Kota Lama

Kota Lama, Semarang

Rumput basah di bawah kakiku mulai kering. Tepat di sisi timur gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel, populernya Gereja Blendoek, aku menunggu. Duduk di bawah rindangan pohon, mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitar taman Srigunting.

Kulirik Rolex di tangan, pukul 09.56 WIB. Tak lama berselang, seorang pendeta keluar gereja bersama serombongan jamaat. Acara Misa di Gereja Blendoek itu telah usai. Tak mau terlalu lama membuang waktu, aku beranjak dan menghampiri si Pendeta.

“Romo Martin!”

Si Pendeta menoleh, dengan senyum terkembang menyalamiku. “Lama menunggu? Maaf nak, bapak menyita waktu liburmu.”

“Ah, tidak apa. Saya justru berterima kasih karena Romo sudah membantu pencarian kami.”

Romo Martin mengangguk samar. Ia memintaku turut serta mengikuti langkahnya masuk ke dalam gereja.

“Sudah hampir tiga bulan ia di sini, tapi tidak sepatah kata pun mengutarakan maksud kedatangannya. Ia selalu berangkat lebih awal dan pulang paling akhir.

Anehnya, ia selalu membawa kliping koran di tangan.” Romo Martin menepuk pundakku, “Tidak ada yang dapat kulakukan karena aku tak tahu apa masalahnya.”

Aku mengangguk. Kukeluarkan selembar foto dari dalam kantong lalu memperhatikannya seksama. Coba memastikan apakah benar ia orang yang kami cari. Ia adalah pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih dan postur tubuh agak bungkuk. Ciri-cirinya cocok dengan pria yang dari awal duduk mematung di bangku panjang gereja. Tinggal memastikan bagaimana rupa pria itu.

Aku minta diri pada Romo Martin untuk menghampiri pria itu, ia membalasnya dengan sebuah anggukan kecil. Aku pun berjalan menuju ke bangku panjang gereja. Sengaja, kuposisikan diri duduk di samping pria itu. Ia melirik sekilas kemudian menggeser posisi duduk, mempersilahkan.

Aku tersenyum. Di samping sekedar basa-basi, juga sebagai bentuk kesenangan karena ialah orang yang selama ini kami cari.

Aku berdehem, “Ingin membuat pengakuan dosa?”

“Aku tidak membuat dosa.”

Kami membeku dalam keheningan. Aku melirik kliping koran di tangannya. Berita itu tentang kematian tragis sebuah keluarga di kampung Melayu. Ayah mati dipukuli, Ibu mati terjun dari kali karena diperkosa, dan Anak mati terjebak dalam kebakaran rumah. Tertanggal 24 November 2015, tiga bulan lalu.

“Sungguh nahas nasib keluarga itu,” selorohku, kembali membuka percakapan.

Pria itu menatapku namun bergeming.

“Entah apa maksud tersangka melakukan hal sekeji itu. Dengar-dengar ia masih buronan,” pancingku. Ia masih diam, tak menyimak ocehanku. Aku menghela napas, “Kenapa anda membawa kliping koran itu?” Tanyaku pada akhirnya.

Pria itu mendengus, “Apa pedulimu?” Ucapnya sarkastis.

Aku menggigit bibir, “Maaf atas rasa keingintahuan saya.”

Ia tersenyum masam, “Aku tidak ingin menyalahkan. Kau benar-benar ingin tahu alasanku?”

Bola mataku membulat. Refleks aku mengangguk. Tak lama, sebuah kisah terlontar sempurna dari mulutnya.

***

Tiga bulan lalu,

Ia datang dengan kemarahan yang terkumpul di kedua telapak tangan, siap menghantam apa – siapa pun yang menghalangi. Tak sabar, langsung saja ia menggedor pintu di rumah itu tanpa ampun sambil mengumpat.

“Anjing, buka pintu!”

Pintu terbuka, memunculkan sesosok pria berperawakan tegap dengan kulit terbakar matahari dan rambut panjang. Sambil tersenyum masam, ia bersandar di pintu dengan kedua tangan bersilang, “Ada apa?” tanyanya datar.

Ia menonjok rahang pria itu, “Gara-gara kau anakku mati overdosis narkoba!”

Pria itu meludah, “Anakmu yang goblok! kenapa dia madat?”

Ia kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi. Tak ingin jadi samsak, pria itu pun membalas pukulan demi pukulan yang diterimanya. Mereka berkelahi, sibuk beradu jotos hingga tak menyadari kehadiran istri pria itu.

“Mereka datang pak!” teriak wanita itu parau.

Seakan terjeda, perkelahian mereka mendadak berhenti. Wajah pria itu berubah pucat. Dengan kepalan tangan yang masih menggantung di udara, pria itu mendorongnya jauh.

“Pergilah!” Pria itu menyentak dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ia terdiam. Ada getaran di suara pria itu yang membuatnya tak dapat mengelak. Lalu, ia pun pergi menjauhi rumah itu. Ia tahu ada kejanggalan yang sengaja mereka tutupi. Maka, bukannya pergi ia malah bersembunyi di antara semak belukar yang tumbuh tak jauh dari rumah itu.

Kira-kira semenit berselang dari kepergiannya, segerombol lelaki bertampang garang dan berpenampilan preman muncul. Mereka menggedor pintu rumah itu kasar, lebih ganas dari yang ia lakukan. Pria itu pun muncul, terjadi sedikit percakapan di antara mereka sebelum akhirnya dikeroyok massa. Satu banding sembilan, pria itu kalah telak. Di kepayahannya, pria itu diseret pergi dari rumah. Istrinya yang menyaksikan tak luput jadi korban. Dengan baju yang terkoyak-koyak ia turut pula diseret ke luar rumah.

Ia terpaku melihat kejadian yang berlangsung di luar nalarnya. Sisi kemanusiaannya muncul, ia harus menghentikan aksi mereka. Dengan langkah ringan ia keluar dari tempat persembunyian.

“Oi! Apa yang kalian lakukan?” Teriaknya lantang.

Pemimpin gerombolan preman itu berbalik, menatapnya remeh. Hanya dengan sekali isyarat tangan, ia menyuruh anak buahnya menyerang.

Ia tak siap melawan. Alhasil, sebuah pukulan telak di tengkuk pun cukup meringkus aksi heroiknya. Ia jatuh pingsan, entah sudah berapa lama. Begitu sadar, ia mendapati dirinya ada di depan rumah pria itu dengan api yang mulai menjalar.

Kerongkongannya serasa tercekat. Masih terkesiap, ia buru-buru bangkit dan mencari pertolongan dari orang sekitar. Belum sempat ia minta tolong, para warga mulai berdatangan dengan ember berisi air. Mereka terpaku begitu melihatnya ada di tengah tempat kejadian.

Ia mengernyit mendapati tatapan para warga yang tak bersahabat. Apa yang salah dari dirinya? Jawaban itu muncul ketika ia menyadari batang-batang obor berserakan di bawah kakinya. Sialnya lagi, sebuah korek api tanpa sadar tergenggam di tangan. Ia dijebak!

***

“Satu keluarga itu mati. Ia jadi kambing hitam tragedi nahas itu. Hidupnya mulai tidak tenang karena ia dicap pembunuh oleh masyarakat. Hingga akhirnya ia melarikan diri.” Pria itu menatapku nyalang begitu menyelesaikan penutup ceritanya.

Mulutku serasa terkunci. Cerita yang ia bawakan amat di luar prediksi. “Kenapa ia tidak membela diri? Malah kabur.” Tanyaku akhirnya.

Pria itu mendengus, “Segigih apa pun ia mengelak, takkan ada pengaruhnya.  Masyarakat lebih suka penghakiman daripada fakta. Yang dilawannya adalah segerombolan penjahat yang kebal hokum. Ia kalah, bahkan sebelum pengadilan mendengar kesaksiannya.”

Aku menelan ludah. Bingung. Kata yang terangkai dari mulutnya selalu terdengar mengejutkan. “Kenapa anda menceritakan hal ini pada saya?”

Ia mengamatiku seksama, “Bukankah kau polisi yang menyelidiki kasus ini?” tanyanya retoris. Memukulku telak.

Tampaknya aku tak memiliki pilihan lain selain mengaku. Aku menarik bibir ke samping, “Ya. Dan anda adalah orang pada cerita itu.” Balasku sambil merogoh saku celana untuk mengambil benda yang sedari tadi sengaja kusembunyikan.

“Saudara Agus, anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap sebuah keluarga di daerah Layur, kampung Melayu.” Ucapku tegas sambil memborgol kedua tangannya.

Ia tersenyum, “Kau tahu jika kejadiannya tidak seperti itu.”

Aku menghela napas, “Meski begitu, anda harus memberikan keterangan pada polisi. Maaf karena saya harus membawa anda kembali ke kota lama anda.”

Ganti ia yang menghela napas. Sambil meletakkan kliping koran di kursi ia menerawang, “Kau benar, tampaknya aku memang harus kembali ke kota lama. Kota yang menjadi saksi bisu atas kejadian nahas itu.”

_Sophero_

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,560,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,56,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Kota Lama
Kota Lama
Jika kau mengira aku akan bercerita tentang Kota Lama sebagai sebuah wilayah yang setiap haru lalui, maka kau salah besar! Aku telah lama meninggalkannya, membeku menjadi saksi bisu.
https://3.bp.blogspot.com/-mOXfubrkbEc/WKK3uYZNl7I/AAAAAAAADSs/HVtQLLC8Dqgk2FVtTlMrrkCuUP-z6TQvQCK4B/s1600/kota-lama-semarang-ideapers.com.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-mOXfubrkbEc/WKK3uYZNl7I/AAAAAAAADSs/HVtQLLC8Dqgk2FVtTlMrrkCuUP-z6TQvQCK4B/s72-c/kota-lama-semarang-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2017/02/kota-lama.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2017/02/kota-lama.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin