Agamaku "Kolot dan Mesum"?

Sindonews.com
Ada dua pertanyaan imaji di tengah dilema keberagamaan masyarakat Islam Indonesia yang hingga hari ini masih menjadi momok menegangkan, yang bukan hanya sarat akan perselisihan saja, namun juga kerusuhan, di mana nyawa  menjadi taruhannya.

Pertanyaan pertama, bagaimana jika tidak ada macam-macam ormas Islam yang di republik ini? Tentu bayangan pertama ini memberi jawaban bahwa; tidak akan ada segala bentuk perselisihan, mulai dari cara pandang hingga beda dalam gerakan.

Namun jawaban semacam itu adalah sebuah utopia dan kemustahilan semata. Bahwa memang 'dari sana' manusia ditakdirkan berbeda (khittah), sebagaimana dijelaskan di dalam kitab suci. Maka, jika sampai terdapat harapan akan "tidak adanya konflik dan terjadi satu keidealan masyarakat beragama" sebaiknya tidak menjadi suatu "keinginan".

Setelah diketahui bahwa perbedaan adalah suatu khittah, maka masuk ke pertanyaan yang kedua, apakah mungkin macam-macam ormas Islam yang berbeda-beda dari Ideologi hingga gerakannya tersebut, mampu menahan egoisme sektarian-nya, hanya sampai pada perbedaan pendapat saja dan tidak sampai terjadi gesekan fisik karena berakibat fatal pada jalannya kehidupan bermasyarakat?

Menjawab pertanyaan kedua ini, penting untuk membaca ulang bagaimana sejarah dan model konflik, akar, serta faktor-faktor apa saja yang menjadikan perbedaan (yang khittah) tersebut menjadi bukan "perbedaan yang memajukan Islam", melainkan "perbedaan yang memundurkan Islam".

Mengapa demikian? Karena dalam sketsa pergolakan islamisme di Indonesia menjelaskan bahwa terdapat 'kanker' yang berdampak pada kemuduran Islam itu sendiri. Seperti halnya masih tumbuh suburnya pemahaman yang sifatnya fundamental tentang jihad yang dimaknai sebagai perang pada siapa yang diasumsikan sebagai "anti Islam", fanatisme ideologi di dalam macam-macam kelompok persatuan islam tersebut, dan sejenisnya. Hingga pada hal di mana masih tumbuh suburnya 'kanker' oleh kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai sebuah negara seperti jika di Indonesia; Darul Islam di masanya, dan Hizbut Tahrir dengan khilafahnya.

Di sini dapat di lihat; terjadinya benturan dalam perbedaan yang sifatnya bukan lagi dialektis dalam ragam proses peradaban Islam. Namun sektarianisme ekstrim oleh golongan-golongan Islam tersebut yang masih terus membawa kobaran api kepentingan dan target kelompok Islamnya, serta sampai mengacuhkan esensi rahmatan lil alamin-nya.

Fawaz Gerges, seorang ahli dunia Arab yang mengajar di Columbia University, pernah menulis; “Tidak pernah ada satu komunitas Muslim yang tunggal di dalam dunia Islam, kecuali 23 tahun pertama sewaktu Muhammad masih hidup”.

Di kaca mata yang lain, di dalam lanskap keberagamaan Indonesia, meski sejarah Indonesia berkata negara ini merdeka dari cengkraman penjajah karena merasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa jajahan dari berbagai macam agama yang ada, dan menyepakati Pancasila sebagai landasan berbangsa, sedang Islam menjadi jalan iman bangsa yang beragama Islam, namun jelas hingga kini bahwa 'kanker' di dalam kelompok persatuan Islam tersebut masih banyak yang menentang kesepakatan dan memaksa pembenaran dari kepentingan yang diamininya.

Islam yang "Kolot dan Mesum"

Pertanyaan imaji dan analisa di atas seperti kejauhan dan terlalu general untuk membaca dilema keberagaman yang ada di dalam peradaban Islam di Indonesia yang bukan negara Islam ini.

Meminjam pemikiran Bung Karno yang memahami Islam Indonesia setelah merdeka yakni; kelompok-kelompok Islam yang ada harus melepaskan diri (merdeka juga) dari paradigma "kolot dan mesum" yang menjadikan umatnya sebagaimana paradigma tersebut, ke Islam yang berparadigma "kemajuan dan kecerdasan".

Bagaimana paradigma "kolot dan mesum" itu? Dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi; Islam Sontoloyo, Bung Karno menulis:

“Islam harus berani mengejar jaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman."

Kolot dimaknai dengan cara berpikir, sedangkan mesum dimaknai hanya selalu berdialektika dan terjebak perbedaan pandangan tentang perkara syariat dalam ber-Islam layaknya aurat dan konteks fisik yang sejenis

Salah satu contoh kekolotan yang disebutkan dalam buku itu. Di antaranya yakni dalam memakaian tabir yang berfungsi untuk pembatas antara laki-laki dan perempuan. Menurut Bung Karno, tabir adalah salah satu lambang perbudakan, khususnya terhadap kaum perempuan. Pemisahan antara laki-laki dan perempuan seakan menutup persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia.

Begitupun yang terjadi di zaman yang katanya milenial dan mapan ini. Islam Indonesia, melalui kelompok-kelompok Islam, masih selalu mendebatkan tentang hal-hal yang demikian (pakaian yang islami atau tidak, memakai nama yang tidak islami dianggap sebagai musyrik. Klaim "anti-Islam" pada yang lain yang berbeda karena menganggap kelompoknya paling benar, dan hingga kekerasan-kekerasan yang dilakukan atas nama agama).

Syahdan, kelompok-kelompok Islam yang demikian inilah -meskipun minoritas- adalah kelompok yang di dalam teori ideologi sebagai fundamental dan Sontoloyo menurut Bung Karno, mereka juga salah satu bentuk "kanker" yang berefek dan terus tumbuh bertahan hingga kini, meskipun di era yang katanya maju dan modern. Oleh karena itu, paradigma "kolot dan mesum" ini jika masih dan terus tumbuh karena diamini secara cuma-cuma maka Islam tidak akan pernah menemui makna "maju dan cerdas", sebagaimana statusnya yakni rahmat lil alamin (problem solving dan dinamis di lintas zaman peradaban manusia).

Secara tidak langsung, tanpa menyebutkan perkara-perkara seperti adanya ancaman pendirian negara Islam dan berakibat layaknya perang di timur tengah yang tak pernah usai, namun selama masih eksisnya dan tumbuh suburnya orang maupun kelompok Islam yang berpandangan "kolot dan mesum" seperti yang dikatakan Bung Karno, maka penulis semakin yakin untuk memandang setiap gejolak keberagamaan yang terjadi dengan pandangan wajar.

Namun meski wajar karena perbedaan adalah khittah, yang perlu digarisbawahi yakni; mau sampai kapan beronani pada masalah yang seperti itu saja? Mau sampai kapan menjadi sektarian garis keras yang mengimani kelompoknya sendiri melebihi iman pada esensi ajaran Islam yang dinamis dan mampu menjawab setiap perkara zaman? Ataukah memang "kanker" dalam sikap beragama itu sudah akut?

Sebuah "cacat" yang tidak disadari namun sangat jelas berdampak pada cacatnya kehidupan menjadi manusia, menjadi masyarakat sosial, menjadi sebuah bangsa, menjadi bagian dari kehidupan dunia. Begitu. [k]

KOMENTAR

Name

22 Mei 2019,1,Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,174,Berita,936,cerpen,20,Dosen,5,EkspreShe,23,Essay,71,Generasi Milenial,22,Hari Buruh Internasional,3,Hari Raya,6,Hari Santri,4,Ilmu Pengetahuan,23,Keagamaan,17,Kesehatan,8,Mahasiswa,98,Muharram,1,Oase,197,Opini,152,opini mahasiswa,2,PBAK,10,politik,3,Puasa Ramadan,19,Puisi,78,Resensi,11,Resensi Buku,14,Resensi Film,22,Riset,4,Sastra,42,Semarang,1,Surat Pembaca,7,Suro,2,Teknologi,10,Toefl-Imka,12,UIN Walisongo,147,UKM,3,Wisuda,5,Zodiak,2,
ltr
item
IDEApers: Agamaku "Kolot dan Mesum"?
Agamaku "Kolot dan Mesum"?
Ada dua pertanyaan imaji di tengah dilema keberagamaan masyarakat Islam Indonesia yang hingga hari ini masih menjadi momok menegangkan, yang bukan hanya sarat akan perselisihan saja, namun juga kerusuhan, di mana nyawa menjadi taruhannya.
https://4.bp.blogspot.com/-w8QR0ec7d7E/XaCh6duAPBI/AAAAAAAAJBY/j6fVRFnGOFAPDY9Soa6rsdaINn0YJXikgCK4BGAYYCw/s640/islam%2Bkolot%2Bdan%2Bmesum.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-w8QR0ec7d7E/XaCh6duAPBI/AAAAAAAAJBY/j6fVRFnGOFAPDY9Soa6rsdaINn0YJXikgCK4BGAYYCw/s72-c/islam%2Bkolot%2Bdan%2Bmesum.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2019/10/agamaku-kolot-dan-mesum14.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2019/10/agamaku-kolot-dan-mesum14.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin