Suara

gambar: http://arsip.kabar.news
Siapa bilang kita semua boleh bersuara?

Kita, tidak hanya sekadar tumpukan "sampah ideologi" yang beronani dengan fantasi tentang revolusi saja. Namun, lebih dalam lagi, kita telah lama mati suri, sebab siklus peradaban yang terjadi seperti tak kenal dialektikum.

Pertanyaannya, kenapa hingga sampai-sampai tak kenal dengan dialektiktis? Tentu dapat dilihat, bahkan sejak dialektis marx telah sesat dipahami oleh marxian atas -yang katanya- 'revolusi' kala itu. Alhasil, kuasa pengetahuan pada pembebasan insan dari goa, dipahami menjadi problema matrealistik semata. Tanpa historis. Tanpa etis.

Selanjutnya, apapun yang dihasilkan dari sikap yang diambil pada segala bentuk terjadinya fenomena peradaban, masih pada titik "menghardik kealpaan". Itulah mengapa kita sebenarnya tak pernah bersuara.

Apakah dengan model begini, "kita" dimaknai dengan sebuah kondisi 'diam'?

Diam ketika ditinjau dalam bahasan filosofis, pada prinsipnya adalah sebuah tujuan yang namun bukan hasil terakhir dari perjalanan.

Sebuah tujuan yakni karena jika suara keluar masih belum punya makna, sama juga dengan kesesataan yang membuka bahtera ketidak-ada-an. Termasuk juga tentang dialektika perabadan.

Lalu, yang katanya "suara" selama proses evolusi mana selama ini itu bagaimana dan bermakna apa?

Memang jika membaca dari peradaban paska kesesatan pemahaman marxisme, suara-suara menjadi seperti halnya bermakna jeritan atas jeratan keangkuhan akan dunia yang sering agungkan sebagai suara-suara revolusi.

Atau barangkali kita tak pernah mengenal bahwa dalam lanskap kehidupan itu terdapat; swa-order (pengaturan diri), ke-boleh-jadian (necessity of chance), dan seleksi natural (natural selection). Sebab karena keterburuan sikap kita pada fenomena membuat suara menjadi sia-sia.

Atau bisa jadi kita kurang bisa memahami bahwa di dalam proses terjadinya suara itu ada proses menghitung renung atau diam yang harus dilakukan. Sehingga materialisme bukan tentang materi belaka yang sangat memungkinkan materi itu diciptakan oleh sebuah tragedi siasat.

Mau sampai kapan kita tak bersuara? [k]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,74,Berita,743,cerpen,19,EkspreShe,20,Essay,59,Oase,111,Opini,109,Puisi,61,Resensi,6,Resensi Buku,11,Resensi Film,20,Riset,4,Sastra,22,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Suara
Suara
Siapa bilang kita semua boleh bersuara? Pertanyaannya, kenapa hingga sampai-sampai tak kenal dengan dialektiktis?
https://2.bp.blogspot.com/-NW-D2XTmu9c/XKM7RkTyDnI/AAAAAAAAHeY/l_iqD2MbIxYcgsvyGKvv-ShhmsRXYLLpACK4BGAYYCw/s1600/Suara.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-NW-D2XTmu9c/XKM7RkTyDnI/AAAAAAAAHeY/l_iqD2MbIxYcgsvyGKvv-ShhmsRXYLLpACK4BGAYYCw/s72-c/Suara.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2019/04/suara.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2019/04/suara.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin