Satu Derita Sebuah Negeri




Jauh di atas sana, ada sebuah negeri, negeri di atas angin. Penduduknya hidup rukun dari waktu ke waktu yang sangat lama. Penduduk atas angin selalu datang berkunjung ke bumi, menyamar menjadi penduduk bumi. Tapi penduduk bumi tak menyadarinya, walaupun mereka sering berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja, mereka tidak sadar.

Hal itu menjadi kesempatan baik bagi penduduk atas angin. Karena satu pembahasan terbesar bagi penduduk atas angin adalah kesemrawutan penduduk bumi hampir dalam segala hal.

---oOo---

Satu ketika di bumi, di sebuah negeri yang konon katanya menjadi tempat di mana surga langit bocor, dan kebocorannya jatuh di negeri tersebut. Tanaman tumbuh dengan sendirinya tanpa harus ditanam karena tanahnya yang begit subur. Kekayaan alamnya yang ada di daratan dan lautan, konon bisa mencukupi seluruh kebutuhan hidup rakyatnya, sehingga mereka tak perlu untuk mengemis pada negeri lain.

Sayang, penduduknya saling tak acuh terhadap sesama. Sisi kemanusiaan mereka runtuh. Di bawah sebuah pohon rindang, di depan sebuah rumah ibadah yang megah, dua penduduk bumi sedang ngobrol santai. Yang satu berambut pendek dan agak kemerahan terkena sengatan matahari, dan yang lain berambut panjang dan hitam.



"Hai, hari ini kau tidak pergi sembahyang kepada Dewa Bumi?" tanya si rambut pendek.

"Untuk apa?"

"Tentu saja karena kita selalu ingin mengabdi kepada-Nya bukan?"

"Benarkah begitu? Tapi aku sungguh meragukannya."

"Tentu saja karena aku ingin mengabdi kepada-Nya."

"Pastilah jawaban itu yang akan kau berikan. Hidupmu berkecukupan dalam segala hal. Begitu pula aku. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang hidup melarat, tak punya apa-apa selain nyawa yang bersemayam di dalam tubuh mereka yang tinggal tulang dan terbungkus kulit itu," katanya sambil memandang ke arah pasar di seberang jalan sana.

"Apa mereka juga menyembah Dewa Bumi karena untuk mengabdi? Memberikan hidup mereka untuk mencari sesuap nasi demi hidup mereka saja tidak mampu, apalagi memberikan hidup mereka kepada Dewa Bumi."

"Sejujurnya, aku selalu bertanya dalam hati, Apakah ada manusia yang hidup di zaman sekarang yang bisa tulus karena dan hanya untuk Dewa? Aku tak pernah temukan jawabannya sampai sekarang. Aku hanya memiliki keyakinan bahwa menyembah Dewa Bumi tentu saja untuk meminta agar ia selalu memberi kesejahteraan kepada kita dan keturunan kita, selama kita masih hidup di dunia."

"Lalu, bagaimana dengan Dewa Langit? "Ah, Dewa Langit. Tentu saja agar nanti, setelah kita mati kita masuk surga."

Terkadang sesekali mereka mengamati pasar di seberang jalan sana. Pasar, di mana orang-orang berada membeli dengan uang dan orang-orang miskin meminta dengan ketakberdayaan mereka. Kontras dengan rumah ibadah megah yang berada di seberangnya.

"Hanya, jika saja dirimu bertemu dengan para Dewa, dan mereka bertanya padamu, 'Untuk apa kau menyembahku?' Apa jawabanmu?"

"Tentu saja aku akan menjawab, Untuk mengabdi kepadamu, hanya kepada-mu Dewa."

"Tapi, bukankah itu berarti kau tidak jujur."

"Siapa peduli dengan kejujuran? Bukankah sebagai sesama manusia, kita sama-sama tahu bahwa apa yang tampak di luar bagus, maka secara tidak langsung di dalam juga dianggap bagus? Lagipula, bukankah manusia selalu mencari jalan keselamatan dan kebahagiaan masing-masing. Tak ada peduli dengan yang lain, selama dirinya bisa selamat. Tak melihatkah dirimu pada para pemuka agama dan pembesar di negeri ini? Mereka seperi tangan-tangan Dewa di bumi bukan!? Jika kau dekat dengan mereka, kau akan selamat segalanya. Bahkan dari kematian."

"Tapi, pada akhirnya pun kita akan mati."

"Kukira Dewa bisa memaklumi hal tersebut. Tapi, bukankah Dewa itu suka disembah dan dipuji? oleh sebab itu, bagi para manusia yang memberikan sesaji kepada-Nya, ditingkatkan kehidupannya. selamat dan bahagia selama hidup dan setelah mati. Dan semua itu, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai harta yang banyak, karena dengan harta, mereka bisa memberikan sesaji terbaik dan membuatkan Dewa rumah ibadah yang megah dan bagus. Dengan begitu, Dewa akan senang dengan kita dan akan selalu memberikan apa yang kita minta."

"Hmmm... aku lupa, Aku harus pulang segera. Karena aku mau pergi ke kota."

"Baiklah kalau seperti itu."

Tak disadari oleh mereka berdua, di belakang pohon tempat mereka berteduh ada dua orang laki-laki yang secara tidak sengaja sejak awal mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka berdua kira-kira seusia, setengah baya. Yang satu berpakaian seperti layaknya penduduk dari kalangan keluarga berada, dan yang satu berpakaian lusuh dan ada beberapa bagian yang robek. Tiba-tiba mereka lewat di depan dua orang yang sejak tadi asyik mengobrol.

Setelah kepergian si rambut pendek, kedua orang tersebut muncul hampir berbarengan. Laki-laki yang berpakaian bangsawan berniat menghampiri si rambut panjang yang masih duduk santai di bawah pohon, dan laki-laki yang berpakaian lusuh pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke depan pintu gerbang rumah ibadah, lalu duduk di sana dan meminta belas kasihan dari setiap pengunjung yang lewat.

"Permisi, maaf bapak mau ke rumah ibadah?" Sapa si rambut panjang.

"Iya", sambil mengalihkan pandangnya dari orang yang menanyainya.

"Sepertinya bapakbukan orang sini, dan sepertinya bapak juga seorang bangsawan."

"Iya, saya dari desa seberang sungai. Kebetulan tadi lewat sini setelah dari kota."

"Kalau begitu, Bapak mampir kerumah ibadah yang tepat. Rumah ibadah kami adalah rumah ibadah termegah dari rumah ibadah daerah-daerah lain."

"Begitukah?" Jawabnya sambil tersenyum sinis. Tapi dengan pandai disembunyikannya. "Ah, ya, sepertinya memang begitu. Hmmm... kalian memiliki rumah ibadah yang bagus, pasti penduduknya rajin beribadah di rumah ibadah ini."

"Tentu saja," katanya dengan bangga.

"Lalu, bagaimana dengan kemakmuran penduduknya?"

"Owh, penduduk kami baik-baik saja, hidup berkecukupan dari hasil pertanian dan peternakan kami. Anak-anak kami juga memperoleh pendidikan yang baik di kota."

"Owh, begitu ya. Tapi sepertinya ketika saya lewat pasar tadi, banyak orang yang meminta-minta di sana."

"Oh......... itu. Setahu saya, mereka bukan penduduk sini. Mereka dari daerah lain datang ke sini mungkin untuk merantau, mencari uang untuk keluarga mereka. Akan tetapi, karena mereka tidak mempunyai pendidikan yang layak, maka mereka pun tidak mendapatkan pekerjaan yang layak


"Bukankah mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak karena tidak memiliki uang?"

"Mereka tidak mempunyai cukup uang kan ,karena mereka malas bekerja. Coba saja lihat pengemis di depan pintu gerbang rumah ibadah itu. Dia kan masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan tampaknya juga masih berfungsi sebagaimana mestinya, usianya juga terlihat belum cukup tua. Intinya dia masih mampu bekerja dengan baik. Tapi, kenapa ia lebih memilih mengemis daripada pekerjaan lain yang lebih layak?"

"Bukankah Anda sendiri yang bilang, orang seperti dirinya tidak memiliki pendidikan yang layak, sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak pula. Dan, pendidikan yang layak hanya bisa didapat jika orang tersebut memiliki uang yang cukup bukan!? Tapi sayangnya dia tidak memiliki uang yang cukup itu. Jadi, apa atau siapa yang salah?"

"Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu?" Wajah si rambut panjang itu mulai memerah.

"Tentu saja dia yang salah."

"Bagaimana mungkin Anda bisa berkata seperti itu?"

"Tentu saja, mungkin dia tidak memberikan sesembahan terbaik Dewa, sehingga para Dewa mengutuk hidup dan mungkin juga matinya."

"Bukankah orang-orang berada seperti kitalah yang mengenyam pendidikan yang seharusnya mendidik dan mengajarkan kepada mereka?

"Untuk apa? Buang buang waktu saja. Saya masih memiliki anak dan istri yang juga meminta perhatian saya. Di samping itu, banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Kalau saya membuang waktu hanya untuk mengajar mereka, saya sendiri yang rugi."

"Tapi,...."

"Ah, sudahlah. Bapak kan bukan orang sini, mana mungkin Bapak tahu kondisi desa ini," Katanya ketus sambil tersungut-sungut berlalu pergi dengan muka merah padam.

---oOo---

Beberapa waktu setelah obrolan si Rambut Panjang dan Rambut Pendek, digelarlah sebuah pertemuan yang membahas tentang kehidupan di bumi.

"Kemarin aku ke bumi. Tak sengaja mendengar perbicaraan mereka. Apa penduduk bumi kira, setelah mereka memberikan sesembahan terbaik dan membangun tempat ibadah yang megah untuk para dewa, hidup mereka dijamin akan terus makmur? Apa mereka telah lupa dengan bencana-bencana yang diturunkan oleh para Dewa di belahan bumi karena manusia-manusianya suka memuliakan para Dewa, tetapi tak pernah peduli terhadap kehidupan orang0orang di sekitanya?"


"Perpecahan di sana-sini. Mereka suka sekali mengatasnamakan perintah dari dewa untuk membuat peperangan, menciptakan permusuhan untuk menuju kehancuran."

"Lebih mengerikan dari itu, mereka para penguasa di bumi mencoba untuk mengambil alih hak para Dewa seperti hak untuk menghidupkan atau mematikan. Yang berkuasa bisa membeli agama, yang lemah hanya bisa bergantung pada yang berkuasa."

"Mengapa sesama penduduk bumi suka menciptakan tiang gantungan bagi yang tertindas, terkadang juga memaksa untuk menciptakan tiang gantungan mereka sendiri? Tidakkah mereka ingat, belakangan banyak terjadi peningkatan kasus gangguan kejiwaan dan kematian akibat penindasan?"

"Ya, seorang bapak yang membunuh anaknya yang masih berumur satu tahun dan seorang perempuan hamil yang akhirnya mati gantungan karena tak sanggup membayar utangnya."

"Juga seorang anak yang mati di tali gantungan akibat tidak mampu untuk membayar uang ekstrakulikuler sekolahnya yang hanya Rp 2.500."

"Religiusitas mereka semu. Mereka penduduk bumi, menjadi semacam manusia-manusia yang religius fatalis, merasa berhak mewakili Dewa dalam menentukan hidup mati seseorang."

"Religiusitas yang mungkin tak bisa lagi bersanding dengan kesalehan sosial. Lalu apa lagi?"

"Keberagamaan yang mengalami komplikasi."

"Tinggal menunggu para Dewa menurunkan bencana, sehingga semuanya hilang dari muka bumi. Dengan begitu, semuanya akan damai."

"Ah, bukankah itu terlalu kejam? Seandainya saja, seluruh manusia di bumi bisa hidup dengan rukun dan dan damai di atas segala perbedaan. Betapa indahnya."

---oOo---

Sekali lagi di bumi

"Oh Dewa, tolonglah kami. Negeri kami mengalami kekeringan saat musim kemarau, dan sekarang air bah di mana-mana saat musim penghujan seperti ini. Tidak hanya itu, peperangan dan berbagai kehancuran di negeri kami semakin hari semakin menyedihkan. Apa salah dan dosa kami? Kami selalu menyembahmu, bukan!? Rumah ibadah untuk-Mu kami bangun dengan megah, sesaji yang tak pernah berkurang, bahkan lebih. Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk Mu agar kami terbebas dari semua ini?"

---oOo---

Dan lagi, di langit

"Manusia-manusia itu, mengapa mereka tak lekas sadar diri dengan perbuatan mereka?"

"Terkadang aku berpikir mereka tak lekas sadar karena mungkin mereka sedang mengalami amnesia kolektif, hingga patologi-patologi sosial mulai bermunculan, rasa saling memiliki hilang. Semua terlihat menyedihkan."

"Kalau begitu, mengapa tidak sekalian saja Dewa meluluh-lantakkan bumi dan seisinya agar tiada lagi pertumpahan darah?" [Aj's]



*Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah IDEA Edisi 33, Membunuh Kuasa Waktu.

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,5,Berita,591,cerpen,14,EkspreShe,17,Essay,33,Oase,62,Opini,58,Puisi,44,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,18,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Satu Derita Sebuah Negeri
Satu Derita Sebuah Negeri
Satu Derita Sebuah Negeri
https://1.bp.blogspot.com/-jEXzi4Hz-IU/WcdbUYgyagI/AAAAAAAAEtY/uzGBFCFu9bkiaqOLCqptF2TEwZLxHE4hwCK4BGAYYCw/s1600/cerpen-ideapers.com-derita-sebuah-negeri.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-jEXzi4Hz-IU/WcdbUYgyagI/AAAAAAAAEtY/uzGBFCFu9bkiaqOLCqptF2TEwZLxHE4hwCK4BGAYYCw/s72-c/cerpen-ideapers.com-derita-sebuah-negeri.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/09/satu-derita-sebuah-negeri_24.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/09/satu-derita-sebuah-negeri_24.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin