Surat Bangku

Ilustrasi

Kau tak akan tahu betapa hebatnya seorang perempuan sampai kau mengalami kejadian sepertiku. Sampai kau terlibat dalam sebuah drama kehidupan melankolis seperti apa yang akan aku ceritakan padamu dalam cerita pendek ini.

Aku tahu, pasti kau akan menyangkal. "Ah, cerita pendek hanyalah fiksi," seperti kata guru sastramu dulu. Tapi kali ini, aku berharap kau percaya bahwa ada kalanya cerita pendek sengaja ditulis dengan jujur oleh seorang lelaki kesepian yang percaya bahwa fakta harus ditulis agar dibaca. Dan agar menarik untuk dibaca, fakta sesekali harus dituangkan dalam bentuk cerita pendek. Seperti yang saat ini kau baca.

Sebelumnya aku ceritakan padamu, tak ada yang menarik dalam kehidupan keluarga kami. Sebuah keluarga besar yang sunyi. Ayah adalah manusia paling pendiam, dingin, dan sesekali waktu emosional. Ibuku, satu-satunya perempuan di keluarga kami, menjalani peran dengan sangat baik sebagai seorang perempuan yang sekaligus seorang ibu: cerewet, pengatur, telaten, perhatian, dan yang terakhir-soal ini ibuku jagonya-penyabar. Kelima abangku, sebagaimana lelaki pada umumnya, cenderung cuekm berantakanm dan semaunya sendiri. Dion, adikku satu-satunya sedikit mewarisi sifat ibu: ia paling rajin membantu ibu dan paling sabar menghadapi kelakuan abang-abangnya.

Aku? Dalam drama kehidupan keluarga kami, aku hanya mengambil peran tambahan saja, pemeran pembantu yang kurang penting. Aku lebih suka menjadi pengamat. Diam sembari mengamati kehidupan keluarga kami yang lebih sering sunyi, dingin dan tiga tahun terakhir sangat dramatis. Melankolis. Kisah ini dimulai tiga tahun lalu.

HP-ku terus bergetar sedari pagi. Nomor Dion tertera di layar. Awalnya aku tak peduli karena sudah menjadi kebiasaan adikku ini menelepon abang-abangnya, memenuhi rasa penasaran ibu akan kabarku dan kelima abangku yang masing-masing telah menemukan tanah rantauannya. Melihat HP yang tak juga berhenti bergetar, aku pun mengangkatnya. Beberapa detik setelahnya, hening. " Halo.. Halo.. Mas Fikar.. Mas Fikar.. Dengar Dion?"

Segera aku pencet tombol merah di HP. Klik, telepon terputus tanpa kupedulikan Dion terus bicara. Keringat dingin menjelar dari kening, udara terasa pengap sekalipun kipas angin kamar kos sudah sedari tadi berputar. Segera aku sambar tas dan bergegas mencari cara paling cepat untuk pulang. Ibu, tunggu aku.

Hatiku basah oleh haru, mataku sembab karena rindu. Rumah, sudah hampir satu tahun aku di tanah rantau dan tak sempat sekalipun aku menjenguknya. Pekerjaan memalingkanku sekian lamanya dari keluarga besarku yang sunyi. Dari ayah yang pendiam, dari ibu yang penyabar, dari kelima abangku ditanah rantaunya masing-masing. Serta dari Dion yang kini seolah menjadi anak semata wayang di rumah.

Ah, bagaimana mungkin ibuku yang kuat itu... Aku tak berani membayangkan, meskipun kekhawatiran-kekhawatiran sudah datang lebih awal dari bayangan-bayangan buruk dan menyedihkan. Siang itu, aku seperti sedang berada dalam sebuah drama picisan. Memainkan karakter dalam sebuah scene yang diberi efek slow motion agar lebih terkesan dramatis. Siang itu, perempuan satu-satunya di keluarga kami sedag menghadapi perjuangan besar dalam hidupnya.

*****

Di koridor rumah sakit tempat ibu dirawat, aku dan kelima abangku berkumpul membentuk lingkaran. Tanpa ada komando, rapat dadakan sore itu dilaksanakan. Bang Fakhrul, anak tertua dalam keluarga kami mengatur pembagian tugas "pulang" ke rumah. Aku dan kakak keduaku, Bang Rusydi, diharuskan mengambil cuti minggu ini utnuk menjaga ibu di rumah sakit. Bang Andi, kakak keempatku ditugaskan untuk mengurus rumah, menguatkan ayah yang terlihat shock dengan kabar ini. Bang Fakhrul dan Bang Aan, kakak ketigaku, akan mengambil cuti di minggu selanjutnya. Bang Alim, kakak kelimaku, akan menjadi penjaga tetap karena ia bekerja tidak jauh dari kampung halaman kami.

Operasi pertama iu dinyatakan berhasil. Sel kanker di tubuhnya telah menggerogoti payudaranya yang sebelah kanan. Sebelumnya, ibu sama sekali tak pernah bercerita kepada ayah maupun kami anak-anaknya mengenai hal ini. Dan itu sepertinya yang membuat ayah masih terlihat shock. Dion masih terus berada di samping ayah, menunggu ibu keluar dari ruang operasi.

Setelah hari itu, kami berena,-aku dan kelima abangku-lebih sering pulang. Kadang aku berpikir, betapa durhakanya kami. Pulang saja menunggu ibu "memanggil", padahal sedari dulu ibu selalu hadir dalam kehidupan kami tanpa perlu kami panggil. Mungkin beginilah sebuah pepatah kuno berlaku, kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa.

*****

Sejak hari pertama ibu masuk rumah sakit, sikap ayah benar-benar berubah. Berbalik 360 derajat dibandingkan sebelumnya. Aku mengira, inilah sifat ayah yang sesungguhnya. Menurut cerita ibu, dulu ayah ialah pribadi yang sangat ceria, hangat, ramah, dan tak sungkan mengungkapkan rasa sayang. Ya, aku menemukan kembali ayah dalam cerita ibu. Dan sebenarnya, inilah inti dari sebuah cerita pendek yang saat ini sedang kau baca.

" Kau kapan menikah, Rus". Sekilas aku mendengar percakapan antara ayah dan Bang Rusydi di depan kamar tempat ibu dirawat. Kali ini ayah bertanya dengan raut wajah yang cerah. Suaranya hangat, meruntuhkan kesan bahwa sebelumnya ayah yang kami kenal adalah ayah yang pendim dan dingin. Selesai berbncang dengan Bang Rus, ayah mendekati ranjang tempat ibu tertidur. Diamatinya wajah perempuan yang amat dicintainya itu. Tangan ayah terlihat merogoh sesuatu dari saku.

"Kau ingat tulisan ini, nduk? Aku masih menyimpannya, selalu. Segera sembuh, nduk. Kau rindu bangku itu, bukan?"

Ayah membuka cecarik kertas itu, berbicara seolah ibu ikut membacanya. Aku tak tahu apa isi kertas yang dipegangnya. yang jelas, demi menyaksikan ayah terisak, kuurungkan niatku untuk mendekatinya. Aku masih pura-pura tertidur di sofa di sudut kamar, merasakan sesak yang luar biasa di dada. Ayah masih melanjutkan ceritanya di depan ibu, seperti memutar kembali fragmen-fragmen masa lalu mereka yang indah.

Ayah terbata-bata melanjutkan cerita, suaranya parau, sesekali terdengar isak tangis. Ah, sejak kapan ayah yang selalu tampak kaku dan pendiam itu berbicara begitu banyak dengan nada yang sangat lembut? Sesekali ayah bertanya kepada ibu dan kadang juga tertawa lirih, ia mengenang banyak hal. Menuntaskan kerinduannya kepada ibu. Ya, menuntaskan rindu. Ada perasaan rindu yang teramat dalam dari suara ayah. Rindu yang bukan disebabkan oleh jarak geografis, emlainkan rasa rindu bertahun-tahun kepada perempuan yang dijumpainya setiap hari. Karena jarak terjauh yang memisahkan mereka bukanlah perpisahan, namun keunyian. Kesalingdiaman.

Dalam monolog sunyinya di hadapan ibu, ayah menceritakan awal pertemuan mereka. Ayah dan ibu dipertemukan oleh sebuah bangku. Kau pasti akan bertanya, "Bagaimana bisa?". Ya, mereka memang dipertemukan oleh sebuah bangku. Ayah dan ibu belajar di yayasan yang sama sewaktu SMA. Yayasan tempat mereka belajar memisahkan antara murid laku-laki da perempuan. Murid laki-laki masuk sekolah di pagi hingga siang hari, sementara murid perempuan masuk di siang hingga sore hari. Gedung yang digunakan pun sama, pagi dipakai murid laki-laki, siangnya digunakan murid perempuan. Situasi ini kemudian melahirkan semacam "tradisi" di antara murid-murid yang dikenal dengan sebutan "surat bangku".

Di pagi hari, seorang murid laki-laki sengaja meninggalkan surat di sekolah. Siang harinya, murid perempuan yang duduk di bangku yang sama akan membaca kemudian membalasnya. Ayah dan ibuku, melalui cara inilah mereka dipertemukan. Hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta dan setelah memiliki keberanian, mereka memutuskan untuk hidup bersama dalam bingkai pernikahan.

Saat itu, ayah sangat mengagumi ibu, meskipun mereka secara langsung belum pernah bertemu. Surat-surat balasan dari ibu yang sangat cerdas, juga cerita tentang prestasi ibu dari beberapa guru dan kawan-kawan ayah, membuat cinta ayah pada ibu kian bertambah. Cinta dan kekaguman itu kian membuncah setelah ayah dan ibu menikah. Mereka menjalani kehidupan yang bahagia. Kehidupan yang dijalin oleh perpaduan antara seorang lelaki yang tegas dan keras kepala dengan seorang perempuan yang penyabar dan lebih sering mengalah. Beruntungnya, mereka dipersatukan oleh kesamaan hobi: membaca dan berkebun.

RUmah tangga yang mereka jalani sangat bahagia. Hingga semuanya berubah pada suatu malam, ketika itu ibu sedang mengandung abangku yang ketiga. Ibu, meurut cerita ayah, menjadi semakin uring-uringan. Sementara ayah tetap dengan sikap keras kepalanya dan ibu mulai kehilangan kesabarannya. Malam itu karena hal sepele (ayah tidak bercerita hal apa itu) ayah dan ibu bertengkar hebat. Sejak saat itu, ayah lebih sering memilih diam. Ibu menyibukkan diri mengurus kami, ketujuh anaknya.

*****

Kau tak akan tahu betapa hebatnya seorang perempuan sampai kau mengalami kejadian sepertiku. Sampai kau terlibat dalam drama kehidupan yang melankolis seperti yang sudah aku ceritakan padamu dalam cerita pendek ini.

Ibu telah dipanggil oleh-Nya seminggu sejak kejadian monolog ayah di samping ranjang tempat ibu tertidur. Tepat tiga tahun yang lalu. Tidak ada yang siap menghadapi kepergiannya, terlebih ayah. Penyakit yang dirahasiakan dari kami hingga stadium akhir dan ketabahannya dalam menghadapi rasa sakit itu sendirian, memanggil kami untuk kembali pulang ke rumah. Kepada ayah, kepada keluarga.

Bagi ayah, kepergian ibu benar-benar telah mengubahnya. Setiap hari, ayah terus menulis surat yang diselipkan pada bangku sekolah yang mempertemukan mereka. Bangku dari masa lal yang dengan berbagai usaha kami hadiahkan pada ulang tahun ayah yang ke 79. Di sudut bangku itu, nama ayah dan ibu terukir.

Surat-surat tanpa balasan terus diselipkan di bangku tua di pojok kamar ayah. Ia tak pernah absen menulis surat seolah-olah ibu selalu membaca dan membalasnya. Tanpa banyak bicara kami sepakat untuk terus merawat kenangan tentang surat bangku, tentang perempuan hebat dalam hidup kami. Tentang ibu.

Bintu Zaman
Pernah dimuat di Majalah IDEA edisi 36 tahun 2014

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,8,Berita,603,cerpen,14,EkspreShe,18,Essay,37,Oase,66,Opini,62,Puisi,46,Resensi,2,Resensi Buku,9,Resensi Film,18,Riset,2,Sastra,2,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Surat Bangku
Surat Bangku
Aku akan bercerita tentang ayah dan ibuku. Tentang kisah mereka yang begitu menyayat hati. Semua bermula dari sebuah bangku.
https://3.bp.blogspot.com/-T6CAZ72yiXs/WNXye2YvhqI/AAAAAAAADro/jVi88bbBjcod5x6mhKjWCv-NI2hJ6NTGQCLcB/s1600/surat-bangku-ideapers.com.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-T6CAZ72yiXs/WNXye2YvhqI/AAAAAAAADro/jVi88bbBjcod5x6mhKjWCv-NI2hJ6NTGQCLcB/s72-c/surat-bangku-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/03/surat-bangku.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/03/surat-bangku.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin