[Cerpen] Saropah dan Giginya

 


Kala itu, sinar surya menyala-nyala dengan merahnya. Dan aku tengah berjualan legendar untuk menyambung hidup di Kalitanjung. Tiba-tiba Mbah Darno menghentikan derapan tapak kakiku. Bak dikejar setan, napasnya kembang kempis. 

Aku dibisikkan sesuatu olehnya. Telingaku seperti ditusuk jarum, jantungku seperti ditancapkan peluru. Kepalaku linglung seketika. Malaikat maut menjemput bapak. Aku berlari pulang dengan kemelut batin yang mendidih.

Orang-orang melayat, ramai sekali. Ucapan belasungkawa bak mesin gerak abadi yang gencar melangit hingga menyundul ke awan. 

Tanah kuburan bapak belum juga kering, Tuan Sobrat, juragan lele sekaligus rentenir itu menampakkan batang hidung bersama kedua anak buahnya. Aku sudah menebak maksud kedatangan lelaki tua itu. 

Kumisnya yang hitam karena diolesi semir itu dinaikturunkan.

"Bapakmu punya hutang tujuh puluh juta. Sekarang kau yang harus membayar semua hutangnya. Kalau tidak kau harus jadi budakku!" tandasnya dengan suara lantang.

Tanpa berpikir panjang, kedua anak buahnya menarik tanganku dengan paksa. Karena dia tahu tidak ada sepeser pun uang yang bisa aku bayarkan. 

Aku dibawa ke rumah Tuan Sobrat yang ada di tanah Karangtalun untuk dijadikan budak—tanpa gaji, sebab seluruh gajiku akan dimasukkan ke dalam buku catatan pembayaran utang. 

Saban hari, hanya nasi bercampur garam yang bersarang di lambung, sebelum pada akhirnya nanti akan menjadi tahi. Pun dengan itu, air kran menjadi penawar tenggorokan yang kering sebab digempur oleh dahaga.

Di bawah sinar temaram, sering kali, aku merangkak di bawah kakinya. Dilucuti dengan onak yang mengikis daya dalam pralon hidupku. Berkali-kali aku berontak, namun Tuan Sobrat malah menyembulkan kebun binatang dari goa mulutnya.

Terpaksa, aku merantai bibirku dan tunduk dengan segala titahnya—laksana dayang kepada raja. Hak menjadi manusia yang semestinya terpatri pada diriku itu dijamah dan digerogoti. 

Terengah-engah Aku dibuatnya. Merah, putih, kuning, biru, dan hijau tidak bisa kupilih.karena kini hitam adalah kelam hidupku. Tapi aku bersumpah! Aku bersumpah bahwa ini tidak akan menjalar sampai aku mati.

Namun kesabaranku menciut ketika pada suatu malam Tuan Sobrat berbuat kurang ajar padaku. Ini bermula ketika aku disodorkan mekak, kain batik, selendang berwarna merah, sabuk, dan satu kresek kepingan-kepingan bunga mawar. 

Tubuhku harus diselimuti dengan pakaian itu, katanya. Otakku dicuci dengan mengatakan bahwasanya malam itu adalah malam keramat, di mana ritual mandi kembang harus dilakukan supaya kesialan dan bala' tidak bertandang. Ia katakan bahwa ritual tersebut dapat menambah kecantikan. 

Mendengar itu, mataku berbinar. Dengan bodohnya aku menelan mentah-mentah kata-katanya. Kain yang disodorkan Tuan Sobrat itu aku balutkan ke tubuh. Seperti pakaian penari. Kupejamkan mataku. Merasakan segar dan harumnya air yang mengalir ke seluruh tubuhku. 

Ritual mandi kembang telah rampung. Masih terdengar riuk aliran air sisa ritual. Kulihat tingkah anehTuan Sobrat. Tatapan nakal Tuan Sobrat menyusuri lekuk tubuhku. Membuat sungai darah di tubuhku bergolak. Wajahku tidak lagi segar seperti apel. Seketika berubah masam asem—sepahit brotowali. 

Bagaikan buaya yang kelaparan, ia menerkamku dengan beringas sembari mengatupkan mulutku dengan telapak tangannya. Aku tidak kuasa berteriak untuk meminta pertolongan. Airmata terus membanjir mataku. Tubuhku telah ternodai. "Modar," batinku kala itu. 

Prasangka itu secepatnya kuhilangkan. Sesegera mungkin aku berpikir positif sembari menghela napas supaya sedikit tenang. Aku diam mengumpulkan tenaga. Aku pasrah sejenak. Mulutku mulai dibuka sebab ia kira aku tidak akan berontak. Melihat hal itu Tuan Sobrat mehendaki mulutnya bersemayam di mulutku—kami saling melumat. Ia menikmatinya tapi tidak denganku. 

Tuan Sobrat yang tadinya mengerang keenakan, kini tiba-tiba teriak kencang kesakitan. Sebaliknya aku tertawa lepas. Baru kali ini aku merasakan daging manusia. Darah segar bertetesan. Kupotong bibirnya dengan gigiku kala nafsu bejat Tuan Sobrat Di ujung kepalang. 

Aku berdiri dalam kondisi masih tertawa lepas, "Enak, Tuan Sobrat...ingin lagi? Ternyata enak juga legendar bibir bersambal darah ini" Ucapku dengan nada meledek. 

Mataku bergelagat melihat kondisi sekitar, berpikir bagaimana caranya agar lolos dari sini. Kuputuskan untuk menggila sekali lagi. Guci, vas bunga, aquarium, dan toples kaca aku banting hingga pecah berkeping-keping dan sesekali kulempar ke muka sobrat.

Ia terjerembab akibat peparanku tadi. Aku maju perlahan tepat dihapannya. Kutodongkan pecahan kaca di depan wajahnya yang bengis itu. Tapi kukira ia memang bodoh. Tangannya memelesetkan pecahan kaca yang aku todongkan di depan wajahnya tadi ke lengan kirinya. Pecahan kaca itu menancap dengan diiringi darah segar yang mengalir deras.

Tapi demi Tuhan! Rasa sakit yang dirasakannya itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan selama ini.

Tak tahu apa yang sedang merasuki tubuhku. Aku menagis sekaligus tertawa—meluncurkan beribu umpatan. Pecahan kaca masih ada digenggamanku. Kuacungkan kearahnya. Mataku menatap matanya.

"Tuan Sobrat yang terhormat! Ah, salah. Tuan Sobrat yang kaparat! Tuan Sobrat yang kaparat! Tuan Sobrat yang kaparat! Izinkan aku berteriak layaknya anak-anak muda berstatus mahasiswa yang berontak kepada pemerintah.

Perkenankanlah ucapanku ini melumuri jasad-jasad dan otak di kepalamu yang telah melumut berabad-abad. Sebelumnya, aku persilakan kepadamu untuk mengeruk tahi-tahi di dalam liang rungumu. Supaya apa yang keluar dari mulutku tidak mengudara dengan percuma.

Aku mulai. Namaku Saropah. Seorang wanita kere dan budak tanpa gaji, karena gaji yang kudapat langsung masuk di catatanmu untuk melunaskan utang bapak. Dua tahun penjara setan ini mengurungku, merampas hak-hak yang kumiliki sebagai manusia, menjamah tubuhku untuk hidup layaknya robot, memeras sendi-sendiku untuk berada di bawah kakimu yang busuk dan penuh dengan noktah-noktah dosa.

Jahannam, kau! Tak ada secuil welas dan asih. Yang ada hanya bara api yang disulutkan di dadamu. Biadab! Persetan dengan derajatmu sebagai juragan, sedangkan aku hanyalah budak yang dulunya penjual legendar. Faktanya, kau tak lebih baik dari Pak Kasman si buruh tani, Pak Warsito si tukang rongsok, Yu Karsinah si penjual geblek, dan Mbah Min si penjual batik yang kau utangi. 

Segala yang bersemayam di dalam tempurung kepalamu itu adalah iblis. Aku kauanggap sebagai wanita ketengan hingga kau bebas memperkosaku. Aku memang ada di bawah kakimu. Tapi jangan kau lupakan satu hal, bahwa kita sama-sama manusia yang berasal dari tanah, makan dari hasil tanah, hidup di atas tanah, dan akan kembali lagi ke tanah. 

Tuan! Jadilah manusia yang welas asih, berperikemanusiaan, dan tidak merampas hak orang lain. Jangan kau pikir karena kau bergelimang harta, lalu kau bisa bersikap seenaknya kepada rakyat kelas bawah sepertiku.

Tamatkan pekerjaanmu sebagai rentenir! Kutanya! Bagaimana ceritanya hutang 20 juta menjadi tujuh pulah juta? Tidakkah cukup terhadap statusmu sebagai juragan lele dengan penghasilan yang membuat orang melebarkan matanya bulat-bulat, membuka mulutnya hingga ternganga, dan menggedorkan jiwa karsa sampai ke sel-selnya?"

Begitulah ucap perihku pada Tuan sobrat Iblis itu—seperti sedang berpentas teater. Tuan Sobrat kicep seketika. Ia tidak lagi ada nyali untuk memandangku. Sesekali bibirnya mengaduh kesakitan sebab tancapan pecahan kaca tadi. Tapi persetan! Aku tak acuh dan tidak sudi untuk mengobatinya.

Sesaat, seutas tenunan kain batik yang tadi dijamah Tuan Sobrat itu, aku pungut kembali dari lantai. Kulilitkan kembali di tubuhku yang telanjang—Masih dengan sisa napas yang terengah-engah. 

Tak lama, tanpa kuduga, secara samar-samar seorang lelaki menyembul dari pintu depan. Lelaki itu ternyata Kang Harsoyo, kekasihku yang enam tahun merantau di Kalimantan untuk bekerja.

Kang Harsono berjalan menghampiriku. Ia Melemparkan koper yang dia bawa ke muka Tuan Sobrat. 

"Ini aku bayar semua utang. Hutang uang kubayar dengan uang. Harga diri, harus kaubayar pula dengan harga diri," Kata kang Harsoyo

Dari belakang dua anak buah Tuan Sobrat datang. Tapi bukan untuk membantu Tuan sobrat. Kang Harsoyo telah membeli kedua anak buah Tuan Sobrat. 

Dua anak buah berbalik berjalan kearah pintu dan kembali lagi ke hadapan Tuan sobrat dengan menyeret Rina, anak gadis Tuan Sobrat yang telah diringkus. 

"Telanjangi gadis itu! Jangan biarkan satu helai benangpun hinggap di tubuhnya. Setelah itu, lakukan sesukamu" Perintah kang Harsoyo kepada kedua anak buah itu. 

"Maksudmu apa? Lepaskan anakku. Jangan sentuh dia. Aku yang salah, maka cukup aku yang berhak dihukum. Jangan bawa-bawa anakku. Kau harus adil. Jangan biadap!" UcapTuan sobrat dengan terbata-bata. 

"Sekarang kamu baru tahu arti dari biadap dan keadilan. Kukira kau telah buta dan mati rasa. Memang terkadang kamu perlu menyanyat tubuhmu sendiri untuk merasakan apa itu sakit," Jawab Kang Harsoyo. 

KangHarsoyo melepaskan Rita. Mempersilakan Rita lari menuju bapaknya dengan masih menyimpan isak tangis. 

Keduanya berpelukan. Perlahan Rita merogoh sekalangan Tuan Sobrat dan segera memotong kemaluannya mengunakan gunting yang ia keluarkan dari sakunya, dan berbisik, "Maaf Pa". 

Diberikan potongan itu kepada Kang Harsoyo. Rupanya rita melakukan itu sebab perjanjian sebelumnya dengan Kang Harsoyo. Bahwa Kang Harsoyo akan membunuh ayahnya kecuali Rita bersedia memotong kemaluan ayahnya menggunakan tangannya sendiri.

***

Usai kejadian lima tahun silam itu, Kang Harsoyo menikahiku: Saropah, dengan mahar 70 juta dan sebuah kotak berisikan potongan kemaluan lima tahun silam itu. 

Awalnya aku tersontak kaget melihat itu. Lantas kuambil kotak itu, kubuang ke sungai pinggir rumah. Aku berkata padanya, untuk jangan coba-coba kotori pernikahan suci ini dengan barang menjijikan itu. Barang itu pantas dialirkan ke sungai dan sampai kepada laut. Hanya tegarnya laut yang bisa menerima dan menyucikan barang itu, bukan aku. 

Meski begitu aku tetap bersyukur dapat menikah dengannya. Ia tidak peduli dengan statusku yang sudah tidak perawan ini. Sebab katanya, aku tetaplah manusia, dan menikah bukan persoalan seks belaka. Menikah itu persoalan dua rasa— dijalinpadukan menjadi satu untuk saling merasa, menjaga, mengolah nestapa menjadi kebahagiaan bersama.

Kini, tembang cintaku kepadanya adalah wewangian surga yang menembus atma.


[Umi Nur Faizah]

Warga Komunitas Sastra Literada

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,academy,1,Advertorial,4,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,476,Artikel sastra,1,Beasiswa,7,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1288,biografi,1,buku,2,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,3,camaba,1,camaba 2022,2,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,27,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,1,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,31,Essay,120,feature,1,film,4,Filsafat,34,fresh graduate,3,FUHUM,8,FUHum fest,2,FUPK,2,gaya hidup,1,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,ide bisnis,1,idul adha,5,Ilmu Pengetahuan,86,Imam Nawawi,1,info kos ngaliyan,1,inspiratif,1,islam,2,Iwan Fals,1,judul skripsi terbaik,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,64,Kebahagiaan,3,kebudayaan,1,kecantikan,1,kecerdasan,2,kekerasan seksual,2,kemanusiaan,1,kemerdekaan,1,kerja,1,kesadaran,7,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,2,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,11,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,1,Korean Wave,1,kos,1,Kuliah,10,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kurban,1,Lahan Parkir,2,liburan,1,lifestyle,1,Literasi,2,lukisan,1,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,396,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,7,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,346,Olahraga,1,Opini,239,opini mahasiswa,19,orsenik,19,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,24,PBAK 2022,5,peluang,1,Pendidikan,7,penemuan ular,1,pengembangan diri,6,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,potret wisuda,1,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,29,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,128,Quotes,1,qurban,1,Rasulullah,1,recriutment,1,recruitment,1,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,106,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,Semarang,46,Shalawat,1,SK Wajib Mahad,1,skill,1,Skripsi,5,sky,1,socrates,2,sosial,1,Sosok,1,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,teater,1,Teknologi,37,teladan,1,tips,4,Toefl-Imka,15,tokoh,1,Toxic,1,UIN Walisongo,463,ujm,2,UKM,6,ukt,22,ular piton,1,wali wisuda,1,wanita,1,William Shakespeare,1,Wisuda,71,wisuda 2022,4,wisuda offline,4,wisudawan terbaik,3,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: [Cerpen] Saropah dan Giginya
[Cerpen] Saropah dan Giginya
Saropah, penjual legendar yang diperbudak dan diperas tubuh demi membayar hutang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEis_RZs5Ed8VmY1h7s73diZJM9Jeom67-4ieHdLyrROVg28DRcDHpDJYwvK2WlfhX540Rk9TBqJNLajoUjJI-gprjVqKp68SvjVA3YH68I1TGLGYtrY9phOv579jL6-JcMQftIc49otPzmqyUgXytVDp3IjkfOufU5uT52_0glAdCzWZFuQJhgHxvboDA=w400-h259
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEis_RZs5Ed8VmY1h7s73diZJM9Jeom67-4ieHdLyrROVg28DRcDHpDJYwvK2WlfhX540Rk9TBqJNLajoUjJI-gprjVqKp68SvjVA3YH68I1TGLGYtrY9phOv579jL6-JcMQftIc49otPzmqyUgXytVDp3IjkfOufU5uT52_0glAdCzWZFuQJhgHxvboDA=s72-w400-c-h259
IDEApers
https://www.ideapers.com/2022/02/cerpen-saropah-dan-giginya.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2022/02/cerpen-saropah-dan-giginya.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin