Latah Intelektual Bangsa Kita Kini

lustrasi: nusantaramengaji.com


Dewasa ini, banyak sekali orang Islam yang belum jelas kualitas pemahamannya atas agama, namun berani membuat sebuah hukum atau fatwa. Mereka seenaknya menghukumi sesuatu tanpa menggunakan dasar yang jelas, hanya menggabungkan suatu kejadian dengan beberapa dalil saja, bahkan seringkali dengan mudah menafsirkan sendiri maksud dari ayat atau surat dalam al Quran dengan peristiwa yang ramai dibincangkan. Orang-orang tersebut cenderung bertindak seakan paling baik pemahaman agamanya dan merasa paling intelektual atas segala sesuatu yang dikatakan.

Pada faktanya, apa yang mereka kerjakan tersebut menggunakan media internet dalam menyebarkan fatwa-fatwa untuk diyakini kebenarannya di mata publik. Orang-orang yang merasa paling intelektual tersebut biasa dilabeli ustadz atau pendakwah yang kini sedang digandrungi masyarkat digital. Jika kita memperdalam mengenai hal ini, media yang mereka gunakan (media internet) memiliki bahaya yang cukup besar jika memiliki output yang membuat kondisi sosial masyarakat semakin buruk.

Jika cara berdakwah para ustadz tersebut dilakukan dengan cara kultural, maka komunikasi tatap muka langsung akan terjadi dan mengurangi dampak kontaminasi pemikiran para pendengarnya. Namun jika dikerjakan secara digital, dapat memicu kemungkinan-kemungkinan, bahwa dari sisi personalnya, ia dapat melabeli dirinya sebagai siapa saja, ia dapat merekayasa materi yang dibawakan dengan sebagus mungkin untuk diterima siapa yang menontonnya, tentu jejak digital akan tetap ada dan menyebar kemana saja tanpa batas waktu dan ruang.

Dalam hal ini, di area dakwah digital oleh para orang-orang yang mendadak intelektual dalam bidang agama dan apapun belum ada aturan-aturan jelas. Sehingga siapapun dapat memungkinkan menjadi intelektual tanpa kenal proses dan benar-benar diakui masyarakat akan kualitasnya. Sehingga jika orang-orang tersebut dan isi dakwah dan fatwanya digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu dan mempengaruhi aksi massa yang banyak, tentu juga terdapat resiko atau konsekuensi yang luas kepada kondisi sosial.

Seperti halnya ketika pemilu DKI Jakarta 2017 lalu. Perdebatan atas al-Maidah ayat 51 yang menjadi viral karena ucapan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), yang notabene adalah nonmuslim dan memiliki unsur politik yang kuat. Kemudian ayat tersebut yang masih belum jelas dan masih memiliki perbedaan pendapat oleh para ulama atas kandungan dan pemaknaan atas ucapan Ahok, malah digunakan untuk menggiring opini masyarakat bahwa tidak boleh memilih pemimpin kafir dan harus memasukkan Ahok, si penista agama ke dalam penjara.

Orang-orang Islam di Indonesia pun banyak yang percaya begitu saja dan setuju dengan opini tersebut. Mereka menerimanya dengan mentah-mentah seperti tanpa diolah terlebih dahulu. Hasilnya, puluhan ribu orang Islamberkumpul dan berdemo. Orang-orang Islam yang merasa dinistakan dan dibawah pimpinan Ustadz/Intelek seperti Felix Shiaw dan kawan-kawannya tersebut sudah enggan lagi mendengarkan perbedaan penndapat dari ulama lainnya. Mereka terus melakukan penggiringan opini di internet dan media sosial secara massif untuk mengajak umat Islam membenci sosok Ahok ini.

Beberapa waktu lalu juga, masyarakat Indonesia dibuat geger oleh pernyataan Seorang yang menyebut dirinya ustadz,Sugi Nur Raharja yang mengatakan Presiden Jokowi termasuk orang-orang curang. Sugi Nur alias Gus Nur melakukan penghitungan nama Jokowi, hingga hasilnya adalah angka 83. Kemudian Sugi Nur mengaitkan hasil hitungan tersebut dengan melihat urutan surat dalam Alquran, dimana surat ke 83 adalah surat al-Muthoffifin yang berarti orang-orang yang curang. Sugi Nur pun menyimpulkan bahwa Jokowi adalah orang yang curang.

Hal itu diucapkan dan diabadikan dalam betuk video dan kemudian ditonton secara bebas oleh seluruh masyarakat Islam yang bermedia sosial tanpa kenal batasan usia dan kualitas sumber daya manusianya. Seorang yang dianggap intelektual seperti Sugi Nur ini yang jelas-jelas mengungkapkan pernyataan tanpa sebuah dasar dan mampu memicu konflik di tengah-tengah masyarakat tidak henti-hentinya melakukan kegiatan dakwah atau ceramah di dunia maya. Namun anehnya, tidak sedikit masyarakat mengamini pernyataan tanpa dasar tersebut. Inilah mungkin yang disebut dengan masyarakat internet yang cenderung hiperrealitas.

Hal-hal tersebut sangat banyak terjadi dan dengan mudah tersebar secara cepat di masyarakat internet. Akun-akun buzzer pun tidak ketinggalan ikut menyebarkan kejadian tersebut. Dengan demikian, informasi sangat cepat diterima oleh setiap lapisan mayarakat Indonesia yang addict dalam berinternet.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sepanjang tahun 2017 jumlah pengguna internet masyarakat Indonesia adalah 143 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa 50% lebih masayarakat indonesia sudah terhubung dengan internet. Dengan mudahnya mengakses internet seperti sekarang. Internet menjadi sumber informasi utama seiring dengan beraneka ragamnya kebutuhan manusia. Tapi, perlu diinga bahwa hal tersebut mempunyai dampak.

Salah satunya adalah masyarakat lebih mudah mendapatkan informasi yang kita cari. Adanya "Google" yang memuat informasi apapun, membuat kita tidak perlu susah payah bertanya kepada orang yang lebih berkompeten. Namun hal itu juga berdampak negatif. Banyaknya Informasi yang muncul membuat kita bingung mana yang benar dan yang salah. Kita seakan kebanjiran informasi dari segala penjuru dunia, yang mengharuskan kita pintar dalam memilih dan memilah informasi tersebut.

Thomas L. Friedman dalam bukunya The World is Flat, tantangan terbesar kita adalah bukan meyebarkan informasi, tetapi menemukan infromasi yang benar. Informasi saat ini bagaikan air bah, datang dari segala penjuru dunia. Sulit bagi kita membedakan mana yang benar dan salah.

Melalui alat Buzsumo, dalam satu hari tercatat lebih dari 100 berita membahas tentang Jokowi. Dalam pemberitaan Kompas.com saja, ada sekitar 14 berita mengenai Jokowi dalam waktu satu hari. Ini menandakan bahwa orang-orang mudah sekali mengakses apapun yang berkaitan dengan jokowi. Jika kita tidak bisa memilih dan memilah dengan baik dan benar, bukan tidak mungkin kita akan termakan oleh berita hoax.

Dampak

Akibat dari hal tersebut, maka banyak sekali bermunculan laman abal-abal dan tidak bertanggung jawab. Menurut Kementrian Informasi dan Komunikkasi (Kominfo), di Indonesia ada sekitar 43 ribu media abal-abal yang masih aktif. (Tempo.com, 07/01/2017) Sedangkan menurut Dewan Pers, sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com pada 19/02/17, yang baru mendaftar sekitar 500 media.

Laman-laman tersebut akan selalu menyebarkan informasi sebanyak mungkin, tanpa memperdulikan fakta yang terjadi. Malahan, mereka sering menyudutkan atau menghina salah satu pihak demi kepentingan tertentu. Hal ini tentu bisa menjadi ancaman bagi keutuhan negara.

Dengan adanya Internet, maka tidak akan lepas dari hadirnya media sosial. Faceebok, Twitter, Instagram menjadi dunia baru bagi kebanyakan orang di Indonesia. Mereka dengan senang hati mengunggah setiap kegiatan mereka lewat status, menyebarkan informasi apapun tanpa klarifikasi dan terlebih lagi, mereka melakukannya berulang-ulang setiap hari.

Laporan Tetra Pak Index 2017 mencatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia. Sementara hampir setengahnya adalah penggila media sosial, atau berkisar di angka 40%. Angka ini meningkat lumayan dibanding tahun 2016. (inet.detik.com, 27/09/2017). Dengan data demikian, mengindikasikan bahwa banyak orang-orang yang ingin eksis di media sosial. Mereka menunjukan eksistensinya, bahwa mereka benar-benar ada.

Hal ini sangat memiliki dampak negatif yang besar jika dunia internet dan media sosial dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tanpa kenal moral dan visi kebangsaan.

Psikologi Mayarakat Jejaring

Tidak heran bila salah satu tokoh eksistensialisme, Kierkegaard, mengatakan bahwa eksistensi adalah cara khas manusia berada sehingga manusia menjadi pusat yang dibicarakan. Eksistensi bertitik tolak dari gagasannya tentang manusia sebagai individu yang bereksistensi dan konkrit. Ia melihat bahwa hal yang paling mendasar bagi manusia adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya.

Kaum eksistensial berusaha menemukan kebebasan dengan menunjukkan suatu fakta, betapa benda-benda (obyek) tidak mempunyai makna tanpa keterlibatan pengalaman manusia. Manusia merupakan suatu titik sentrum dari segala relasi, sebagai subyek dengan pengalamannya. Justru dengan kesadaran ‘keberadaannya’, eksistensi manusia diakui. Eksistensi seakan menjadi kebutuhan primer. Hal ini sangatlah berbahaya jika sampai kecanduan untuk eksis di dunia maya seperti zaman sekarang.

Di Inggris, ada kasus yang disebut "pecandu selfie". Korbannya adalah seorang laki-laki bernama Danny Bowman, seorang remaja berumur 19 tahun. Pertama kali ia mengunggah foto selfie-nya ke Facebook di usia 15 tahun. Tak butuh waktu lama sebelum akhirnya ia jatuh cinta dengan sensasi mendapatkan like maupun komentar pujian dari teman-temannya di dunia maya. Aktivitas ini kemudian menjadi kebiasaan di saat senggang.

Pada tahun 2011, ia memberanikan diri untuk mendaftar ke sebuah agen modeling. Ia ingin menyalurkan hobinya menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang. Sayang, ia ditolak. Di tengah perasaan kecewa yang teramat sangat,

Bowman justru makin kecanduan untuk berfoto diri. Ia terobsesi untuk membuat “selfie yang sempurna”. Ia berusaha membuktikan ke dunia bahwa dirinya pantas menjadi seorang model. Dalam sehari, ia menghabiskan 10 jam untuk berfoto diri dan hasilnya adalah lebih dari 200 foto yang tersimpan di iPhone miliknya. Bowman sampai keluar darisekolah dan memilih pendidikan privat di rumah. Obsesi Bowman berubah menjadi petaka sejak ia berpikiran bahwa tanpa selfie yang sempurna, ia lebih baik mati.

Bowman, orang Inggris pertama yang mendapat status “pecandu selfie”, masuk ke pusat rehabilitasi dan terapi untuk mengatasi kondisinya sejak 2014 lalu. Ia didiagnosis menderita dua penyakit. Pertama OCD (Obsessive Compulsive Disorder) alias penyakit psikologis bagi orang-orang dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan atau pikiran yang tidak masuk akal. Kedua, penyakit yang lebih jarang didengar, Body Dysmorphic Disorder. Penyakit ini berbentuk kecemasan yang menyebabkan si penderita merasakan khawatir berlebihan tentang penampilan atau tubuh mereka. (Tirto.id, 6 Maret 2017)

Kasus yang dialami Bowman tersebut bukan tidak mungkin akan dialami juga oleh kebanyakan orang Indonesia. Melihat kapasitas unggahan status yang ada, apalagi dikalangna remaja. Mereka menunjukan bahwa Internet dan media sosial benar-benar menjadi candu yang sangat berbahaya.

Agama menjadi Senjata

Saat ini agama tidak hanya sebagai paham suci yang diikuti oleh jemaatnya, akan tetapi kini telah berkembang menjadi senjata ampuh untuk melancarkan kepentingan pribadi atau golongan. Misal saja, konflik yang terjadi di Irak dan Suria. ISIS selaku aktor utama dibalik konflik tersebut memakai label agama dalam melaksanakan setiap kegiatan mereka.

Di Indonesia, dewasa ini membahas hal-hal terkait dengan agama sangatlah sensitif. Bahkan bisa saja membuat seseorang dihukum atas nama penistaan agama. Yang terbaru, anak sulung presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri, menjadi bulan-bulanan orang Islam Indonesia. Puisi yang dibawakannya dianggap melecehkan dan menistakan agama Islam.

Dalam puisinya tersebut, Sukmawati membandingkan antara kidung dengan suara lantunan adzan dan konde dengan cadar. Meski sudah melakuan klarifikasi bahwa tidak ada unsur SARA, tapi orang-orang tetap menuntutnya untuk dihukum atas nama penistaan agama. Bahkan, sampai muncul gerakan Bela Islam. Pemikiran yang sempit, membuat orang mudah menghukumi sesuatu. Sedikit-sedikit disangkut-pautkan dengan isu SARA.

Dengan dijadikannya agama seperti itu, membuat media abal-abal memanfaatkannya. Mereka dengan sigap membuat konten yang tidak bertanggung jawab. Mereka menyebarkan informasi sesuai apa yang mereka sendiri belum paham tentang hal tersebut. Yang terpenting bagi mereka adalah membuat dan menyebarkan konten viral.

Pembahasan mengenai agama adalah senjata ampuh di era sekarang dengan menggunakan media internet sebagai alat untuk melancarkan serangan atas kepentingan tersebut adalah senjata paling ampuh untuk mencapai apa yang diinginkan seperti halnya kepentingan kekuasaan atau politik, bahkan ideologi.

Bermain-main dengan Agama

Pada tahun 2017, seorang ustadz bernama Alfian Tanjung divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Surabaya dengan hukuman penjara 2 tahun. Dalam amar putusan, Ustad Alfian Tanjung  dinyatakan terbukti melakukan ujaran kebencian ketika berceramah  di Masjid Mujahidin, Tanjung Perak, Surabaya. (Detik.com, 13/12/2017). Label Ustad yang disandang seringkali dimanfaatkkan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tidak jarang, mereka mengajak jamaahnya untuk melakukan hal-hal negatif serta menuduh orang lain tanpa tahu faktanya.

Hal ini ternyata pernah terjadi pada zaman nabi. Ketika itu, usai menaklukan kota Thaif, Nabi Muhammad saw membagikan harta rampasan perang (ghanimah).  Namun pembagian itu sedikit aneh, karena yang diberi ghanimah tersebut adalah sahabat yang baru masuk Islam seperti Abu Sufyan dan al-Bakkhtari, padahal mereka sudah kaya. Kemudian datanglah sahabat Dzul Huwaishir dan memprotes Nabi Muhammad agar berbuat adil.

Nabi pun menjawab bahwa apa yang dilakukan oleh nabi tersebut adalah sesuai perintah Allah swt. Akhirnya Nabi pun bersabda bahwa akan keluar dari keturunan orang ini (Dzul Huwaisir) sekelompok kaum yang membaca Alquran secara terus-menerus, namun tidak melampaui tenggorokan mereka (yakni tidak paham makna aslinya). Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Ucapan Nabi Muhammad pun terbukti dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib karena dianggap kafir oleh satu kelompok karena dianggap tidak menggunakan hukum Allah.

Turunan dari Dzul Huwaishir pada saat sekarang pun sudah banyak. Meyakini dirinya sebagai seorang intelektual dan agamawan, padahal hanya bermodal belajar dari internet, tanpa guru, mereka sudah bisa membuat sebuah hukum, menuduh kafir mereka yang tidak sejalan, dan menyalahkan orang-orang alim atas fatwa yang dikeluarkan. Padahal sanad keilmuan para ulama tersebut tidak diragukan lagi. Kalah jauh dibanding mereka yang menuduh demikian.

Faktanya, orang-orang awam kini justru cenderung percaya dan mengikuti apa yang dikatakan oleh oknum tersebut. Mereka asal bicara tanpa muatan yang bebobot. Bagai tong kosong berbunyi nyaring. Hal ini bisa memungkinkan untuk memicu perpecahan dikalangan orang Islam sendiri. Agama dipelajari hanya permukaannya saja. Gerakan radikal, terorisme, dan yang lainnya tidak membuat agama Islam disegani, justru membuatnya menjadi terlihat agama yang buruk. Bisa jadi mereka malah menghancurkan Islam itu sendiri.

Latah Intelektual Bangsa Kita Kini

Bangsa Indonesia seakan latah intelektual, tidak mencari sebuah kebenaran, tetapi ikut membicarakan sebuah fenomena yang terjadi walaupun ia tidak paham dengan hal itu dan tidak sedikit masyarakat mengamini ucapan mereka tersebut. Bisa kita lihat ramainya orang yang berkomentar di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan yang lainnya. Tidak hanya itu, ada juga yang menghina tanpa tahu akar permasalahannya. Mereka tidak merasa bersalah dan merasa paling benar.

Jika kita melihat negara-negara maju, sumber daya manusianya sangat berkualitas. Contoh saja Jepang. SDM Jepang memang tidak sebanyak Indonesia, namun kualitas SDM mereka sangat tinggi. Pendidikan yang didapat pun sangat baik. Orang-orang jepang terus memikirkan inovasi baru untuk menunjukan bahwa negaranya sangat maju. Tak heran, banyak produk terbaik berasal dari sana.

Berbeda dengan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia saat ini, yang cenderung masih sering mengkonsumsi informasi hoax, mempermasalahkan isu agama tanpa henti, menafsirkan sesuatu sekehendaknya, tentu tidak akan membuat Indonesia menjadi negara maju. Tradisi asal klik atas informasi yang beredar di internet dan tidak adanya upaya mencari kebenaran dalam sebuah informasi bisa menjadikan kualitas intelektual kita rendah.

Menjadi negara maju tidak hanya faktor sumber daya alamnya yang melimpah. Namun harus dibarengi dengan sumber daya manusianya yang cerdas dan berintelektual. Jika orang-orang Indonesia masih mempermasalahkan hal-hal itu saja, mudah terprovokasi dengan informasi hoax, dan mudah percaya dengan informasi apapun yang diterimanya, bukan tidak mungkin, Indonesia akan tertinggal dan terpuruk. [Isqi]

KOMENTAR

Name

Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,550,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,52,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Latah Intelektual Bangsa Kita Kini
Latah Intelektual Bangsa Kita Kini
Pembahasan mengenai agama adalah senjata ampuh di era sekarang dengan menggunakan media internet sebagai alat untuk melancarkan serangan atas kepentingan tersebut adalah senjata paling ampuh untuk mencapai apa yang diinginkan seperti halnya kepentingan kekuasaan atau politik, bahkan ideologi.
https://3.bp.blogspot.com/-j_DuxF8Um7A/WvPp7eIYjwI/AAAAAAAAFss/Jxd_auAyKpI-KzKgsVWJi_NS6A_SQV0iQCK4BGAYYCw/s1600/ideapers.com-latah-intelektual.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-j_DuxF8Um7A/WvPp7eIYjwI/AAAAAAAAFss/Jxd_auAyKpI-KzKgsVWJi_NS6A_SQV0iQCK4BGAYYCw/s72-c/ideapers.com-latah-intelektual.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2018/05/latah-intelektual-bangsa-kita-kini.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2018/05/latah-intelektual-bangsa-kita-kini.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin