu sekarang sangat dibutuhkan. Film seperti Preman Pensiun lebih bisa mengajarkan kepada kita bagaimana selaiknya kita menghadapi kehidupan, berbeda jauh dengan film Ganteng-Ganteng Srigala. Zaman kalabendu ini tidak bisa kita hadapi hanya dengan ledakan perasaan-perasaan yang tersimpan pada tayangan media kita. Juga tidak bisa kita hadapi kehidupan ini hanya dengan modal teori dari bangku sekolahan.

Kehidupan kita sudah mirip syair puisi Chairil Anwar “Seonggok Jagung”. Dimana digambarkan pendidikan kitalah yang membuat kita teraing dari realitas sosial. Sudah rasionalkah cita-cita generasi muda kita sekarang? [Ahmad Muqsith]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,23,Berita,643,cerpen,17,EkspreShe,18,Essay,47,Oase,80,Opini,85,Puisi,56,Resensi,6,Resensi Buku,11,Resensi Film,20,Riset,4,Sastra,15,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Menghidupkan Sastra Realis Sosialis
Menghidupkan Sastra Realis Sosialis
Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah pelatihan yang dihelat PMII Kota Semarang. Dalam pelatihan tersebut saya diwajibkan mengabstraksikan cita-cita saya, sekurang-kurangnya saya harus mendeskripsikan mau menjadi apa 5 tahun yang akan datang. Saya kaget, bukan karena tugasnya, tapi karena ternyata saya tidak tahu secara pasti apa yang sebenarnya saya cita-citakan untuk 5 tahun yang akan mendatang. Terlalu abstrak dan umum. Padahal seharusnya detail dan menjurus-spesifik sehingga prencanaan strategi untuk mencapainya bisa diukur dan dievaluasi.
https://3.bp.blogspot.com/-zz26Ij3pZ6E/VuhpPOVe7eI/AAAAAAAABCo/HkK21AvR0Hgvhze_-nMTV_opDGJNjqkTw/s320/12721559_950834998364596_1703391982_n.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-zz26Ij3pZ6E/VuhpPOVe7eI/AAAAAAAABCo/HkK21AvR0Hgvhze_-nMTV_opDGJNjqkTw/s72-c/12721559_950834998364596_1703391982_n.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2016/03/MenghidupkanSastraRealisSosialis.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2016/03/MenghidupkanSastraRealisSosialis.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin