Menilai Kembali Rasa Kemanusiaan Aung San Suu Kyi



Dunia tengah ramai memperbincangkan genocida yang menimpa kelompok minoritas Rohingya di Myanmar. Sang penasehat pemerintahan, Aung San Suu Kyi, menjadi salah satu poros perhatian atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Masyarakat dunia mempertanyakan integritas Suu Kyi sebagai peraih nobel perdamaian pada tahun 1991. Lantas siapakah sebenarnya Aung San Su Kyi? Bagaimanakah sepak terjangnya sebagai seorang tokoh demokratis dan penebar kedamaian di Myanmar? Pertanyaan tersebut terjawab dengan cukup jelas dalam film "The Lady".

Dalam film yang rilis pada tahun 2012 tersebut, Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) merasa terpanggil untuk kembali ke negaranya setelah cukup lama menetap di Inggris. Suu Kyi merasa geram terhadap Junta Militer Myanmar yang menjalankan pemerintahan secara diktator. Militer Myanmar membatasi kebebasan demokrasi. Mereka tak segan membubarkan secara paksa gerombolan mahasiswa yang mencoba melawan dengan melakukan aksi unjuk rasa.

Kedatangan Aung San Suu Kyi seakan membawa angin segar bagi rakyat Myanmar. Status Suu Kyi sebagai putri seorang tokor revolusioner nasionalis Myanmar, Jenderal Aung San, membuatnya semakin disegani rakyat dan membuat Junta Militer Myanmar harus berpikir dua kali untuk bertindak represif.

Suu Kyi memulai langkahnya mewujudkan demokrasi di Myanmar dengan mendirikan National League for Demmocracy (NLD). Melalui partai tersebut, Suu Kyi mulai menggalang dukungan kepada rakyat Myanmar agar mereka bebas dari cengkraman rezim militer yang represif. Melalui NLD pula, Aung San Suu Kyi berhasil memenangkan pemilu Myanmar yang terselenggara untuk yang pertama kali dengan perolehan 392 kursi, sementara dari pihak Junta Militer Myanmar hanya mendapatkan 10 kursi.

Terdapat dua adegan terbaik yang menggambarkan kegigihan dan keberanian Suu Kyi dalam memperjuangkan demokrasi di Myanmar selama proses kampanye bersama NLD. Pertama, ketika Suu Kyi mengunjungi  pemukiman-pemukiman etnis Myanmar untuk menggalang dukungan. Kemampuann retorikanya yang tak lagi diragukan, berhasil meyakinkan masyarakat etnis di Myanmar untuk mendukungnya dalam pemilu. Dalam adegan ini, Suu Kyi benar-benar dicitrakan sebagai seorang negarawan yang  cinta damai dan peduli kebebasan.

Kedua, keberanian Suu Kyi menembus barikade prajurit bersenjata untuk merebut kembali panggung publik yang telah dirampas militer. Suu Kyi melakukannya seorang diri, ia memiliki keyakinan kuat bahwa pihak militer tidak akan berani membunuhnya. Kalau pun hal buruk terjadi, ia sudah siap meregang nyawa demi kebebasan rakyat Myanmar.

Peraih Nobel Perdamaian

Film yang disutradarai oleh Luc Besson ini juga menggambarkan proses pengukuhan Aung San Suu Kyi sebagai peraih penghargaan Nober Perdamaian pada tahun 1991. Suaminya yang berkebangsaan Inggri, Michael Aris (David Thewliss) memberikan sumbangsih besar atas diraihnya penghargaan tersebut.

Dalam film The Lady, Michael Aris digambarkan sebagai seorang suami yang sangat menyayangi istri dan anak-anaknya. Sebagai wujud dari rasa sayang itu, Aris rela pulang-pergi dari Inggris-Myanmar untuk sekadar memberikan dukungan moral kepada Suu Kyi yang tengah memperjuangkan demokrasi.

Menyadari perannya masih tak seberapa, Aris memutuskan untuk menemui Profesor Finnis, seorang tokoh yang berpengaruh dalam Komite Nobel. Aris memiliki keyakinan, jika Aung San Suu Kyi berhasil memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian, maka ia akan mendapatkan kekuatan lebih untuk melawan Junta Militer Myanmar.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya Suu Kyi pun benar-benar dinobatkan sebagai peraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1991. Suu Kyi memperoleh penghargaan bergengsi tersebut di tengah statusnya sebagai tahanan rumah, sehingga Aris serta  kedua putranya Alexander Aris (Jonathan Woodhouse) dan Kim Aris (Jonathan Ragget) yang datang mengambilnya.

Namun kenyataannya, meskipun telah menerimaa penghargaan Nobel Perdamaian Junta Militer Mynmar tak kunjung membebaskan Suu Kyi sebagai tahanan rumah. Suu Kyi baru dibebaskan pada tahun 2010, dan kembali memperjuangkan demokrasi melalui Partai NLD. Meskipun ia tak akan pernah menjadi kepala pemerintahan, sebab undang-undang melarang seorang kepala pemerintahan dilarang memiliki pasangan dan anak berkwarganegaraan asing.

Salah satu nilai lebih dari film ini ialah kemiripan wajah para pemeran dengan tokoh aslinya. Michelle Yeohh terlihat berwibawa ketika berpidato di hadapan ribuan pendukungnya, bunga anggrek yang selalu terselip di gelungan rambutnya semakin menambah anggun penampilannya. David Thewliss, Jonathan Woodhouse, dan Jonatahan Ragget, juga sangat mirip dengan suami dan anak-anak Suu Kyi. Demikian pula aktor yang memerankan Than Khwe, salah seorang petinggi militer Myanmar.

Hanya saja dalam film ini penggambaran perjuangan Suu Kyi memperjuangkan demokrasi bagi rakyat Myanmar masih terkesan setengah-setengah. Suu Kyi terkesan mudah merebut demokrasi, dan semua itu direbut tanpa menggunakan startegi politik yang jitu. Tekanan dan kekejaman Junta Militer Myannmar juga tidak terlihat "mengerikan". Tak-tik dan akal busuk diktator tidak ditampilkan dalam film ini, tekanan-tekanan lebih banyak diberikan kepada para mahasiswa yang mendukung Suu Kyi.

Suu Kyi dan Kejahatan Kemanusiaan

Kegigihan dan keberanian Aung San Suu Kyi memperjuangkan perdamaian dan demokrasi yang tergambar dalam film tersebut seakan bertolak belakang dengan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Myanmar sekarang. Sebagai penasihat pemerintahan ia tidak berbuat banyak bahkan terkesan bungkam menanggapi genosida terhadap kelompok minoritas Rohingya.

Desakan dan kecaman bermunculan dari negara-negara tetangga, negara-negara muslim, serta negara-negara Eropa agar Suu Kyi mengambil langkah terkait kejahatan kemanusiaan tersebut. Suu Kyi dianggap telah mengkhianati penghargaan Nobel Perdamaian sebab ia seakan buta dan tuli dengan kejahatan kemanuasiaan yang terjadi di tanah kelahirannya.

Merasa tidak puas dengan sikap Aung San Suu Kyi, muncul petisi untuk mencabut penghargaan Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepadanya di situs change.org. Hingga tanggal 02 September 2017, petisi ini telah ditandatangani oleh 213 ribu orang, petisi ini akan diajukan kepada Dewan Nobel di Norwegia. Meskipun sejumlah pihak menilai bahwa pencabutan Nobel Perdamaian tidak akan banyak berpengaruh terhadap kejahatan kemanusiaan di Myanmar.

Walau bagaimanapun kejahatan kemanusiaan yang menimpa kelompok minoritas Rohingya telah banyak menarik perhatian dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Simpati tersebut datang tidak hanya atas dasar kemanusiaan, melainkan juga atas dasar ikatan saudara satu iman. Sebagai sesama muslim.

Di satu sisi, kita turut bangga dengan masyarakat kita yang begitu peduli dengan penderitaan saudaranya di negara lain. Dukungan moral dan material, baik dari warga maupun pemerintah mulai mengalir untuk kelompok minoritas Rohingya. Kecaman dan dukungan terhadap kelompok tertindas itu pun banyak berseliweran di internet, baik berupa foto, meme, tulisan, bahkan video.

Namun di sisi lain kita turut waspada, sebab ada oknum yang "menggoreng isu" kejahatan kemanusiaan di Myanmar dengan isu-isu agama. Oknum tersebut menebarkan kebencia dengan mengeneralisasikan umat Budha di Myanmar dan umat Budha di Indonesia. Oknum tak bertanggug jawab ini mengajak umat Islam untuk memusuhi umat Budha di Indonesia, bahkan melakukan balas dendam dengan melakukan perbuatan keji.

Sebagai bangsa yang bermartabat, alangkah baiknya kita cerdas dan bijak membaca informasi. Tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Tentu saja kita tidak bisa dengan begitu saja mengeneralisasi keadaan. Dan kita pasti berharap The Lady, sang peraih Nobel Perdamaian segera mengambil keputusan untuk mengakhiri kejahatan kemanusiaan ini. [N]

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,569,cerpen,13,EkspreShe,16,Essay,32,Oase,59,Opini,57,Puisi,43,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Menilai Kembali Rasa Kemanusiaan Aung San Suu Kyi
Menilai Kembali Rasa Kemanusiaan Aung San Suu Kyi
Duia mempertanyakan integritas Aung Saan Suu Kyi, penerima Nobel Perdamaian, terhadap sikapnya yang bungkam terhadap pembantaian etnis Rohigya di Myanmar.
https://2.bp.blogspot.com/-yGM6ccv7Jxs/Wau9FHSEfUI/AAAAAAAAEoA/s5g-cg_yWi0TICfHGwxzXlK9cv3LFU5_wCK4BGAYYCw/s1600/aung-san-suu-kyi-ideapers.com.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-yGM6ccv7Jxs/Wau9FHSEfUI/AAAAAAAAEoA/s5g-cg_yWi0TICfHGwxzXlK9cv3LFU5_wCK4BGAYYCw/s72-c/aung-san-suu-kyi-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/09/menilai-kembali-rasa-kemanusiaan-aung-san-suu-kyi.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/09/menilai-kembali-rasa-kemanusiaan-aung-san-suu-kyi.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin