Harakiri

Ilustrasi harakiri
Suatu tempat, Juni 2013

Gemerincing tapi bukan lonceng, lebih terdengar seperti besi bergesek. Apa itu? Ia menggerakkan pergelangan tangan, terasa berat seperti ada yang menahan, begitu pun ketika ia mulai menggerakkan kaki. Ada apa? 

Ragu, ia pun membuka mata.

Ia terbaring, di atas sebuah dipan. Visual pertamanya adalah genteng asbes lapuk, dengan kotoran genteng yang menjuntai di sana-sini, kemudian beralih pada serakan barang-barang di sekitar ruangan. Tak ada satu pun ventilasi udara. Di mana ini? 

Ia coba menyisir sekeliling, sia-sia. Kepalanya sama sekali tak dapat digerakkan. Dua lembar papan tripleks dipasang membujur di antara kepalanya. Ia mencoba bangkit, namun yang ada hanya bunyi gesekan besi. Besi?

Ia melirik ke bawah. Bola matanya membulat, begitu tahu jika tubuhnya terbelenggu rantai besi. Apa yang terjadi?

“Tolong!!!” Teriaknya seraya menggerak-gerakkan tubuh, berusaha membuat keributan. Berulang-ulang.

Terdengar derit pintu didorong, “Hana? Kau sudah bangun?”

Ia menggigit bibir. Suara itu! “Akira! Apa yang kamu lakukan? Cepat buka belengguku!”

Lelaki yang dipanggil Akira itu muncul dari atas kepalanya yang terbaring. “Kenapa aku harus melepasmu sayang? Pertunjukan ini belum sepenuhnya dimulai,” Akira mengangkat dipan tempatnya terbaring, menyandarkannya di tembok dengan posisi vertikal.

“Kamu gila! Sadar Akira! Cepat lepaskan aku!” Teriaknya sambil menahan perih. Posisinya sekarang yang menggantung di dipan sangat tidak menguntungkan, lebih lagi dengan ikatan rantai besi karatan yang menggoresi kulit mulusnya.

Akira menyeringai. Hana, perempuan yang ia niscayakan sebagai bunga Sakura pertama musim semi tak berdaya dalam jerat karya olehnya. Ada suatu kepuasan tersendiri melihat perempuan yang amat dicintainya itu meronta di tengah ketidakberdayaan.

“Hana, aku mencintaimu”.

Hana memicing, ketara sekali gurat-gurat kebencian di wajahnya.

Akira tersenyum. Tak gentar ia berjalan mendekati perempuannya, dengan secarik kain dan selotip tergenggam di tangan.

*****

Sebuah bukit di Kobe, Jepang, Maret 2013

Mentari pagi bersinar keemasan menerpa ratusan pohon Pinus yang terhampar bagai permadani hidup. Sahut-sahut kicauan burung terdengar, begitu jelas dan jernih, diiringi gemerisik angin yang membawa aroma rumput basah dan aroma pinus.

Akira melirik perempuan yang duduk tergugu di sebelahnya. Terpaan cahaya matahari pagi ini begitu pas menyinari lekak-lekuk sosok perempuan itu. Rambutnya yang bergelombang halus dan berwarna seperti bunga layu tampak keemasan akibat singgungan dari kulit kuning langsatnya. Sorot mata sendunya terpayungi sempurna dengan bulu mata lentik dan alis tebal. Dan, bibirnya yang ranum layaknya rekahan mawar yang menggoda untuk dipetik. Hana, dari nama yang berartikan bunga, ia memang niscaya Sakura pertama musim semi bagi Akira.

“Pemandangan indah ini akan sia-sia, kalau yang kamu lihat dari tadi cuma aku,” Sergah Hana malu-malu.

Akira tersenyum, “Kau lebih indah.”

Ia menunduk. “Menurut Akira-San, apa keluarga Senpai bisa menerima Hana?” Tanyanya hati-hati, “Hana cuma pelajar miskin dengan beasiswa. Di samping itu, kita memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Aku khawatir jika,-”

Akira mengangkat lembut wajah Hana, “Semua akan baik-baik saja,” ungkapnya menenangkan.

Hana tersenyum.

Akira mengecup kening Hana, “Aku mencintaimu.”

*****

Tokyo, Jepang, April 2013

Ottou-San  tidak ingin sedikit mempertimbangkan Hana?”

Tomoyuki sedikit mengangkat koran di tangan, melirik putranya, “Untuk apa?”

Akira memandang jengah ke arah Tomoyuki, “Ottou-San baru sekali bertemu Hana, cuma karena dia bukan orang Jepang dan berasal dari keluarga miskin, tidak berarti ia buruk!”

Tomoyuki bergeming, tak mengindahkan ocehan putranya.

Akira menggigit bibir. “Kenapa sulit bagi Ottou-San merestui kami?” Tanyanya setengah frustasi.

Tomoyuki meletakkan koran di meja, sejak awal percakapan ia tidak dapat berkonsentrasi menikmati bacaannya. “Kau pikir, kenapa aku menceraikan Okaasan-mu? Dia penipu! Di kepalanya cuma ada uang, uang, uang! Kau pikir hal itu tidak berlaku bagi Hana-mu? Jangan naif Akira!" Ia mengambil napas dalam, coba mengontrol emosi yang mendadak tersulut. “Hanya kau satu-satunya putra Ottou-San. Aku cuma tak ingin kau mengulang kesalahan yang sama”.

Akira mengerang frustasi, “Kanojo mushi dewa ikite ikenai!

“Kau pilih dia, ikaku omaewa heya kara." Tomoyuki segera beranjak seraya menyibak hondou kasar tanpa melihat Akira yang terpaku dan merasa kalah.

Ragu, Akira merogoh ponsel dari saku kemeja. Sambil menghela napas panjang ia menekan tombol dial pada satu-satunya kontak dalam history ponsel.

“Halo?”

Satu kata dari pemilik suara yang langsung meluruhkan hatinya. Ia goyah, entah sudah yang keberapa kali.

Kembali ia menggigit bibir. Terbersit secercah keraguan dalam benaknya, kedua pilihan yang ia punya memiliki konsekuensi yang terlalu buruk untuk jadi kenyataan. Bagaimana pun, ia dipaksa memilih!

“Hana, Aishiteruyo…

*****

Rumah duka, Tokyo, Jepang, Agustus 2013

Akira menatap nanar guci kremasi pada krematorium di depannya dalam diam. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa ukiran huruf kanji yang tertera di permukaan guci tersebut adalah milik Tomoyuki, ayahnya. Empat bulan setelah ia memutuskan hengkang dari rumah, Miyuki yang notabene sekretaris sekaligus asisten keluarga datang ke rumahnya di Hokkaido dan mengabarkan jika hepatitis yang diderita ayahnya kambuh. Ia diminta untuk kembali. Itu pesan tersirat yang disampaikan Miyuki padanya.

Sayang, ia tidak dapat memenuhi permintaan terakhir ayahnya itu. Bukan karena ia tak peduli atau sakit hati yang membuatnya tertahan. Ia hanya tak tahu caranya kembali tanpa harus melepaskan. Itu saja.

Hana menggenggam tangannya lembut, menguatkan.

Akira tersenyum, berlagak tegar, kemudian mengecup keningnya tepat di depan Krematorium Tomoyuki. Maaf Ayah, tapi aku terlalu mencintainya.

*****

Hokkaido, April 2014

Akira melirik sekilas makanan yang terhidang tanpa selera. Kembali ia meminum air putih dari gelas di tangannya. Sudah lewat dari seminggu, tapi Hana tak juga mengganti menu. Ramen, tanpa variasi. Selalu itu! Ia Bosan!

“Ramen lagi?”

Hana bergeming, malah menghampiri Akira sambil menyerahkan beberapa lampiran kertas tagihan. Akira menghela napas berat. Hanya melihat angka-angka di lampiran itu saja mampu membuat kepalanya pening. Hana kembali menyodorkan sebuah lampiran kepadanya.

“Apa ini?”

“Surat Keterangan perekrutan teknisi agrikultur dari Indonesia. Mereka memintaku bekerja di sana. Tiga bulan dari sekarang, aku berangkat”.

Akira mengernyit, belum bisa mencerna todongan informasi mendadak tersebut. “Maksudnya?” Ia bingung.

“Aku ingin pulang, Akira-San. Lebih dari itu, aku berharap hidupku lebih baik di sana”.

Akira terperangah, tak percaya kalimat itu terlontar dari sosok yang dikenalnya tegar selama ini.

"Maksudmu?"

“Aku lelah, Akira. Dulu kupikir, nasib hidupku akan berubah jika bersamamu. Tapi setelah setahun kita bersama, apa yang terjadi?" Hana mulai histeris, "Aku tidak bisa terus hidup stagnan seperti ini. Aku ingin putus!”

Akira terpatung. Ucapan Hana tak ubahnya hantaman palu godam, membuatnya terlempar di tebing kesadaran. Ternyata hati perempuan terlalu tumpul untuk istilah kemapanan dan kesejahteraan. Budak penghamba materi. Uang. Sampai di titik ini ia teringat ayahnya. Kau menang Ottou-San!

Ia diam, menatap tajam ke dalam bola mata perempuan itu. Dalam benaknya menggantung sebuah pertanyaan. Hana, tidakkah ia mencintaiku?

*****

Suatu tempat, Juni, 2013

Ia berjalan mendekati perempuannya, dengan secarik kain dan selotip tergenggam di tangan.

“Aku mencintaimu,” Ungkapnya yang secara kasar mencium bibir perempuannya. Tak menyiakan kesempatan, Hana menggigit bibir Akira. Ia terlonjak, darah menetes dari bibirnya.

Akira terkekeh geli, “Kau lancang sekali, sayang,” ungkapnya tanpa menyembunyikan kejengkelan. Ia menarik secarik kain di tangannya lalu membekap mulut Hana.

Api di mata Hana tersulut, menatap Akira dengan bengis.

Seakan tak peduli, Akira tetap melanjutkan aksinya. Ia menarik kelopak mata Hana ke atas lalu memplesternya. Hana meronta, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Akira tersenyum, “Menikmati pertunjukannya, sayang?” Sambil memicing, ia mengamati tubuh Hana dari atas sampai bawah.

Hana tampak mengenaskan. Dengan kedua mata yang dipaksa melotot, ia ibarat boneka manekin cacat yang ditempel di dipan dengan tubuh terlilit rantai besi. Ditambah adanya dua papan tripleks yang menjepit kepala Hana, membuatnya tak bisa berkilah kemana-mana.

“Tahukah kau tentang harakiri, sayang?” Akira mengeluarkan sebuah wakuzaki dari saku celana, “Mati atas kehendak sendiri demi kehormatan”.

Hana menelan ludah. Ngeri membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.

“Aku telah mengorbankan kehormatan keluargaku demi kau, Sakura pertama musim semiku,” ungkapnya sambil menghunus Wakuzaki. “Aku mempertaruhkan harga diriku tapi kau tak mengindahkannya”.

Ingin sekali Hana menutup mata, namun yang ada air matanya tak berhenti mengalir.

“Aku ingin kau menjadi saksi pengorbanan itu. Hal yang takkan kau lupakan selama hidup,” Akira mengayunkan wakuzaki, menusukkannya tepat di perut, “Aishiteruyo…” Ia mengoyak perut setelah menyelesaikan kalimat pamungkas tersebut.

Hana histeris. Ingin sekali ia menjerit dan mengenyahkan pandangannya dari Akira. Sayang, ia tak kuasa. Ia harus melihat segalanya. Ia harus melihat Akira meregang nyawa.

Akira kelojotan, darah mengucur ke mana-mana sementara isi perutnya memburai. Akira mati. Berhasil mempertahankan harga diri dengan harakiri. 

Akira meninggalkan perempuan yang dicintainya tanpa pernah memberi tahu keberadaan lokasi mereka, tak seorang pun dapat menemukan mereka.

Semarang, 20/8/16

Da philosopher

-----

"San: Panggilan untuk seorang lelaki yang lebih tua"
"Ottou-San: Ayah"
"Okaasan: Ibu"
"Kanojo mushi dewa ikite ikenai: Aku tak bisa hidup tanpanya"
"Ikaku omaewa heya kara: Maka kau harus pergi"
"Hondou: Pintu dalam rumah adat Jepang"
"Aishiteruyo: Aku mencintaimu"
"Wakuzaki: Sejenis pisau pendek yang digunakan orang Jepang untuk melakukan harakiri"

KOMENTAR

Name

Advertorial,1,Analisis Utama,2,Artikel,3,Berita,560,cerpen,12,EkspreShe,16,Essay,31,Oase,56,Opini,57,Puisi,42,Resensi,1,Resensi Buku,8,Resensi Film,15,Riset,2,Sastra,1,Surat Pembaca,7,
ltr
item
IDEApers: Harakiri
Harakiri
“Tahukah kau tentang Harakiri, sayang? Selamat menikmati pertunjukan, aishiteruyo..."
https://2.bp.blogspot.com/-XUbv5uqj4lw/WFe6go7MjNI/AAAAAAAADAI/uEGuWHm-plsOmzseXfG5qwfM8GT7TH0YwCLcB/s1600/harakiri-ideapers.com.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-XUbv5uqj4lw/WFe6go7MjNI/AAAAAAAADAI/uEGuWHm-plsOmzseXfG5qwfM8GT7TH0YwCLcB/s72-c/harakiri-ideapers.com.jpg
IDEApers
http://www.ideapers.com/2016/12/harakiri.html
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/
http://www.ideapers.com/2016/12/harakiri.html
true
2845694181721974662
UTF-8
Lihat Semua Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Baca Balas Batalkan Komentar Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua BERITA TERKAIT RUBRIK ARSIP SEARCH SEMUA BERITA Tidak ditemukan Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN INI PREMIUM Share sebelum membuka Salin semua kode Pilih semua kode Semua kode telah disalin. Tidak bisa disalin