Sepenggal Kisah dari Gua Kreo



Semarang, IDEApers.com - Sore itu aku tiba di sebuah desa yang sejuk. Di sana, aku menikmati santap siang sekaligus sarapan. Seusai makan, aku melanjutkan perjalanan menuju lokasi Wisata Gua Kreo.

Aku turuni jalanan beraspal sembari menikmati semilir udara sore. Namun, perhatianku teralihkan oleh seorang lelaki tua berbaju koko dan celana lusuh, topi yang dipakai juga tak kalah lusuh. Ia menggantungkan tas pancing dipunggungnya. Kami berpapasan sekejap.

Awalnya aku tak acuh, tapi rasa penasaran mengusikku. Akhirnya, kuputuskan bertanya pada pedagang yang ada di sekitar sana. Ternyata lelaki tua tersebut, yang tadi berpapasan denganku adalah juru kunci dari Gua Kreo ini. Mbah Sumar namanya.

Buru-buru aku berbalik arah mengejarnya, berharap tidak kehilangan jejak. Mengetahui sejarah Gua Kreo langsung dari sang juru kunci, adalah sebuah momen langka bagiku.

Aku berjalan di belakangnya, tepatnya, mengikuti. Mataku tak lepas dari sosok Mbah Sumar yang berjalan di depanku itu. Baju yang tampak kebesaran di tubuh kurusnya melambai diterpa angin. Ia berjalan lambat penuh perjuangan menaiki jalanan aspal yang menanjak.

Aku terus mengikutinya. Ia berhenti di gerbang masuk tempat wisata Gua Kreo, lalu ia pun duduk sambil berbincang dengan petugas wisata yang ada. Tak ingin menganggu obrolannya yang terlihat asyik, kuputuskan berbalik arah. Akan lebih baik jika nanti aku ke rumah Mbah Sumar.

Waktu masih menunjukkan pukul 16:55 WIB. Masih ada cukup waktu berkeliling di tempat ini lebih dulu. Aku menuruni anak tangga, selangkah-langkah. Monyet-monyet bersliweran, seolah tak acuh dengan para pengunjung. Monyet-monyet itu melakukan aktivitas selayaknya manusia. Ada beberapa monyet betina yang menyusui anaknya, serta beberapa lagi monyet kecil bergelantungan, berjalan, berlarian di setiap sudut tempat itu. Mereka sama sekali tidak bersembunyi atau berlari ketakutan ketika ada orang yang lewat. Seekor monyet jahil bahkan berhasil mencuri air mineral dari genggamanku ketika aku lengah.

Matahari mulai kembali ke peraduan. Kuputuskan kembali dan berhenti di sebuah warung tenda pojok di dekat danau. Hiruk-pikuk orang di sekitar masih terlihat. Beberapa orang menikmati senja. Beberapa lainnya terlihat sedang beristirahat setelah lelah berkeliling tempat wisata. Banyak pula yang sekedar duduk di warung-warung tenda sepertiku, menunggu petang.

Sayup-sayup adzan Magrib terdengar, pemandangan senja di sana menghipnotisku hingga tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul 18:00 WIB. Syahdan, mataku tertuju pada mushola kecil berukuran 3x4 meter bercat hijau di dekat pendopo. Laki-laki kurus bertopi coklat dan berompi orange, tukang parkir, menghampiriku. Ia menunjukkan tempat wudhu sementara karena yang biasa digunakan sedang rusak.

Kembali ingat tentang si juru kunci, aku coba bertanya tentang alamat rumah Mbah Sumar. “Bapak kenal Mbah Sumar? Tahu rumahnya ndak, Pak?” tanyaku.

Tanpa pikir lama, tukang parkir itu memberitahukan alamat rumah Mbah Sumar. “Pawang, juru kunci tempat ini Mbak. Rumahnya di depan sekolahan sebelah sana,”jawabnya. Mendapatkan alamat rumah Mbah Sumar tidak sesulit yang kupikir. Sang juru kunci itu pasti dikenal banyak orang di daerah ini.

Sekitar 100 meter dari lokasi wisata, kudatangi rumah yang ditunjukkan tukang parkir tadi. Lelaki tua berkeriput di hampir tiap lekuk wajahnya itu duduk di kursi kayu panjang di ruang belakang (ruang makan). Kakinya lurus dan tangan kirinya terangkat ke atas. Posisi duduk yang agak aneh.

Ketika aku mengucapkan salam dari pintu samping, “Assalamualaikum, Ini benar rumah Mbah Sumar?" Ia lantas bangkit dari kursi kayu panjang tempat ia selonjoran. “Saya sedang tidak enak badan. Maag saya kumat sejak seminggu yang lalu. Sudah seminggu pula saya selalu menolak mahasiswa atau siapapun yang datang untuk bertanya tentang Gua Kreo.” Ucap pria berambut putih itu sebelum aku sampaikan tujuanku menemuinya.

Ucapannya menjawab pertanyaanku tentang posisi duduk yang aneh tadi, sekaligus membuatku tak enak telah mengambil waktu istirahatnya tanpa izin lebih dulu. Aku sudah berniat untuk pulang karena ingin membiarkan Mbah Sumar melanjutkan istirahatnya. Tapi sekali lagi, sebelum aku mengucapkan apapun, ia malah mempersilahkan dan mengajakku untuk duduk di ruang tamu.

“Sini-sini ke ruang tamu,” ajak Mbah Sumar. Beruntung, pengecualian itu datang kepadaku, ia tidak menyuruhku pulang.

Mbah Sumar berjalan di depan kemudian duduk di kursi sofa di ruang tamu, aku mengikutinya.

“Gua Kreo itu bermula dari Sunan Kalijaga yang ditugasi oleh Walisongo untuk mencari kayu jati untuk membangun masjid. Tapi ketika menemukan pohon jati yang bisa dipotong, secara ajaib pohon jati itu berpindah dengan sendirinya. Tempat pindahnya jati itulah yang sekarang dikenal sebagai Desa Jatingaleh,” pria berumur 77 tahun memulai ceritanya.

Mbah Sumar melanjutkan, setelah pohon jati itu ditemukan, ia kemudian dipotong dan dihanyutkan mengikuti aliran sungai. Namun pohon jati itu tersangkut di antara dua batu di tengah sungai. Sunan Kalijaga kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya esok hari, tapi sebelum itu, ia memerintahkan santrinya untuk membuat gua sebagai petilasan atas perjuangan mereka.

Esoknya, Sunan Kalijaga dan para santrinya kembali ke tempat kayu jati tersebut. Di perjalanan, mereka bertemu empat ekor kera yang bisa berbicara. Kera tersebut  berwarna merah, kuning, putih,dan hitam. “Kanjeng Sunan mau kemana saya ikut ngreo,” kata salah satu kera itu.

“Para santriku seksenono. Gua iki dakjenengi Gua Kreo,” tutur Mbah Sumar dengan bahasa Jawa yang medok. Mata tuanya menatap lurus sambil menunjuk ke arahku, seolah memperagakan sosok Sang Sunan. Perbincangan itu terus berjalan. Cerita sejarah yang biasanya membosankan dan kaku, tidak terasakan ketika mendengar Mbah Sumar bercerita. Tangannya yang terus bergerak-gerak memperagakan setiap inti cerita, membuat mataku tak mampu luput dari sosok lelaki tua yang energik itu. Sesekali ia juga bercanda ketika bicara mengenai keluarganya. Ketika tertawa, giginya yang ompong hanya menyisakan satu gigi depan bagian atas.

Topik pembicaraan kemudian mulai bergeser. Jika di awal hanya soal sejarah Gua Kreo, Mbah Sumar pun turut berkeluh kesah selama pengabdiannya menjadi juru kunci Gua Kreo. “Saya diminta kerja seharian, dari pagi sampai malam tapi konsumsi gak dipikirin,” ucapnya dengan nada kesal.

Ia sudah menjadi Juru Kunci Gua Kreo sejak tahun 80-an, sebuah tanggung jawab yang diturunkan oleh ayahnya. “Dulu waktu saya masih HARLAP (Harian Lapangan) tahun 1985, kemudian menjadi pegawai Honorer tahun 1989 saya mendapat gaji Rp. 90.000. Kemudian ada kenaikan gaji menjadi Rp. 120.000. Saya sudah berhenti sejak tahun 2000. Tapi sampai sekarang jika ada yang ingin tahu tentang Gua Kreo baik di lokasi maupun di luar lokasi selalu diserahkan ke saya. Padahal seharusnya objek wisata seperti Kreo ini mempunyai pemandu wisata sendiri, tidak mengandalkan pemandu Desa Wisata yang hanya berjumlah tiga orang, tidak juga mengandalkan juru kunci yang sudah tua, apalagi tanpa memperhatikan kondisi saya.”

Ia melanjutkan, "Anak-anak muda jaman sekarang itu, kalau ada tugas yang susah selalu dipasrahkan kepada yang sudah sepuh yang lebih berpengalaman katanya. Padahal saya sudah pernah mengumpulkan para pemandu desa wisata itu untuk bekerja sama agar penjelasan yang keluar dari kami itu selaras dan tidak memberi pemahaman yang berbeda kepada pengunjung. Tapi tetap saja masih seperti itu. Kasihan pengunjung kalau mendengarkan cerita yang berbeda-beda seperti itu.”

Malam semakin larut, aku yang iba dengan kesehatan Mbah Sumar pun pamit undur diri. Sebelum pulang, aku sempatkan meminta berfoto bersama. Namun, Mbah Sumar malah masuk ke dalam kamarnya. Kupikir ia marah karena sakit tetapi masih saja direpotkan soal hal sepele macam foto bersama. Ternyata, lelaki tua itu pun muncul kembali dari balik tirai, lengkap dengan setelan baju sarjan dan blangkon di kepalanya. Senyum mengembang di wajahnya. Aku pun turut tersenyum lega. Mbah Sumar, benar-benar sosok yang tidak tertebak.  Asumsiku, itu adalah baju kebanggaannya. Baju takwa khas Sunan Kalijaga. [Rep.Nui/Red.Et]

KOMENTAR

Name

Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,550,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,52,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Sepenggal Kisah dari Gua Kreo
Sepenggal Kisah dari Gua Kreo
Cerita sejarah Gua Kreo langsung dari juru kuncinya.
https://2.bp.blogspot.com/-tKZtYaYVEfg/WgFpR2ykW9I/AAAAAAAAAVA/0mjmPjsuekomB2i7zwsX7UOgPd7HF-KTwCLcBGAs/s1600/alay.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-tKZtYaYVEfg/WgFpR2ykW9I/AAAAAAAAAVA/0mjmPjsuekomB2i7zwsX7UOgPd7HF-KTwCLcBGAs/s72-c/alay.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/11/sepenggal-kisah-dari-gua-kreo.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/11/sepenggal-kisah-dari-gua-kreo.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin