Tentang Sains, Filsafat, dan Kematian

Sumber: Istimewa

SEJAK masa kanak-kanak, doktrin agama dan nilai-nilai kebudayaan begitu melekat dalam hidup. Perangkat tersebut telah mengambil banyak peran dalam mempengaruhi cara berpikir dan pola perilaku kita. Di mana para orang tua dan nenek moyang menanamkan ajaran dan kepercayaan yang turut membentuk pengetahuan dan pandangan kita terhadap sejumlah fenomena dalam kehidupan. 

Konsep tentang kematian menjadi salah satu fenomena yang tidak luput dari sorotan agama dan budaya (mitologi). Misalnya doktrin yang ditanamkan dan kita yakini sampai saat ini, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Bahwa ada kehidupan lagi setelah seluruh manusia meninggal dunia, dan itulah kehidupan yang baqa' (kekal).

Kematian juga dianggap sebagai hal metafisik yang sulit diabstraksikan oleh akal, sehingga seringkali dimetaforakan ke dalam beragam cara. Seperti dalam mitologi Yunani, terdapat tokoh bersayap bernama Thanatos yang dianggap sebagai dewa kematian. Juga dalam tradisi Barat, kematian digambarkan sebagai Grim Reaper, sosok kerangka berjubah hitam dan berkerudung yang membawa sabit besar. 

Lalu, bagaimana fenomena kematian menurut sains? Sebelum membahas hal tersebut, setidaknya kita perlu menengok dulu kedudukan dan peran ilmu pengetahuan modern dalam kehidupan. Termasuk pula bagaimana ia mampu membebaskan manusia dari doktin agama dan kepercayaan supranatural yang membelenggu kebebasan. 

Dari Filsafat ke Sains

Seiring berkembangnya zaman, revolusi sains dan ilmu pengetahuan perlahan-lahan mulai mengubah cara berpikir manusia. Meskipun tidak serta merta sepenuhnya mampu menghapus kepercayaan terhadap doktrin agama dan mitologi, sains telah menandai sebuah kemajuan manusia sebagai mahluk yang terus berevolusi dan menciptakan sejarah peradaban di dunia. 

Spirit kemajuan dan pencerahan (Aufklarung), menggerakkan manusia untuk terus melakukan eksplorasi dan pengembangan yang ditempuh melalui sains dan ilmu pengetahuan. Dengan eksperimen dan metode ilmiah, sains senantiasa berkomitmen tidak pernah berhenti untuk -- meminjam istilah Karl Marx-- “menafsirkan dunia”. Menempuh jalan berbeda dari doktrin agama maupun mitologi tradisional, untuk mengungkap realitas dan fenomena dalam kehidupan dengan menggunakan prinsip rasional dan ilmiah.

Bicara tentang peradaban hari ini, di mana sains dan teknologi menempati peran penting dalam kehidupan manusia, sejatinya tidak dapat dipisahkan dari pengaruh filsafat di era Yunani Kuno abad ke-5 SM. Thales, Pythagoras, Parmenides, dan sejumlah filus lainnya menjadi pelopor pemikiran manusia dengan tidak sepenuhnya mengikuti dongeng dewa-dewa yang berkembang dalam masyarakat. Gejala alam dijelaskan secara rasional dan secara bersamaan telah menggeser paradigma dari mitos ke logos. 

Hingga dalam prosesnya, filsafat Yunani terus mengalami perkembangan serta menyebar ke penjuru dunia lain melalui interaksi sosial dan akulturasi budaya. Pernah pula masuk mewarnai dunia Islam di abad ke-8 M, bahkan mampu menyatu dan turut berperan penting dalam khazanah keagamaan. Metode berpikir filosofis menjadi alat bagi para filsuf Paripatetik untuk menafsirkan dogma-dogma agama. Sehingga tidak hanya sebatas teks yang sakral dan statis, melainkan dapat dirasionalkan dan diterima akal sehat. 

Perkembangan selanjutnya, terjadi di Eropa dengan gerakan Renaissance pada abad ke-16 M. Kejumudan terhadap ortodoksi dan dominasi agama (gereja) memicu spirit perubahan melalui pendayagunaan akal pikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan --yang pada akhirnya mampu membebaskan manusia. Para filsuf, ilmuwan, seniman, sastrawan, meyakini bahwa eksistensi manusia, hanya dapat terwujud melalui “aku”-- sebagai subjek-- yang berpikir. “Cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada)”, begitulah kata Des Cartes.

Hingga dalam sejarah dan perjalanannya, dialektika pemikiran dan pengetahuan manusia terus berevolusi (rasionalisme, empirisme,.....positivisme). Dari proses panjang inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran sains dan penemuan teknologi modern. Hingga sampai detik ini, tidak terhitung seberapa besar penelitian dan penemuan scientific yang mempermudah manusia dalam menjalani proses kehidupan. 

Tentu hal tersebut tidak bisa kita nafikan. Karena kita sendiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, dapat merasakan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Dengan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sains dan teknologi telah menunjukkan kegemilangan yang mencatatkan dirinya sebagai salah satu pencapaian terbesar umat manusia. 

Fakta Tentang Kematian Versi Sains

Dalam upaya menafsirkan dunia, sains mencoba mengungkap realitas kehidupan dengan jalan dan metodenya sendiri. Menjawab berbagai fenomena ketika manusia kurang puas dengan mitos dan takhayul. Dalam mengabstraksikan tentang kematian misalnya, ketika agama dan mitos tradisional memandangnya sebagai suatu hal yang sakral dan penuh misteri, sains berusaha memutus jarak tersebut dan mendekatinya secara ilmiah. 

Hingga kini pun para ilmuwan terus melakukan ekspreimen dengan menguak fakta-fakta tentang kematian. Sampai sejauh ini, sains telah menemukan beberapa fakta tentang kematian. 

Pertama, orang yang baru saja meninggal dunia, tetap sadar selama sekitar 20 detik. Barangkali kita mengira bahwa kematian seperti halnya tidur. Di mana kepala menjadi berat, mata terpejam, melepas napas terakhir, dan pandangan menjadi gelap. 

Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi secepat itu. Menurut Dr. Sam Parnia, direktur penelitian perawatan kritis dan resusitasi di NYU Langone Medical Center, kesadaran akan tetap ada bahkan saat kita mati. Pasalnya setelah 20 detik mati klinis, ada gelombang otak yang ditembakkan di korteks serebral atau bagian otak untuk sadar dan berpikir.

Studi terhadap tikus laboratorium menunjukkan fakta bahwa otak mereka melonjak dengan aktivitas sesaat setelah kematian. Hal ini dapat memunculkan rangsangan dan kewaspadaan yang tinggi. Dari hal ini pula, orang-orang yang pernah mati suri dapat mengingat secara teknis peristiwa yang mereka alami saat itu.

Fakta kedua yaitu adanya kehidupan setelah kematian. Meskipun penelitian tentang ini masih menjadi perdebatan di kalangan saintis, tetapi fakta yang dapat diambil ialah gen manusia senantiasa terus mengejar kematian. 

Royal Society’s Open Biology mempublikasikan sebuah penemuan bahwa seribu gen menjadi lebih aktif setelah kematian. Studi ini berangkat dari hasil pengamatan terhadap ekspresi gen pada tikus dan ikan zebra yang tidak lain ialah respon stres dan juga gen perkembangan. Dalam beberapa kasus ekspresi ini mampu bertahan sampai empat hari. 

Fakta selanjutnya, energi yang kita miliki akan tetap ada. Ketika gen mulai memudar, energi dalam tubuh akan terus hidup dengan waktu yang lama pasca kematian. Adapun menurut hukum termodinimika pertama, energilah yang bertugas menggerakkan kehidupan, sehingga akan terus berlanjut dan tidak dapat dihancurkan.  

Selanjutnya berkaitan dengan pengalaman menjelang kematian yang datang dalam berbagai bentuk. Menjelang kematian, beberapa orang melayang di atas tubuh mereka. Beberapa lagi pergi ke alam metafisik dan bertemu saudara yang meninggal. 

Tetapi sebenarnya, kita tidak tahu apa yang kita alami. Neurology menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa pengalaman menjelang kematian berasal dari jenis kondisi tidur-bangun dengan membandingkan korban yang mengalaminya dengan mereka yang tidak. Temuan para peneliti mengatakan bahwa orang dengan pengalaman kematian, lebih mungkin untuk menjalani keadaan terjaga saat tidur.

Fakta lainnya ialah, setelah mati, rambut dan kuku manusia tidak tumbuh. Hal ini karena sel-sel baru tidak dapat diproduksi. Pembelahan sel yang dipicu oleh pemecahan glukosa membutuhkan oksigen untuk dapat memecah glukosa menjadi energi sel. 

Dan hal tersebut tidak dapat terjadi apabila sudah mati. Kematian juga menjadikan tubuh dehidrasi karena kekurangan air yang menyebabkan kulit mayat kering dan mengecil. Sehingga membuat kuku dan wajah terlihat lebih panjang. 

***

Itulah beberapa fakta tentang kematian menurut sains. Berbagai usaha penelitian dan penemuan ilmiah menjadi bukti bahwa manusia, sebagaimana kata Mulla Sadra, akan senantiasa melakukan gerakan subtansial (harakah jauhariah) menuju bentuk “kesempurnaan”. Bahwa dengan optimisme dan ilmu pengetahuan, manusia mampu menciptakan keajabaian, menembus tembok keterbatasan, serta memungkinkan apa yang diyakini sebagai kemustahilan.

Adapun salah satunya, yang masih dalam penelitian dan terus diperjuangkan hingga saat ini yaitu dalam menghadapi misteri kematian. Seiring berkembangnya waktu, bersamaan dengan majunya sains dan teknologi mutakhir, manusia bukan tidak mungkin dapat mencegah kematian dan membuat hidupnya abadi. Tentu apa yang sulit kita bayangkan hari ini bukan berarti mustahil terwujud 10, 50, atau 100 tahun lagi. 

Biarlah sejarah yang akan menjadi saksi atas proyeksi yang akan terjadi. Sedangkan manusia selalu memiliki optimisme untuk membuktikannya, manusia selalu punya kesempatan untuk dapat mewujudkan utopia tersebut. [Atok Mahfud]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,ab,1,Abu Nawas,1,academy,1,Advertorial,4,al-ghazali,1,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,3,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,aqidah dan filsafat islam,1,Artificial Intellgence,2,Artikel,485,Artikel sastra,1,atribut,1,bali,1,banjir,2,Beasiswa,8,Begadang,1,belajar,5,berdoa,2,Berita,1321,biografi,1,bonus demografi,1,buku,2,bulan muharram,2,Bulan Ramadan,3,camaba,1,camaba 2022,2,Carl jung,2,ceremony,1,cerpen,27,Corona virus,65,critical thingking,1,cumlaude,1,Daun kelor,1,Demokrasi,1,diskon,1,dsign,1,EkspreShe,32,Essay,120,feature,2,film,4,Filsafat,34,fresh graduate,3,FUHUM,11,FUHum fest,2,FUPK,5,gaya hidup,1,gender,1,Generasi Milenial,29,George Orwell,1,globalisasi,1,graduation cap,1,Guru,3,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,hari guru,1,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,hari pahlawan,4,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,5,Hari Santri Nasional 2022,6,Hari Sumpah Pemua 2022,2,heroisme,1,ide bisnis,1,idul adha,5,Ilmu Pengetahuan,86,Imam Nawawi,1,indonesia,3,info kos ngaliyan,1,inspiratif,1,islam,2,Iwan Fals,1,judul skripsi terbaik,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,66,Kebahagiaan,3,kebudayaan,1,kecantikan,1,kecerdasan,2,kekerasan seksual,2,kemanusiaan,2,kemerdekaan,1,kerja,1,kesadaran,7,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,KIP-K,4,Kitab Allah,1,kkl,2,KKN,11,Komunikasi,3,konten vidio,1,kopi,1,Korean Wave,1,kos,1,KTT G20,3,Kuliah,10,Kuliah luar negeri,4,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,2,kupi,1,kurban,1,Lahan Parkir,2,leaders declaration,1,liburan,1,lifestyle,1,Literasi,2,Logo HSN 2022,1,lukisan,1,maba2022,3,Machiavelli,1,Mahasiswa,411,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mengingat,1,mental,2,Menulis,1,metaverse,1,modernitas,1,motivasi,7,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,nasional,5,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,351,Olahraga,1,Opini,241,opini mahasiswa,19,ORKM,1,orsenik,19,outfit,1,pancasila,2,Pandemi,5,PBAK,24,PBAK 2022,5,peluang,1,pemuda,1,Pendidikan,9,penemuan ular,1,pengembangan diri,6,Penyair,1,Penyesuaian UKT 2022,3,perang ukraina,1,Perempuan,6,Pertemanan,1,politik,3,pondok pesantren,1,Post-truth,1,Potret Berita,6,potret wisuda,2,praktikum,1,Pramoedya Ananta Toer,1,presidensi,1,profesi,1,Psikologi,31,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,129,Quotes,1,qurban,1,Rasulullah,1,recriutment,1,recruitment,2,refrensi,1,Resensi,21,Resensi Buku,19,Resensi Film,28,revolusi industri,1,Riset,5,Sahabat,2,Sastra,108,Second Sex,1,sedekah,1,sejarah,1,Semarang,62,Shalawat,1,SK Wajib Mahad,1,skill,1,Skripsi,6,sky,1,socrates,2,sosial,2,Sosok,1,stoic,1,sufisme,2,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,8,tafsir,6,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,teater,3,Teknologi,38,teladan,1,tips,4,Toefl-Imka,15,tokoh,1,Toxic,1,UIN Walisongo,496,ujm,2,UKM,6,ukt,22,ular piton,1,wali wisuda,1,wanita,1,William Shakespeare,1,Wisuda,83,wisuda 2022,13,wisuda offline,4,wisudawan terbaik,7,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Tentang Sains, Filsafat, dan Kematian
Tentang Sains, Filsafat, dan Kematian
Manusia bukan tidak mungkin dapat mencegah kematian dan membuat hidupnya abadi. Biarlah sejarah yang akan menjadi saksi proyeksi yang akan terjadi
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh0lEgaI_jmzuRVTaj1qLNlwzCOLdxINjcpprflS5VdsT48Db4e72Fg755-71Qj3OSfJS2TPuG7ZkLYu0vcRISiHzRlU3p7cMzqm5J4f-Y11X7OSqQcl64nd9EM2de5IGrxVp6s_19iwY5rWKMoxKCrI0KfOlQlcsp_TMK65wGIfEtglbvBaXzLVg=s16000
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh0lEgaI_jmzuRVTaj1qLNlwzCOLdxINjcpprflS5VdsT48Db4e72Fg755-71Qj3OSfJS2TPuG7ZkLYu0vcRISiHzRlU3p7cMzqm5J4f-Y11X7OSqQcl64nd9EM2de5IGrxVp6s_19iwY5rWKMoxKCrI0KfOlQlcsp_TMK65wGIfEtglbvBaXzLVg=s72-c
IDEApers
https://www.ideapers.com/2022/01/sains-filsafat-kematian.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2022/01/sains-filsafat-kematian.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin