Candu Media Sosial dan Gangguan Kesehatan Mental


Hidup di era kemajuan teknologi, menjadikan mayoritas orang tidak bisa lepas dari genggaman smartphone. Tak pelak, keberadaan media sosial kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat di era digital ini. Ibarat kata, media sosial sudah seperti zat adiktif pada narkoba yang memberikan efek ketergantungan pada penggunanya. 

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial. Ketergantungan media sosial ini dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. 

Ketika sudah ketergantungan dengan media sosial, seseorang akan terkena sindrom getaran hantu saat jauh dari ponsel atau lepas dari media sosial. Setiap kali ponsel bergetar dengan push notification, pusat perhatian langsung tertuju ke ponsel dan tak henti-hentinya mengecek media sosial. Padahal, kondisi tersebut hanya sebuah ilusi semata. 

Sebuah studi kecil yang diterbitkan di jurnal Computational Intelligence and Neuroscience, getaran hantu yang muncul dari media sosial ini dapat memperngaruhi kesehatan mental. Efek negatif yang ditimbulkan yaitu menurunnya fungsi kognitif dan konsentrasi pada otak. Sehingga, tidak mengherankan jika pengguna aktif media sosial mengalami gangguan kecemasan, depresi, maupun stres akibat kondisi tersebut. 

Pengguna media sosial yang sudah ketergantungan hingga menyebabkan halusinisasi akan mengalami empat gangguan kesehatan mental. Pertama, highlight reel. Media sosial menjadi tempat untuk menunjukkan sisi terbaik bagi para penggunanya. Mereka hanya membagikan momen-momen membahagiakan dalam hidupnya, seperti liburan, pencapaian prestasi, dan sebagainya. 

Citra positif yang ditampilkan dan terlihat di media sosial terkadang dapat memunculkan rasa iri bagi pengguna lainnya. Seseorang memiliki kecenderung untuk membandingkan dirinya dengan postingan yang mereka lihat. Belum lagi jika postingan tersebut berasal dari orang yang mereka kenal. Tentu semakin menimbulkan keirian yang mendalam. 

Kedua, social currency. Layaknya nilai tukar, media sosial juga menawarkan hal serupa bagi penggunanya. Ketika seseorang mengunggah gambar serta memperoleh banyak like dan komentar, tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Imbasnya, orang-orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian. 

Namun, situasi berbeda akan dirasakan ketika unggahan foto kita hanya memperoleh sedikit like dan komentar. Sikap yang dilakukan akan lebih memilih untuk menghapus atau mengunggah ulang foto dengan momen yang lebih menarik, agar kembali memperoleh perhatian dari banyak orang. 

Ketiga, fear of missing out (FOMO), yaitu kondisi merasa takut ketinggalan momen ataupun peristiwa yang ada di media sosial. Merasa cemas ketika tidak mengetahui isu terbaru dari hal yang disukai dan diikuti. Bahkan, seseorang yang terkena FOMO takut terkucilkan jika tidak mengikuti tren yang sedang viral di media sosial. 

Kondisi ini menyebabkan seseorang sulit terlepas dari media sosial. Hal ini dapat menimbulkan hasrat untuk selalu mengecek notifikasi yang berbunyi dari ponsel. Akibatnya, tidak bisa mengalihkan fokus untuk membuka notifikasi yang telah mencuri perhatian. 

Keempat, online harassment. Tidak menutup kemungkinan jika media sosial menjadi tempat untuk melakukan pelecehan secara online. Komnas Perempuan mencatat ada delapan jenis kekerasan seksual yang difasilitasi oleh kehadiran teknologi, mulai dari pelecehan di ruang-ruang maya, peretasan, penyebaran konten intim tanpa persetujuan, hingga ancaman penyebaran foto dan video intim. Ada pula sextortion, atau pemerasan lewat video intim. Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2021, ada 940 kasus yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan. 

Tidak berhenti di situ, pelecehan secara online juga bisa dilakukan oleh teman dekat sendiri. Sebagai contoh, ketika kita mengirim foto dengan ekspresi lucu melalui pesan pribadi, akan tetapi teman kita justru menyebarluaskannya melalui platform Facebook, Twitter, dan sebagainya, tentu merasa sakit hati atas tindakan tersebut. Padahal, niat awal kita hanya sekadar berbagi bahan candaan, tapi justru berakhir sebagai konsumsi publik. 

Media sosial di era digital ini sudah menjadi kebutuhan manusia untuk mempermudah komunikasi. Namun di sisi yang lain, media sosial ini dapat menjadi bumerang ketika dalam penggunanya mengalami ketergantungan. Jika tidak ada kontrol atau kesadaran akan hal itu, candu media sosial dapat mengganggu kesehatan mental kita. [Mita]

KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Advertorial,3,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,2,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,398,Beasiswa,4,Begadang,1,belajar,1,berdoa,2,Berita,1195,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,1,cerpen,24,Corona virus,63,Daun kelor,1,Demokrasi,1,EkspreShe,31,Essay,116,Filsafat,20,FUHUM,3,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,4,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,63,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,56,Kebahagiaan,2,kecerdasan,1,kemerdekaan,1,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,KKN,6,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,3,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,1,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,308,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mental,1,Menulis,1,modernitas,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,315,Olahraga,1,Opini,225,opini mahasiswa,17,pancasila,1,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,4,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,14,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,119,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,20,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,94,Second Sex,1,Semarang,41,Shalawat,1,Skripsi,3,stoic,1,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,2,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,28,tips,1,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,363,UKM,6,ukt,21,Wisuda,52,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Candu Media Sosial dan Gangguan Kesehatan Mental
Candu Media Sosial dan Gangguan Kesehatan Mental
Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial.
https://1.bp.blogspot.com/-o4-JOc4EZ6c/YOx__3c0yqI/AAAAAAAAL5o/PLvORbDtU7gdsD7Zlwq244KSOF_B2ZEmQCLcBGAsYHQ/s16000/images%2B%25281%2529.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-o4-JOc4EZ6c/YOx__3c0yqI/AAAAAAAAL5o/PLvORbDtU7gdsD7Zlwq244KSOF_B2ZEmQCLcBGAsYHQ/s72-c/images%2B%25281%2529.jpeg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2021/07/candu-media-sosial-dan-gangguan-kesehatan-mental.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2021/07/candu-media-sosial-dan-gangguan-kesehatan-mental.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin