Tetap Berhati-hatilah Perawan Muda (Sebuah Refleksi) : Resensi Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer


Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Isi : ix + 248 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : Juni 2011
“Kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu. Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat”.

Pramoedya Ananta Toer, menulis catatan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangannya di Pulau Buru, Maluku. Serta hasil pelacakan terhadap para budak seks yang ditinggalkan begitu saja di Pulau Buru, setelah Jepang menyerah pada 1945.

Berawal dari sulitnya hubungan transportasi laut dan udara akibat Perang Pasifik menyebabkan balatentara Dai Nippon tak lagi bisa mendatangkan wanita penghibur dari Jepang, Cina, dan Korea. Sebagai gantinya, para gadis Indonesia dikirimkan ke garis depan sebagai penghibur untuk memenuhi hasrat para serdadu jepang. 

Dalam keadaan serba sulit dan sempit yang sedemikian rupa, terdengarlah suara sayup dari Pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon yang pada waktu itu menjadi penguasa tertinggi di Jawa. Mereka berjanji memberi kesempatan belajar pada para pemuda dan pemudi Indonesia ke Tokyo dan Shonanto (Singapura). Dikatakan “sayup’ karena kabar tersebut tidak jelas. Walau tidak ada rujukan yang pasti, tetapi banyak catatan yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada tahun 1943.

Janji-janji yang tidak pernah diumumkan secara resmi, terutama tidak pernah tercantum dalam Osamu Serei (Lembaran Negara), adalah suatu kesengajaan Jepang untuk menghilangkan jejak agar kejahatan mereka tak mudah dilacak. Terbukti hingga saat kemerdekaan tiba, tak ada yang bisa mengungkap kasus tersebut bahkan tak ada perlindungan hukum dari pemerintah RI. 

Kebanyakan para korban tersebut adalah para perempuan muda terpelajar yang terpropaganda dan terperangkap dalam angan-angan untuk mendapatkan pendidikan tinggi, kemudian kelak pulang akan menjadi orang yang menduduki jabatan penting di negeri sendiri. Meskipun banyak diantara mereka yang pergi bukan karena kehendak sendiri, bahkan ada orang tuanya yang tidak rela putrinya meninggalkan keluarga. Namun penguasa jepang tetap memaksa masyarakat untuk tunduk padanya termasuk para pejabat-pejabat daerah. 

Gadis berusia 13-19 tahun yang menjadi target utama para Dain Nippon. Mereka memilih para perawan remaja yang belum dewasa untuk memenuhi keinginan seks serdadu Jepang. Pihak Jepang menggunakan kekerasan dan ancaman agar para perawan remaja itu tak bisa melawan.  Masuklah para perawan remaja itu pada perangkap propaganda Jepang. Tidak bisa berkutik, hanya pasrah dan tunduk terhadap keadaan yang siap memasukkan mereka kedalam jurang kegelapan.

Mereka diangkut menggunakan kapal-kapal dan siap menempuh pelayaran yang berbahaya. Kapal itu berlayar menuju pulau-pulau yang siap menerima mereka sebagai wanita penghibur. Salah satunya adalah pulau Buru, yang terletak di kepulauan Maluku. Pulau dimana ribuan orang buangan di lempar kesana termasuk para perawan remaja dan Pramoedya Ananta Toer sendiri. Di pulau Buru ini, Pram banyak menemukan bukti-bukti mengenai adanya para perawan remaja yang diambil dari keluarganya dan dijadikan pemenuh nafsu para serdadu Jepang.

Setelah Jepang menyerah dan kemerdekaan RI tersiar, Jepang meninggalkan mereka begitu saja tanpa adanya pesangon ataupun tanggung jawab mengembalikan mereka kepada keluarga masing-masing. Sedang mereka? Mereka tidak punya nyali untuk menunjukkan wajah mereka di depan orang tua dan keluarga. Sebagai perempuan yang telah ternodai kehormatannya, hilang kebudayaannya, terputus dari keluarganya, dan  mati masa depannya. Mereka benar-benar hilang dari peradaban, terkurung di dalam kehidupan yang kelam dan penuh sesak penyesalan juga kesedihan.

Dunia benar-benar gelap gulita bagi mereka. Walaupun di luar sana beribu rakyat sedang bersuka cita merayakan kemerdekaan, mereka hanya mendengarnya sayup bahkan banyak yang tak mengetahui sama sekali. Sungguh para perawan remaja malang, berniat menggali ilmu sebanyak-banyaknya tetapi hanya tipuan yang didapat.

Banyak dari mereka yang melanjutkan hidup dan menikah dengan para pemuda yang mereka temui untuk menyelamatkan mereka. Tetapi tidak sedikit yang memilih sendiri bersama keadaan yang sudah terjadi. Benar-benar terputus dari keluarga dan masyarakat.

Di bagian bab paling akhir, Pramoedya menceritakan pencarian ibu Mulyati dari Klaten yang terdampar di pulau Buru. Keaslian pulau Buru berhasil dilukiskan dengan jelas oleh Pram, lengkap dengan gambaran budaya dan peradaban masyarakat aslinya.  Seperti yang dituliskan pada halaman 207, “Air yang semakin meninggi membikin jalan air tertutup. Kami terpaksa mendepis-depis tebing. Membongkok dan merayap merupakan cara satu-satunya untuk menghindari akar-akaran yang ogah diatasi”.

Perjalanan melelahkan selama 20 jam yang sarat dengan peristiwa akhirnya membuahkan hasil juga, meskipun pertemuan itu tidak menghasilkan solusi atas derita yang dialami ibu Mulyati dari perawan remaja sampai akhir hidupnya. Selama 35 tahun. Setidaknya perjalanan tersebut banyak memberikan pelajaran dan memperkuat fakta betapa terkekangnya hidup para perempuan remaja tersebut.

Sungguh cerita ironis dari para perempuan masa itu. Tidak bisa dibayangkan kegelapan yang melanda. Memang sudah dari dulu kaum perempuan dijadikan obyek penindasan baik fisik maupun sosial masyarakat. Perempuan hanya dijadikan boneka dari kehidupan patriarki masa itu. Perempuan tidak punya hak bicara dalam pengambilan keputusan, bahkan keputusan untuk dirinya sendiri pun mereka tidak berhak mengambil alih.

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, banyak melahirkan karya-karya yang berisi ungkapan keadaan masyarakat zaman pra kemerdekaan.  Separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara, tetapi penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang diperoleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. 

Tidak bisa dipungkiri karya-karya Pram banyak menggugah kesadaran para pembacanya. Termasuk buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer ini, Pram mampu memberi hentakan bagaimana para perempuan terkekang dalam peraturan Jepang.  

Berbeda dengan karya Pram, Tetralogi Pulau Buru yang menyajikan bacaan dengan bentuk Novel tetapi isinya sarat dengan sejarah dan pembelajaran. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer menyajikan cerita tetapi sedikit membingungkan karena ditulis dalam penyajian data-data saja dan tidak mempunyai alur yang runtut. Hanya menyambungkan satu cerita mengenai korban propaganda dan menghubungkannya dengan kisah-kisah yang lain.

Pramoedya Ananta Toer didalam buku ini hanya mengungkap kisah-kisah yang dialami teman-temannya dan juga jejak penelitian yang dilakukannya. Alurnya pun rancu dan terulang-ulang, banyak alur yang sebenarnya sama tetapi ditulis kembali karena memang kebanyakan cerita dari para perempuan remaja tersebut sama. Hanya ditulis beberapa sebagai penarik kesimpulan dari yang sebenarnya terjadi sejak 1943 tersebut. 

Di masa sekarang ini sebenarnya masih banyak cerita-cerita yang serupa dengan perawan remaja itu. Banyak perempuan yang dijual sebagai penghibur karena rendahnya perekonomian dan minimnya kesadaran masyarakat. Mereka pun harus menanggung tekanan dari masyarakat dan membunuh peradabannya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), memaparkan angka perdagangan anak di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Sejak 2011 hinggaJuli 2015, tercatat ada sebanyak 860 kasus dilaporkan. Itu membuktikan bahwa sampai saat ini pun masih banyak perempuan dan anak dibawah umur yang diperjual-belikan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), baik secara sengaja diperjual-belikan maupun tidak.

Tidak hanya sebagai penghibur saja, tetapi dalam sosial masyarakat pun masih menempatkan perempuan sebagai kaum-kaum terbelakang. Sebagai contoh, masih banyak masyarakat yang menganggap perempuan tidak layak mendapat pendidikan tinggi dan menduduki kursi-kursi jabatan dalam politik. Perempuan hanya bisa menjaga rumah dan keluarga dan selalu bekerja dibelakang.

Padahal, zaman sudah kian berkembang dan bisa dikatakan dalam masa kejayaan, ilmu pengetahuan sudah tak lagi milik para bangsawan dan anak pejabat. Tetapi tetap saja peratura-peraturan tak tertulis itu masih membudaya dalam masyarakat. Harus ada perubahan yang mampu mengeluarkan masyarakat dari perspektif tersebut. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Sudahkah kita dan mampukah kita sebagai penerus peradaban membawa perubahan tersubut? Dan membuka pemikiran kolot dengan ilmu pengetahuan yang bijak juga arif? (Ainun Nafisah)

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,5,Berita,592,cerpen,14,EkspreShe,17,Essay,34,Oase,62,Opini,59,Puisi,44,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,18,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Tetap Berhati-hatilah Perawan Muda (Sebuah Refleksi) : Resensi Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Tetap Berhati-hatilah Perawan Muda (Sebuah Refleksi) : Resensi Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Pram menulis buku ini berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangannya di Pulau Buru. Serta hasil pelacakan terhadap para budak seks setelah Jepang menyerah pada 1945.
https://1.bp.blogspot.com/-RA4_psIOCp8/WL1vaKSNttI/AAAAAAAADb8/QiUDiHD7oKcZOm8g6NBvzyLv2TWc3AeUgCK4B/s1600/refleksi-dan-resensi-perawan-remaja-ideapers.com.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-RA4_psIOCp8/WL1vaKSNttI/AAAAAAAADb8/QiUDiHD7oKcZOm8g6NBvzyLv2TWc3AeUgCK4B/s72-c/refleksi-dan-resensi-perawan-remaja-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/03/tetap-berhati-hatilah-perawan-muda-refleksi-resensi-perawan-remaja-dalam-cengkeraman-militer.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/03/tetap-berhati-hatilah-perawan-muda-refleksi-resensi-perawan-remaja-dalam-cengkeraman-militer.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin