Merayakan Kesepian

Kehidupan manusia bermula dari gejolak kesepian. Masing-masing di dalam jiwa kita tersisa ruang kosong yang dihuni sepi. Berteriak-teriak keras setiap detik, namun hanya igauan samar-samar yang terdengar. Semacam dengung azan dari masjid terdekat yang terus mengundang kita bersamaan lagu-lagu nostalgia yang dinyanyikan dalam sebuah orkestra. 

Kesepian adalah gumam yang tak pernah berhenti memanggil-manggil kita. Meski enggan menyahut panggilan itu, ia akan mendekat dengan sendirinya. Di waktu-waktu tak terduga yang tak pernah kita inginkan. Namun segigih apa pun kita menolaknya, gumam itu semakin tak terbendungkan. Begitu datang langsung mengguncang perasaan. 

Maka itulah sebabnya kita tak perlu menolak kesepian. Karena setiap kesepian harus dirayakan, yang kadang-kadang meriah, kadang-kadang sederhana. 

Kita mengingat risalah manusia pertama di dunia. Tuhan menciptakan Adam dari tanah di bumi yang lengang yang kelak menjadi tempat pengasingannya. Ia diberi kesempatan untuk merasakan betapa indahnya surga. Tetapi tetap saja merasa hampa, apalah artinya itu semua bila ia masih sendirian, asing dan sepi dalam gelimang kenikmatan.

Di termpat terindah itu Adam terus berimajinasi tentang mahluk lain sepertinya yang akan mengisi kekosongan harinya dan kehampaan hatinya. Ketika ia tidur di bawah pohon, Tuhan mengambil tulang rusuk Adam sebagai bahan penciptaan manusia baru. Ketika bangun ia pun terkejut, wajahnya berseri, matanya berkilau saat menemukan sosok perempuan berdiri di depannya. Laki-laki itu tak lagi sendiri. Bersama Hawa ia menghabiskan hari dengan menyusuri seluk-beluk keindahan surga dan selalu penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. 

Hingga datang suatu hari ketika mereka memakan buah terlarang karena tak bisa menghindari bujuk rayu iblis. Dan setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Mereka mendapatkan hukuman diusir dari surga untuk menghuni tempat asing yang sebelumnya tak pernah dihuni manusia. 

Bumi pun teramat luas jika hanya menampung mereka. Manusia-manusia baru akan membuat suasana ramai dan riang. Namun sejak Adam dan Hawa menjadi penduduk bumi, sampai jauh beradab-abad ke depan, hingga kini sampai pada kehidupan kita, bumi masih saja terasa sangat luas. 

Barangkali sejak pertama kali diciptakan dan dilahirkan, manusia memang ditakdirkan hidup dalam kesepian. Kesepian bagai bayang-bayang yang ada di belakang kita dan terus mengikuti gerak-langkah kita. Kita tak akan pernah bebas dari belenggu kesepian. Sekali pun menganggapnya seperti hantu yang menakutkan dan harus dihindari, manusia seyogyanya sosok yang akrab dengan kesepian.

Nietzsche, filsuf eksistensialisme yang tersohor itu, menjalani hidup dalam badai kesepian. Saking akrabnya bahkan ia pernah berujar, “Kesepian adalah rumahku.” Rumah di sini bukan sebatas bangunan untuk berlindung dari panas dan hujan. Bukan tempat untuk menyimpan dan menimbun barang berharga, materi, dan kekayaan. Bukan pula hanya sebatas peristirahatan ketika letih dari setiap aktivitas yang dikerjakan.

Rumah sudah menjadi ikon tersendiri bagi kehidupan manusia. Tempat dari mana kita berasal dan di mana jiwa kita selalu terpaut dengan kehidupan di dalamnya. Tempat menghabiskan waktu dan menikmati sisa umur. Satu-satunya tempat di dunia yang paling diharapkan kembali meskipun ribuan tempat pernah kita kunjungi. Rumah sebagai satu-satunya tempat yang menggoda kaki kita untuk melangkah pulang setelah berlari jauh menyusuri gemerlapnya lorong kehidupan. 

Nietzsche memang superman, namun ia tak bisa menaklukkan kesepian yang menggerayanginya.  Mungkin itu sebab ia menjadi pemurung dan temperamen. Selalu lebih asyik ketika menyendiri, menyingkir dari ingar-bingar dan kerumunan. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga menyendiri dalam pemikiran yang membedakannya dari filsuf-filsuf pendahulunya.

Dalam gejolak sepi itu, Nietzsche tetap menunjukkan eksistensinya. Ia menyadari dirinya yang lain yang benar-benar merdeka sebagai mahluk rasional. Kesepian bukanlah derita dan keterpurukan. Justru dari situlah gema yang menjadi awal di mana pemikirannya mengguncang Eropa abad modern. Dari pergulatan dengan kesepiannya, tercipta karya fenomenal berjudul The Spake Zarathustra (Sabda Zarathustra) yang seketika membuat dunia bergejolak karena ia mengungkapkan bahwa Tuhan telah mati. 

Di zaman postmodern ini, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, di masa seluruh manusia dapat berjumpa dan bersapa melalui dunia maya, kesepian masih saja merayapi dinding-dinding jiwa manusia. Kita mungkin memiliki ribuan-jutaan teman yang selalu terhubung setiap saat. Namun satu-satunya teman yang paling setia dan abadi adalah kesepian. Ia selalu ada di saat teman-teman lain pergi meninggalkan kita.

Kesepian bukanlah kesendirian. Keramaian memang menyelamatkan kita dari kesendirian, tetapi belum tentu bisa menyingkirkan kesepian. Orang yang berada di tempat ramai, suasana ingar-bingar, akan tetap merasa kesepian bila kehampaan menggelayut dalam dirinya. Sedangkan orang yang sendirian bisa saja menghilangkan kesepiannya karena menghadirkan sesuatu yang hidup untuk mengusir kesepian itu. Karena kesepian berumah di dalam jiwa, tak telihat, tanpa ukuran fisik, bebas datang-pergi begitu saja sesuai kondisi jiwa masing-masing.

Kesepian dapat membantu kita untuk berpikir jernih. Kondisi ini mengantarkan manusia untuk dapat mengenali dirinya sendiri, mengenali lingkungan, dan mengenali sosok Yang Agung. Perenungan atas peradaban dunia terlahir di tempat-tempat sepi. Pergumulan dengan kesepian melahirkan dinamika kehidupan dan menjadi tonggak perubahan setiap zaman.

Dalam sejarah tercatat orang-orang hebat yang lahir dari pergulatannya dengan kesepian. Asing hanyalah imajinasi tentang diri kita sendiri yang tak mampu merayakan kesepian. Tokoh paling berpengaruh di dunia, Muhammad menjelang menjadi rasul menghabiskan waktunya bergulat dengan sepi di Gua Hira hingga mendapatkan tugas suci dari-Nya. Soekarno menjalani pengasingan berkali-kali di berbagai tempat sunyi untuk merenungkan nasib bangsa yang penuh derita hingga berhasil membebaskan bangsa ini dari cengkeraman iblis kolonial. 

Kita adalah mahluk terkutuk yang mewarisi kesepian Adam. Di dunia yang semakin gaduh ini kita merasakan menjadi sosok paling kesepian. Internet dan media sosial menjadi alat yang berusaha mengusir sepi, namun dalam diri kita sendiri ada yang merintih dan memanggil-manggil. Ribuan informasi dan pesan masuk dalam setiap detik yang terhimpun di gawai tetap saja membuat kita larut dalam gelombang kesepian yang begitu nyata. 

Miliran orang tampak bahagia dengan segala citra yang ia suguhkan di dunia virtual. Bumbu-bumbu keindahan dan kemolekan yang tampil dari hal-hal fisikal menimbulkan kesenangan sesaat. Sejenak berhasil membuat kita merasa menjadi orang yang diperhatikan banyak orang. Namun kesepian masih saja tak dapat beralih. Justru semakin menyeret kita dalam kehampaan, yang membuat kita terus berada dalam kebahagiaan yang maya dan kesepian yang nyata. 

“Jika kau tidak mencintai kesepian, kau tidak mencintai kebebasan,” kalimat Arthur Schopenhauer bukan membesarkan diri orang-orang yang dirundung sepi. Pada dasarnya kesepian patut dicintai sebagaimana kita mencintai kebebasan. Kita yang merasa malang pada kesepian diri sendiri tak pernah mencintai kodrat kebebasan kita sebagai manusia. Karena dalam kesepian kita menjadi manusia merdeka, bebas mengekspresikan segala hal. Lupakan ketakutan kepada puisi Chairil Anwar, bahwa kita tak akan mampus meski dikoyak-koyak sepi. Marilah merayakan kesepian kita. 
[Mahfud]


KOMENTAR

Name

2021,4,22 Mei 2019,1,Abu Nawas,1,Advertorial,3,al-ikhlas,1,Al-Qur'an,3,Albert Camus,2,Albert Estein,2,Anak,1,Anak laki-laki,1,Analisis Utama,2,Animal Farm,1,Artikel,402,Beasiswa,4,Begadang,1,belajar,1,berdoa,2,Berita,1195,buku,2,Bulan Ramadan,3,Carl jung,1,cerpen,24,Corona virus,63,Daun kelor,1,Demokrasi,1,EkspreShe,31,Essay,116,Filsafat,20,FUHUM,3,Generasi Milenial,27,George Orwell,1,globalisasi,1,Guru,1,hak cipta buku,1,Harapan,2,Hari Buku Internasional,1,Hari Buruh,1,Hari Buruh Internasional,3,Hari Jumat,1,Hari Kartini,1,hari kemerdekaan,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hari Raya,11,Hari Santri,4,idul adha,3,Ilmu Pengetahuan,63,Imam Nawawi,1,Iwan Fals,1,Kahlil Gibran,2,Kapitalis,1,Keagamaan,57,Kebahagiaan,2,kecerdasan,1,kemerdekaan,1,kesadaran,1,Kesehatan,26,KI Hajar Dewantara,1,Kitab Allah,1,KKN,6,Komunikasi,3,kopi,1,Korean Wave,1,Kuliah,3,Kuliah luar negeri,1,Kuliah Online,21,Kuliah tatap muka,1,Literasi,1,Machiavelli,1,Mahasiswa,308,makna hidup,1,Maksiat hati,1,Membaca cepat,1,Mendikbud,1,mental,1,Menulis,1,modernitas,1,Muhammad,5,Muhammad Iqbal,1,Musik,1,Nabi Muhammad,2,New Normal,18,Ngaliyan,1,Oase,317,Olahraga,1,Opini,226,opini mahasiswa,17,pancasila,1,Pandemi,4,PBAK,24,Pendidikan,4,Penyair,1,Perempuan,5,Pertemanan,1,politik,3,Post-truth,1,Potret Berita,4,Pramoedya Ananta Toer,1,Psikologi,14,Puasa,8,Puasa Ramadan,40,Puisi,119,Quotes,1,Rasulullah,1,Resensi,20,Resensi Buku,19,Resensi Film,26,revolusi industri,1,Riset,4,Sahabat,2,Sastra,94,Second Sex,1,Semarang,41,Shalawat,1,Skripsi,3,stoic,1,sufisme,1,sumpah pemuda,1,Surat Pembaca,7,tafsir,2,Tafsir Misbah,1,Tafsir Surah Fatihah,2,Tahun baru,2,tasawuf,1,Taubat,1,Teknologi,28,tips,1,Toefl-Imka,15,Toxic,1,UIN Walisongo,363,UKM,6,ukt,21,Wisuda,52,Writer's block,1,Zodiak,3,zoom meeting,1,Zuhud,1,
ltr
item
IDEApers: Merayakan Kesepian
Merayakan Kesepian
Kehidupan manusia bermula dari gejolak kesepian. Masing-masing di dalam jiwa kita tersisa ruang kosong yang dihuni sepi.
https://1.bp.blogspot.com/-HXQwrV_T3l0/X-Fo0q_aJkI/AAAAAAAALPA/V8kbKJ64XnoNXrjNTTbSbHflziZdxXrmACLcBGAsYHQ/w640-h361/sepi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-HXQwrV_T3l0/X-Fo0q_aJkI/AAAAAAAALPA/V8kbKJ64XnoNXrjNTTbSbHflziZdxXrmACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h361/sepi.jpg
IDEApers
https://www.ideapers.com/2020/12/merayakan-kesepian.html
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/
https://www.ideapers.com/2020/12/merayakan-kesepian.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin