Guru, Masihkah Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?

Gambar: Tempo.co


Dulu ketika duduk di bangku taman kanak-kanak, guru kita tentunya pernah bertanya tentang cita-cita kita ketika besar nanti. Jawaban tiap anak pasti beda-beda.  Ada yang bercita-cita jadi dokter karena ingin menolong orang yang sakit. Ada juga yang bercita-cita jadi guru, yang sering disebut 'pahlawan tanpa tanda jasa'.

Menurut saya, julukan 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang disematkan pada guru sangat unik. Bagaimana tidak, lha pahlawan kan biasanya dikenal karena jasa-jasanya. Lha ini kok disebut pahlawan tapi tidak ada tanda jasanya. Mengapa guru disebut seperti itu?

Saya ambil dua kata kunci dari julukan tersebut. Pertama, pahlawan. Sebenarnya siapa yang pantas menyandang sebutan pahlawan. Apakah super hero seperti superman, spiderman, dan batman? Atau setiap orang yang berjasa untuk orang lain? Kalau seperti itu, berarti tukang becak pun bisa disebut pahlawan, karena berjasa mengantarkan penumpang

Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri tentang pahlawan. Saya sering menjumpai puisi-puisi yang berjudul "ayahku pahlawanku". Mereka membuatnya karena terinspirasi dengan apa yang dilakukan dan diperjuangkan ayahnya. Biasanya puisi-puisi itu menceritakan kerja keras dan banting tulang seorang ayah demi menafkahi keluarganya. Meski itu memang sudah menjadi kewajibannya, ya kan.

Sebenarnya semua orang bisa disebut sebagai pahlawan, dalam konteks masing-masing. Misal, petani menjadi pahlawan karena jasanya sebagai penyedia bahan makanan pokok sehari-hari. Bayangkan saja jika tidak ada petani, kita mau makan apa?

Dari kecil kita diajarkan untuk selalu menolong orang lain, berbagi dengan orang-orang di sekitar kita, dan lain sebagainya. Bahkan, meyingkirkan kerikil atau paku-paku yang ada di jalan, itu juga bisa disebut sebagai pahlawan. Karena berjasa menghindarkan malapetaka bagi orang lain.

Kembali ke konteks guru, menurut saya mereka pantas disebut pahlawan. Mereka menyalurkan dan mengajarkan ilmu kepada orang lain sekaligus mendidiknya. Kita dapat membaca huruf A, B, sampai Z pun juga berkat jasa guru kan. Tidak mungkin kita lahir langsung paham aksara. Berkat ajaran dan didikan mereka lah, kita dapat membaca, menulis, dan berpengetahuan. Jangan lupakan jasa gurumu kawan.

Kedua, tanda jasa. Hal ini yang ramai diperbincangkan banyak orang. Apakah guru sekarang tidak ada tanda jasanya? Lantas, indikator apa yang bisa menunjukkan jasa seorang guru?

Menengok sejarah, para pejuang kemerdekaan dengan senjata ataupun tanpa senjata, rela menyerahkan jiwa dan raga untuk mencapai cita-cita besar, yaitu kemerdekaan. Sehingga terlihat indikator apa saja yang menjadikan mereka disebut sebagai pahlawan. Pelabelan 'pahlawan' pun bisa terlihat dengan jelas. Seperti keputusan presiden yang menetapkan seorang tokoh sebagai pahlawan nasional, pembangunan patung pahlawan terkait, menyematkan namanya sebagai nama jalan, dan banyak hal lain. Meskipun masih banyak pahlawan kemerdekaan yang kurang perhatian dari pemerintah. Hasil survei kompas Rabu (9/11/18) pun menunjukkan bahwa memperjuangkan kesejahteraan bagi banyak orang merupakan nilai kepahlawanan yang paling tinggi.

Sementara guru? Kita sering mendengar julukan khusus untuk para guru, yakni 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Mungkin sedikit aneh, yang namanya pahlawan kok bisa tanpa tanda jasa. Mereka dengan ikhlas mendidik anak-anak demi mencerdaskan bangsa. Kepahlawanan guru tidak terlihat dalam sesuatu yang nampak. Jika jasa pejuang kemerdekaan terlihat dalam usahanya mengusir penjajah, maka jasa guru bisa terlihat usahanya dalam mengusir kebodohan. Lalu di mana tanda jasa itu? Apakah tidak ada bentuk konkret yang menandakan guru sebagai pahlawan seperti hal-nya para pejuang kemerdekaan?

Saya rasa, tanda jasa itu sudah ada sekarang, melalui sertifikasi dan penghargaan kepada guru yang berprestasi. Namun, adanya sertifikasi itu, membuat orang berlomba-lomba menjadikan dirinya sebagai guru. Orientasi yang diberikan bukan lagi sekadar mendidik anak bangsa, tetapi lebih pada mencari materi. Meskipun tidak menafikan masih ada juga guru yang memang tulus mengajar anak didiknya. Seperti guru-guru yang ada di daerah pelosok. Lingkungan yang belum terjamah oleh pendidikan, dan dengan sukarela berbagi ilmu untuk mereka yang perlu sentuhan pendidikan.

Seiring berjalannya waktu, persepsi tentang guru semakin bergeser. Jika dulu guru mengajar demi mendidik anak-anak bangsa, sekarang guru mengajar hanya demi profesi, meski tidak semua. Hal ini terlihat dengan maraknya aksi mogok mengajar di beberapa daerah. Seperti yang terjadi di Kabupaten Mimika, Papua, ribuan guru mogok tidak mau mengajar (Kompas, 17/10/18). Sangat disayangkan, guru yang seharusnya mengajar dan mendidik malah melakukan aksi yang tidak pantas ditiru oleh anak didiknya. Akibatnya, banyak siswa yang terlantar di sekolahnya karena tidak ada gurunya. Pemandangan yang menyedihkan menurut saya.

Mereka yang mogok mengajar menuntut hak-haknya agar segera dipenuhi. Yang saya sayangkan adalah, ada sejumlah guru yang berpikir dirinya paling bisa dan benar. Mereka menganggap kualitas guru sekarang - terutama kaum muda - rendah. Mereka merasa lebih bisa dan kaya akan pengalaman. Saya miris sekali mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut seorang yang menganggap dirinya sebagai guru. Setelah melihat berbagai fenomena seperti itu, masih layakkah guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

Saya melihat aksi mogok mengajar ini mencerminkan bahwa guru zaman sekarang tidak lagi seperti zaman dulu. Meski banyak persoalan yang rumit, saya tetap meyakini guru masih lah seorang pahlawan terbaik.  Saya tidak ingin memberi embel-embel dengan tanda jasa atau tanpa tanda jasa. Karena guru telah menyelamatkanku dari jurang ketidaktahuan. Pahlawan yang ingin memajukan bangsa dengan ilmu yang dimiliki. Mendidik dan mencerdaskan anak-anak penerus bangsa demi kemajuan negeri. [EL]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,8,Berita,603,cerpen,14,EkspreShe,18,Essay,37,Oase,66,Opini,62,Puisi,46,Resensi,2,Resensi Buku,9,Resensi Film,18,Riset,2,Sastra,2,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Guru, Masihkah Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Guru, Masihkah Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Guru yang mengajar dan mendidik anak-anak bangsa berjasa besar untuk negeri ini, sehingga mendapatkan julukan 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, persepsi tentang guru semakin bergeser. Jika dulu guru mengajar demi mendidik anak-anak bangsa, sekarang guru mengajar hanya demi profesi.
https://2.bp.blogspot.com/-e_M899KXAy8/W-apGTYgRoI/AAAAAAAAGPs/bDHRRXFBWMgVr-0ckbKlaPWqGxDMLrWpQCK4BGAYYCw/s1600/Guru%252C%2BMasihkah%2BDisebut%2BPahlawan%2BTanpa%2BTanda%2BJasa.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-e_M899KXAy8/W-apGTYgRoI/AAAAAAAAGPs/bDHRRXFBWMgVr-0ckbKlaPWqGxDMLrWpQCK4BGAYYCw/s72-c/Guru%252C%2BMasihkah%2BDisebut%2BPahlawan%2BTanpa%2BTanda%2BJasa.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2018/11/guru-masihkah-disebut-pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2018/11/guru-masihkah-disebut-pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin