Narasi Kebenaran Media Sosial dan Fenomena Victim Blaming dalam Viralnya Kasus Kekerasan



Gelombang informasi yang begitu masif di ruang digital masih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana arus kebenaran begitu mudah berputar dari satu sudut ke sudut lainnya, juga menunjukkan bagaimana cara masyarakat kita berliterasi di ruang digital yang bisa dikatakan bukan lagi “maya”. Ruang interaksi yang dahulu dianggap maya atau tidak riil, kini justru menjadi arena adu “kebenaran” dari satu informasi dengan informasi lainnya.

Salah satu contohnya kasus yang belum lama ini terjadi di Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau). Dimana tindak kekerasan dilakukan oleh seorang mahasiswa berinisial RM terhadap seorang mahasiswa berinisial F. berdasarkan video yang viral di media sosial, RM melukai F dengan menggunakan kapak dan membuat F bersimbah darah. 

Video tersebut begitu cepat menyebar dan menjadi perbincangan “panas” di media sosial. Narasi tentang RM yang jahat dan tidak berperikemanusiaan langsung menyelimuti unggahan video tersebut. 

Namun, tak lama kemudian, narasi “kebenaran” Warga Internet (Warganet) berubah setelah data-data baru bermunculan. Mulai dari kronologi kejadian, latar belakang korban, latar belakang pelaku, maupun relasi yang berkait di antara keduanya. 

Alih-alih menyalahkan korban, warganet justru menyalahkan korban atas kekerasan yang terjadi kepadanya. Banyak komentar negatif yang menyalahkan hingga menghina fisik korban. Salah satunya datang dari seorang pengguna Tiktok dengan nama akun D’marshya_Lee’ menuliskan “Kok pas sakit jadi berubah gitu ya, jadi ga cantik lagi.” Serupa, seorang pengguna Tiktok dengan nama akun RIA juga berkomentar “Jelek, nyakitinnya tidak kira-kira.” 

Baca Selengkapnya: Meriahkan Dies Natalis ke 56, Ratusan Civitas Akedemika Meriahkan Jalan Sehat

Dari peristiwa ini, nampak narasi kebenaran mengalami situasi victim blaming. Dimana yang mulanya dianggap sebagai korban, berganti posisi menjadi yang disalahkan dalam peristiwa yang terjadi. Moralitas atau hal-hal privat maupun jejak masa lalu korban menjadi kaca mata bagi masyarakat untuk menujuk apakah ia benar atau salah. Dalam kasus F dan RM, F yang mulanya mendapat pembelaan begitu banyak dari masyarakat, berubah menjadi dikecam karena jejak digital sebelum kejadian yang dikaitkan dengan kekerasan yang dialaminya, seolah itu dapat menjadi pembenaran atas kesalahan pelaku.

Victim blamming disini terjadi karena korban dianggap mempermainkan hubungan. Padahal, penilaian moral seseorang dengan tindakan kekerasan pelaku adalah dua hal yang berbeda. Jika setiap kesalahan moral dianggap bisa dibalas melalui kekerasan, maka bagaimana bisa ruang aman bagi masyarakat bisa terwujud?

Sebagaimana kronologi kejadian yang ramai di ruang internet, awalnya beredar berita bahwa RM melakukan kekerasan akibat dari penolakan cinta yang dilakukan F. Setelah kejadian tersebut viral, warganet mulai menggali jejak digital F yang membuahkan hasil bahwa ternyata F bukan menolak cinta dari RM, melainkan mereka sudah memiliki hubungan spesial disisi lain F juga memiliki pasangan lain. Dari situlah warganet mulai menghujani F dengan penyalahan hal yang dialami itu, bahwa apa yang menimpanya merupakan akibat perbuatannya sendiri dan berbalik membela RM sebagai pelaku.

Information Overload dan Pergeseran Empati Publik

Banyaknya informasi yang dikonsumsi publik di era digital sering menyebabkan kebingungan dalam menentukan mana informasi yang benar dan layak diikuti. Kondisi ini dikenal sebagai information overload, keadaan ketika seseorang menerima informasi dalam jumlah yang sangat besar sehingga sulit memproses dan menyaring secara kritis. Akibatnya, individu menjadi ragu dalam menentukan sikap atau keputusan terhadap informasi yang diterima.

Penelitian oleh Mohamad Rifqy Roosdhani dalam artikel yang berjudul “How Does Information Overload Impact Social Media Fatigue and Consumer Choices in Indonesia and Malaysia?” menunjukkan bahwa information overload pada pengguna media sosial dapat menimbulkan kelelahan informasi (social media fatigue) yang berdampak pada meningkatnya kebingungan dalam mengambil keputusan.

Baca Selengkapnya: Viral Video Ma’had, Dema Universitas Tuntut Birokrasi

Pun dalam kasus RM dan F, narasi kebenaran berputar dalam gelombang information overload yang riuhnya begitu mudah mencul ke permukaan namun cepat pula terhempas. Warganet tidak lagi mempertimbangkan apakah yang dikatakan hari ini akan selaras dengan ucapan yang kemarin atau esok. Kebenaran akan terus berubah seiring dengan berkembangnya narasi baru yang muncul. 

Padahal, jika ditelaah secara logis, kebenaran yang benar-benar benar akan dapat dibuktikan jika pemahaman terhadap informasi tidak bias, sebanyak apapun informasi yang mucul. Artinya, kepingan-kepingan informasi yang didapat, harus terlebih dahulu didialektikakan untuk menemukan fakta yang sebenarnya. Bukan mengatakan benar untuk informasi hari ini, kemudian mengatakan benar lagi untuk informasi hari esok dengan menegasikan kebenaran informasi hari ini.

Namun di sisi lain, dengan berkaca dari kasus ini, cara publik mengonsumsi kasus kekerasan pada era media sosial menunjukkan perubahan yang perlu dikhawatirkan. Fokus masyarakat sering kali tidak lagi terpusat pada tindakan kekerasan itu sendiri, melainkan bergeser pada sisi sensasional yang dianggap lebih menarik untuk diperbincangkan

Berbagai potongan informasi mengenai kehidupan pribadi korban dengan cepat menyebar dan menjadi bahan diskusi publik. Kehidupan privat korban kemudian dipertontonkan di ruang digital, seolah-olah menjadi komoditas yang bebas dinilai oleh siapa saja. Dalam situasi seperti ini, batas antara kepentingan publik dan ranah pribadi menjadi kabur, sementara empati terhadap korban perlahan memudar karena perhatian publik lebih terarah pada unsur skandal daripada penilaian objektif terhadap peristiwa yang terjadi.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana korban sering kali dipaksa untuk membuktikan dirinya “layak” mendapatkan simpati. Padahal, tindak kekerasan tidak seharusnya dibenarkan oleh latar belakang apa pun yang melekat pada korban. Ketika korban harus menjelaskan moralitasnya agar dianggap layak memperoleh empati, persoalannya tidak lagi berada pada individu semata, melainkan mencerminkan masalah yang lebih luas dalam budaya sosial kita. 

Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mudah terjebak dalam logika penghakiman moral yang mengaburkan fakta utama, bahwa kekerasan tetap merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Namun begitu, viralnya kasus ini juga menampakkan bagaimana cara pandang masyarakat terhadap suatu kebenaran, apakah dengan pemahaman fakta secara holistik atau hanya berdasarkan data paling baru yang ter-update. [Lulue]


KOMENTAR

Name

17 agustus,1,2021,4,2023,1,2024,2,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,2,academy,1,Advertorial,4,AFI,3,ai,6,Akreditasi,1,al-ghazali,1,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,4,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,4,Artificial Intellgence,3,Artikel,557,Artikel sastra,3,asian value,1,atribut,1,audiensi,7,Ayah,1,bahasa,1,bahasa ibu,1,bali,3,banding ukt,1,Banding UKT 2023,2,banjir,2,bantuan ukt,2,Beasiswa,22,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1677,berita potret,5,biografi,1,bonus demografi,1,buku,8,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,11,Buruh,1,calon wisudawan,1,camaba,11,camaba 2022,2,camaba 2023,1,Camaba 2025,1,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,36,copy writing,1,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,2,cybersecurity. internet,1,darurat pernikahan dini,1,Daun kelor,1,dekan fuhum,1,dema,15,Demokrasi,1,demonstrasi,1,Dies Natalis,1,digital,3,diklatpimnas,1,diskon,1,Dokumen,1,Doom Spending,1,dosen,3,dsign,1,Edukasi Seksual,1,ekologi,1,ekosistem,1,EkspreShe,35,era digital,2,Es Teh,1,Essay,121,fakultas kedokteran,5,Fasilitas,3,Fasilitas PKM,2,fdk,1,feature,2,fictim blamming,1,film,6,Filsafat,40,FITK,1,fresh graduate,3,FUHUM,69,FUHum fest,3,FUPK,7,Gadis Kretek,1,Gagal Wisuda,3,gaya hidup,3,gelar ISAI,2,Gen Z,2,gender,2,General Library,2,Generasi Milenial,31,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,greencampus,1,Guru,6,gym,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,hari batik,1,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,2,Hari Buruh Internasional,5,hari guru,2,hari ibu,1,Hari Jumat,1,Hari Kartini,4,hari kemerdekaan,2,hari pahlawan,4,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,12,Hari Santri,10,Hari Santri Nasional 2022,6,Hari Sumpah Pemua 2022,2,heroisme,1,Hukum,2,Ibnu Sina,1,ide bisnis,1,identitas,1,idul adha,11,Ilmu Falak,1,Ilmu Pengetahuan,91,Imam Nawawi,1,Imlek,2,indonesa emas,1,indonesia,6,info beasiswa,4,info kos ngaliyan,1,Informasi,2,Informasi Kampus,20,Informasi Umum,21,inspiratif,1,internasional,6,ISAI,2,islam,2,isra' mi'raj,3,Iwan Fals,1,jawa timur,1,Jerat Hukuman,1,judul skripsi terbaik,8,Jurang Asmara,3,Kahlil Gibran,2,Kajian,6,kalam fuhum,1,Kapitalis,2,Kasus Birokrasi,2,Keadilan,1,Keagamaan,74,Kebahagiaan,3,kebaya,2,kebudayaan,7,kecantikan,1,kecelakaan,6,kecerdasan,2,Kedokteran,1,kekerasan seksual,3,kekerasan seksual anak,1,kemanan,1,kemanusiaan,2,kemerdekaan,3,kerja,2,kesadaran,8,Kesaktian Pancasila,1,Kesehatan,29,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,7,Kitab Allah,1,kkl,12,KKN,23,KKN Internasional,1,KKN Nusantara,1,Klarifikasi,2,kompre,1,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,2,Korean Wave,1,korelasi,1,Korelasi 2023,3,Korupsi dosen,1,kos,1,kru IDEA,3,ksr,1,KTM hilang,1,KTT G20,3,KUHP,1,Kuliah,12,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kuliner,1,kupi,1,kurban,3,Lahan Parkir,4,leaders declaration,1,liburan,3,lifestyle,1,Literasi,3,Logo HSN 2022,1,lpm,1,lukisan,1,Lulus Cepat,13,ma'had,11,maba 2023,6,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,684,mahasiswa baru,19,Mahasiswa Meninggal,1,makna hidup,1,makna kembang api,1,Maksiat hati,1,Malaysia,1,mana 2024,1,Masa Jabatan,1,Masjid Kapal,1,Maulid Nabi,1,Mayday,1,media sosial,2,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,menwa,1,metafisis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,8,Muhammad,6,Muhammad Iqbal,1,Munaqosah,2,Musik,1,Nabi Muhammad,8,nasional,27,Nasionalisme,1,natal,1,New Normal,18,Ngaliyan,15,Oase,412,Olahraga,2,omnibus law,1,Opini,259,opini mahasiswa,22,ORKM,2,ormawa,2,orsenik,28,outfit,2,pameran isai,2,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,29,PBAK 2022,5,pbak 2023,14,PBAK 2024,7,Pedagogi,1,pelatihan,2,pelecehan seksual,1,peluang,1,Pemalsuan,5,Pembayaran UKT,3,Pemerintahan,1,Pemilu 2024,3,pemuda,3,Pendidikan,19,penemuan ular,1,pengembangan diri,7,Penghapusan UKM fakultas,3,Penjara,1,Penyair,1,Penyesuaian UKT 2022,3,perang ukraina,1,Perempuan,8,peringatan harlah NU,1,pernikahan dini,1,perpustakaan,5,Pertemanan,1,Pidana,1,Plagiasi Rektor,1,Planetarium UIN Walisongo,2,PMB,10,politik,6,pondok pesantren,5,pormawa,1,Post-truth,1,Potret Berita,11,potret wisuda,6,ppb,7,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,presidensi,1,Prestasi,2,profesi,2,Program Mahasiswa Internasional,2,Psikologi,36,Puasa,9,Puasa Ramadan,45,Puisi,162,Quotes,1,qurban,1,ramadhan 2023,9,Ramadhan 2024,1,ramadhan 2025,2,Rasulullah,1,recriutment,2,recruitment,4,refrensi,1,regulasi,1,rektor,7,Resensi,24,Resensi Buku,22,Resensi Film,35,revolusi industri,1,Riset,5,Rukyat Hilal,1,SAA,1,Sahabat,2,Sampah Juras,2,santri Ma'had,4,Sastra,125,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,sema,6,Semarang,190,sempro,2,Shalawat,1,Sidang,2,Sistem akademik,1,SK Jabatan 6 Bulan,1,SK Wajib Mahad,11,skill,1,Skripsi,19,sky,1,socrates,2,sosial,2,Sosok,2,Soto,1,SPAN-PTKIN,1,stoic,1,Student Mobility,1,sufisme,2,Sujiwo Tejo,1,sukses,3,sumpah pemuda,2,Surat Pembaca,9,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,3,Taman Entrepreneur FEBI,1,TandaTangan,4,tasawuf,2,Taubat,1,teater,8,Teknologi,43,teladan,1,Thailand,1,tips,5,Toefl-Imka,23,tokoh,1,Toxic,1,TP,2,tranformasi energi,1,Tugas Akhir,16,UHN,2,UIN Walisongo,795,UIN Walisongo Semarang,73,ujm,2,UKM,18,ukt,35,UKT 2024,6,UKT tinggi,2,ular piton,1,UM-PTKIN,2,upz,1,video,2,Wajib mahad,6,wali camaba,2,wali wisuda,6,Walisongo Center,2,wanita,1,William Shakespeare,1,wisata,4,Wisuda,118,wisuda 2022,15,wisuda 2023,6,wisuda 2024,26,wisuda offline,5,wisudawan terbaik,33,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Narasi Kebenaran Media Sosial dan Fenomena Victim Blaming dalam Viralnya Kasus Kekerasan
Narasi Kebenaran Media Sosial dan Fenomena Victim Blaming dalam Viralnya Kasus Kekerasan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVrIQsF_srIAm5WmCCIhQfp9C29-PvM7PyQdkvqBvlSrOTWcbM4G58oJ-cbMh4Tgi2XO271PIueuZWruR9vhuh8i2Oj1Q0iFqKILBb8_j6BIYdPkVwu25AX24rrzxKs_U_LTGCGAunMqYpFlOKELX1uJFxjEuR6H4LmcB_hW1XUy_aeCEfSXjGZ1Puwgeb/w640-h426/WhatsApp%20Image%202026-04-07%20at%2004.54.59.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVrIQsF_srIAm5WmCCIhQfp9C29-PvM7PyQdkvqBvlSrOTWcbM4G58oJ-cbMh4Tgi2XO271PIueuZWruR9vhuh8i2Oj1Q0iFqKILBb8_j6BIYdPkVwu25AX24rrzxKs_U_LTGCGAunMqYpFlOKELX1uJFxjEuR6H4LmcB_hW1XUy_aeCEfSXjGZ1Puwgeb/s72-w640-c-h426/WhatsApp%20Image%202026-04-07%20at%2004.54.59.jpeg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2026/04/narasi-kebenaran-media-sosial-dan.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2026/04/narasi-kebenaran-media-sosial-dan.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin