Drakor, Simbolisasi Dajjal Masa Kini



Apa yang terjadi jika Dajjal telah bangkit di dekade ini? Apa jadinya jika tanpa sadar manusia telah menjadi pengikut makhluk yang dicap paling kafir dalam ajaran Islam ini? Setidaknya Dajjal telah benar-benar bangkit dalam beragam bentuk yang membuat manusia lupa terhadap fitrahnya. Dajjal telah bangkit dalam beragam bentuk budaya populer, salah satunya Drama Korea.

Euforia terhadap budaya Korea meledak dalam beberapa bentuk produk, salah satunya drama korea. Di Indonesia sendiri, drama seri Korea pertama kali meledak pada tahun 2002 melalui drama seri dengan judul "Endless Love" yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta Indonesia (K-Pop News.com). Semenjak itu, tidak kurang dari 50 judul drama seri Korea ikut meramaikan dunia pertelevisian tanah air hingga tahun 2017. Selain drama seri, Korea juga menyebarkan tren dengan musiknya, K-Pop, iklan produk, dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi era ini telah menyebarkan wabah demam Korea, bahkan telah memasuki fase barunya yang disebut Neo-Korean Wave.

Disadari atau tidak, Korean wave sudah mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya di Indonesia. Drama Korea menampilkan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Hal itu memicu masyarakat Indonesia yang menontonnya untuk berpenampilan dan mengubah gaya hidup seperti apa yang mereka lihat di drama Korea. Selain itu, euforia yang muncul menggeser pola pemikiran dan cara pandang hidup orang-orang dengan menjadikan Korea sebagai tumpuannya.

Karena rasa ketertarikan yang tinggi terhadap segala aspek yang ditampilkan dalam drama Korea menimbulkan satu permasalahan yang mengubah konstruksi pemikiran penonton. Seperti cara masyarakat memandang suatu hal dan perannya dalam pengambilan keputusan tentang kebenaran. Hanya Korea yang dijadikan kiblat dalam segala aspek kehidupan, menjadikan manusia hanya memiliki sudut pandang tunggal terhadap sebuah kebenaran. Hal itu menjadikan masyarakat menafikan informasi dan kebenaran dari sudut pandang lain. Bahkan akan menjelma menjadi manusia dengan pola pemikiran sempit.

Seperti halnya ketika membuat persepsi tentang wanita cantik dan pria tampan. Citra dalam drama Korea menjadi kiblat tunggal dan masyarakat berbondong-bondong mencapai citra tersebut dengan segala macam cara. Tubuh langsing, kaki ramping, kulit putih, hidung mancung, dan berbagai citra "sempurna" a la Korea akan dijadikan satu sumber kebenaran yang tidak terbantahkan. Bahwa kesempurnaan bentuk fisik baik pria maupun wanita telah terwakili oleh citra bangsa Korea di serial dramanya.

Berpijak pada dominasi citra dalam aktivitas masyarakat modern dan kontemporer, tidak berlebihan jika dikatakan manusia hidup dalam imperium citra. Citra adalah sang kaisar, ukuran mutlak, pedoman tertinggi, dan nilai supremum dalam relasi, interaksi, komunikasi, dan aksi. Masyarakat modern kontemporer lebih mementingkan bungkusan ketimbang isi, kesan ketimbang substansi, tampilan ketimbang intisari, dan peran ketimbang jati diri.

Herbert Marcuse, tokoh filsafat post-modern dalam bukunya "One Dimensional Man", mengatakan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang sakit. Sebuah masyarakat yang hanya berpikir dan bertindak dalam satu dimensi, seluruh aspek kehidupannya mengarah kepada satu tujuan belaka. Masyarakat seperti ini bersifat represif dan totaliter, hidupnya teralienasi dalam bermacam kemudahan.

Kemudahan hidup sebagai masyarakat dunia modern bukanlah suatu pembebasan, melainkan penindasan. Masyarakat terbius dan terjebak oleh euforia budaya populer, terjebak dalam satu ruang penuh ambisi sehingga pandangannya hanya berorientasi pada satu dimensi. Cenderung meniadakan kebenaran-kebenaran yang bisa jadi muncul dari dimensi lain.

Dajjal, Wujud Sifat Manusia Satu Dimensi?

Jauh sebelum Herbert Marcuse meramalkan adanya masyarakat dengan satu dimensi (one dimensional man), Nabi Muhammad sudah terlebih dulu menyerukan bahwa akan datang pada masanya manusia -Dajjal- yang mengaku sebagai Tuhan dan membawa kebenaran di tangannya. Ia menyeru manusia untuk menyembah dirinya dengan dalih surga ada padanya. Kebenaran mutlak ada padanya, sehingga mereka yang tidak mengikuti manusia ini akan dimasukkan ke dalam nerakanya. Pernyataan tersebut tertulis dalam hadis riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim, nomor 2930.

Kemunculan Dajjal ditandai dengan maraknya fitnah akhir zaman. Kerusakan moral bertumpuk-tumpuk, kezaliman bertindih-tindih, kesyirikan merajalela, dan kemungkaran sulit dibendung. Selain itu, kebenaran sulit dibedakan dari kebatilan, halal dan haram sulit dipisahkan, dan hal yang baik bercampur baur dengan hal yang buruk. Pada kebanyakan manusia, hati nurani dan fitrah mereka telah rusak dan terkontaminasi. Akibatnya, mereka tertipu dan terperdaya oleh arus fitnah Dajjal.

Informasi-informasi yang terkandung di dalam teks-teks hadis tentang Dajjal, baik ciri fisik maupun non-fisik tidak serta merta menimbulkan pemahaman yang seragam di kalangan umat Islam. Terjadi pemahaman yang saling bertolak belakang antara pemahaman secara tekstual dan pemahaman secara kontekstual. Apakah Dajjal akan muncul sebagaimana ciri fisik yang telah disebutkan dalam hadis? Ataukah Dajjal muncul hanya sebatas simbol yang merepresentasikan sifat tercela umat manusia.

Sebagian ulama memahami keberadaan Dajjal yang disebut dalam hadis-hadis Nabi Muhammad sebagai metafora untuk melambangkan tipu muslihat dan sifat materialisme. Kelompok ini diwakili oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho, tokoh pembaharu Islam asal Mesir. Seiring berjalannya waktu, ulama lain melangkah lebih jauh dalam memahami teks tentang Dajjal. Mereka mengatakan bahwa peradaban manusia dengan segala kecanggihan teknologi dan hegemoni pengetahuan juga informasi saat ini adalah simbolisasi dari Dajjal.

Hal itu dikemukakan oleh Muhammad Asad, seorang tokoh muslim dari Austria yang pernah menjadi wartawan luar negeri di harian "Frankfurter Seitung". Ia mengidentifikasi bahwa peradaban Barat sebagai gerakan anti-kristus atau Dajjal. Hal itu tergambar dari peradaban Barat yang tidak lagi peduli terhadap spiritualitas dan lebih mementingkan materi. Segala kecanggihan teknologi merupakan keajaiban orang-orang Yahudi yang melampaui batas kemampuan manusia.

Selain itu, Rasyid Ridho mengatakan bahwa sifat tertulis dari Dajjal adalah makna simbolik dari peradaban yang sudah dijungkirbalikkan oleh hingar-bingar kemajuan zaman. Dajjal bukanlah makhluk "berwujud" dalam satu tubuh, melainkan bentuk konspirasi yang menguasai bumi di akhir zaman. Seperti ciri Dajjal yang bermata satu menjadi simbolisasi dari kekuasaan yang disebut dengan the one eye of lucifer dari sebuah gerakan.

Lebih dari itu, simbol mata satu melambangkan kebutaan manusia dalam memandang suatu hal.  Manusia lebih cepat percaya terhadap suatu kondisi yang mereka anggap sebagai kebenaran. Tidak lagi mempunyai kuasa untuk mencari informasi lain dan membuat kemungkinan adanya kebenaran lain. Sisi kehidupannya hanya mengarah pada satu tujuan, merealisasikan pemuasan akan kebutuhan-kebutuhan yang berlandaskan tren dan euforia belaka.

Tanpa disadari euforia terhadap drama seri Korea yang memunculkan korean wave, membuat manusia menjadi manusia satu dimensi. Orang-orang yang bergumul dalam lingkaran Korean wave sudah dibutakan oleh apa yang mereka lihat, hanya memandang sebelah mata. Persepsi wanita cantik seperti perempuan Korea menimbulkan permasalahan psikologis tersendiri. Mereka akan melakukan apapun demi merepresentasikan kecantikan yang menjadi persepsinya, seperti melakukan operasi plastik.

Segala macam tentang Korea menjadi pembahasan menarik yang wajib untuk diikuti. Kebudayaan, moral masyarakat, produk fashion, makanan, tempat wisata, dan hal lain tentang Korea menjadi pemicu dalam pergeseran cara pandang hidup penonton. Budaya Hallyu benar-benar sudah menghegemoni pemikiran dan ideologi. Manusia sudah tidak lagi menjadi subyek atas dirinya dan terikat dalam melakukan revolusi atas dirinya sendiri. Sebaliknya, malah terkungkung oleh Korean wave yang menjadikan struktur budaya masyarakat bergeser dan runtuh karena dianggap sudah tidak menarik dan tertinggal oleh hal yang bernama trendy.

Terlepas dari drama seri Korea yang memunculkan berbagai perubahan dari banyak lini, arus globalisasi menjadi faktor terbesar dalam mencetak manusia satu dimensi. Masyarakat di bawah kekuasaan prinsip teknologi identik dengan terciptanya perluasan teknologi. Kekuasaan teknologi sudah mencakup berbagai bidang kehidupan; ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya. Arus informasi menjadi bom waktu yang bisa meledak kapanpun.

Melalui media sosial, masyarakat lebih mudah dalam berebut kekuasaan. Kuasa atas dunia dan pergerakan peradaban. Media dijadikan ladang informasi yang tidak terelakkan. Menganggap apa yang tertera pada dinding pencarian sebagai kebenaran mutlak tanpa konfirmasi terhadap fakta-fakta sosial. Atas dasar pengakuan pihak yang paling tangguh dan berpengaruh, anomali dalam masyarakat diciptakan. Sebuah episteme yang menggiring umat manusia kepada perbudakan atas dirinya sendiri.

Dengan kondisi yang demikian bising atas nama modernisasi dan peradaban kegilaan, manusia seringkali berada pada kondisi ekstasi. Manusia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada di tengah huru-hara konspirasi akhir zaman. Tidak ada yang mengetahui secara pasti waktu kemunculan dan wujud Dajjal. Bukan berarti mencoba menafikan makna Dajjal secara tekstual, tetapi jika Dajjal memang dimaknai secara kontekstual, maka fitnah Dajjal sudah bangkit dan menggerayang dimana-mana. Dajjal sudah bangkit dengan makna simbolisnya dan membuat manusia terperdaya olehnya.

Sudah sadarkah Anda dengan kondisi tersebut? Apabila terus terlena dan enggan sadar dari kenikmatan ekstasi, bisa jadi Anda dan kita semua sudah termasuk ke dalam pengikut Dajjal. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa peradaban manusia sudah berada di ambang kehancuran? [Ainun]

KOMENTAR

Name

Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,552,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,53,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Drakor, Simbolisasi Dajjal Masa Kini
Drakor, Simbolisasi Dajjal Masa Kini
Setidaknya Dajjal telah benar-benar bangkit dalam beragam bentuk budaya populer, salah satunya Drama Korea.
https://2.bp.blogspot.com/-7c_4F6QfXQU/WrDXOa8SjUI/AAAAAAAAFfU/qQISQU6LzTsp3hAuaJwqtb3Lsc931j77gCK4BGAYYCw/s1600/drakor-simbolisasi-dajjal-masa-kini-ideapers.com.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-7c_4F6QfXQU/WrDXOa8SjUI/AAAAAAAAFfU/qQISQU6LzTsp3hAuaJwqtb3Lsc931j77gCK4BGAYYCw/s72-c/drakor-simbolisasi-dajjal-masa-kini-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2018/03/drakor-simbolisasi-dajjal-masa-kini.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2018/03/drakor-simbolisasi-dajjal-masa-kini.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin