‘Labeling’, Kampusmu Favorit atau Ecek-Ecek?

dok. Farid

Kuliah di universitas (kampus) ternama menjadi dambaan bagi para mahasiswa. Apalagi orang tua dan para guru yang begitu bangga ketika melihat anak dan muridnya kuliah di kampus yang banyak melahirkan lulusan terbaik, berfasilitas lengkap, dan jenjang karir yang menjanjikan. Namun, bagi saya hal itu hanyalah angan-angan, mengingat masuk kampus ‘ternama’ jelaslah susah.

Bagaimana tidak? Lah saya saja yang sudah berdoa dan berusaha membeli buku “Tips Jitu Lolos SNMPTN”, mengikuti les rutin setiap sore selama tujuh hari, ditambah setiap weekend mengerjakan soal-soal ujian. Tapi hasilnya? Nihil.

Tentu saya merasa frustasi. Perasaan hampa dan malu terus menghantui diri saya. Akhirnya, terpaksa saya masuk di jurusan yang sama sekali tidak pernah saya impikan dan bayangkan. Duh, nyesek! Kalau tidak diambil, gengsi pada teman-teman kalau tidak melanjutkan kuliah. Alhasil, saya masuk kampus yang tidak sesuai dengan harapan.

Saat ini saya kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kebanyakan orang-orang menyebutnya sebagai kampus pilihan terakhir alias kampus untuk mahasiswa buangan. Banyak orang meragukan kualitas lulusan dari kampus saya ini. Terlebih saya masuk di fakultas yang pilihan prodinya sering dikatakan sebagai jurusan akhirat. Haha, menggelikan bukan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Nanti lulus jadi apa?” “Orientasi kerjanya di mana?” “Bisa menjadi kaya nggak?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang sering menciutkan nyali. Terlebih dengan asumsi-asumsi yang bergulir di masyarakat menciptakan kelas yang membentuk strata kampus, antara yang ‘bagus’ dan yang ‘jelek’.

Berbeda dengan perspektif di masyarakat, di dalam brosur yang dibagikan oleh fakultas mengatakan lulusan mahasiswa seperti saya ini bisa menjadi tenaga pendidik di bidang jurusan, asisten peneliti, pekerjaan yang mapan dan bergaji tinggi. Tetapi entahlah, kita kan tidak pernah tahu nasib setiap manusia, termasuk nasib mahasiswa setelah lulus kuliah.

Pada era globalisasi seperti ini, persaingan semakin ketat dan menggila. Hal tersebut dapat dirasakan secara langsung seperti sulit mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan. Salah satu penyebabnya adalah era bonus demografi dan kompetisi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Di sisi lain, kriteria pekerja saat ini diharuskan memiliki gelar S1 (Sarjana) dan skill yang kompeten. Jika tidak memiliki skill dan nilai lebih, maka dengan sendirinya akan tertinggal dan terbuang.

Setelah saya masuk dan menjalani dunia perkuliahan juga berinteraksi dengan banyak orang. Termasuk dengan para senior, baik yang belum lulus maupun sudah, pikiran saya tercerahkan. Saya baru mengetahui bahwa citra sebuah kampus bukanlah segalanya. Ketika lulus dari kampus kemudian mencari pekerjaan dan terjun langsung di tengah-tengah masyarakat, yang dicari dan ditanyakan pertama kali bukanlah “Kamu lulusan dari mana?” tetapi “Kamu mempunyai kemampuan (skill) apa?”

Berbeda dengan orang-orang yang masih melihat kampus dengan mata kuantitatif. Dunia perkuliahan masih dianggap menjadi medium utama umtuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Serta citra kampus yang baik (perspektif kebanyakan orang) menjadi jalan untuk mendapat kekayaan. Kampus biru, kampus kuning, dan warna-warni kampus lainnya (bagi masyarakat menengah ke atas) adalah kampus yang layak dan terjamin. Sementara kampus masyarakat menengah ke bawah dianggap tidak menjamin mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Nyatanya, banyak orang-orang hebat yang saya temui, dulunya bukan lulusan dari kampus dengan citra ‘hebat’ di masyarakat. Ada pula yang berasal dari kampus dengan citra ‘hebat’ tetapi mereka meniti karir dengan usaha dan kerja keras sendiri, bukan karena citra kampusnya.

Fenomena ‘pencitraan’ kampus yang sudah menjadi nilai di mayarakat, dengan sendirinya membentuk strata sosial dan menjadi permasalahan tersendiri bagi para calon mahasiswa. Pelabelan nama kampus yang memiliki passing grade tinggi membentuk mitos dalam meraih cita-cita dan posisi di masyarakat. Begitu terus, berlangsung setiap saat, mitos yang bergulir belum mampu diruntuhkan, dan tetap pelik bagi para mahasiswa.

Dilema yang sempat saya rasakan terkait keputusan kuliah di mana, sedikit demi sedikit memudar dan mulai menikmati apa yang saya lakukan di sini. Apalagi perkuliahan saya sedikit santai dan lebih banyak menggunakan model forum diskusi. Sehingga saya mendapatkan ruang untuk mengeksplor dan mengembangkan skill saya.

Saya mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus. Dari sana saya belajar banyak hal yang berkaitan dengan kegemaran saya dan menjadi terbiasa bersentuhan dengan hal-hal teknis yang jauh dari materi perkuliahan. Meskipun saat ini saya masih belum bisa menjawab pertanyaan, “nanti kalau sudah lulus mau jadi apa?” Setidaknya sedikit demi sedikit saya mulai menemukan passion saya. Mungkin saja ini jalan saya untuk melakukan perubahan atas diri saya untuk bisa bereksistensi di ruang sosial.

Ketika membahas tentang hal ini, saya teringat dengan ‘Habitus’, salah satu teori yang digagas oleh filsuf Perancis, Pierre Bourdieu. Menurutnya, jika kita akan melakukan perubahan maka kita harus punya modal. Jika menginginkan kesuksesan, maka harus memiliki modal untuk mencapai kesuksesan tersebut. Bourdieu juga mengatakan untuk mendapatkan modal, harus melalui proses yang serius dan berulang-ulang sehingga menjadi nilai yang tertanam dalam diri.

Begitulah,  proses menjadikan passion sebagai skill sebagai modal bergelut di arena yang penuh dengan persaingan, sangat diperlukan adanya konsistensi dan keuletan. Kalau malas berlatih, ya.. cita-cita yang diimpikan hanya menjadi bunga tidur selamanya.

Salah satu pepatah Jawa mengatakan, “Sopo nandur bakal ngunduh” (siapa yang menanam dia yang akan memanen). Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen. Semakin banyak menanam, akan semakin banyak memanen. Semakin malas melatih diri, semakin tertinggal dan terlupakan. Bukan lagi tentang ‘citra’ kampus, tetapi seberapa sering berlatih dan produktif. Lantas sebagai mahasiswa, akankah kita tetap terjebak dalam fatamorgana nama besar kampus atau bergerak melakukan perubahan demi tercapainya kesuksesan yang diimpikan? [Farid]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,13,Berita,616,cerpen,15,EkspreShe,18,Essay,39,Oase,70,Opini,70,Puisi,51,Resensi,4,Resensi Buku,10,Resensi Film,19,Riset,4,Sastra,8,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: ‘Labeling’, Kampusmu Favorit atau Ecek-Ecek?
‘Labeling’, Kampusmu Favorit atau Ecek-Ecek?
Pelabilan kampus favorit, kampus terkenal, kampus biasa menimbulkan adanya strata sosial pada masyarakat.
https://2.bp.blogspot.com/-fn9F9ebhRR8/XAeeGjoiyZI/AAAAAAAAGbI/OSU6ovYYAgAPH4EgWM-WTG2tH2NYHRHiQCK4BGAYYCw/s1600/%25E2%2580%2598Labeling%25E2%2580%2599%252C%2BKampusmu%2BFavorit%2Batau%2BEcek-Ecek.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-fn9F9ebhRR8/XAeeGjoiyZI/AAAAAAAAGbI/OSU6ovYYAgAPH4EgWM-WTG2tH2NYHRHiQCK4BGAYYCw/s72-c/%25E2%2580%2598Labeling%25E2%2580%2599%252C%2BKampusmu%2BFavorit%2Batau%2BEcek-Ecek.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2018/12/labeling-kampusmu-favorit-atau-ecek-ecek.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2018/12/labeling-kampusmu-favorit-atau-ecek-ecek.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin